Tampilkan postingan dengan label Wahabi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wahabi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2015


Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Kitab Minhaajus Sunnah fii Naqdhi Kalaami Asy-Syii’ah wa Al-Qoadariyyah adalah karya Asy-Syeikh Ahmad b Abdul Halim b Abdissalam rhm (671 – 728 H) yang masyhur dengan sebutan Ibnu Taimiyah. Kitab tersebut banyak dikaji dan ditakhrij oleh Ulama, salah satunya ditakhriij oleh Muhammad Aiman Asy-Syabroowi, terbitan Darul Hadits – Cairo – Mesir, 4 jlid 8 juz dengan total 2.400 halaman, cetakan tahun 1425 H / 2004 M.

Kitab tersebut ditulis oleh Ibnu Taimiyah rhm sebagai tanggapan terhadap Kitab Minhaajul Karoomah fii Ma’rifatil Imaamah karya Abu Manshur Hasan b Yusuf b Muthohhar Al-Hilliy (w : 726 H) seorang Ulama Syiah Roofidhoh yang dalam kitabnya tersebut menghujat para Shahabat Nabi SAW, khususnya Dua Khalifah yang mulia yaitu : Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA.

Dalam kitab tersebut, Ibnu Taimiyah rhm dengan sangat bagusdan brillian melakukan pembelaan terhadap para Shahabat Nabi SAW dari serangan Syiah Roofidhoh, namun sayang mungkin karena terlalu semangat atau penuh emosi, sehingga dalam menanggapi hujatan Syiah Roofidhoh tersebut, terkadang beliau kebablasan sehingga merendahkan Ahli Bait Nabi SAW.

IBNU TAIMIYAH DAN SAYYIDAH KHADIJAH RA

Ibnu Taimiyah rhm dengan sangat bagus sekalimelakukan pembelaan terhadap Sayyidah Aisyah RA yang dilecehkan Syiah Roofidhoh. Beliau dengan sangat cermat dan teliti mengemukakan hujjah-hujjah yang kuat tak terbantahkan. Namun, saking semangatnya menyerang Syiah Roofidhoh yang menyanjung Sayyidah Khadijah RA dengan merendahkan Sayyidah Aisyah RA, sehingga Ibnu Taimiyah rhm terjebak dalam posisi kebalikannya yaitu menyanjung Sayyidah Aisyah RA dengan merendahkan Sayyidah Khadijah RA.

Dalam pembelaannya terhadap Sayyidah Aisyah RA, Ibnu Taimiyah rhm meremehkan peran Sayyidah Khadijah RA dengan menyebut bahwa manfaat iman Sayyidah Khadijah RA hanya terbatas untuk Nabi SAW dan tidak manfaat buat umat Islam. (Juz 4 hal.138 ).   

IBNU TAIMIYAH DAN SAYYIDAH FATHIMAH RA

Ibnu Taimiyah rhm juga sangat piawai dan cerdasdalam membela Sayyiduna Abu Bakar RA dari serangan Syiah Roofidhoh, sehingga semua hujjah Syiah Roofidhoh rontok dan terserabut hingga akar-akarnya. Namun, tatkala beliau menyoroti dan mengulas tentang perselisihan yang terjadi antara Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyidah Fathimah RA terkait Tanah Fadak, maka Ibnu Taimiyah rhm terjebak dalam sikap merendahkan Sayyidah Fathimah RA.

Dalam kitab tersebut Ibnu Taimiyah rhm menyatakan tentang Sayyidah Fathimah RA putri Rasulullah SAW, antara lain :

a)      Bahwa Pertikaian Fathimah RA dan Abu Bakar RA telah menjadi cela dan cacat buat Fathimah RA. (Juz 4 hal. 111).

b)    Bahwa Sikap Fathimah RA tercelakarena ingin menyampaikan keluhan kepada Rasulullah SAW di Hari Akhir nanti tentang keadaan yang menimpanya sepeninggal sang ayah, padahal keluhan itu semestinya kepada Allah SWT bukan kepada Nabi SAW. (Juz 4 hal.111).

c)    Bahwa Kemarahan Fathimah RA terhadap Abu Bakar RA seperti kemarahan kaum munafiqin karena hanya lantaran sebab tidak diberi permintaannya. (Juz 4 hal.112).

d)   Bahwa Fathimah RA bodoh dan berdosakarena berwasiat agar jenazahnya tidak dishalatkan Abu Bakar RA. (Juz 4 hal.113).

e)    Bahwa tidak ada keutamaan Fathimah RA yang terkait ridho Allah SWT ada dalam ridhonya dan kemurkaan Allah SWT ada dalam murkanya. (Juz 4 hal.114).

f)       Bahwa yang menyakiti Fathimah RA adalah Ali RA, karena ingin memadunya dengan putri Abu Jahal, sehingga Nabi SAW murka. (Juz 4 hal 115).

g)     Bahwa Kesedihan Fathimah RA atas kematian ayahandanya, yaitu Rasulullah SAW, sebagai kesedihan yang tidak perlukarena tidak diperintah oleh Nabi SAW. (Juz 8 hal.243 ).


IBNU TAIMIYAH DAN SAYYIDUNA ALI RA

Dalam kitab Minhaajus Sunnah tersebut, Ibnu Taimiyah rhm menyebutkan tentang Sayyiduna Ali b Abi Thalib RA antara lain sebagai berikut :

a)      Bahwa Ali RA bodoh karena berhujjah dengan wasiat Fathimah RA agar jenazahnya tidak dishalatkan Abu Bakar RA. (Juz 4 hal 113).

b)      Bahwa Ali RA tidak adil dan pelaku Nepotisme serta membenci rakyatnya sendiri. (Juz 6 hal.11 & Juz 7 hal.260).

c)      Bahwa Ali RA tidak dibaiat sebagai khalifah kecuali oleh golongan kecil atau sedikit, bahkan banyak orang baik yang memeranginya. Dan Ali RA selama kekhilafahannya tidak menampakkan / menjayakan agama Islam. Serta pembaiatan Ali RA tidak disepakati oleh umat Islam, dan selama kekhalifahannya pedang hanya terhunus untuk orang Islam. (Juz 4 hal.51, 56 dan 75).

d)     Bahwa Ali RA ditegur keras oleh Nabi SAW saat hendak memadu Fathimah RA dengan putri Abu Jahal, dan Ali RA membantahsaat diajak shalat malam oleh Nabi SAW dengan alasan Qadar. (Juz 4 hal 110 dan 115).

e)      Bahwa pendapat Ali RA banyak bertentangandengan Hadits Nabi SAW, dan Ali RA sering tidak mau mencabutpendapatnya yang sudah terang-terangan bertentangan dengan Hadits Nabi SAW. Dan Ali RA pernah menunda pembaiatan Abu Bakar karena ia yang ingin jadi Khalifah. (Juz 6 hal.16 dan Juz 7 hal.243).

f)       Bahwa Ali RA tidak menjadi rujukankarena tidak ada satu pun Imam Madzhab yang ikut fiqihnya, bahkan Ahli Madinah tidak ada yang ambil ilmunya, karena Ali RA tidak banyak tahu hadits. (Juz 6 hal.22, Juz 7 hal.277-278 dan 283 & Juz 8 hal.28).

g)      Bahwa Ali RA telah membuat perang yang tidak ada mashlahat buat agama mau pun dunia, dan dalam kekhilafahannya tak seorang kafir pun terbunuh dan tak seorang muslim pun yang gembira. Dan Ali RA hanya perang untuk jabatan dan kekuasaan dengan mengorbankan orang banyak. (Juz 4 hal 175 & Juz 6 hal.105 ).

h)   Bahwa dalil keabsahan Kekhilafahan Ali RA sedikit, dan selama kekhilfahannya tidak pernah memerangi orang Kafir, dan tidak pernah pula ada penaklukan negeri Kafir, karena perang antara kaum muslimin sendiri. (Juz 1 hal.320, Juz 4 hal. 208 – 210 & 226 - 230 ).

i)     Bahwa Ali RA tidak mendapat pujiandari Nabi SAW lebih tinggi daripada Umar RA mau pun Utsman RA serta Shahabat lainnya, bahkan Ali ditegur keras oleh Nabi SAW. (Juz 4 hal.110).

j)     Bahwa Hijrah Ali RA hanya untuk menikahiFathimah RA, sehingga Hijrah Ali RA bukan untuk Allah SWT dan Rasul-Nya. (Juz 4 hal.116).

k)   Bahwa Ali RA tidak memiliki keutamaandi atas Shahabat lain dalam soal Zuhud, Ibadah, Ilmu, Kecerdasan, Khithobah, Fashohah, Fiqih, Kesilaman, Keberanian mau pun Kekerabatannya dan Kedekatannya dengan Nabi SAW (Juz 5 hal.9 -38  & Juz 8 hal 29 – 50 dan 223-225 serta 263 – 287).

l)      Bahwa kebanyakan Shahabat dan Tabi’inmembenci Ali RA dan mencacinya serta memeranginya. (Juz 7 hal.77 dan Juz 8 hal.124).

m)   Bahwa keislaman Ali RA tidak memiliki pengaruh yang bagus kecuali sama dengan keislaman shahabat yang lain, bahkan keislaman Shahabat yang lain lebih besar pengaruhnya daripada keislaman Ali RA.(Juz 7 hal.109).

n)      Bahwa peran Ali RA dalam perang Badar mau pun perang-perang lainnya tidak seberapa. (Juz 7 hal 110 dan Juz 8 hal.50 - 70).

o)   Bahwa umat Islam dari Timur hingga Barat, termasuk penduduk Madinah hampir tidak pernah mengambil pendapatAli RA.(Juz 8 hal.28).

p)      Bahwa Ali RA sebagai orang paling berani adalah pernyataan dusta. (Juz 8 hal.44).

q)      Bahwa Islamnya Ali RA masih kecil sehingga diragukandan masih perlu dipertanyakan. (Juz 8 hal 153 dan 224 - 225 ).

r)    Bahwa Muawiyah RA tidak ingin perang, tapi Ali RA yang inginkan perang dan memulainya, maka Muawiyah RA hanya bela diri, sehingga Ali RA yang tercela dan bersalah karena menumpahkan darah kaum muslimin. (Juz 4 hal.200).

s)       Bahwa Ali RA salah karena telah memberhentikan Muawiyah RA tanpa alasan, dan Ali RA juga salahdalam ijtihadnya memerangi Mu’waiyah RA, bahkan sulit diampuni. (Juz 4 hal. 207- 209 dan Juz 6 hal.25 ).

t)     Bahwa Ali RA telah memulai memerangi orang Islam yang tidak memeranginya dengan alasan Bughot hingga ribuan kaum muslimin terbunuh, dan sebagian Ulama menyetujui pendapatnya, tapi kebanyakan Ulama menyalahinya. (Juz 8 hal.123 - 124).

u)    Bahwa Ali RA dalam kepemimpinannya tidak memerangi orang kafir dan tidak juga merebut suatu kota, bahkan membunuh seorang kafir pun tidak. (Juz 8 hal.128).

v)  Bahwa hubungan mushoharah Ali RA dengan Rasulullah SAW tidak sesempurna hubungan mushoharah Ustman RA dengan Nabi SAW. (Juz 8 hal.125).

w)    Bahwa Abu Bakar RA, Umar RA dan Utsman RA tidak membutuhkan Ali RA. (Juz 8 hal. 149).

x)      Bahwa membenci Ali RA tidak munafiq. (Juz 4 hal.135-136 dan Juz 7 hal.83 - 86).

y)      Bahwa Ali RA seperti Fir’aun. (Juz 4 hal 136 & 227).

z)      Bahwa Ali RA amal terbaiknya hanyamemerangi Khawarij. (Juz 6 hal.65).


IBNU TAIMIYAH DAN CUCU RASULULLAH SAW

Saat membela Mu’awiyah RA serta Yazid dan Bani Umayyah, Ibnu Taimiyah RA lagi-lagi terjebak dalam penghinaan terhadap Ahlul Bait Nabi SAW, di antaranya adalah Dua Cucu Rasulullah SAW yaitu Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA. Di antaranya beliau menyatakan :

a)    Bahwa tidak ada dalil tentang kezuhudan dan keilmuan Al-Hasan RA dan Al-Husein RA, sedang julukan keduanya sebagai Dua Pemimpin Pemuda Surga tiada makna istimewa. (Juz 4 hal 19 – 20 dan 78).

b)      Bahwa Al-Husein RA menginginan kekuasaan, namun saat tidak mampu baru minta dipertemukan dengan Yazid. (Juz 2 hal. 29).

c)   Bahwa Yazid adalah Khalifah yang sah, sedang Al-Husein RA adalah pemberontak yang salah, karena Al-Husein tidak sabar, sehingga pemberontakannya tidak ada manfaat agama mau pun dunia, bahkan hanya menyebabkan fitnah besar. (Juz 4 hal.241).

d)     Bahwa pembunuhan terhadap Al-Husein RA masalah kecil dibandingkan dengan pembunuhan para nabi oleh Bani Israil, karena Al-Husein bukan Nabi. ( Juz 4 hal.252 ).

e)    Bahwa sejahat-jahatnya Umar b Sa’ad SiPembunuh Al-Husein RA tetap muslim tidak murtad, bahkan jauh lebih baik daripada Mukhtar Ats-Tsaqofi Si Pembela Al-Husein RA yang akhirnya murtad karena mengaku sebagai Nabi.(Juz 2 hal.31).

Itulah sebabnya, Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rhmdalam kitab Ad-Durorul Kaaminah saat mengulas tentang Ibnu Taimiyah, menyatakan :

" ومنهم من ينسبه إلى النفاق لقوله في علي ما تقدم ."

Artinya : ”Dan daripada mereka (para Ulama) ada yang menisbahkannya (Ibnu Taimiyah) kepada Nifaq, karena ucapan / pernyataannya terhadap Ali sebagaimana telah disebutkan.”

Nah, kini pertanyaannya : ”Apa hukum menghina dan merendahkan Ahli Bait Nabi SAW yang juga merupakan Shahabat paling setianya, seperti Khadijah, Fathimah, Ali dan Al-Hasan serta Al-Husein, rodhiyallaahu ‘anhum ?”


WAHABI MEMBELA IBNU TAIMIYAH

Kaum ”Wahabi Ekstrim” berbeda dengan ”Wahabi Moderat”. Kalangan ”Wahabi Moderat” tidak sungkan menerima kritik Ulama Aswaja terhadap Ibnu Taimiyah rhm, dan mereka pun dalam membela Ibnu Taimiyah rhm tetap santun dan tidak berlebihan.

Sedang Kalangan ”Wahabi Ekstrim” terlalu berlebihan dalam membela Ibnu Taimyah, seolah Ibnu Taimiyah itu ”Nabi”yang ”Ma’shum tanpa dosa dan kesalahan”. Semua kritik Ulama Aswaja terhadap Ibnu Taimiyah disebut sebagai FITNAH, bahkan siapa pun yang mengkritik Ibnu Taimiyah, langsung dituduh Syiah, atau divonis ternodai oleh paham Syiah, lebih dari itu mereka terkadang langsung mengkafirkannya dan menghalalkan darahnya.

Kaum ”Wahabi Ekstrim” pun mengkatagorikan Ibnu Taimiyah sebagai Ulama Salaf, sehingga siapa yang mengkritiknya berarti menghina dan melecehkan Ulama Salaf. Padahal, Terminologi Salaf itu hanya berlaku bagi Kaum Sholihin yang hidup di Tiga Abad Pertama Hijriyyah, sesuai hadits Nabi SAW yang berbunyi :

” خير القرون قرني هذا ، ثم الذي يليه ،  ثم الذي يليه ”.

”Kurun (Abad) terbaik adalah kurunku ini, kemudian yang  berikutnya, lalu yang berikutnya.”

Nah, Kaum Sholihin yang hidup di masa tersebut adalah Shahabat, kemudian Tabi’in, lalu Tabi’it Tabi’in. Karenanya, Ibnu Taimiyah rhm tidak termasuk Ulama Salaf, sebab beliau lahir di akhir Abad Ketujuh Hijriyyah dan wafat di awal Abad Kedelapan Hijriyyah, bukan di Tiga Abad Pertama Hijriyyah yang merupakan Zaman Salaf dengan kesepakatan Ulama.

Dalam soal pernyataan Ibnu Taimiyah rhm terhadap kehormatan Ahli Bait Nabi SAW yang sudah terang benderang termaktub dalam kitab karangannya sendiri, bahkan para Ulama Aswaja telah menanggapi dan memberi penilaian sejak ratusan tahun lalu, melalui kitab-kitab mereka yang mu’tabar, tetap saja Kaum ”Wahabi Ekstrim” menyatakan itu semua FITNAH.

Jadi, jangan heran jika ”Wahabi Ekstrim”selalu menuduh bahwa Aswaja adalah Pendusta, Pembohong, Penyebar Fitnah dan Pemecah Belah Umat. Padahal, sebetulnya merekalah yang Pendusta, Pembohong, Penyebar Fitnah dan Pemecah Belah Umat. Itulah yang disebut Maling Teriak Maling.

Kaum ”Wahabi Ekstrim” berusaha membela Ibnu Taimiyah rhm dengan ”dalih” bahwa : ”Sesungguhnya semua pernyataan yang menghujat Ahli Bait Nabi SAW dalam kitab Minhaajus Sunnah bukanlah pernyataan Ibnu Taimiyah, melainkan pernyataan Kaum Nawaashib yang dinukilkan Ibnu Taimiyah untuk menanggapi Kaum Roofidhoh. Buktinya, dalam kitab tersebut Ibnu Taimiyah ada memuji dan membela Ahlul Bait ”


CATATAN ASWAJA

Namun Aswaja memiliki beberapa catatan terhadap pembelaan Wahabi tersebut, antara lain :

1.      Kenapa semua pernyataan Kaum Roofidhoh yang menghujat Shahabat Nabi SAW dijawab secara tegas dan lugas serta tuntas oleh Ibnu Taimiyah rhm, namun banyak pernyataan Khawaarij / Nawaashib yang menghujat Ahli Bait Nabi SAW justru tidak dijawab tuntas oleh Ibnu Taimiyah, bahkan justru dijadikan alat untuk menjawab Roofidhoh ?!

2.      Apalah artinya pembelaan dan pujian Ibnu Taimiyah rhm untuk Ahlul Bait, jika dicampur dengan aneka hinaan dan pelecehan ?  Justru, jadi kontradiksidan terkesan ”Mudzabdzab”.

3.     Pola Jawab Ibnu Taimiyah rhm terkesan sangat angkuh dan terasa amat berlebihan, sehingga terkadang beraroma merendahkan Ahlul Bait, misalnya :

a)Juz 2 hal. 27 Ibnu Taimiyah menyatakan :

”Jika mereka (Roofidhoh) berhujjah tentang kemutawatiran riwayat keislaman Ali dan Hijrah serta Jihadnya, maka riwayat mereka (Khawaarij / Nawaashib) pun Mutawatir tentang keislaman Mu’waiyah, Yazid, dan para Khulafa Bani Umayyah dan Bani Abbas, serta tentang Shalat, Puasa dan Jihadnya melawan orang-orang kafir. Jika mereka (Roofidhoh) menuduh mereka dengan Nifaq, maka Khawarij (Nawaashib) pun lebih bisa menuduh (Ali) dengan Nifaq. Jika mereka (Roofidhoh) menyebutkan suatu dalih, mereka (Khawaarij) punya dalih lebih hebat lagi.”    

b)Juz 4 hal.175 Ibnu Taimiyah menyatakan :

“ Jika Rafidhi menyatakan bahwa Mu’awiyah adalah Pemberontak yang Zholim, maka Nashibi (Khawaarij) akn mengatakan kepadanya : ”Ali juga Pemberontak Zholim, karena membunuh kaum muslimin untuk merebut kekuasaannya, dan dia yang memulai perang, serta menyerang umat Islam, lalu menumpahkan darah umat Islam tanpa manfaat bagi mereka, baik manfaat dunia mau pun akhirat, dan di zamannya pedang terhunus terhadap kaum muslimin, tidak pernah diarahkan ke kaum kafirin.”

c)  Juz 6 hal.185 Ibnu Taimiyah mengatakan :

”Inilah Hujjah Khawarij (Nawaashib). Dan Hujjah mereka dalam menghujat Ali lebih kuat daripada Hujjah Syiah (Roofidhoh) dalam membela Ali. Dan Pedang mereka lebih kuat daripada pedang Syi’ah, Agama mereka pun lebih sah, dan mereka orang-orang yang jujur bukan pembohong ...”

Terkait dengan berbagai pernyataan Ibnu Taimiyah rhm yang tidak patut terhadap Ahlul Bait Nabi SAW, sejumlah Ulama Aswaja telah menanggapinya melalui berbagai karya tulis mereka, di antaranya adalah kitab Al-Maqoolaat As-Sunniyyah Fii Kasyfi Dholaalaati Ibni Taimiyyah karya Asy-Syeikh Abdullah Al-Harawi. Selain itu masih ada kitab Akhthoo-u Ibni Taimiyah Fii Haqqi Rasuulillaahi wa Ahli Baitihi karya DR. Mahmud As-Sayyid Shubaih, yang ditanggapi oleh pengikut Ibnu Taimiyah rhm melalui kitab dengan judul Rof’ul Malaam ‘an Syaikhil Islaam karya DR. ‘Athiyyah ‘Adlaan.

KESIMPULAN

Ibnu Taimiyah rhm adalah Ulama Besar di zamannya, keluasan ilmu dan kecerdasannya dalam berhujjah diakui oleh para Ulama Aswaja. Namun demikian, beliau ”tidak ma’shum”, sehingga  tidak luput dari kesalahan dalam berijtihad sebagaimana Ulama yang lainnya.

Harus kita akui dengan jujur bahwasanya Ibnu Taimiyah rhm pada akhirnya bertaubat dari sikap ”Takfir” sebagaimana disebutkan oleh muridnya sendiri yaitu Imam Adz-Dzahabi rhm dalam kitab Siyar A’laamin Nubalaa Juz 11 Nomor 2.898, tatkala membahas tentang Imam Asy’ari rhm.

Dan harus kita akui dengan jujur pula bahwasanya Ibnu Taimiyah rhm pernah menulis sebuah kitab khusus tentang Ahli Bait Nabi SAW dengan judul Huquuq Aalil Bait. Dalam kitab tersebut beliau menunjukkan rasa cinta dan penghormatannya yang tinggi terhadap Ahlul Bait.

Serta mesti kita akui dengan tulus dan ikhlas pula bahwasanya Ibnu Taimiyah rhm dalam kitabnya Majmuu’ Faataawaamenolak sikap ”Takfir” antar sesama muslim. Semua pernyataannya bisa kita cermati antara lain :

1.      Dalam juz 3 hal.245 tentang sikap arif dan bijaknya dalam menyikapi pihakyang mengkafirkan dirinya.

2.      Dalam juz 3 hal.353 tentang pengakuannya terkait Iman dan Taqwa yang dimiliki mereka yang dicapnya sebagai Ahli Bid’ah.

3.      Dalam juz 13 hal.96 ada pengakuannya tentang jasa Ahli Bid’ah dalam penyebaran Islam.

4.       Dalam juz 13 hal.97 ada pengakuannya tentang  jasa Ahli Bid’ah dalam membela Islam.

5.      Dalam juz 35 hal.201 ada pengakuannya tentang Ahli Bid’ah lebih baik daripada Yahudi dan Nashrani.

Karenanya, kami ber-Husnu Zhonn bahwa semua ungkapan  Ibnu Taimiyah rhm yang negatif tentang Ahli Bait Nabi SAW dalam kitab Minhaajus Sunnah hanya merupakan sikap lama (qodim) yang sudah diinsyafinya, atau merupakan  kekhilafankarena luapan emosi saat menanggapi tuduhan-tuduhan keji Kaum Roofidhoh terhadap Para Shahabat Nabi SAW, sebagaimana digambarkan oleh Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rhm dalam kitab Lisaanul Miizaan :

" وكم من مبالغة لتوهين كلام الرافضي أدته أحيانا إلى تنقيص علي ."

Artinya : ”Berapa banyak sikap berlebihan )Ibnu Taimiyah( dalam merendahkan perkataan Roofidhi terkadang mengantarkannya kepada merendahkan Ali RA.”

Hadaaniyallaahu wa Iyyaakum ilaa Shiroothihil Mustaqiim ...

Wallaahul Muwaffiq ilaa Aqwamith Thoriiq ...


Wassalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Ibnu Taimiyah Dan Ahlul Bait

Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ... Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ....

Selasa, 03 Maret 2015


Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Imam Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad rhm (wafat : 1.132 H) dalam kitab "Tatsbiitul Fu-aad" membahas tuntas tentang sikap Kaum Roofidhoh (-Jamaknya : Rowaafidh-) yang selalu melecehkan Shahabat Nabi SAW dengan "dalih" membela Ahli Bait Nabi SAW, dan Kaum Naashibah (-Jamaknya : Nawaashib-) yang sering melecehkan Ahli Bait Nabi SAW dengan "dalih" membela Shahabat Nabi SAW.

Dan dalam juz 2 halaman 227 kitab tersebut, Imam Al-Haddad rhm menyatakan tentang Roofidhoh dan Naashibah :

" بعرة مقسومة نصفين "

"Kotoran Unta yang dibelah dua."

"Roofidhoh" dan "Nawaashib" adalah musuh bebuyutan, sepanjang sejarah tidak pernah akur, bagaikan air dan minyak, tidak pernah bisa bersatu. Satu sama lainnya saling mengkafirkan, bahkan hingga kini kedua belah pihak saling bernafsu untuk memerangi dan membunuh pihak lainnya. 

Lihat saja "Konflik Berdarah" di Iraq dan Syria saat ini, yang telah menjadi "Tragedi Kemanusiaan" yang sangat memilukan dan menyayat hati muslim mana pun yang menyintai "Wihdah Islaamiyyah".

Bagi Roofidhoh bahwa Nawaashib lebih berbahaya daripada Yahudi mau pun Nashrani. Dan bagi Nawaashib justru Roofidhoh lah yang lebih berbahaya daripada Yahudi dan Nashrani. 

Baik Roofidhoh mau pun Nawaashib sama-sama anti Dialog dan Anti Toleransi Antar Madzhab Islam. Mereka selalu menolak bahkan merusak semua upaya pemersatuan umat Islam
sepanjang zaman.

Mereka lebih suka perang sesama muslim daripada perang melawan Zionis dan Salibis Internasional. Mereka lebih suka membunuh sesama muslim daripada memerdekakan Palestina dan Masjid Al-Aqsha dari cengkeraman Israel.

Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji'uun ...

SYIAH dan ROOFIDHOH

Memang tidak semua Syiah adalah Roofidhoh, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Syi'ah bersikap Roofidhoh.

Harus kita akui bahwa di kalangan Ulama Syiah tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Syiah tersebut tenggelam dalam fanatisme Awam Syiah yang cenderung bersikap Roofidhoh.

Fanatisme Awam Syiah tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Syi'ah dan berbagai pernyataan Ulama mereka sendiri yang menghina Shahabat Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA. Bahkan isteri Nabi SAW seperti Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA pun tak luput dari penghinaan mereka.

Salah satunya, lihat saja kitab "Al-Anwaar An-Nu'maaniyyah" karya Syeikh Ni'matullaah Al-Jazaa-iriy yang isinya dipenuhi dengan hinaan terhadap para Shahabat Nabi SAW. Bahkan dia mengkafirkan Nawaashib, dan menuduh semua Aswaja yang tidak mengutamakan Sayyiduna Ali RA di atas semua Shahabat sebagai Nawaashib yang Kafir.

Dalam kitab tersebut juz 2 halaman 307 disebutkan :

إنهم كفار أنجاس بإجماع علماء الشيعة الإمامية ،  وإنهم شر من اليهود والنصارى ،  وإن من علامات الناصبي تقديم غير علي عليه في الإمامة ." 

"Sesungguhnya mereka (-Nawaashib-) adalah Kafir dan Najis dengan Ijma' Ulama Syiah Imamiyyah. Dan sesungguhnya mereka lebih jahat daripada Yahudi dan Nashrani. Dan sesungguhnya daripada tanda-tanda seorang Naashibah adalah mendahulukan selain Ali di atasnya dalam Imamah."

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Syiah secara terang-terangan menghina para Shahabat dan Isteri Nabi SAW, seperti :

1. Jalaluddin Rahmat dalam buku "Shahabat dalam Timbangan Al-Qur'an, Sunnah dan Ilmu Pengetahuan" hal. 7, dan catatan kaki buku "Meraih Cinta ilahi" hal. 404 - 405 dan 493, serta buku "Manusia Pilihan yang disucikan"  hal. 164 - 166.

2. Emilia Renita AZ dalam buku "40 Masalah Syiah" hal.83.

3. Haidar Barong dalam buku "Umar dalam Perbincangan" di hampir semua bab.

Selain itu, masih ada lagi IJABI (Ikatan Jama'ah Ahlul Bait Indonesia) yang dinakhodai oleh Jalaluddin Rahmat cs yang sering melecehkan Shahabat Nabi SAW dalam aneka seminar dan pertemuan. Bahkan sering melecehkan Islam dengan membela aneka Aliran Sesat seperti Ahmadiyah, sehingga patut disebut sebagai "Syiah Liberal".

Syiah Roofidhoh memang secara demonstratif dan konfrontatif serta provokatif menunjukkan kebenciannya kepada Shahabat Nabi SAW, khususnya Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, beserta kedua putri mereka yaitu Sayyidah Aisyah RA dan Sayyidah Hafshoh RA,

Saking bencinya kepada Sayyiduna Abu Bakar RA dan Sayyiduna Umar RA, kalangan Roofidhoh membuat "Doa Dua Berhala" yang isinya melaknat habis kedua Shahabat Mulia Nabi SAW tersebut.

Bahkan mereka haramkan siapa pun dari kalangan mereka diberi nama Abu Bakar atau Umar, atau nama putri keduanya yaitu Aisyah atau Hafshoh.

Karenanya, Aswaja sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya "Syiah Roofidhoh" adalah firqoh yang sesat menyesatkan. 

Apalagi "Syiah Ghulat" yang menabikan atau menuhankan Sayyiduna Ali RA, dan menganggap para Imam mereka sebagai Utusan atau Titisan Tuhan, serta memvonis Al-Qur'an kurang dan tidak asli lagi, maka Aswaja sepakat bahwa Syiah Ghulat adalah Kafir dan Murtad, bukan lagi termasuk Islam.

Ada pun "Syiah Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka bukan Ghulat dan bukan Roofidhoh. Mereka adalah saudara muslim yang harus dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil.

RIWAYAT HADITS SYIAH

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan "penggeneralisiran" semua Syiah pasti Ghulat dan pasti Roofidhoh, sehingga semuanya pasti Kafir dan Murtad atau Sesat. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja. 

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat "Perawi Syiah", tapi bukan dari kalangan Ghulat yang Kafir, sehingga jika "mereka" dikafirkan juga, maka berarti ada "Perawi Kafir" dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu sangat berbahaya, karena bisa menjadi "Bumerang" yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja . Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu "Jarh wat Ta'diil" atau oleh "penyusup" yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Syiah dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silakan buka pernyataan  Imam Adz-Dzahabi rhm tentang "Riwayat Syi'ah" dalam kitab "Mizaanul I'tidaal" juz 1 hal.29 No.2 pada ulasan "Perawi Syiah" bernama "Abaan bin Taghlib" , dan juz 1 hal.53 No.86 pada ulasan "Perawi Syiah" yang bermama "Ibrahim bin Al-Hakam".

Semua pernyataan Imam Adz-Dzahabi rhm tentang "Riwayat Syiah" dinukilkan juga oleh Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rhm dalam kitab "Lisaanul Miizaan" juz 1 hal.103 -104. 

Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab-kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti : Ibrahim bin Yazid, Salim bin Abil Ja'di, Al-Hakam bin 'Utaibah, Salamah bin Kuhail, Zubaid bin Al-Harits, Sulaiman bin Mihran, Ismail bin Zakaria, Khalid bin Makhlad, Sulaiman bin Thorkhon dan Sulaiman bin Qorom. Mereka semua adalah Syiah, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

WAHABI dan NAASHIBAH

Memang tidak semua Wahabi adalah Naashibah, namun tidak bisa diingkari bahwa kebanyakan Wahabi bersikap Naashibah.

Memang di kalangan Ulama Wahabi tidak sedikit yang berupaya mencegah dan melarang penghinaan terhadap para Ahli Bait Nabi SAW dalam bentuk apa pun, untuk menjaga dan membangun Ukhuwwah Islamiyyah, namun upaya para Ulama Reformis Wahabi tersebut juga tenggelam dalam fanatisme Awam Wahabi yang cenderung bersikap Naashibah.

Fanatisme Awam Wahabi tersebut bukan tanpa sebab, justru lahir dan menguat akibat aneka kitab Wahabi dan berbagai pernyataan Ulama panutan mereka sendiri yang menghina Ahli Bait Nabi SAW sekaliber Sayyiduna Ali RA dan isterinya Sayyidah Fathimah RA serta kedua putranya Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA.

Salah satunya, lihat saja kitab "Minhaajus Sunnah" karya Syeikh Ibnu Taimiyyah sang panutan dan rujukan kalangan Wahabi, yang isinya dipenuhi dengan penghinaan terhadap Ahli Bait Nabi SAW. 

Dalam kitab tersebut, Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa imannya Sayyidah Khadijah RA tidak manfaat buat umat Islam. Dan bahwa Sayyidah Fathimah RA tercela seperti orang munafiq. Serta Sayyidina Ali RA seorang yang sial dan selalu gagal, serta berperang hanya untuk dunia dan jabatan bukan untuk agama, dan juga perannya untuk Islam tidak seberapa. 

Ada pun Sayyiduna Al-Hasan RA dan Sayyiduna Al-Husein RA tidak zuhud dan tidak berilmu, serta tidak ada keistimewaannya. Lalu soal pembunuhan Sayyiduna Al-Husein RA hanya masalah kecil, lagi pula dia salah karena melawan Khalifah Yazid yang benar. Dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, Imam Ibnu Hajar Al-'Asqolaani rhm dalam kitab "Ad-Durorul Kaaminah" juz 1 hal.181 - 182 saat mengulas tentang Ibnu Taimiyyah menyatakan :

"ومنهم من ينسبه إلى النفاق لقوله في علي ما تقدم ."

"Dan di antara mereka (-para Ulama-) ada yang menisbahkannya (-Ibnu Taimiyyah-) kepada Nifaq, karena ucapannya tentang Ali sebagaimana telah disebutkan."

Dan dalam kitab "Lisaanul Miizaan", Sang Begawan Hadits ini menyimpulkan :

"كم من مبالغة لتوهين كلام الرافضي أدته أحيانا إلى تنقيص علي ."

"Berapa banyak sikap berlebihan (Ibnu Taimiyyah) dalam merendahkan perkataan Roofidhoh terkadang mengantarkannya kepada pelecehan Ali."

Sikap berlebihan Ibnu Taimiyyah pada akhirnya mengantarkannya ke penjara pada tahun 726 H hingga wafat di tahun 728 H. Sultan Muhammad bin Qolaawuun memenjarakannya di salah satu menara Benteng Damascus di Syria berdasarkan Fatwa Qodhi Empat Madzhab Aswaja, yaitu :

1. Mufti Hanafi Qodhi Muhammad bin Hariri Al-Anshori rhm.

2. Mufti Maliki Qodhi Muhammad bin Abi Bakar rhm.

3. Mufti Syafi'i Qodhi Muhammad bin Ibrahim rhm.

4. Mufti Hanbali Qodhi Ahmad bin Umar Al-Maqdisi rhm.

Bahkan Syeikhul Islam Imam Taqiyuddin As-Subki rhm dalam kitab "Fataawaa As-Subki" juz 2 halaman 210 menegaskan :

"وحبس بإحماع العلماء وولاة الأمور".

"Dia (Ibnu Taimiyyah) dipenjara dengan Ijma' Ulama dan Umara."

Namun, akhirnya Syeikh Ibnu Taimiyyah rhm bertaubat di akhir umurnya dari sikap berlebihan, khususnya sikap "Takfiir", sebagaimana diceritakan oleh Imam Adz-Dzahabi rhm dalam kitab "Siyar A'laamin Nubalaa" juz 11 Nomor 2.898 pada pembahasan tentang Imam Abul Hasan Al-Asy'ari rhm.

Namun, sayangnya Wahabi saat ini banyak yang tetap berpegang kepada sikap berlebihan Ibnu Taimiyah yang justru sebenarnya sudah diinsyafinya. Bahkan banyak kalangan Wahabi saat ini yang bersikap "Khawaarij" yang cenderung "Takfiirii" yaitu suka mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka. 

Di Indonesia, sejumlah Tokoh Wahabi secara terang-terangan menyatakan bahwa Madzhab Asy'ari adalah bukan Aswaja, bahkan Firqoh sesat menyesatkan, antara lain :

1. Yazid Abdul Qadir Jawaz dalam buku "Mulia dengan Manhaj Salaf" bab 13 hal. 519 - 521.

2. Abdul Hakim bin Amir Abdat dalam buku "Risalah Bid'ah" bab 19 hal. 295 dan buku "Lau Kaana Khairan lasabaquunaa ilaihi" bab 6 hal. 69.

3. Hartono Ahmad Jaiz dalam buku "Bila Kyai Dipertuhankan" hal.165 - 166.

Selain mereka, masih ada Mahrus Ali yang mengaku sebagai Mantan Kyai NU melalui lebih dari sepuluh buku karangannya secara eksplisit menyesatkan aneka amaliyah NU yang bermadzhab Asy'ari Syafi'i.

Karenanya, Aswaja pun sepakat sejak dulu hingga kini, bahwasanya Khawaarij mau pun Naashibah adalah firqoh yang sesat menyesatkan. Jadi, Wahabi yang berpaham Khawaarij dan bersikap Nawaashib juga merupakan firqoh yang sesat menyesatkan.

Ada pun "Wahabi Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka bukan Khawaarij Takfiirii dan bukan juga Nawaashib. Mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil. 

Apalagi mereka masih berpegang kepada sumber hadits yang sama dengan Aswaja, seperti Muwaththo' Malik dan Musnad Ahmad serta Kutubus Sittah, yaitu : Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Jami' At-Tirmidzi, Sunan An-Nasaa-i, Sunan Abi Daud dan Sunan Ibni Maajah, dan kitab-kitab Hadits Aswaja lainnya.

RIWAYAT NAWAASHIB

Jadi, jangan ada sikap gebrah uyah dengan "penggeneralisiran" semua Wahabi pasti Khawaarij Takfiirii atau pasti Nawaashib, sehingga semuanya pasti sesat menyesatkan, apalagi sampai mengkafirkan mereka. Sikap seperti itu sangat gegabah dan amat tidak ilmiah, serta bukan sikap Aswaja.

Selain itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya terdapat "Perawi Khawaarij" dan "Perawi Nawaashib", sehingga jika "mereka" dikafirkan, maka berarti ada "Perawi Kafir" dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim serta Kitab Hadits Aswaja lainnya.

Itu juga sangat berbahaya, karena juga bisa menjadi "Bumerang" yang menyerang balik dan menghancurkan Aswaja . Itu tidak dilakukan kecuali oleh mereka yang bodoh tentang Ilmu "Jarh wat Ta'diil" atau oleh "penyusup" yang pura-pura jadi Aswaja, padahal tujuannya merusak Aswaja.

Justru adanya riwayat Khawaarij dan Nawaashib dalam Kitab Hadits Aswaja, menunjukkan bahwa Aswaja dalam periwayatan Hadits memiliki Metode yang netral, adil, jujur dan amanat, serta jauh jauh dari sikap Fanatisme Madzhab.

Silakan baca kitab "Al-'Itab Al-Jamiil 'alaa Ahlil Jarhi wat Ta'diil" karya As-Sayyid Muhammad bin Aqil bin Yahya dengan tahqiq Sayyid Hasan bin Ali As-Saqqoof seorang Ahli Hadits dari Yordania dan ada juga dengan tahqiq DR.Alwi bin Hamid Syihab seorang Dosen Hadits di Universitas Hadromaut - Yaman.

Atau cari dan baca saja langsung dalam kitab- kitab Dirooyaat Hadits, nama-nama seperti : Umar bin Sa'ad, Zuhair bin Mu'awiyah, Ibrahim bin Ya'qub, Ishaq bin Suwaid,  Tsaur bin Yazid, Hariiz bin Utsman, Hushoin bin Numair, Khalid bin Abdullah, Ziyad bin Jubair dan Ziyad bin 'Alaaqoh. Mereka semua adalah Nawaashib para pembenci Ahli Bait Nabi SAW, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Selain itu, masih ada "Perawi Khawaarij" dari berbagai sektenya seperti Ibaadhiyyah, Azaariqoh, Haruuriyyah dan Ash-Shufriyyah, antara lain : Jaabir bin Zaid, Juray bin Kulaib, Syabats bin Rib'i dan 'Imraan bin Hiththoon. Dan ada juga "Perawi Murji-ah" yaitu Khalid bin Salamah dan "Perawi Qadariyyah" yaitu Tsaur bin Zaid. Mereka semua adalah Non Aswaja, tapi ditsiqohkan dan diterima riwayatnya oleh Ahli Hadits Aswaja.

Inilah bukti bahwa Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adill), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

SYAIR IMAM SYAFI'I

Imam Syafi'i RA dalam "Diiwaan" nya pada halaman 20, menyusun beberapa Bait Syair untuk menyindir Roofidhoh yang selalu menuduh para pecinta Sayyiduna Abu Bakar RA sebagai Nawaashib, dan sekaligus juga menyindir Nawaashib yang selalu menuduh para pecinta Ahli Bait Nabi SAW sebagai Syiah Roofidhoh. 

Berikut syairnya :

إذا نحن فضلنا عليا فإننا
               روافض بالتفضيل عند ذي الجهل
وفضل أبي بكر إذا ما ذكرته
               رميت بنصب عند ذكري للفضل
فلا زلت ذا رفض ونصب كلاهما
                بحبيهما حتى أوسّد بالرمل

Jika kami memuliakan Ali maka sesungguhnya kami ..

Menurut orang bodoh adalah Rowaafidh lantaran memuliakannya.

Dan jika aku menyebut keutamaan Abu Bakar ...

Maka aku dituduh Naashibah lantaran memuliakannya.

Maka aku akan tetap selalu menjadi Roofidhoh dan Naashibah sekaligus ...

Dengan menyintai keduanya hingga aku berbantalkan pasir (mati).

ASWAJA

Ahlus Sunnah  wal Jama'ah yang disingkat "Aswaja" adalah bukan Syiah dan bukan juga Wahabi, serta bukan Roofidhoh dan bukan juga Nawaashib.

Imam Ibnu Hajar Al-Haitami rhm (w : 973 H) dalam kitab "Az-Zawaajir 'an Iqtiroofil Kabaa-ir" halaman 82 mendefinisikan Aswaja sebagai berikut :

"المراد بالسنة ما عليه إماما أهل السنة والجماعة الشيخ أبو الحسن الأشعري و أبو منصور الماتريدي ."

"Yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah adalah yang dianut oleh dua Imam Ahlus Sunnah wal Jamaa'ah yaitu Syeikh Abul Hasan Al-Asy'ari san Abu Manshur Al-Maaturiidii."

Dan Imam Al-Murtadho Az-Zabiidii rhm (wafat : 1.205 H) dalam kitab "Ittihaafus Saadah Al-Muttaqiin" juz 2 hal. 6 menyatakan :

"إذا أطلق أهل السنة والجماعة فالمراد بهم الأشاعرة والماتريدية ."

"Jika disebut Ahlus Sunnah wal Jama'ah secara mutlaq, maka yang dimaksud adalah Kaum Asy'ari dan Kaum Maaturiidii."

Hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanafi mengikuti Madzhab Aqidah Maaturiidi, karena Imam Abu Manshur Al-Maaturiidii rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Abu Hanifah rhm dalam Madzhab Aqidah Maaturiidiyyah yang dibangunnya.

Dan hampir semua Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Maliki dan Syafi'i, serta sebagian Ulama dan Fuqoha Madzhab Fiqih Hanbali mengikuti Madzhab Aqidah Asy'ari, karena Imam Abul Hasan Al-Asy'ari rhm menghimpun ajaran Aqidah Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad, rohimahumullaah, dalam Madzhab Aqidah Asy'ariyyah yang dibangunnya.

Sebagian Ulama Hanbali mengklaim sebagai pengikut Madzhab Aqidah Ahli Hadits dan Atsar yang "dinisbahkan" kepada Imam Ahmad rhm. Mereka mengklaim sebagai Aswaja yang paling asli dan sejati. Kini, pengikut aliran ini banyak mendapat "label" sesuai aneka sebab kaitannya, antara lain :

1. Atsari : Karena mengklaim sebagai pengikut Ahli Atsar.

2. Salafi : Karena mengklaim sebagai Madzhab paling Salaf.

3. Wahabi : Karena menjadikan Pemikiran Tauhid Syeikh Muhammad b Abdul Wahhab sebagai rujukan utama.

4. Khawaarij : Karena sering menyalahkan semua umat Islam yang tidak sejalan dengan mereka.

5. Takfiirii : Karena sering mengkafirkan semua umat Islam yang tidak sependapat dengan mereka.

6.  Nawaashib : Karena sering merendahkan Ahli Bait Nabi SAW dengan "dalih" bela Shahabat Nabi SAW, bahkan paling suka berteriak mengkafirkan dan memusyrikkan Ibu dan Ayah Nabi SAW.

7. Musyabbih : Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menyerupakan-Nya dengan Makhluq.

8. Mujassim : Karena dalam mentafsirkan Sifat Allah SWT menjasmanikan Dzat Allah SWT dalam bentuk jasad Makhluq.

KESIMPULAN 

Syiah dan Wahabi bukan "Agama", tapi "Firqoh", sehingga tidak tepat istilah "Agama Syiah" dan "Agama Wahabi", bahkan istilah tersebut terlalu "Lebay".

"Syiah Roofidhoh" dan "Wahabi Nawaashib" adalah Firqoh sesat menyesatkam yang sangat berbahaya, sehingga wajib diwaspadai oleh segenap Aswaja, dan harus dibendung penyebarannya, serta mesti dilawan penistaannya terhadap Ahlul Bait mau pun Shahabat Nabi SAW.

Sedang "Syiah Moderat" dan "Wahabi Moderat" yang berjiwa Reformis, mereka adalah saudara muslim yang wajib dihormati bukan dicaci, dirangkul bukan dipukul, diajak dialog bukan ditonjok, dilawan dengan dalil bukan dengan bedil. 

Ada pun Aswaja adalah Madzhab Pecinta Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW serta Para Salaf yang Sholihin. 

Dan Aswaja adalah Madzhab yang selalu terbuka untuk Peradaban Dialog yang berbasis Ilmu dan Akhlaq, dalam membangun Toleransi Antar Umat Islam dari berbagai  Madzhab mau pun Firqoh.

Aswaja adalah Madzhab Islam yang Muhaayid (Netral) dan I'tidaal (Adil), serta Tawassuth (Pertengahan) dan Tawaazun (Seimbang), juga Tasaamuh (Toleran).

Alhamdulillaah, Aswaja adalah "Firqoh Naajiyah" yang berjalan di atas jalan Rasulullah SAW dan Ahlil Baitnya serta Para Shahabatnya


Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Syiah VS Wahabi

Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ... Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ....

 

© 2015 - Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile