Minggu, 22 November 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Ketakutan yang berlebihan sering membuat orang berpikir tidak lurus, sehingga melahirkan sikap dan tindakan yang tidak benar. 

Misalnya, karena takut ada pertikaian antar Suku, Ras, Agama dan Golongan, maka dilarang bicara SARA, dan karena takut ada konflik antar kekuatan politik maka dilarang bicara POLITIK, serta karena takut ada perselisihan antar madzhab maka dilarang bicara KHILAFIYAH, dan seterusnya.

Cara berpikir semacam itu harus diluruskan, karena bisa merusak sistem kehidupan dan mengancam kebebasan serta menghancurkan tata nilai.

DILARANG BICARA SARA

Ya. Bicara SARA yang menghina / merendahkan / melecehkan suatu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan memang wajib DILARANG. Tapi bicara SARA untuk menyadarkan masyarakat agar jangan ada saling hina antar Suku, Ras, Agama dan Golongan, justru menjadi KEWAJIBAN.

DILARANG BICARA POLITIK

Ya. Bicara POLITIK untuk kampanye hitam dan pembodohan rakyat serta mengadu domba masyarakat memang mesti DILARANG. Tapi bicara POLITIK untuk mencerdaskan dan mendewasakan rakyat serta menanamkan kewaspadaan dari adu domba politik, justru menjadi KEMESTIAN.

DILARANG BICARA KHILAFIYAH

Ya. Bicara KHILAFIYAH untuk menanamkan fanatisme madzhab sehingga memusuhi madzhab lain memang harus DILARANG. Tapi bicara KHILAFIYAH untuk membangun kesadaran tentang kemajemukan dan keragaman pendapat sehingga saling toleran dan menghargai antar madzhab, justru menjadi KEHARUSAN.

DILARANG BICARA KESALAHAN ORANG

Ya. Bicara tentang kesalahan seseorang hanya untuk merendahkan dan mempermalukannya serta tidak ada manfaat agama memang patut DILARANG. Tapi bicara kesalahan seseorang untuk menyelamatkan umat dari pengaruh jahatnya, atau melindungi agama dari kerusakan, atau meredam fitnahnya, seperti kesalahan para durjana yang ingin merusak Islam, justru suatu KENISCAYAAN.

KESIMPULAN

Suatu LARANGAN BICARA harus jelas ketentuan dan batasannya, sehingga tidak mengancam kebebasan bicara seseorang, dan tidak juga menjadi pembodohan publik.

Wallaahul Musta'aan ...

Dilarang Bicara

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Ketakutan yang berlebihan sering membuat orang berpikir tidak ...

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Setelah hari Kamis 19 November 2015, dari pagi hingga sore, Habib Rizieq sibuk memimpin Mudzakarah Ulama - Habaib di Tebet Jakarta Selatan, lalu malamnya sibuk menyambut silaturrahim dengan Kyai Hasyim Muzadi di Markaz FPI di Petamburan Jakarta Pusat. Dua hari kemarin, Jum'at dan Sabtu, Habib Rizieq sibuk Safari Da'wah di Medan dan Pematang Siantar di Sumatera Utara.

Adacerita menarik dalam Safari Da'wahnya.

MEDAN

Jum'at 20 November 2015 jam 21.00, Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab menyampaikan ceramah di Masjid Agung Kota Medan tentang Liberal dan Komunis.

Dua jam sebelum ceramah, di tempat peristirahatan, Habib Rizieq menerima tamu para Tokoh Medandari berbagai agama ; Protestan, Katholik, Budha, Hindu dan Khong Hu Cu.

Pertemuan berjalan hangat, dan dialog tentang berbagai persoalan umat beragama berlangsung harmonis, bahkan ada kesepakatan untuk menggelar Dialog Lintas Agama yang lebih besar di KotaMedan.

Acara dialog mau pun tabligh di Medan diprakarsai oleh DPD FPI Sumatera Utara. Hadir dalam dialog Imam FPI Sumut Ust. Abu Fajar Nasution, dan Ketua Majelis Syura FPI Sumut Ust. Dzulkifli, serta Ketua Tanfidzi FPI Sumut Habib Hud bin Abdullah Alattas.

PEMATANG SIANTAR

Sabtu 21 November 2015 jam 21.00, Habib Rizieq menyampaikan ceramah umum di alun-alun Kota Pematang Siantar tentang Ukhuwwah Islamiyyah dan Keutuhan NKRI.

Acara Tabligh Akbar tersebut digelar oleh Majelis Mahabbatur Rosul pimpinan Ust. Muhammad Sya'ban Siregar yang merupakan murid dan anak menantu dari KH. Muhammad Bakri yang akrab dipanggil Kyai Abun pimpinan Pesantren Darus Salam Pematang Siantar.

SARA, PILKADA dan FPI

Menariknya, sejak sebulan sebelum kedatangan Habib Rizieq ke Pematang Siantar, terjadi tarik menarik antara panitia dengan para pemuka Kristen disana. Hampir tiap hari para aparat keamanan terus menerus komunikasi dengan panitia.

Akhirnya terjadi kesepakatan antara panitia dengan para pemuka Kristen dengan mediator Polres setempat, bahwa Habib Rizieq boleh hadir dan ceramah pada Tabligh Akbar di alun-alun kota asal tidak bicara SARA mau pun PILKADA, dan jangan ada atribut FPI, termasuk mobil-mobil beratribut FPI dari Medan tidak boleh masuk ke lokasi, tapi harus disimpan di tempat yang sudah ditentukan.

Di malam acara, semua mobil beratribut FPI dari Medan diparkir di sebuah halaman masjid di pintu masuk Kota Siantar. Namun dalam Tabligh, justru Habib Rizieq tetap ceramah tentang SARA (Suku Agama Ras dan Aliran), tapi dengan bahasa kebhinnekaan untuk menciptakan persatuan dan kesatuan NKRI.

Lalu Habib Rizieq justru tetap cerita tentang PILKADA, tapi dengan bahasa pendidikan politik agar rakyat tetap waspada sehingga tidak pecah belah akibat adu domba politik.

Kemudian Habib Rizieq selama ini memang tidak pernah ceramah memakai atribut FPI, tapi beliau dengan lantang bercerita tentang jatuh bangun perjuangan FPI dalam melawan kemunkaran seperti Korupsi, Miras, Narkoba, Judi dan Pelacuran yang merupakan musuh semua agama.

ISSUE PENGHADANGAN

Walau sudah ada kesepakatan, masih saja muncul "issue provokatif" bahwa Habib Rizieq akan dihadang, dan acara akan diserang, serta akan terjadi bentrok antar umat beragama. Namun masyarakat Pematang Siantar, baik muslim mau pun kristen, tidak terpengaruh dan tidak terpancing serta tidak terprovokasi, sehingga suasana tetap kondusif.

Saat Habib Rizieq masuk Kota Pematang Siantar, setelah istirahat di rumah salah seorang Tokoh Masyarakat Siantar, langsung menuju alun-alun dengan diarak puluhan mobil dengan alunan Sholawat.

Di alun-alun Habib Rizieq disambut antusias oleh ribuan umat Islam yang sudah berkumpul memadati lokasi Tabligh Akbar dengan wajah senang dan bahagia tanpa terpengaruh dengan aneka issue jahat yang ingin mengadu-domba umat beragama.

Dalam ceramahnya, Habib Rizieq tetap tampil sebagaimana biasa, tanpa beban, santai tapi tetap semangat dan tegas, yang sekali-sekali disambut Takbir dan Sholawat oleh ribuan jama'ah yang memadati alun-alun Siantar.

Di akhir ceramah, Habib Rizieq menyerukan semua umat beragama di Pematang Siantar untuk menjaga keutuhan NKRI, dan membangun kerukunan antar umat beragama, serta bersama-sama melawan segala kemunkaran yang menjadi sumber konflik antar anak bangsa.

Tabligh Akbar ditutup dengan doa oleh Imam FPI DKI Jakarta Habib Muhsin bin Zaid Alattas yang menyertai Imam Besar FPI dalam Safari Da'wah tersebut.

Acara yang dijaga ketat ratusan polisi dan tentara, lengkap dengan senjata otomatis, berjalan semarak, lancar dan sukses serta berkah. Umat Islam pun pulang dengan tertib dan aman.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin.

Rencananya sesuai jadwal, Habib Rizieq pada Ahad pagi akan kembali ke Jakartakarena harus isi dua acara di Kabupaten dan Kota Bogor. Dan hari Selasa hingga Kamis ada Safari Da'wah di Aceh. Semoga beliau diberi kesehatan dan kekuatan.

Aamiiin ....


[Tim News FPI]

Dari Medan Hingga Siantar

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Setelah hari Kamis 19 November 2015, dari pagi hingga sore, Ha...

Jumat, 20 November 2015



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Mudzakarah Ulama - Habaib sudah dua kali menggelar musyawarah di Jakarta. Para Ulama dan Habaib berharap melalui Mudzakarah ke depan Jakarta akan dipimpin oleh gubernur muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlaqul karimah, serta mampu mengantarkan DKI Jakarta menjadi miniatur Indonesia dalam bentuk negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur (negeri yang adil dan makmur, yang diberkahi serta diampuni Allah).

MUDZAKARAH PERTAMA

Pada hari Kamis 22 Oktober 2015 telah digelar Mudzakarah Ulama - Habaib I di kediaman pimpinan Perguruan Islam As-Syafi'iyah, KH. Abdurrasyid Abdullah Syafi'i.

Hadir dalam Mudzakarah Pertama tersebut KH. Abdurrasyid Abdullah Syafii selaku Tuan Rumah, lalu Habib Muhammad Rizieq Syihab (Imam Besar FPI), Habib Zen bin Smith (Ketum Rabithah Alawiyah), Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Ketua Islamic Center Indonesia - Kwitang), Habib Muhsin bin Zaid Alattas (Imam FPI Jakarta), KH. Maulana Kamal Yusuf (Mustasyar PBNU), KH. Mahfudz Asirun (Pimpinan Ponpes Al-Itqon), KH. Syuhada Bahri (Ketum DDII), Syeikh Muhammad Thalib (Amir MMI), DR. Abdul Khair (Komisi Kumdang MUI), KH. Muhammad Al-Khaththath (Sekjen FUI), KH. Ja'far Shiddiq, DR. Daud Rasyid, Ust. Abu Jibril, Ust. Mashadi, Ust. Nazar Haris, dan tokoh lainnya dari berbagai Ormas Islam, Pesantren dan Majelis Ta'lim.

Mudzakarah Pertama telah menyepakati untuk mengikhtiarkan satu pasangan calon dari kalangan umat Islam yang akan maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2017 mendatang.

Mudzakarah juga menyepakati langkah-langkah strategis untuk mewujudkan visi mulia tersebut, antara lain :

1. Merangkul seluruh komponen dan elemen umat Islam, termasuk Masjid, Majelis, Pesantren, Ormas dan Orsospol.

2. Membentuk Posko Rakyat hingga tingkat RT / RW di seluruh wilayah Jakarta yang terdiri dari 5 Kodya, 1 Kabupaten, 44 Kecamatan, 267 Kelurahan, 2.726 RW dan 30.537 RT

3. Membentuk Majelis Tinggi dan Dewan Pemilih serta Badan Pekerja yang tersistem dan terkoordinir untuk Jakarta Bersyariah.

4. Sosialisasi besar-besaran tentang Wajib Memilih Pemimpin Muslim di seluruh lapisan masyarakat muslim Jakarta melalui Da'wah.

5. Secepatnya menggelar Mudzakarah II dengan melibatkan lebih banyak Ulama, Habaib, Cendikiawan, Tokoh Masyarakat dan Pengusaha.

MUDZAKARAH KEDUA

Pada hari Kamis 19 November 2015 kembali digelar Mudzakarah Ulama - Habaib II di Aula di Aula Masjid Raya Al-Ittihaad, Tebet Jakarta Selatan.

Kali ini selain dihadiri oleh semua tokoh Mudzakarah Pertama, juga hadir KH.Fakhrurrozi Ishaq (Gubernur Rakyat Jakarta), HabibUmar Al-Hamid (Wakil Gubernur Rakyat), KH. Munawir Asli (Ketua Majelis Syura GMJ), KH Kholil Ridhwan (Pembina Pengajian Politik Islam), KH Zaid Bahmid (Al-Irsyad Al-Islamiyyah), KH Ahmad Sobri Lubis (Ketum FPI), (KH Misbahul Anam (Majelis Syura DPP FPI), Ust. Alfian Tanjung (Taruna Muslim), DR. Sayyid Syeichan Shahab (FUHAB), KH. Endang (Forum Betawi Bersatu), Habib Soleh Al-Habsyi, Habib Ali Idrus Alattas, KH. Muhammad Thoyyib Izzi, KH Sulaiman Rahimin, KH. Buya Abdul Majid, KH. Zainuddin, Ust. Farid Uqbah, Ust. Ferry Nur, dan beberapa Tokoh Islam Wanita, serta Para  Pimpinan MUI DKI Jakartadan wilayah.

Mudzakarah Kedua berhasil menyusun kepengurusan Majelis Tinggi dan Dewan Pemilih serta Badan Pekerja Jakarta Bersyariah. Dalam Mudzakarah kedua ini terpilih secara musyawarah mufakat dua orang tokoh DKI Jakarta, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab sebagai Ketua Majelis Tinggi dan KH Mahfudz Asirun sebagai Ketua Dewan Pemilih. Adapun Badan Pekerja masih dinakhodai oleh H. Munarman SH dan DR. Abdul Khoir.

Majelis Tinggi dibentuk dengan berbagai fungsi di antaranya sebagai pembina spiritual bagi seluruh komponen yang terlibat dalam agenda pemilihan gubernur Muslim DKI Jakarta. Selain itu juga menjadi pengarah bagi kepanitiaan, Badan Pekerja, Dewan Pemilih dan Tim Pemenangan yang terlibat dalam agenda gubernur Muslim untuk DKI. Majelis Tinggi juga akan turut serta dalam menentukan bakal calon Gubernur Muslim.

Sedangkan Dewan Pemilih dibentuk dengan fungsi melakukan proses seleksi teknis mulai administrasi hingga debat terbuka terhadap bakal calon melalui rangkaian dan tahapan yang profesional. Dewan Pemilih pula yang akan membuat jadwal dan tahapan proses seleksi bakal calon Gubernur, menjadi panelis dalam proses wawancara terbuka dengan peserta konvensi dan menyiapkan musyawarah dengan Majelis Tinggi untuk menentukan bakal calon pasangan gubernur Muslim.

SUARA TOKOH WANITA ISLAM

Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Forum Silaturahim antar Pengajian (PP FORSAP), Ustz. Hj. Nurdiati Akma yang ikut hadir dalam Mudzakarah tersebut mengungkapkan bahwa acara ini bagus sekali dan harus didukung oleh semua umat Islam.

“Ini saatnya dan momen yang sangat penting kalau kita tidak mau gigit jari nantinya. Kalau kita ingin memenangkan gubernur muslim ya harus turun semuanya, kita harus ikut gerakan para ulama," ujarnya.

Menurutnya, seluruh warga Jakarta yang merasa dirinya Islam dan komit terhadap agama Islam harus mendukung Mudzakarah ini, karena cita-citanya adalah menjadikan gubernur muslim yang terbaik untuk memimpin Jakarta.

"Jadi ini (calon gubernur dan wakil gubernur, red) bukan yang model-model kaya Ahok, kita harus tolaklah, karena dia ingin menghancurkan agama kita," tegasnya.

KONVENSI UMAT ISLAM JAKARTA

Mudzakarah Kedua juga sepakat mengikhtiarkan satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta melalui proses "Konvensi Umat Islam Jakarta." Konvensi ini akan dilakukan untuk menguji kompetensi, kelayakan dan mengukur popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas seluruh peserta konvensi.

Mudzakarah akan menampung setiap pasangan calon gubernur dan wakil gubernur lalu mengikhtiarkan menjadi satu pasangan terbaik yang akan maju dalam pemilihan. Selanjutnya para ulama dan umat Islam akan bergerak bersama-sama berjuang untuk memenangkan pasangan tersebut.

Dalam Konferensi Pers usai Mudzakarah, Ketua Majelis Tinggi Habib Rizieq Syihab menyatakan di hadapan para wartawan : "Mudzakarah ini suatu forum para ulama, habaib, cendekiawan dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi soal kepemimpinan bagi masyarakat Jakarta yang berpenduduk mayoritas muslim, sehingga diharapkan, Insya Allah, melalui Mudzakarah mampu menyatukan semua potensi umat agar terwujudnya kepemimpinan Islam di Jakarta."

Selanjutnya, Habib Rizieq mengatakan bahwa dirinya yakin lewat konvensi ini, akan muncul satu pasangan muslim yang terbaik untuk mewakili masyarakat dalam mengikuti proses Pilgub Jakarta.

"Kita mesti yakin walau pun akan ada kemungkinan terburuk, kalau itu terjadi tentu para ulama akan selalu melakukan musyawarah untuk mencari solusinya," jelasnya.

Menurutnya, Mudzakarah ini akan tetap berkelanjutan. Tidak hanya sebatas pilgub, tetapi ke depannya akan selalu bermusyarawah dalam merespon setiap perkembangan di tengah umat Islam.

Rencananya, Mudzakarah Ketiga akan digelar pada hari Kamis 10 Desember 2015 dengan akan melibatkan lebih banyak elemen dan komponen umat Islam termasuk yang akan diundang Ormas dan Orsospol.

Akhirnya, Mudzakarah menyerukan agar umat Islam di seluruh Indonesiauntuk hanya memilih Pemimpin Muslim.


Allaahu Akbar ... !!!

Mudzakarah Ulama - Habaib Untuk Jakarta Bersyariah

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Mudzakarah Ulama - Habaib sudah dua kali menggelar musyawarah ...

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Kamis 19 November 2015, menjelang Isya, Mantan Ketum PBNU yang kini menjabat sebagai Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Schollar), KH Ahmad Hasyim Muzadi, silaturrahim ke Markaz Besar FPI di Petamburan - Tanah Abang Jakarta Pusat.

Kedatangan Kyai Hasyim disambut langsung Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, yang didampingi Ketum, Waketum dan Sekum DPP FPI, serta Imam-Imam FPI Daerah, antara lain Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan Kalbar.

Dalam pertemuan tersebut Kyai Hasyim memaparkan tentang peta gerakan da'wah di Indonesia beserta tantangannya. Beliau juga mengingatkan pentingnya posisi dan peran Ahlus Sunnah wal Jama'ah di tengah pertikaian pemikiran antara Wahabi, Syiah, Liberal dan PKI.

Beliau mengingatkan bahwa Aswaja harus kuat, dan harus selalu bersikap tawassuth (pertengahan) dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga selalu menampilkan Islam yang Rohmatan Lil 'Aalamiin.

DIALOG RINGAN

Di akhir pertemuan, Habib Rizieq menyampaikan kepada Kyai Hasyim bahwa FPI mendengar istilah ISLAM NUSANTARA untuk pertama kalinya dari Kyai Hasyim sejak beberapa tahun lalu, dengan makna Islam Rohmatan Lil 'Aalamiin yang menyatu berurat berakar dengan kehidupan masyarakat Nusantara, sehingga sejuk mendengarnya.

Namun kini, makna ISLAM NUSANTARA setelah jadi program Pemerintah yang kemudian diusung oleh para Tokoh Liberal berubah total menjadi Islam Anti Jenggot, Anti Jubah, Anti Sorban, Anti Shoff Rata dan Rapat, Anti Baca Qur'an dengan Langgam Arab, dan lain sebagainya, sehingga FPI gerah mendengarnya.

Akhirnya, FPI memberi aneka gelar buat ISLAM NUSANTARA, ada JIN (Jemaat Islam Nusantara), ada juga ANUS (Aliran Nusantara).

Mendengar hal tersebut, Kyai Hasyim sambil semyum dan tertawa, langsung menjawab singkat : "Iya, Islam Nusantara telah dibajak, dari Rohmatan Lil 'Aalamiin, jadi Anti Arab. Makanya, saya kembali kepada istilah asli yaitu Islam yang Rohmatan Lil 'Aalamiin."

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Silaturrahim Sang Kyai

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Kamis 19 November 2015, menjelang Isya, Mantan Ketum PBNU yang...

Minggu, 15 November 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah …
Wa Laa Haula wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Sunnatullaah … Siapa menanam benih kebencian dan permusuhan, niscaya akan memanen perselisihan dan pertikaian. Siapa menanam benih kejahatan dan kezaliman, niscaya akan memanen dendam dan kemarahan. Siapa menanam benih kekejaman dan kebiadaban, niscaya akan memanen peperangan dan pertumpahan darah. Itulah sebabnya dalam peri bahasa Indonesia dikatakan : ”Siapa menebar Angin akan menuai Badai”.

PARIS DISERANG

Jum’at 13 November 2015 malam, Dunia dikagetkan dengan serangan teror dengan senjata otomatis dan bom oleh sejumlah pemuda di sejumlah lokasi di  jantung Kota Paris di Perancis, antara lain di stadion olah raga Stade de France, Restauran Petit Cambodge di Les Halles dan gedung konser Bataclan Concert Hall, yang seluruhnya menewaskan 129 orang dan melukai 259 orang.

Pemerintah Perancis pun mengumumkan keadaan Darurat, yang disusul dengan putusan Hari Berkabung Nasional selama 3 hari. Para Pemimpin Dunia menyampaikan bela sungkawa untuk Perancis, sekaligus mengutuk dan melaknat para pelaku teror tersebut, termasuk Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Di internet dan medsos, warga dunia pun berlomba menyampaikan ”Pray for Paris” sebagai bentuk turut berduka cita atas peristiwa tersebut.

ANALISA

Berbagai analisa pun muncul terkait kejadian tersebut, ada yang langsung menuding ISIS, dan ada juga yang menuding pihak lainnya. Di antara sekian banyak analisa, ada dua pandangan yang cukup menarik untuk dicermati, yaitu :

1. Terkait dengan dukungan Perancis terhadap kemerdekaan Palestina dan keanggotaan resminya di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), yang mengakibatkan kemarahan Israel, sehingga beberapa waktu lalu ada peringatan dari Israelbahwa Perancis akan menerima konsekuensi atas pengakuannya terhadap negara Palestina. Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu pernah mengatakan bahwa pengakuan Perancis atas negara Palestina adalah “Grave Mistakes” alias Kesalahan Kuburan, maka sejumlah analis langsung menudingkan jarinya bahwa ”Serangan Paris” adalah rekayasa agen rahasia Israel, yaitu Mossad, dengan menjebak sejumlah Militan Muslim dan memberi jalan untuk menebar teror di Paris. Tujuannya jelas agar Perancis dan sekutunya tidak lagi memberi simpatik kepada gerakan Islam mana pun di Dunia, khususnya Pejuang Palestina yang merupakan musuh bebuyutan Israel, sekaligus agar menarik kembali dukungan Kemerdekaan Palestina.

2. Terkait dengan keterlibatan Perancis dalam Pasukan Multi Nasional yang dipimpin Amerika Serikat di Afghanistan, Iraq dan Syria, sehingga Perancis menjadi salah satu target serangan balas dendam atas semua kejahatan dan kebiadaban yang dilakukan negara-negara sekutu di negeri-negeri Islam tersebut yang telah menewaskan ratusan ribu warga sipil (-bandingkan dengan korban ”Serangan Paris” yang hanya menewaskan 129 orang-),  dan sekaligus menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat mereka, secara politik, ekonomi, hukum mau pun keamanan. Ditambah lagi, selama ini Perancis dengan dalih HAM dan Kebebasan Berekspresi menjadi ”Surga” bagi para penista Islam dan penghina Nabi Muhammad SAW, seperti Charlie Hebdo dan lainnya. Karenanya, sejumlah analis langsung menuding bahwa pelaku ”Serangan Paris” adalah Militan Muslim dari ISIS atau lainnya, bahkan mereka memperkirakan akan ada serangan serupa atau lebih besar lagi terhadap negara-negara sekutu lainnya, selama mereka tidak hengkang dari negeri-negeri Islam tersebut.

Terlepas dari berbagai analisa, yang jelas hampir semua media nasional mau pun internasional saat ini menuding Militan Muslim sebagai operator lapangannya sesuai dengan identitas para pelaku yang telah diungkap.

I’TIBAR
Dunia wajib mengambil pelajaran dari berbagai serangan teror terhadap negara-negara sekutu yang melibatkan para Militan Muslim, mulai dari ”Serangan WTC” di Amerika Serikat pada 11 September 2001 hingga ”Serangan Paris” di Perancis pada 13 November 2015.

Kezaliman dan Kebiadaban ASbersama sekutunya di negeri-negeri Islam telah melahirkan Usamah bin Ladin di Dunia, bahkan telah melahirkan Amrozi dan Imam Samudera di Indonesia. Walau pun Usamah bin Ladin telah dibunuh oleh tentara AS, dan Amrozi bersama Imam Samudera telah dieksekusi mati oleh Pemerintah RI, namun selama AS dan sekutunya tetap melakukan kezaliman di negeri-negeri Islam dan kebiadaban terhadap umat Islam, maka niscaya ribuan Usamah bin Ladin, dan Amrozi serta Imam Samudera akan lahir kembali.

Karenanya, jika ingin menghentikan serangan teror Militan Muslim terhadap negara-negara sekutu, maka hanya ada satu jalan yaitu : ”Stop segala bentuk kezaliman dan kebiadaban terhadap umat Islam dan negeri Islam di mana pun … !!!”

Ingat : ”Siapa menebar Angin akan menuai Badai”


Hasbunallaah wa Ni’mal Wakiil … Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir …

Serangan Paris, Siapa Menebar Angin Akan Menuai Badai

Bismillaah wal Hamdulillaah … Wa Laa Haula wa Laa Quwwata illaa Billaah … Sunnatullaah … Siapa menanam benih kebencian dan permusuhan, nisca...

Selasa, 10 November 2015


Aksi terorisme dan provokasi kembali dilakukan gerombolan Kristen radikal di Sulawesi Utara. Sejak Senin (9/11), kelompok teroris Kristen yang mengatas namakan dirinya Brigade Manguni dan Pasukan Waranai menyerang pembangunan Masjid Asy-Syuhada di Kompleks Aer Ujang, kelurahan Girian Permai, kecamatan Girian, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Informasi terbaru yang diterima redaksi FPI Online, pada Selasa (11/11/2015), rumah Bapak Karmin Mayau, ketua panitia pembangunan masjid tersebut mendapat teror dari gerombolan Kristen radikal, mereka menghancurkam pagar, cendela, rumah beserta isinya. Selain itu, beberapa rumah muslim lainnya juga ikut menjadi korban aksi vandalisme ini.

Saat ini, gerombolan teroris Kristen yang beratribut baju hitam-hitam ini masih terus mengepung kota Bitung. Mereka berada stanby di markaznya di Danau Wudu. Jarak antara Danau Wudu dengan pemukiman umat Islam hanya sekitar 200 sampai 300 meter.

Sehari sebelumnya, telah dilakukan upaya perdamaian kedua belah pihak yang difasilitasi oleh pemerintah. Namun sayang, perdamaian ini dikhianati pihak teroris. Mereka kembali menyerang dan merusak rumah-rumah kaum Muslimin tadi malam.

Umat muslim terus berjaga-jaga dan bersiaga mengantisipasi serangan kembali teroris Kristen. Mereka juga telah membuat dapur umum, dan berbagai keperluan lainnya.

Informasi yang disampaikan Ustad Sugianto Panglima Laskar Pembela Islam Poso,  bahwa aparat TNI Polri yang siaga di lokasi sangat sedikit, tidak lebih dari 100 orang.


Sumber: FPI Online

Biadab, Gerombolan Teroris Kristen Rusak Masjid dan Rumah Umat Islam di Bitung

Aksi terorisme dan provokasi kembali dilakukan gerombolan Kristen radikal di Sulawesi Utara. Sejak Senin (9/11), kelompok teroris Kristen ya...

Senin, 26 Oktober 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ....
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, sejak lima tahun lalu melalui bukunya yang berjudul WAWASAN KEBANGSAAN memperkenalkan istilah NKRI BERSYARIAH dan getol mengkampanyekannya melalui berbagai media da'wah, baik mimbar dan majelis, mau pun cetak dan elektronik.

Sedang Presiden RI Joko Widodo saat pidato kenegaraan di bulan Agustus 2015 menyatakan bahwa Islam kita adalah ISLAM NUSANTARA.

Jika yang dimaksud dengan ISLAM NUSANTARA adalah Islam Rahmatan Lil 'Aalamiin yang telah berurat berakar membudaya di tengah masyarakat Nusantara, maka tentu sejalan dengan NKRI BERSYARIAH.

Namun jika yang dimaksud dengan ISLAM NUSANTARA adalah Islam yang dianggap sebagai Pendatang Arab yang harus di-Nusantara-kan, sehingga semua unsur Arab dalam Islam harus dihapuskan, maka tentu bertolak belakang dengan NKRI BERSYARIAH.

Faktanya, para pengusung dan pembela ISLAM NUSANTARA saat ini banyak berasal dari para pentolan LIBERAL yang selama ini sering menyerang Islam, sehingga Habib Rizieq menamakan mereka JEMAAT ISLAM NUSANTARA disingkat JIN, bahkan belakangan diberikan nama baru yang lebih tepat yaitu ALIRAN NUSANTARA disingkat ANUS.

1. TATHBIQ SYARIAH

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa Tathbiq Syariah di Indonesia  adalah harga mati yang tidak bisa ditawar, karena Indonesia adalah Negara Tauhid yang berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga Syariat Islam harus diterapkan di tengah masyarakat muslim Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tanpa mengebiri hak beragama kaum minoritas mana pun.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa Tathbiq Syariah di Indonesia tidak boleh terjadi, karena Indonesia bukan Negara Islam, sehingga Penerapan Syariat Islam di Indonesia merupakan bentuk diskriminasi dan penindasan terhadap kaum minoritas, sekaligus merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

2. PENEGAKAN KHILAFAH

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa Sistem Khilafah adalah Sistem yang harus ditegakkan, apalagi sudah berhasil membuktikan diri selama 13 (tiga belas) abad lebih sebagai sistem  terbaik yang sukses memimpin Dunia. Dan Penegakan Khilafah adalah sesuatu yang pasti akan terwujud, setidaknya saat kedatangan Imam Mahdi sebagaimana dikabarkan oleh Nabi SAW, sehingga perjuangan Penegakan Khilafah sepanjang zaman akan selalu menjadi andil penting untuk membuka jalan bagi kedatangan Sang Imam.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa Sistem Khilafah adalah sistem kadaluwarsa yang tidak relevan lagi dengan zaman kekinian, sehingga Penegakan Khilafah di zaman sekarang tidak lagi realistis, bahkan merupakan suatu utopis yaitu hanya mimpi yang tidak akan terwujud. 

3. SISTEM DEMOKRASI

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa Sistem Demokrasi yang baru lahir sejak Revolusi Kebudayaan Perancis pada tahun 1789 M adalah Sistem Sekuler yang bertentangan dengan ajaran Islam, sehingga umat Islam haram melaksanakannya, kecuali terpaksa, sambil tetap berusaha menggantinya kembali dengan Sistem Khilafah yang telah dicontohkan Nabi SAW.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa Sistem Demokrasi adalah Sistem paling ideal saat ini karena memisahkan urusan agama dari urusan negara, dan melindungi semua agama tanpa diskriminasi, sehingga sejalan dengan ajaran Islam yang rahmatan Lil 'Aalamiin.

4. HAK ASASI MANUSIA (HAM)

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa HAM adalah Hak yang melekat sejak lahir pada setiap orang sebagai karunia Allah SWT, sehingga HAM tidak akan pernah bertentangan dengan KAM (Kewajiban Asasi Manusia) yang ditetapkan Allah SWT. Karenanya, segala bentuk kema'siatan dan kemunkaran adalah bukan HAM.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa HAM adalah hak yang melekat sejak lahir pada setiap orang secara alami, sehingga tidak ada kaitan dengan aturan agama apa pun. Karenanya, Iman dan Kufur, serta Taat dan Ma'siat adalah merupakan HAM setiap manusia yang tidak boleh diintervensi siapa pun.

Itulah sebabnya, Aliran Sesat dan LGBT (Lesbi, Gay, Bisexual dan Transgender) bagi NKRI BERSYARIAH bukan HAM, tapi bagi ISLAM NUSANTARA merupakan HAM.

5. KESETARAAN GENDER

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa dalam Islam tidak ada Kesetaraan Gender, tapi yang ada adalah Keserasian Gender. Allah SWT menciptakan pria dan wanita dengan kodrat perbedaan biologis dan phsycologis untuk berbagi peran dan tugas, serta hak dan kewajiban, sehingga tercipta keserasian untuk keseimbangan dan keharmonisan kehidupan umat manusia.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa pria dan wanita setara dengan hak dan kewajiban yang sama tanpa ada sedikit pun perbedaan.

Oleh karenanya, bagi NKRI BERSYARIAH bahwa hak waris anak laki dan perempuan dalam Islam, hingga hak kepemimpinan rumah tangga dan negara,  sudah tepat sesuai dengan kodrat peran dan tugas serta kewajiban masing-masing, tapi bagi ISLAM NUSANTARA tidak adil dan tidak relevan lagi, sehingga harus diubah agar sesuai dengan tuntutan zaman modern.

6. TOLERANSI

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa Toleransi antar umat beragama menjamin setiap umat beragama bebas meyakini kebenaran agama yang dianutnya dan bebas menolak agama lain yang tidak diyakininya, asal tidak menghina agama lain tersebut.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa Toleransi antar umat beragama mengharuskan setiap umat beragama untuk mengakui kebenaran semua agama, sehingga tidak boleh ada umat beragama mengklaim bahwa agamanya saja yang benar,  sedang yang lain salah, karena semua agama sama dan semuanya benar.

7. PRIBUMISASI ISLAM

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa Islam adalah agama samawi yang diturunkan Allah SWT dari langit, dan pertama kali diturunkan ke tengah bangsa Arab untuk disebar-luaskan ke seluruh umat manusia, sehingga Islam adalah Agama Langit bukan Agama Arab, apalagi Rasulullah SAW tidak pernah meng-Arab-kan Islam, tapi sebaliknya justru meng-Islam-kan Arab, bahkan meng-Islam-kan seluruh bangsa di Dunia. Selain itu, Islam sebagai agama Allah SWT Sang Pencipta dan Pemilik Bumi tidak akan pernah menjadi pendatang di Bumi Allah SWT, tapi akan selalu menjadi Pribumi di setiap pelosok Bumi Allah SWT.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa Islam di Indonesia adalah agama pendatang dari Arab yang harus di-Nusantara-kan, sehingga semua unsur Arab dalam Islam harus dihapus dan diganti dengan budaya Nusantara.

8. ISLAM dan ARAB

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa Islam dan Arab tidak bisa dipisahkan, karena Islam pertama kali diturunkan di tengah masyarakat Arab, dan Rasulullah SAW adalah bangsa Arab, serta Al-Qur'an diturunkan dalam Bahasa Arab, bahkan Bahasa Akhirat nanti adalah tetap Bahasa Arab. Dan hukum apa pun yang sudah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW maka sudah jadi Ajaran Islam, sehingga tidak lagi disebut Budaya Arab atau 'Ajam, karena sudah jadi milik seluruh muslim apa pun suku bangsanya.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa Islam dan Arab harus dipisahkan dengan cukup ambil Islamnya dan buang Arabnya, sehingga semua budaya Arab dalam ajaran Islam harus dihapus dan diganti.

Oleh karenanya, hukum Salam, Jilbab, Jenggot, Jubah, Sorban, Cambuk Pemabuk, Potong Tangan Pencuri, Rajam Penzina, hingga Meratakan dan Merapatkan Shoff Sholat, semuanya bagi NKRI BERSYARIAH adalah ajaran Islam yang harus diikuti, tapi bagi ISLAM NUSANTARA semua itu hanya tradisi Arab yang tidak perlu diikuti, karena tidak ada kaitan dengan Islam.

9. PERBEDAAN dan PENODAAN

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa Aliran Sesat seperti Ahmadiyah dan yang sejenisnya adalah Penodaan Agama yang harus dilarang.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa Aliran Sesat apa pun tidak boleh dilarang, bahkan harus dilindungi dan diberi kesempatan yang sama dengan agama apa pun untuk berkembang, karena itu adalah bagian dari kebebasan beragama dan berkeyakinan.

10. PEMIMPIN KAFIR

Bagi NKRI BERSYARIAH bahwa orang kafir tidak boleh menjadi pemimpin Wilayah Islam atau Wilayah Mayoritas Muslim, karena Al-Qur'an dan As-Sunnah melarangnya. Jangankan kafir, orang muslim saja jika tidak bertaqwa dan tidak berakhlak mulia tidak boleh jadi pemimpin. Jadi yang boleh jadi pemimpin hanya muslim yang beriman dan bertaqwa serta berakhlaqul karimah.

Sedang bagi ISLAM NUSANTARA bahwa orang kafir boleh menjadi pemimpin Wilayah Islam atau Wilayah Mayoritas Muslim, karena manusia mana pun dan apa pun agamanya punya hak yang sama. Bahkan pemimpin kafir yang jujur lebih baik dari pemimpin muslim yang korup.

NKRI BERSYARIAH atau ISLAM NUSANTARA ?

Kini, umat Islam tinggal memilih : Ikut Habib Rizieq yang mengusung NKRI BERSYARIAH atau ikut Presiden Jokowi yang mengusung ISLAM NUSANTARA ... ?

Allah SWT berfirman dalam QS.2.Al-Baqarah ayat 256 :

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَد تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَن يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِن بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Shodaqollaahul 'Azhiim ...

(Forum Diskusi Santri FPI)

NKRI BERSYARIAH vs ISLAM NUSANTARA

Bismillaah wal Hamdulillaah .... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, sejak lima tahu...

 

© 2015 - Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile