Tampilkan postingan dengan label Tarikh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarikh. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2015


Namanya Muhammad Shahab, gelarnya Peto Syarif, yang artinya Ulama yang mulia. Di awal tahun 1800-an ia membangun sebuah kampung di Bukit Gunung Jati - Padang - Sumatera Barat, yang kemudian kampung tersebut terkenal dengan nama Bonjol. Selanjutnya ia dipanggil Tuanku Imam Bonjol.

ADAT BASANDI SARA'

Sebagai Ulama Asli Minangkabau, ia berprinsip "Adat Basandi Sara', dan Sara' Basandi Kitabullah" artinya "Adat bersendikan Syariat, dan Syariat bersendikan Kitabullah". 

Imam Bonjol menolak keras perilaku Kaum Adat dukungan Penjajah Belanda yang terus memasyarakatkan Sabung Ayam, Judi, Tuak dan Madat atas nama Adat. 

LASKAR PADERI

Imam Bonjol pun membentuk Laskar Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang disebut Kaum Paderi dan berpakaian serba putih untuk menumpas semua ma'siat di Bumi Minangkabau. 

Imam Bonjol dan pasukan Paderinya berhasil menjaga Adat Minangkabau agar tidak diselewengkan atau dirusak oleh siapa pun, baik Kaum Adat mau pun Belanda.

ADU DOMBA SYARIAT DAN ADAT

Belanda tidak suka, di tahun 1821 Belanda memprovokasi dan membantu Kaum Adat memerangi Imam Bonjol, tapi hingga tahun 1836, Belanda tidak mampu mengalahkan Pasukan Paderi pimpinan Imam Bonjol.

Di tahun 1837, secara licik Belanda menyerang rumah keluarga Imam Bonjol dan melukai serta menyandera anak isterinya, sehingga memancing Imam Bonjol keluar dari medan tempur untuk menyelamatkan keluarga. 

Akhirnya, Imam Bonjol terkepung dan tertangkap, lalu dibuang ke Cianjur - Jawa Barat. 

DARI CIANJUR KE MENADO

Di Cianjur Imam Bonjol sangat dihormati, karena masyarakat Sunda sangat CINTA ULAMA.

Belanda khawatir di Cianjur Imam Bonjol semakin hari semakin berpengaruh, karena masyarakat muslim Sunda banyak yang mengunjungi dan mendekatinya serta mendengar fatwa-fatwanya.

Lalu Imam Bonjol dibuang ke Ambon. Lagi-lagi di Ambon Imam Bonjol mendapat sambutan hangat masyarakat muslim disana. 

Akhirnya, Imam Bonjol dibuang ke Menado hingga wafat disana pada tahun 1864 dalam usia 92 tahun.

I'TIBAR

Islam selalu terbuka terhadap segala bentuk Adat, selama tidak melanggar Syariat. Islam di atas segala Adat, dan setiap Adat harus ditimbang di atas timbangan Syariat.

Adat yang baik dilestarikan. Adat yang menyimpang diluruskan. Adat yang salah diperbaiki. Adat yang jahat dibuang dan dihilangkan.

Setiap muslim dalam membela Islam harus siap menanggung segala resiko perjuangan, kapan saja dan dimana saja.

Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil ... Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...

Perang Paderi (Th. 1821 s/d 1837)

Namanya Muhammad Shahab, gelarnya Peto Syarif, yang artinya Ulama yang mulia. Di awal tahun 1800-an ia membangun sebuah kampung di Bukit Gun...

Minggu, 01 Maret 2015


Assalaamu 'AlaikumWa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi WaMan Waalaah ...

DEFINISI AHLUL BAIT

Ada perbedaan pendapat di kalangan Aswaja tentang makna "Aali Muhammad". Namun demikian, Aswaja tetap sepakat bahwa Ahli Bait Nabi  SAW ialah Keluarga Rasulullah SAW, termasuk isteri dan kerabat serta anak keturunannya.

DEFINISI SHAHABAT

Shahabat dalam definisi yang paling MASYHUR di kalangan Ahli Hadits Aswaja adalah :

من رأى النبي صلى الله عليه وسلم أو لقيه مسلما ومات على الإسلام

"Siapa saja yang melihat atau bertemu Nabi SAW dalam keadaan Islam dan wafat juga dalam keadaan Islam."

Sementara Ahli Ushul Fiqih Aswaja ada yang mensyaratkan harus sudah dewasa saat melihat atau bertemu Nabi SAW, ada juga yang mensyaratkan harus meriwayatkan walau satu hadits dari Nabi SAW, ada pula yang mensyaratkan harus ikut minimal satu perang di zaman Nabi SAW, ada lagi yang mensyaratkan pertemanannya dengan Nabi SAW tidak boleh kurang dari setahun.

Selain itu, ada juga yang mensyaratkan harus langgeng Islamnya tidak boleh diselingi dengan murtad walau sesaat, dan ada pula yang mensyaratkan harus berperilaku baik dan mentauladani Muhajirin dan Anshor, bahkan ada juga yang membatasi bahwa Shahabat Nabi SAW hanya Muhajirin dan Anshor.

Namun demikian, Definisi Ahli Hadits lebih populer dan banyak diikuti, karena :

1. Sangat mudah dihafal dan amat mudah mengenali Shahabat.

2. Tersosialisasi lebih luas melalui kitab-kitab Hadits Aswaja yang sering dibaca umat Islam dibanding kitab-kitab Ushul Fiqih.

3. Lebih Fleksibel dalam penerapan dan lebih Komprehensif dalam cakupan.

4. Lebih menjaga Husnu Zhonn kepada para Shahabat.

5. Adanya segelintir oknum Shahabat yang berperilaku kurang baik tidak serta merta menggugurkan definisi, karena "An-Naadir kal Ma'duum" yaitu "yang jarang seperti tidak ada".

HUBUNGAN NASAB DAN PERKAWINAN

Sebagian Shahabat memiliki hubungan Nasab dengan Ahlul Bait, dan sebagian lagi ada yang memiliki hubungan Perkawinan atau Perbesanan dengan Ahlul Bait, bahkan sebagian lagi mempunyai kedua-dua hubungan, yaitu : Nasab dan Perkawinan.

Tentunya, hubungan semacam ini punya makna istimewa untuk menggambarkan keharmonisan hubungan di antara Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW.

Khususnya, hubungan Nasab dan Perkawinan atau Perbesanan antara Khulafa Rasyidin dengan Ahlul Bait Nabi SAW, tentu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan makna yang sangat luar biasa.

KHALIFAH ABU BAKAR RA

Nasab Nabi SAW adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthollib bin Hasyim bin Abdi Manaaf bin Qushoi bin Kilaab bin Murroh bin Ka'ab bin Lu-ay bin Ghoolib.

Sedang Nasab Sayyiduna Abu Bakar RA adalah Abu Bakar 'Abdullah bin Abi Quhaafah 'Utsmaan bin 'Aamir bin 'Amru bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taym bin Murroh bin Ka'ab bin Lu-ay bin Ghoolib.

Jadi, Nasab Sayyiduna Abu Bakar RA bertemu dengan Nasab Nabi SAW di Murroh yang merupakan Datuk ke-6 bagi Nabi SAW mau pun Sayyiduna Abu Bakar RA.

Sayyiduna Abu Bakar RA merupakan Shahabat Nabi SAW sejak kecil, dan merupakan Shahabat yang pertama masuk Islam.

Sayyiduna Abu Bakar RA memiliki tiga Putri yaitu Aisyah, Asma' dan Ummu Kultsum, serta dua Putra yaitu Abdurrahman dan Muhammad. Kesemua putra dan putrinya masuk Islam ikut sang ayah, Rodhiyallaahu 'anhum.

Aisyah RA diperisteri Rasulullah SAW. Dan Asma' RA diperisteri Sayyiduna Zubair RA. Serta Ummu Kuktsum RA diperisteri Sayyiduna Tholhah RA.

Sayyiduna Zubair bin Al'Awwaam bin Khuwailid RA adalah putra Bibi Nabi SAW yang bernama Shofiyah RA putri Abdul Muthollib. Dan Sayyiduna Zubair RA juga keponakan istri Nabi SAW Sayyidah Khadijah binti Khuwailid RA.

Sedang Sayyiduna Tholhah RA juga memperisteri Himnah putri Bibi Nabi SAW yang bernama Umaimah putri Abdul Muthollib.

Ada pun Muhammad bin Abu Bakar RA punya seorang putra bernama Al-Qosim yang menjadi Ahli Fiqih Madinah. Ibunda Muhammad yaitu Asmaa' binti 'Umais pertama dinikahi oleh Sayyiduna Ja'far bin Abi Thalib RA, lalu setelah Syahidnya Ja'far RA dinikahi Sayyiduna Abu Bakar RA, dan setelah wafatnya Sayyiudna Abu bakar RA dinikahi Sayyiduna Ali RA, sehingga Muhammad menjadi anak tiri Sayyiduna Ali RA dan dipelihara oleh beliau sejak kecilnya.

Sementara Abdurrahman bin Abu Bakar RA punya dua putri bernama Hafshoh dan Asma'.  Hafshoh menjadi salah satu isteri Sayyiduna Al-Husein RA.

Sedang Asma' dinikahi Al-Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar RA, dan melahirkan putri bernama Ummu Farwah. Lalu Ummu Farwah menikah dengan Imam Muhammad Al-Baqir bin Imam Ali Zainal Abidin bin Sayyiduna Al-Husein bin Khalifah Ali RA, yang melahirkan putra bernama Imam Ja'far Ash-Shodiq.

Karenanya, Imam Ja'far Ash-Shodiq pernah berkata :

            " ولدني أبو بكر مرتين "

"Abu bakar melahirkanku dua kali."

Maksudnya, kakek beliau Al-Qosim dan nenek beliau Asma', keduanya adalah cucu Sayyiduna Abu Bakar RA.

KHALIFAH UMAR RA

Nasab Sayyiduna Umar RA adalah 'Umar bin Nufail bin 'Abdul 'Uzzaa bin Riyaah bin Qorth bin Rozzaah bin 'Adi bin Ka'ab bin Lu-ay bin Ghoolib.

Jadi, Nasab beliau RA bertemu dengan Nasab Nabi SAW di Ka'ab, yang merupakan Datuk ke-7 bagi Nabi dan Datuk ke-6 bagi Sayyiduna Umar RA.

Sayyiduna Umar RA adalah Mertua Nabi SAW. Putri beliau Sayyidah Hafshoh RA adalah isteri Nabi SAW.

Sayyiduna Umar RA di zaman kekhilfahannya juga memperisteri Ummu Kultsum cucu Nabi SAW yaitu putri bungsu Sayyiduna Ali RA dan Sayyidah Fahimah RA.

Dari Ummu Kultsum binti Ali tersebut, Sayyiduna Umar dapat dua orang anak, yaitu : Zaid dan Ruqayyah.

KHALIFAH UTSMAN RA

Nasab Sayyiduna Utsman RA adalah 'Utsmaan bin 'Affaan bin Abil 'Aash bin Umayyah bin 'Abdi Syamsi bin 'Abdi Manaaf bin Qushoi bin Kilaab bin Murroh bin Ka'ab bin Lu-ay bin Ghoolib.

Jadi, Nasab beliau RA bertemu dengan Nasab Nabi SAW di 'Abdi Manaaf yang merupakan Datuk ke- 3 bagi Nabi SAW dan Datuk ke- 4 bagi Sayyiduna Utsman RA.

Ibu Sayyiduna Utsman RA adalah saudari sepupu Nabi SAW, karena ibu Sayyiduna Utsman adalah Urwa putri dari Ummu Hakiim binti Abdul Muthollib.

Dan Sayyiduna Utsman RA juga adalah Mantu Nabi SAW. Dua putri Nabi SAW menjadi isteri beliau. Pertama, sebelum masa kenabian, beliau RA memperisteri Ruqayyah RA putri kedua Nabi SAW.

Lalu saat perang Badar, Utsman RA merawat Ruqayyah RA yang sedang sakit, sehingga beliau RA tidak ikut Perang Badar dengan seizin Nabi SAW. Di malam-malam Perang Badar, Ruqayyah RA wafat. Dari Ruqayyah RA melahirkan seorang putra yaitu Abdullah bin Sayyidina Utsman RA.

Setelah Ruqayyah RA wafat, Rasulullah SAW menikahkan putri ketiganya Ummu Kultsum RA dengan Sayyiduna Utsman RA. Itulah sebabnya Sayyiduna Utsman RA dijuluki "Dzun Nuuroin" yang artinya "Pemilik Dua Cahaya".

Sayyiduna Utsman RA sepeninggal Ummu Kultsum RA, memperisteri beberapa wanita dan mendapatkan beberapa putra, di antaranya adalah Abbaan yang memperisteri Ummu Kultsum binti Ja'far bin Abi Thalib RA.

Sayyiduna Utsman RA punya dua cucu yang menjadi menantu Sayyiduna Al-Husein RA, yaitu : Abdullah bin 'Amru bin Sayyidina Utsman yang menikahi Fathimah binti Sayyidina Al-Husein RA, dan Zaid binti Umar binti Sayyidina Utsman RA yang menikahi Sukainah binti Sayyidina Al-Husein.

KHALIFAH ALI RA

Nasab Sayyiduna Ali RA adalah 'Ali bin Abi Thalib bin 'Abdul Muthollib. Jadi, Nasab beliau RA bertemu dengan Nasab Nabi SAW di Abdul Muthollib yang merupakan Kakek bagi Nabi SAW mau pun Sayyiduna Ali RA.

Sayyiduna Ali RA adalah saudara sepupu Nabi SAW, sekaligus Mantu Nabi SAW. Beliau memperisteri putri bungsu Nabi SAW, yaitu Sayyidah Fathimah RA, yang dari padanya lahir Keturunan Nabi SAW hingga hari ini.

Putra Sayyiduna Ali RA yaitu Sayyiduna Al-Husen RA menikah dengan putri Sayyiduna Tholhah RA yaitu Ummu Ishaq, lalu melahirkan putri bernama Fathimah yang dinikahkan dengan Abdullah bin 'Amru bin Sayyidina Utsman RA.

Putri Sayyiduna Ali RA yang bernama Ummu Kultsum menikah dengan Sayyiduna Umar RA yang kemudian melahirkan Zaid dan Ruqayyah.

Dan Putri Sayyidina Ali RA yang bernama Zainab menikah dengan Abdullah bin Sayyidina Ja'far RA bin Abi Thalib, melahirkan 8 putra yaitu Muhammad, Abu Bakar, Abbas, Ali, Abdullah, Mu'awiyah, 'Aun Al-Akbar dan 'Aun Al-Ashghor. Kesemua putranya tersebut gugur menjadi Syuhada di Padang Karbala.

Dan Zainab binti Sayyidina Ali RA adalah Srikandi Karbala yang dengan izin Allah SWT berhasil menjaga seluruh wanita Ahlul Bait bersama Imam Ali Zainal Abidin sehingga selamat dari pembantaian Karbala.

Dan Putri Sayyiduna Ali RA yang bernama Fathimah menikah dengan cucu Zubair RA yaitu Al-Mundzir bin 'Ubaidah bin Zubair. Serta putri Sayyiduna Ali RA yang bernama Romlah pertama menikah dengan Abdullah bin Abi Sufyan bin Al Haarits bin Abdul Muthollib, lalu kedua menikah dengan Mu’awiyah bin Marwan bin Hakam, yaitu paman dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam RA.

Dan cucu Sayyiduna Ali RA, yaitu Putri Sayyiduna Al-Husein yang bernama Sukainah, pertama menikah dengan Mush'ab bin Sayyidina Zubair RA, kemudian sepeninggal Mush'ab menikah dengan Zaid bin 'Umar bin Sayyidina Utsman RA.

Cucu Sayyiduna Ali RA yang bernama Ali bin Sayyiduna Al-Hasan menikah dengan putri bungsu Abu Sufyan yang bernama Maimuunah. Sedang putri sulung Abu Sufyan yang bernama Romlah RA adalah salah seorang isteri Rasulullah SAW yang dikenal dengan sebutan Ummu Habibah RA. Keduanya yaitu Romlah dan Maimunah adalah saudari dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan RA.

Sayyiduna Ali RA juga menikahi Umaamah RA setelah wafat Sayyidah Fathimah RA atas wasiatnya saat menjelang wafat. Umamah RA adalah keponakan Sayyidah Fathimah RA, yaitu putri Sayyidah Zainab RA putri tertua Nabi SAW.

Sayyiduna Ali RA menamakan putra-putranya antara lain: Abu Bakar, Umar dan Utsman sebagai bukti cinta beliau kepada ketiga Shahabat Mulia Nabi SAW.

SHAHABAT LAIN

Selain para Shahabat yang sudah tersebut di atas, masih banyak lagi Shahabat lain yang punya hubungan dengan Ahlul Bait.

Ibu Nabi SAW adalah Sayyidah Aminah RA bt Wahab bin Abdu Manaaf bin Zuhroh. Dan Sa'ad RA bin Abi Waqqoash bin Wuhaib bin Abdu Manaaf bin Zuhroh. Artinya Wuhaib kakek Sa'ad RA adalah saudara Wahab ayah Sayyidah Aminah RA, mereka sua dari Bani Zuhroh.

Dan Abdurrahman RA bin 'Auf bin 'Abdin bin Al-Haarits bin Zuhroh. Nah, Datukmya yang bernama Al-Haarits adalah saudara dari Abdu Manaaf Datuk dari Sayyidah Aminah RA dan Sa'ad RA.

Lalu, Abdullah ibnu Abbas RA dan Khalid ibnul Walid RA, ibu mereka bersaudara dengan isteri Nabi SAW yang bernama Maimuunah RA binti Al-Haarits bin Harb Al-Hilaaliyyah. Ibu Abdullah ibnu Abbas bernama Lubaabah Al-Kubra binti Al-Haarits, sedang ibu Khalid ibnul Walid bernama Lubaabah Ash-Shugra binti Al-Haarits.

Masih ada lagi Shahabat bernama Al-Miqdaad ibnul Aswad RA yang memperisteri Fathimah putri Sayyiduna Hamzah bin Abdul Muthollib RA.

Disana, masih banyak lagi Shahabat Nabi SAW yang memiliki hubungan Nasab atau Perkawinan dengan Ahlul Bait. Bagi yang ingin mendalami silakan baca kitab "An-Nasab wal Mushooharoh bainal Ahlil Bait wa Ash-Shohaabah" karya 'Alaa-uddin Al-Mudarris.

KISRA PERSIA

Kisra Persia yang bernama Yazdajird saat tumbang dari kekuasaannya, maka ketiga putrinya jatuh sebagai tawanan di tangan kaum muslimin. Lalu atas saran Sayyiduna Ali RA kepada Khalifah Umar RA agar ketiga putri  Kisra Persia tidak diperlakukan sebagai budak, karena patut dikasihani, sehingga sebaiknya tetap diperlakukan dengan hormat.

Khalifah Umar RA setuju, lalu ketiga putri Kisra Persiadimerdekakan. Kemudian Khalifah Umar RA dengan arif dan bijak mengawinkan putranya, Sayyiduna Abdullah bin Umar RA, dengan salah satu putri Kisra, yang kemudian melahirkan Sayyiduna Salim bin Abdullah bin Umar RA.

Dan satu lainnya dikawinkan dengan Muhammad putra Sayyiduna Abu Bakar RA, yang kemudian melahirkan Sayyiduna Al-Qosim. Serta satu yang lainnya lagi dikawinkan dengan Sayyiduna Al-Husein bin Ali RA, yang melahirkan Sayyiduna Ali Zainul Abidin.

Ketiga cucu Kisra Persia tersebut merupakan keturunan Shahabat Mulia Abu Bakar, Umar dan Ali, yang kemudian ketiganya menjadi Ulama Besar dan Ahli Fiqih Madinah yang menjadi rujukan umat Islam di zamannya. Rodhiyallaahu 'anhum ajma'iin.

Selain itu, diceritakan juga dalam sejarah bahwa masih ada putri dan cucu Kisra yang dikawinkan dengan anak-anak Shahabat.

KESIMPULAN

Adanya hubungan Nasab atau Perkawinan dan Perbesanan antar Ahlul Bait dan Shahabat menjadi indikator kuat tentang keharmonisan hubungan di antara mereka. Tidak seperti yang dituduhkan sekelompok orang bahwa antara Ahlul Bait dan Shahabat ada kebencian dan permusuhan serta perpecahan.

Andai pun ada perselisihan di antara mereka, hanya karena kesalah-pahaman, yang pada akhirnya mereka pun saling memaklumi dan saling memaafkan satu sama lainnya.

Dan kita harus belajar memahami dan memaklumi adanya sedikit perselisihan di antara mereka, karena memang kita tidak pantas untuk mempergunjingkannya.

Ayo ... , cintai Ahlul Bait dan Para Shahabat Nabi SAW dengan tulus dan ikhlas.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ..


Wassalaamu 'AlaikumWa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Ahlul Bait dan Shahabat

Assalaamu ' Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ... Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulilla...

Senin, 09 Februari 2015



Assalaamu 'alaikum Wa Rohmatullaahi wa Barokaatuhu.

Alhamdulillaah, berkat doa ikhwan semua, saat ini kondisi saya dalam perawatan RS sudah jauh lebih baik. 

Sebenarnya saya tidak sakit, hanya sangat kelelahan akibat Safari Da'wah yang terus menerus sejak bulan Syawwal hingga Maulid ini, sehingga Gula Darah, Cholesterol, Asam Urat, Lekosit, dan Kalium serta Tensi Darah menjadi tidak karuan mengganggu  stabilitas metabolisme tubuh.

Karenanya, saya dirawat di RS oleh para Dokter yang baik dan berdedikasi serta memiliki ghirah Islam yang tinggi, hanya untuk istirahat total dan perbaikan metabolisme tubuh serta pemulihan tenaga.

Dan berkahnya, dalam ruang perawatan dengan infus dan pemeriksaan yang kontiniu, saya masih bisa menulis artikel  Kisah Shahabat ke-8 tentang Abdullah ibnu Mas'ud RA. Alhamdulillaah.

Terima Kasih atas doa dan dukungannya. Selamat menyimak Kisah Shahabat Nabi SAW !

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

PENGGEMBALA TERNAK

Abdullah ibnu Mas'ud RA biasa dipanggil dengan panggilan "Ibnu Ummi 'Abdin". Lahir di Mekkah dan sejak kecil bekerja sebagai penggembala ternak milik Abul Walid 'Uqbah ibnu Abi Mu'aith seorang Pembesar Kafir Quraisy.

Abdullah RA tidak banyak mendengar berita tentang Rasulullah SAW, karena dua hal : Pertama, karena usianya yang masih anak-anak. Kedua, karena setiap hari ia sibuk dengan pekerjaannya, pagi ia pergi dengan kawanan hewan ternaknya ke pinggiran kota Mekkah, dan tidak kembali kecuali menjelang malam.

MENJAGA AMANAT

Suatu hari ketika usianya mau menginjak remaja, tatkala ia sedang asyik menggembalakan ternaknya, datanglah dua musafir menghampiri dan menyapanya : "Wahai pemuda, bolehkah kami meminum susu salah satu kambingmu, untuk menghilangkan rasa haus kami dan mengobati lelah kami ?"

Abdullah RA langsung menjawab dengan polos : "Maaf, saya tidak bisa memenuhi permintaanmu, karena kambing-kambing ini bukan milik saya.".

Kedua orang tersebut tampak tersenyum, sama sekali tidak menunjukkan rasa kecewa atau kesal, bahkan kagum dengan sikap Abdullah RA yang setia menjaga amanat tuannya.

MUSAFIR AJAIB

Lalu, salah seorang dari musafir tersebut meminjam salah satu kambing kecil yang tidak bersusu, Abdullah RA pun mengizinkannya. Kambing kecil tersebut dibelai dan diusap oleh tangan si musafir, saat disentuh puting susunya yang belum tumbuh sambil membaca beberapa kalimat, tiba-tiba puting kecil itu mengeluarkan dan memancurkan banyak air susu. Abdullah RA pun terkejut dan terheran-heran.

Musafir yang seorang lagi segera mengambil bejana dari batu untuk menampung susu, kemudian kedua orang musafir tersebut bersama Abdullah RA meminumnya. Usai meminum susu, Si Musafir Ajaib mengusap kembali kambing tadi sambil membaca sesuatu, lalu puting susunya berhenti tidak mengeluarkan susu lagi.

Abdullah RA pun meminta kepada Si Musafir Ajaib untuk mengajarkannya kalimat-kalimat yang tadi diucapkan dan menyebabkan keajaiban. Si Musafir Ajaib hanya mengatakan :

                  "إنك غلام معلَٓم "

"Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang akan mendapat ilmu."

SAHABAT RAHASIA NABI SAW

Abdullah RA penasaran tentang Si Musafir Ajaib dan Shahabatnya. Ia pun terus mencari tahu. Akhirnya, ia tahu bahwa Si Musafir Ajaib adalah Rasulullah SAW, sedang Shahabat yang menemaninya adalah Sayyiduna Abu Bakar RA.

Abdullah RA yang telah menyaksikan dan merasakan langsung Mu'jizat Nabi SAW, sedikit pun tidak lagi meragukan kebenaran ajarannya. Ia pun tanpa ragu masuk Islam, dan hidup di samping Nabi SAW untuk melayaninya.

Jika Anas ibnu Malik RA terkenal sebagai pelayan Nabi SAW di Madinah, maka Abdullah ibnu Mas'ud RA terkenal sebagai pelayan Nabi SAW di Mekkah. Dan Abdullah RA termasuk dari Golongan yang memeluk
Islam pertama.

Abdullah RA bisa menemui Nabi SAW kapan saja, bahkan beliau diizinkan untuk keluar masuk ke kamar Nabi SAW. Kemana Nabi SAW pergi, Abdullah RA selalu menyertai. Dia lah yang selalu melayani Nabi SAW di dalam mau pun di luar rumah. Dia lah yang menyiapkan air dan menutup rapat serta menjaga Nabi SAW saat mandi. Dan dia lah yang memakaikan dan melepaskan terompah dan jubah serta 'imamah Nabi SAW. Dia pula yang membawa tongkat dan sorban serta barang Nabi SAW lainnya saat berpergian. 

Karenanya, Abdullah RA banyak mengetahui dan menyimpan rahasia Nabi SAW yang tidak diketahui Shahabat lainnya. Dan Nabi SAW sangat mempercayai kejujurannya dalam menjaga amanat dan rahasia.

Itulah sebabnya, Abdullah ibnu Mas'ud RA dijuluki sebagai "Shahabat Rahasia Rasulullah SAW".

IMAM QIROO'AAT

Abdullah RA juga termasuk penghafal Al-Qur'an, bahkan keindahan bacaannya mendapat pujian dari Rasulullah SAW. Abdullah RA mengetahui tentang kapan dan dimana serta kenapa suatu ayat diturunkan. Dan ia pun mendalami makna dan artinya serta mengamalkan isi kandungannya.

Suatu malam, Rasulullah SAW berbincang di rumah Sayyiduna Abu Bakar RA bersama Shohibul
Bait yang ditemani Sayyiduna Umar ibnul Khaththab RA, hingga tengah malam. Lalu saat pulang, kedua Shahabat tersebut ikut mengantar Nabi SAW. Ketika melewati masjid, mereka melihat ada seseorang dalam
kegelapan sedang berdiri Shalat membaca Al-Qur'an dengan indah. 

Rasulullah SAW mengajak kedua Shahabatnya berhenti untuk mendengarkan bacaan Al-Qur'annya. Lalu Nabi SAW yang tidak asing dengan suara tersebut berkata kepada keduanya seraya memuji si pembaca Al-Qur'an :

" من سره أن يقرأ القرآن رطبا كما نزل ، فليقرأه على قراءة ابن أم عبد "

"Barangsiapa yang senang membaca Al-Qur'an dengan indah sebagaimana diturunkan, maka bacalah seperti bacaan Ibnu Ummi 'Abdin."

Abu Bakar RA dan Umar RA pun baru menyadari kalau si pembaca Al-Qur'an tersebut adalah Abdullah ibnu Mas'ud RA. Kemudian, setelah selesi Shalat, Abdullah RA bermunajat membaca doa, dan Rasulullah SAW dari kejauhan mengatakan :

       " سل تًعطًه ... سل تًعطًه ... "

"Mintalah niscaya diberikannya ... Mintalah niscaya diberikannya ... "

Keesokan harinya, Umar RA bergegas menemui Abdullah RA untuk menyampaikan kabar gembira tentang pujian dan doa Nabi SAW baginya. Namun saat bertemu Abdullah RA, ternyata Abu Bakar RA telah mendahuluinya.

Akhirnya Umar RA berkata : "Demi Allah, tidaklah aku berusaha mendahului Abu Bakar dalam suatu kebaikan, kecuali Abu Bakar selalu mendahuluiku."

ULAMA SHAHABAT

Kedekatannya dengan Rasulullah SAW, membuat Abdullah RA banyak mewarisi ilmu dan akhlaq Nabi SAW. Bahkan beliau RA tampil sebagai salah seorang Shahabat Nabi SAW yang menjadi ULAMA berilmu luas dan berakhlaq mulia serta jadi panutan, berkat pendidikan langsung dari Rasulullah SAW,

Keulamaan Abdullah RA diakui para Shahabat yang lain. Pernah suatu ketika di zaman Khalifah Umar ibnul Khaththab RA ada seorang warga Kufah di Iraq bertemu Khalifah Umar RA di 'Arafah saat Wuquf Haji. Khalifah RA pun bertanya tentang asal daerahnya. Lalu orang tersebut menjawab dengan bangga : "Aku datang dari negeri yang memiliki seorang ulama yang menguasai seluruh Qira'at Al-Qur'an."

Khalifah Umar RA pun marah mendengar jawaban tersebut : "Celaka kau ... , siapa orangnya ?!"  Orang tadi menjawab lantang : "Abdullah ibnu Mas'ud !!!" Mendengar jawaban itu, Umar RA spontan lega dan kemarahannya pun langsung reda seraya berkata : " Celaka kau ... , aku kira siapa ?!  Demi Allah, aku tak tahu seorang pun yang lebih berhak dengan sebutan itu kecuali dia." 

Lalu Umar RA pun menceritakan pengalamannya tentang pujian dan doa Nabi SAW bagi Abdullah RA terkait keahliannya soal Al-Qur'an sebagamana tersebut di atas.

Pernah pada suatu ketika yang lain, dalam suatu perjalanan rombongan Kafilah Khalifah Umar RA bertemu dengan rombongan Kafilah lain dalam kegelapan malam. Lalu Umar RA memerintahkan pengawalnya mengajukan beberapa pertanyaan tentang asal dan tujuan kafilah tersebut. Kemudian Umar RA mendengar jawaban dari salah seorang dalam Kafilah tersebut untuk setiap pertanyaan dengan ayat Al-Qur'an. Maka Umar RA mengatakan kepada rombongannya bahwa di dalam Kafilah lain tersebut pasti ada seorang Ulama.

Lalu Umar RA memerintahkan pengawalnya mengajukan beberapa pertanyaan tentang Al-Qur'an. Semua soal pun dijawab tangkas oleh orang tersebut dengan ayat-ayat Al-Qur'an pula.

Akhirnya, Umar RA berkata : "Orang yang bisa menjawab dengan demikian bagus tentang Al-Qur'an hanya Abdullah ibnu Mas'ud." Rombongan Kafilah itu pun serentak menjawab bahwa di tengah mereka memang ada Abdullah ibnu Mas'ud RA.

PENGUNJUK RASA PERTAMA

Suatu hari di Masa Awal Islam para Shahabat Nabi SAW di Mekkah berkumpul dan berdialog sesama mereka, tentang keinginan mereka bahwasanya mesti ada seseorang selain Nabi SAW yang berani membacakan Al-Qur'an secara terbuka di depan para Tokoh Quraisy. Lalu Abdullah RA secara spontan menawarkan dirinya.

Semula para Shahabat menolak tawaran Abdullah RA karena mengingat tiga hal : Pertama, Abdullah RA tidak punya kerabat dan suku yang kuat untuk melindunginya. Kedua, umat Islam saat itu masih sedikit dan kebanyakan dari kaum mustadh'afiin (lemah). Ketiga, Abdullah RA berperawakan kecil dan kurus sehingga dikhawatirkan tidak mampu menanggung resikonya. 

Namun Abdullah RA tetap berkeras melakukannya sambil berkata :

" دعوني فإن الله سيمنعني ويحميني "

" Biarkan saya, maka sesungguhnya Allah akan melindungi dan menjagaku."

Keesokan harinya di waktu Dhuha, Abdullah RA berangkat ke Al-Baitul Haram dan berdiri di antara Maqom Ibrahim AS dan Pintu Ka'bah. Saat itu para Tokoh Kafir Quraisy sedang duduk di depan pintu Ka'bah. Lantas mulailah Abdullah RA membaca Surat Ar-Rahmaan. 

Para Tokoh Quraisy tertegun mendengarkan dan memperhatikan bacaan Abdullah RA. Namun tak berapa lama mereka baru menyadari bahwa yang dibaca adalah ayat Al-Qur'an yang dibawa Nabi Muhammad SAW, mereka pun murka lalu serentak berdiri menghajar dan memukuli Abdullah RA, sehingga wajahnya lebam-lebam dan berdarah, sementara badannya serba biru akibat tendangan dan pukulan.

Menakjubkannya, Abdullah RA tidak peduli dengan hajaran dan hantaman Kafir Quraisy. Di tengah tendangan dan pukulan tersebut, ia tetap terus membaca Surat Ar-Rahmaan. Dengan segala kemampuan ia berusaha menyelesaikan pembacaan Surat Ar -Rahmaan. Usai membaca Surat Ar-Rahmaan, Abdullah berusaha lepas dari penganiayaan tersebut. Ia pun berhasil lolos dengan badan biru dan wajah lebam serta darah bercucuran.

Para Shahabat sangat prihatin dan sedih melihat kondisi Abdullah RA,  namun Abdullah RA berkata kepada mereka :

" والله ما كان أعداء الله أهون في عيني منهم الآن ، وإن شئتم لأغادينهم بمثلها غدا "

"Demi Allah, kini di mataku tidak ada musuh Allah yang lebih hina dari mereka. Jika kalian menghendaki maka niscaya besok pagi aku akan lakukan hal seperi itu lagi."

Namun para Shahabat menolak, karena mereka menilai bahwa Abdullah ibnu Mas'ud RA telah cukup berhasil memperdengarkan ayat Al-Qur'an kepada para Tokoh Kafir Quraisy secara terbuka. 

Ya, Abdullah RA telah sukses menggelar AKSI UNJUK RASA di hadapan musuh Allah SWT walau pun seorang diri dengan resiko yang berat, dihajar dan dihantam, bahkan hampir dibunuh. Abdullah RA berhasil mendemonstrasikan rasa cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW serta Kitab Suci-Nya Al-Qur'an di tengah para penguasa dan pembesar Mekkah yang ketika itu dikuasai kaum musyrikin.

Dengan demikian, Abdullah RA tercatat dalam Sejarah Islam sebagai Pengunjuk Rasa Pertama yang turun ke jalan membela Islam secara terang-terangan dan demonstratif di hadapan Penguasa Kafir dan Zholim tanpa mengenal rasa takut. 

JIHAD ABDULLAH RA

Abdullah RA berbadan kecil dan kurus serta tampak lemah tak bertenaga, sehingga terkesan di mata orang yang melihatnya bahwa jika ada angin bertiup saja maka badan Abdullah RA akan bergoyang tak tahan.

Karenanya, saat di Madinah, keinginan Abdullah RA untuk ikut serta berjihad, sering ditentang oleh sebagian Shahabat. Abdullah RA sering muram dan sedih karenanya. Mengetahui itu, Nabi SAW mengingatkan Shahabat agar tidak menghalangi keinginan mulia Abdullah RA, bahkan beliau menginfokan berita yang cukup mengejutkan bahwasanya Abdullah RA nanti yang akan membunuh Abu Jahal dan mengabarkan kematiannya kepada Nabi SAW.

Saat Perang Badar, Abdullah RA ikut serta dengan penuh semangat walau pun harus menguras tenaga untuk mengangkat pedang dan tombaknya. Usai pertempuran, Rasulullah SAW memerintahkan Abdullah RA untuk memeriksa mayat-mayat musuh yang tewas, khususnya Abu Jahal. 

Abdullah RA pun menelusuri mayat tiap musuh, hingga mendapatkan jasad Abu Jahal. Ternyata Abu Jahal belum mati, bahkan berusaha untuk bangun dengan menghunuskan pedang sambil memandang Abdullah RA dengan penuh amarah dan kebencian. 

Abdullah RA terkejut dan sempat mundur beberapa langkah sambil mengangkat tombaknya yang cukup berat untuk ukuran tubuhnya. Tapi ketika terlihat Abu Jahal jatuh duduk tanpa tenaga, Abdullah RA pun mendekat dan menarik jenggotnya sambil menyebutnya sebagai "Syeikh Sesat", lalu dengan tombaknya Abdullah RA menghabisi Abu Jahal.

Saat Abdullah RA melaporkan kepada Nabi SAW tentang Abu Jahal, beliau SAW bersyukur kepada Allah SWT dan menyebut Abu Jahal sebagai "Fir'aun Umat ini".

Para Shahabat pun bertahmid dan bertasbih serta bertakbir atas kebenaran INFO NUBUWWAH bahwa Abu Jahal akan dibunuh oleh Abdullah ibnu Mas'ud RA dan ia pula yang akan mengabarkan Nabi SAW akan berita gembira tersebut.

Perlu dicatat, bahwa ketika Tujuh Tokoh Kafir Quraisy, yaitu : Abu Jahal, 'Utbah b Robi'ah, Syaibah b Robi'ah, Umayyah b Kholaf, Ubay b Kholaf, Al-Walid b 'Utbah, dan 'Uqbah b Abi Mu'aith, menghina dan mengganggu Rasulullah SAW saat beliau sujud Shalat di depan Ka'bah, dengan melumuri kepala dan punggung beliau dengan kotoran Onta yang sudah disembelih beberapa hari sebelumnya, maka Nabi berdoa kepada Allah SWT untuk membalasnya kepada mereka.

Nah, saat usai Perang Badar, Abdullah ibnu Mas'ud RA menyatakan : "Demi Allah, aku menyaksikan ketujuhnya mati dalam Perang Badar dan dilemparkan jasadnya ke dalam kuburan massal berupa Lobang Besar di Medan Badar."

Cerita Abu Jahal diriwayatkan dalam tidak kurang dari 65 (enam puluh lima) riwayat dalam Muwaththo' Imam Malik rhm dan Musnad Imam Ahmad rhm serta Kutubus Sittah yang enam yaitu Bukhari, Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasaa-i dan Ibnu Maajah, rohimahumullaah. Belum lagi di kitab-kitab Tarikh dan Hadits lainnya.

AJAL MENJEMPUT

Saat Abdullah ibnu Mas'ud RA sakit menjelang ajal, Khalifah Utsman ibnu 'Affan RA membesuknya dan bertanya : "Wahai Ibnu Ummi 'Abdin, apa yang keluhanmu."  Abdullah RA pun menjawab singkat : "Dosa-dosaku." Utsman RA bertanya lagi : "Lalu apa yang kau harapkan ?" Abdullah RA menjawab lagi : "Rahmat Tuhanku."

Lalu Utsman RA bertanya lagi dengan lembut : "Aku telah menetapkan bagianmu dari Baitul Mal, tapi telah bertahun-tahun engkau menolaknya. Kenapa ?"  Abdullah RA pun menjawab dengan kerendahan hati : " Aku tidak membutuhkannya."

Utsman RA pun bertanya kembali sambil menegur Abdullah RA dengan santun : " Tapi bukankah akan sangat berguna untuk putri-putrimu nanti ?"

Abdullah RA menjawab dengan tenang dan yakin : "Adakah kau khawatir kemiskinan terhadap putri-putriku ?! Sesungguhnya aku telah mengajarkan dan memerintahkan mereka untuk merutinkan pembacaan Surat Al-Waaqi'ah setiap malam, karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : 

من قرأ الواقعة كل ليلة لم تصبه فاقة أبدا

" Barangsiapa membaca Al-Waaqi'ah setiap malam, maka tidak akan tertimpa kemiskinan / hajat yang sulit selamanya."

Akhirnya, Abdullah ibnu Mas'ud RA menghembuskan nafasnya yang terakhir dengan lisan dan hati yang terus-menerus berdzikir kepada Allah SWT.

Rodhiyallaahu 'an Ibni Mas'uud wa 'an Jamii'ish Shohaabah ...

Kisah Shahabat 8: ABDULLAH IBNU MAS'UUD RA

Assalaamu 'alaikum Wa Rohmatullaahi wa Barokaatuhu. Alhamdulillaah, berkat doa ikhwan semua, saat ini kondisi saya dalam perawatan RS su...

Jumat, 06 Februari 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Al-Barro' ibnu Malik Al-Anshori RA adalah saudara Anas ibnu Malik Al-Anshori RA Sang Pelayan Nabi SAW yang telah dipaparkan kisahnya pada artikel yang lalu.

Al-Barro' RA berperawakan sangat kurus, sehingga badannya tampak bagai kulit membalut tulang. Namun demikian, ia seorang yang sangat kuat dan pemberani.

KUAT DAN PEMBERANI

Kekuatan Al-Barro' RA terbukti dengan ia berhasil membunuh 100 (seratus) orang kafir melalui "Mubaarozah" yaitu duel satu lawan satu di berbagai pembukaan pertempuran, sebagaimana tradisi perang di zamannya. Ditambah lagi sudah tidak terhitung orang kafir yang dibunuhnya dalam setiap pertempuran.

Ada pun keberaniannya, tak seorang Shahabat pun yang mengingkarinya. Bahkan saking beraninya Al-Barro' RA hingga Khalifah Umar ibnul Khaththab RA menyurati para Gubernurnya dan berpesan :

" لا تولوا البراء جيشا من جيوش المسلمين مخافة أن يهلك جنده بإقدامه ".

"Jangan kalian tugaskan Al-Barro' untuk memimpin pasukan Tentara Islam, karena khawatir ia akan membinasakan pasukannya sendiri akibat kenekatannya."

MEMBURU NABI PALSU

Sebelum Rasulullah SAW wafat, muncul Nabi Palsu Musailamah Al-Kadzdzaab dari Yamamah di Najd. Dan Nabi SAW mengancam akan memeranginya, namun beliau SAW wafat sebelum sempat mengirim Tentara Islam ke Yamamah di Najd.

Kemudian Khalifah Abu bakar RA melanjutkan rencana Nabi SAW dengan mengirim pasukan pertama dipimpin oleh 'Ikrimah RA ke Yamamah di Najd untuk memerangi Musailamah Al-Kadzdzaab. Namun pasukan pertama ini berhasil dipukul mundur oleh musuh.

Lalu, Khalifah Abu Bakar RA mengirim pasukan kedua dipimpin oleh Khalid ibnul Walid RA yang di dalamnya terdapat Al-Barro' ibnu Malik Al-Anshori RA.

PERANG YAMAMAH

Pada serangan pertama, Pasukan Khalid ibnul Walid RA sempat kewalahan menghadapi pasukan musuh. Bahkan musuh sempat berhasil menyerang kemah Panglima Khalid RA dan hampir membunuh isterinya yang ikut mendampinginya.

Akhirnya, Panglima Khalid RA merubah strategi dengan membagi pasukan sesuai kelompoknya masing-masing, antara lain : Pasukan Muhajirin dan Pasukan Anshor serta Pasukan kelompok lainnya.

Panji Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abi Hudzaifah RA seorang Penghafal Al-Qur'an yang dengan gagah berani menerjang musuh hingga syahid dengan putus kedua tangannya.

Dari kalangan Muhajirin ada Zaid ibnul Khaththab RA saudara Sayyiduna Umar ibnul Khaththab RA yang juga habis-habisan bertempur hingga mati syahid.

Panji Anshor dipegang oleh Tsabit ibnu Qais RA yang menanam kedua kakinya di dalam tanah agar tak bisa lari dari musuh. Lalu menghantam siapa saja musuh yang mendekat sambil menegakkan panji agar tak jatuh, hingga ia mati syahid di tempatnya.

MEMBANGKITKAN SEMANGAT 

Dari kalangan Anshor ada Al-Barro' ibnu Malik RA yang berperang dengan gagah berani. Tatkala ia melihat banyak kalangan Muhajirin dan Anshor serta lainnya yang gugur, lalu ia khawatir akan menurunkan semangat jihad pasukan muslimin, maka ia berteriak sambil menghunuskan pedangnya :

" يا معشر الأنصار ،  لا يفكرن أحد منكم بالرجوع إلى المدينة .  فلا مدينة لكم بعد اليوم ... وإنما هو الله وحده ... ثم الجنة ... "

"Hai segenap Anshor, jangan ada seorang pun dari kalian yang berfikir untuk kembali ke Madinah. Tidak ada Madinah bagi kalian setelah hari ini ... yang ada hanya Allah Yang Maha Esa ... kemudian Surga ... "

Teriakan Al-Barro RA berhasil membangkitkan semangat tempur pasukan muslimin, sehingga mereka dengan gagah berani terus menerjang habis-habisan dan mati-matian untuk memporak-porandakan pasukan musuh.

Pasukan Musailamah Al-Kadzdzab terdesak dan terpukul mundur. Akhirnya mereka lari masuk dalam Benteng mereka, dan menutup gerbang untuk berlindung dari kejaran Tentara Islam. 

TAMAN KEMATIAN

Dari dalam Benteng, pasukan Nabi Palsu menghujani Tentara Islam dengan anak panah sebanyak-banyaknya, sehingga pasukan Khalid RA menjauh dari Benteng agar tidak menjadi sasaran panah musuh.

Namun Al-Barro RA sebaliknya, dia tidak mau menjauh dari Benteng. Bahkan ia dengan tubuhnya yang kurus lagi ringan naik berdiri di atas perisai, dan meminta beberapa Tentara Islam dengan tombak-tombak mereka mengangkat perisai tersebut dan melemparnya ke dalam Benteng tidak jauh dari gerbang.

Sesampainya di dalam Benteng, Al-Barro RA dikeroyok musuh, ia berjuang dengan susah payah mencapai pintu gerbang, puluhan anak panah menerjangnya, dan puluhan tombak menusuk badannya, serta puluhan pedang merobek tubuhnya. Namun ia masih mampu menumbangkan sepuluh orang musuh dan membunuhnya.

Dalam keadaan penuh luka, bahkan hampir sekarat, Al-Barro' RA berhasil mencapai pintu, dan dengan tenaga terakhirnya ia berhasil membuka gerbang, lalu ia jatuh tergeletak tak bergerak.

Setelah gerbang terbuka, Tentara Islam menyerbu ke dalam Benteng Musuh yang di dalamnya berupa Perkebunan Kurma. Akhirnya, Nabi Palsu Musailamah Al-Kadzdzab dengan ribuan pengikutnya mati terbunuh dalam perkebunan yang dijadikan sebagai benteng pertahanan mereka. 

Karena banyaknya korban tewas dalam kebun tersebut, maka dinamakanlah "Hadiiqoh Al-Maut" yang artinya "Taman Kematian".

SELAMAT DAN SYAHID

Dengan izin Allah SWT, ternyata dalam peristiwa "Taman Kematian" Al-Barro' RA selamat, walau di badannya ada lebih dari delapan puluh luka tusukan dan sayatan. Berbulan-bulan Khalid ibnul Walid RA dan kawan-kawannya menjaga serta merawat luka Al-Barro' RA hingga sembuh. 

Setelah sembuh, Al-Barro' RA kembali ikut berjihad bersama kaum muslimin hingga zaman Khalifah Umar ibnul Khaththab RA. Al-Barro' RA pun ikut dalam "Perang Tustar" yang merupakan salah satu episode penting dalam Perang Penaklukan Persia.

Dalam Perang Tustar inilah, Al-Barro' RA tetap bertempur dalam keadaan tangan terluka parah, terbakar dan melepuh, akibat menyelamatkan saudaranya Anas ibnu Malik RA dari Kaitan Baja panas membara, sebagaimana sudah dipaparkan dalam Kisah Shahabat sebelumnya.

Akhirnya, Al-Barro' RA gugur sebagai syahid dalam Perang Tustar tersebut setelah berhasil menumbangkan banyak musuhnya.

Rodhiyallaahu 'anil Barroo' wa 'an Ummihi wa Akhiihi ....

Kisah Shahabat 7: AL-BARROO IBNU MAALIK AL-ANSHOORIY RA

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Al-Barro' ibnu Malik Al-Anshori RA adalah saudara Anas ibn...

Kamis, 05 Februari 2015



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Anas ibnu Malik RA dilahirkan di Yatsrib yaitu nama lama kota Madinah. Sejak kecil Anas RA dipelihara dan diislamkan oleh ibundanya "Al-Ghumaishoo" atau disebut juga "Ar-Rumaishoo" RA, sebelum Rasulullah SAW hijrah ke  Madinah.

Saat Nabi SAW bersama Shahabatnya Sayyiduna Abu Bakar RA hijrah dari Mekkah dan masuk Kota Madinah, Anas RA yang masih anak-anak bersama anak-anak Madinah lainnya ikut berlari-lari gembira di tengah kerumunan penduduk Madinah, baik Anshor mau pun Muhajirin, yang menyambut kedatangan Nabi SAW dengan haru biru dalam rasa mahabbah dan rindu.

HADIAH UNTUK NABI SAW

Kedatangan Rasulullah SAW ke Madinah sangat menyenangkan hati kaum Anshor. Mereka pun secara bergantian datang menemui Nabi SAW dengan memberikan aneka ragam hadiah sebagai "Romzul Mahabbah" yaitu "Tanda Cinta".

Setelah semua kaum Anshor mendapat giliran bertemu Nabi SAW, maka terakhir datanglah Al-Ghumaishoo RA menemui Nabi SAW, sambil menuntun anaknya Anas RA yang berusia sepuluh tahun 

Al-Ghumaishoo RA berkata kepada Nabi SAW : "Wahai Rasulullah, seluruh kaum Anshor telah datang menemuimu dengan aneka ragam hadiah, sedang aku tak punya apa pun untuk kuberikan padamu selain anakku ini. Maka ambil dan terimalah dia untuk melayanimu."

Dengan wajah cerah Rasulullah SAW pun tersenyum hangat menerima Anas RA sebagai pelayannya. Nabi SAW mengusap kepala Anas dan mendoakannya serta menempatkannya di sampingnya. Dan Anas RA pun melayaninya dengan setia hingga wafatnya Nabi SAW.

KASIH SAYANG NABI SAW

Anas RA menceritakan bahwa selama sepuluh tahun beliau melayani Rasulullah SAW, tak pernah sekali pun Nabi SAW berkata kasar, membentak atau menghardiknya, apalagi memukul atau menyakitinya, walau pun terkadang Anas RA lalai dalam tugasnya.

Salah satu kejadian yang diceritakan Anas RA adalah tatkala suatu hari Rasulullah SAW menugaskannya untuk suatu keperluan, maka berangkatlah Anas RA untuk menunaikan tugas tersebut. 

Namun di tengah jalan Anas RA melihat teman-teman sebayanya sedang bermain, maka ia tertarik ikut bermain. Lalu saat sedang asyik bermain, tiba-tiba Rasulullah SAW ada di belakangnya dan memegangnya, sambil tersenyum Nabi SAW bertanya : "Wahai Unais, sudahkan kau laksanakan tugas yang aku berikan ?" 

Anas RA menjawab : "Sekarang aku pergi dan laksanakan tugas itu Wahai Rasulullah." Anas RA pun segera berlari menunaikan tugas, sementara Nabi SAW hanya tersenyum melihatnya dari kejauhan.

Rasulullah SAW memanggil Anas RA dengan sebutan "Unais" untuk menunjukkan cinta dan kasih sayangnya serta kedekatan dirinya.

DOA NABI SAW UNTUK ANAS RA

Salah satu Doa Nabi SAW untuk Anas RA adalah :

"اللهم ارزقه مالا وولدا ،  وبارك له ."

"Ya Allah, karuniakanlah ia harta dan anak, serta berkahilah baginya."

Allah SWT mengabulkan doa Nabi-Nya, sehingga Anas RA menjadi ANSHOR yang terkaya hartanya dan terbanyak anak dan cucunya, serta terpanjang umurnya dan paling banyak riwayat haditsnya.

Anas RA dikarunikan anak dan cucu lebih dari seratus, dan dipanjangkan umur hingga 103 tahun. Dan beliau adalah perawi hadits terbanyak setelah Abu Hurairah RA dan Abdullah ibnu Umar RA.

JIHAD ANAS RA

Anas RA tidak saja melayani Nabi SAW di rumah dan majelisnya, tapi juga di semua kegiatannya, termasuk di Medan Perang sekali pun.

Semenjak Anas RA menginjak dewasa, beliau selalu setia mendampingi Nabi SAW dalam setiap misi jihadnya. Beliau adalah pelayan Nabi SAW dalam suka dan duka, serta dalam tenang dan perang.

Setelah wafatnya Rasulullah SAW, Anas RA tetap ikut dalam berbagai  medan jihad, salah satunya adalah Perang Penaklukan Kota Tustar di Khuzistan sebagai bagian penting dari rentetan Perang Penaklukan Kekaisaran Persia di zaman Khalifah Umar ibnul Khaththab RA.

UJIAN JIHAD ANAS RA

Dalam Perang Penaklukan Tustar, Anas RA mengalami nasib tragis. Kala itu Tentara Persia berlindung di dalam Benteng yang tinggi dan kokoh, sementara Tentara Islam mengepungnya dari luar Benteng.

Dari atas Benteng, Tentara Persia menggunakan senjata Rantai Panjang yang di ujungnya dipasang Baja Berkait  yang tajam dan telah dipanaskan hingga merah membara. Lalu mereka lemparkan ke tengah pasukan muslimin dan menariknya ke atas.

Beberapa Tentara Islam terkena kaitan baja tersebut dan ditarik oleh musuh ke atas Benteng hingga terluka parah, bahkan ada yang mati karenanya. Salah satu yang terkena Baja Berkait yang panas dan merah membara itu adalah Anas RA.

Di saat-saat genting, tatkala badan Anas RA terkena Baja Berkait dan ditarik oleh musuh dari atas Benteng, maka saudara Anas RA yang bernama Al-Barro' ibnu Malik RA mengejar dan menangkap badannya dengan sigap. 

Al-Barro' RA sambil menahan tarikan rantai panjang musuh yang menarik jasad saudaranya ke atas Benteng, ia berusaha mati-matian mencabut Baja Berkait dari badan saudaranya tersebut. Dia tidak peduli dengan rantai dan baja yang panas membara, hingga tangannya hangus melepuh.

Dengan izin Allah SWT, akhirnya,  Al-Barro' RA berhasil melepas kaitan baja dari tubuh Anas RA, dan menjauhkan Anas RA dari jangkauan musuh. Anas RA pun selamat dari maut walau badannya terluka parah.

Sedang Al-Barro' RA setelah menyelamatkan Anas RA, dan mengamankannya di barisan belakang, langsung maju kembali melanjutkan pertempuran melawan musuh, walau dalam keadaan tangan terluka parah.

Bagaimana nasib Al-Barro' RA selanjutnya ?  Insya Allah akan dipaparkan dalam Kisah Shahabat berikutnya.

AKHIR HAYAT

Di akhir usianya, Anas RA sering berkata kepada keluarga dan muridnya :

" إني لأرجو أن ألقى رسول الله صلى الله عليه وسلم في يوم القيامة فأقول له : يا رسول الله هذا خويدمك أنيس "

"Sesungguhnya aku sangat berharap agar bertemu Rasulullah SAW di Hari Qiyamat, lalu aku katakan kepadanya : Wahai Rasulullah, ini pelayan kecilmu Unais."

Saat menjelang ajal, Anas RA meminta keluarganya terus mentalqinkan Kalimat Tauhid, ia terus mengikutinya hingga wafat dalam ucapan :

 " لا إله إلا الله محمد رسول الله "

Saat pemakaman Anas RA, keluarganya meletakkan Tongkat Kecil pemberian Nabi SAW disampingnya sesuai Wasiat Anas RA semasa hidupnya.


Rodhiyallaahu 'an Anas wa 'an Ummihi wa Akhiihi ....

Kisah Shahabat 6: ANAS IBNU MAALIK AL-ANSHOORIY RA

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Anas ibnu Malik RA dilahirkan di Yatsrib yaitu nama lama kota ...

Sabtu, 24 Januari 2015



KAISAR ROMAWI

Sayyiduna Abdullah ibnu Hudzaafah As-Sahmi RA adalah seorang Shahabat Nabi SAW yang pernah bertemu dan bertatap muka langsung dengan Kisra Persiadan Kaisar Romawi.

Pada bagian pertama telah dipaparkan pertemuan Abdullah RA dengan Kisra Persia (Baca: http://goo.gl/bXjBfu). Kini akan dipaparkan pertemuan Abdullah RA dengan Kaisar Romawi.

KAISAR ROMAWI

Pertemuan Abdullah ibnu Hudzaafah As-Sahmi RA dengan Kaisar Romawi terjadi pada tahun 19 H di zaman Khalifah Sayyiduna Umar RA. 

Saat Abdullah RA bergabung dengan Mujahidin yang dikirim Khalifah Umar RA berperang melawan Kekaisaran Romawi, beliau bersama sejumlah Mujahidin lainnya jatuh ke tangan musuh menjadi tawanan perang.

Kaisar Romawi mendapat kabar bahwa di antara tawanan muslim ada seorang Shahabat Muhammad bernama Andullah ibnu Hadzaafah As-Sahmi. Kaisar sudah lama mendengar bahwa para Shahabat Muhammad adalah orang-orang yang terkenal dengan sabar dan tegar serta berani dalam membela agama Islam.

Kini, Kaisar ingin tahu langsung bagaimana karakter seorang Shahabat Muhammad, maka diperintahkanlah agar Abdullah dihadapkan ke depan Kaisar di Ruang Utama Istana untuk disaksikan oleh para menteri dan pejabat serta pengawalnya.

DIBUJUK

Di hadapan Kaisar Romawi, sang tawanan Abdullah RA berdiri dengan gagah sambil menghadap dan menatap Kaisar tanpa ada sedikit pun terlihat rasa takut atau khawatir.

Lalu Kaisar membujuk Abdullah RA agar menjadi Nashrani, dan Kaisar menjanjikan akan membebaskan Abdullah RA serta memuliakan kedudukannya. Abdullah RA dengan tenang tapi tegas menjawab :

" Jauh sekali, tak kan pernah terjadi. Sesungguhnya kematian lebih aku suka seribu kali daripada mengikuti ajakanmu."

Selanjutnya Kaisar menawarkan Abdullah RA untuk menjadi salah satu pembesarnya dan akan dijadikan raja di salah satu wilayah Kekaisaran Romawi. Maka Abdullah RA pun menjawab tanpa ragu :

"Andaikan engkau berikan seluruh milik Romawi dan seluruh milik bangsa Arab, agar aku keluar dari agama Muhammad walau hanya sekejap mata, tak kan pernah aku lakukan."

DIANCAM

Melihat sikap Abdullah RA yang tetap teguh kepada agama Islam, maka Kaisar pun mengancam akan membunuhnya. Mendengar ancaman itu, Abdullah RA menanggapi singkat :

"Silakan kau lakukan apa yang kau mau."

Kaisar pun memerintahkan para pengawalnya untuk mengikat Abdullah RA di kayu salib. Lalu membisikkan Ahli Pemanahnya untuk memanah Abdullah RA, tapi Kaisar diam-diam berpesan agar jangan dikenakan sasaran, cukup di sekitar tangan kaki dan badan, untuk menakut-nakuti Abdullah RA, sambil terus memaksanya agar masuk Nashrani. Namun hasilnya, Abdullah RA tetap tak gentar menghadapi ancaman.

DISIKSA

Selanjutnya, Abdullah RA dijebloskan ke penjara, lalu disiksa atas perintah Kaisar, tapi tetap dalam batasan agar Abdullah RA tetap hidup, karena Kaisar tetap penasaran untuk menashranikannya.

Namun Abdullah RA tetap bertahan dengan Iman dan Islam. Lalu Kaisar memerintahkan agar Abdullah RA tidak diberikan makan mau pun minum hingga kelaparan dan kehausan. Tatkala Abdullah RA sudah sungguh kelaparan dan kehausan, maka atas perintah Kaisar disuguhkan Daging Babi dan Khamar.

Abdullah RA menolak Babi dan Khamar, walau pun saat itu ia dalam keadaan darurat yang membolehkannya untuk memakan dan meminumnya untuk menyelamatkan hidupnya. 

Abdullah RA menolak Babi dan Khamar, karena ia tahu kelicikan Kaisar yang ingin merendahkan ketegaran iman para Shahabat Nabi SAW, sekaligus ingin menghinakan iman kaum muslimin. Karenanya, untuk "Izzul Islaam wal Muslimiin" yaitu "Kemuliaan Islam dan Kaum Muslimin", Abdullah RA lebih rela mati kelaparan dan kehausan daripada Islam dan Kaum Muslimin dihinakan.

PEMBUNUHAN KEJI

Akhirnya, Kaisar memerintahkan Abdullah RA untuk dihadirkan kembali di hadapannya. Kali ini, Kaisar sudah menyiapkan Kuali Besar yang diisi minyak dan dipanaskan dengan api. Lalu Kaisar menghadirkan dua tawanan muslim lainnya, seraya mengancam akan membunuh mereka berdua jika Abdullah RA tidak mau masuk Nashrani. 

Abdullah RA pun tetap bertahan dalam Iman dan Islam, sehingga satu per satu kedua tawanan muslim tersebut dimasukkan dalam Kuali Besar yang berisi minyak panas dan mati syahid di dalamnya.

Karena Abdullah RA tetap teguh dengan Iman dan Islam, dan Kaisar pun sudah tidak punya cara lagi untuk meluluh-lantakkan keteguhan Iman Abdullah RA, akhirnya Kaisar memerintahkan para pengawalnya untuk melemparkan Abdullah RA ke dalam Kuali Besar berisi minyak mendidih yang telah melalap kedua tawanan muslim shahabatnya.

SEJUTA NYAWA

Saat Abdullah RA hendak dicampakkan dalam kuali, tiba-tiba Kaisar melihat Abdullah RA meneteskan air mata, maka Kaisar menghentikan para pengawal, karena Kaisar mengira bahwa sikap Abdullah RA mulai goyah dan ada tanda-tanda takut mati, sehingga Kaisar merasa masih ada peluang untuk menashranikannya.

Kemudian Kaisar kembali menawarkan kebebasan dan kesenangan untuk Abdullah RA jika mau masuk Nashrani. Lagi-lagi Abdullah RA tetap menolak. Kaisar pun marah besar : "Celaka kau, lalu kenapa kau menangis ?!"

Abdullah RA pun menjawab : " Aku meneteskan air mata, karena aku menyesal kenapa nyawaku cuma satu untuk dikorbankan di jalan Allah. Padahal aku berharap memiliki nyawa sebanyak bulu dan rambut yang ada di badanku, sehingga satu per satu nyawa aku korbankan di jalan Allah."

Kaisar Romawi terkejut dan terperangah melihat keteguhan, dan ketegaran serta kedahsyatan Iman Shahabat Muhammad. Kaisar menggelengkan kepala terkagum-kagum dan terheran-heran, sekaligus mengakui bahwa berita tentang keheroikan para Shahabat Muhammad bukan isapan jempol belaka.

Akhirnya, Kaisar menawarkan kebebasan Abdullah RA dengan syarat ia mencium jidat Kaisar. Abdullah RA sempat diam sejenak, tapi akhirnya Andullah menerima tawaran itu, tapi dengan syarat bersamanya dibebaskan semua tawanan muslim. Kaisar setuju, lalu Abdullah RA mencium jidatnya, kemudian Kaisar membebaskan Abdullah RA bersama seluruh tawanan muslim, serta melepas mereka kembali ke Madinah.

KHALIFAH UMAR RA MENANGIS

Sesampainya di Madinah, Khalifah Umar RA dan masyarakat Madinah menyambut Abdullah RA dan kawan-kawan dengan gembira dan bahagia. Mereka semua berkumpul bersama Khalifah Umar RA meminta Abullah RA dkk menceritakan apa yang dialami mereka.

Mendengar cerita Abdullah RA maka Khalifah Umar RA dan masyarakat Madinah menangis haru, lalu Khalifah berkata kepada semua orang yang hadir :

"حق على كل مسلم أن يقبل رأس عبد الله بن حذافة . وأنا أبدأ بذلك "

"Wajib atas tiap muslim untuk mencium jidat Abdullah ibnu Hudzaafah, dan aku yang memulainya."

Khalifah Umar RA pun mencium jidat Abdullah RA, lalu kemudian seluruh umat Islam yag hadir di secara bergantian mencium jidat Abdullah RA penuh rasa haru.

Rodhiyallaahu 'an Abdillaah ibni Hudzaafah As-Sahmi wa 'an Jamii'ish Shohaabah ...

Allaahummaj'alnaa Mimman Yuhibbu Shohaabati Rosuulillaah ... wa Mimman iqtadaa bihim ... Aaamiiiin ...

Kisah Shahabat 5: ABDULLAH IBNU HUDZAAFAH RA (Bagian 2)

KAISAR ROMAWI Sayyiduna Abdullah ibnu Hudzaafah As-Sahmi RA adalah seorang Shahabat Nabi SAW yang pernah bertemu dan bertatap muka langsung ...

Jumat, 23 Januari 2015



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

KISRA PERSIA

Sayyiduna Abdullah ibnu Hudzaafah As-Sahmi RA adalah seorang Shahabat Nabi Muhammad SAW yang pernah bertemu dan bertatap muka langsung dengan Kisra Persia dan Kaisar Romawi. Di kedua pertemuannya dengan pembesar Dunia kala itu ada kisah tersendiri yang menarik.

RASULULLAH SAW MENYURATI PEMBESAR DUNIA

Di tahun 6 H, Rasulullah SAW mengutus para Shahabatnya membawa suratbeliau SAW kepada para Raja, Kaisar, Kisra serta pembesar-pembesar Dunia lainnya, untuk berda'wah mengajak mereka masuk ke dalam agama Islam.

Salah satu utusan Nabi SAW adalah Abdullah ibnu Hudzaafah As-Sahmi RA yang diutus membawa suratuntuk Kisra penguasa Persia.

BERTEMU KISRA

Saat Abdullah RA sampai di Istana Sang Raja Persiadan meminta izin untuk menghadap, maka ia diizinkan bertemu Kisra yang dikelilingi para menteri dan pejabat serta pengawalnya di ruang utama Istana.

Abdullah RA berdiri tegak dan gagah penuh wibawa di depan Kisra yang duduk di singgasananya. Lalu Kisra memerintahkan pengawalnya untuk mengambil suratNabi SAW dari tangan Abdullah RA, tapi Abdullah RA menolak seraya berkata dengan tegas : "Aku diperintahkan Rasulullah SAW untuk menyerahkan surat ini langsung di tangan anda. Dan aku tidak akan melanggar perintahnya."

Mendengar itu, Sang Kisra mempersilahkan Abdullah RA untuk mendekat dan menyerahkan langsung suratnya. Lalu Kisra pun membuka surat dan meminta penterjemahnya untuk membaca dan menterjemahkan surat tersebut. Sang penterjemah membaca pembuka suratyang berbunyi :

"بسم الله الرحمن الرحيم . من محمد رسول الله إلى كسرى عظيم فارس . سلام على من اتبع الهدى ."

"Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad Utusan Allah kepada Kisra Pembesar Persia. Salam sejahtera atas orang yang mengikuti petunjuk."

KISRA MURKA

Baru pembuka yang dibaca dan diterjemahkan, Kisra sudah langsung murka, karena Nabi SAW menyebut namanya terlebih dahulu sebagai utusan Allah SWT, baru menyebut nama Kisra. 

Dengan emosi Kisra merampas Surat tersebut dan tanpa mau tahu isinya lagi, ia langsung merobek-robeknya seraya berkata dengan sombong dan angkuh : "Beraninya dia berbuat ini, sedang dia adalah budakku ?!!!"

Abdullah RA pun diusir oleh Kisra, lalu diseret keluar istana oleh para pengawal. Abdullah RA hanya tawakkal kepada Allah SWT tentang nasib apa yang akan menimpanya. 

LARI DARI PERSIA

Di luar istana, tatkala para pengawal lengah karena sibuk dan panik dengan kemurkaan Kisra, ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk segera melompat ke kudanya dan menunggangnya serta langsung memacunya bergegas meninggalkan lokasi.

Selang tak berapa lama, Kisra kembali memanggil para pengawal untuk menyeret Abdullah RA ke hadapannya, namun Abdullah RA sudah tidak ada di tempat. 

Parapengawal pun berusaha mengejar Abdullah RA dengan pasukan berkudanya, tapi tetap tidak berhasil mendapatkan Abdullah RA, karena Abdullah RA telah memacu kudanya dengan sangat cepat kembali menuju Madinah.

DOA NABI SAW

Sesampainya di Madinah, Abdullah RA melaporkan semua kejadian kepada Rasulullah SAW. Mendengar Kisra merobek-robek suratNabi SAW, maka beliau hanya mengatakan :

"مزق الله ملكه ."

"Semoga Allah merobek-robek kerajaannya."

UTUSAN KISRA

Kisra Persia masih murka terhadap Nabi SAW, dan penasaran ingin tahu lebih banyak tentangnya. Maka Kisra menyurati Gubernurnya di Yaman, yang bernama Baadzaan, agar mengirim dua orang yang tangguh dan terpercaya untuk mencari Nabi SAW dan secepatnya membawanya menghadap Kisra.

Baadzaan pun mengirim dua orang utusannya atas nama Kisra ke Hijaz untuk mencari kabar tentang Rasulullah SAW. Di Thoif, kedua utusan Baadzaan bertemu dengan pedagang Kafir Quraisy dari Mekkah yang mengabarkan bahwa Rasulullaah SAW tinggal di Madinah.

Kedua utusan Baadzaan segera bergegas ke Madinah. Dan para pedagang Kafir Quraisy membawa berita gembira kepada musyrikin Quraisy di Mekkah bahwasanya Kisra Persia telah murka kepada Muhammad dan mengirim utusan untuk menangkap dan membunuhnya.

KEMATIAN KISRA

Di Madinah, kedua utusan Baadzaan bertemubNabi SAW dan memintanya agar ikut mereka menghadap Kisra, dan mengancam jika Nabi SAW menolak maka Kisra akan sangat murka, sehingga akan membahayakan keselamatan Nabi SAW, bahkan membahayakan seluruh pengikutnya.

Rasulullah SAW hanya tersenyum mendengar ancaman tersebut, lalu beliau mempersilakan kedua utusan untuk istirahat dulu, dan meminta mereka kembali bertemu Nabi SAW di hari berikutnya.

Keesokan harinya, kedua utusan Kisra menemui Nabi SAW dan menanyakan kesiapannya untuk segera berangkat menghadap Kisra. Lalu Rasulullah SAW mengatakan kepada mereka : 

"Setelah hari ini kalian tidak akan lagi bertemu dengan Kisra, karena dia sudah dibunuh oleh anaknya sendiri yang bernama Syirawaih." 

Nabi SAW pun menyebutkan hari dan tanggal pembunuhannya. Kedua Utusan Kisra pun terkejut. Lalu Nabi SAW mempersilahkan mereka kembali ke Baadzaan untuk mengabarkan berita tersebut, sekaligus menyampaikan bahwasanya Islam akan menguasai Persia, sehingga jika Baadzaan masuk Islam, maka ia akan tetap ada dalam jabatan dan kekuasaannya.

KEISLAMAN BAADZAAN

Sesampainya kedua utusan tersebut ke Yaman dan menemui Baadzaan, lalu menceritakan apa yang dilihat dan didengar dari Rasulullah SAW, maka Baadzaan pun berkata : "Jika apa yang dikatakan Muhammad itu benar, maka ia adalah betul-betul seorang Nabi."

Tidak berapa lama, Baadzaan mendapat suratdari Syirawaih putra Kisra, yang mengabarkan bahwa ia telah membunuh ayahnya sendiri, lengkap dengan hari dan tanggal kejadiannya, yang sama percis dengan apa yang dikabarkan Nabi SAW. Dan Syirawaih meminta Baadzaan untuk tetap setia kepadanya selaku penguasa baru Persia.

Melihat kebenaran berita Nabi SAW, maka Baadzaan pun yakin akan Kenabian Muhammad SAW, lalu ia masuk Islam bersama para pengikutnya. Dan Rasulullah SAW tetap menempatkan Baadzaan sebagai penguasa Yaman.

BUKTI KENABIAN 

Bukti Kenabian Rasulullah SAW dalam soal Kisra Persiatidak hanya terbatas soal berita kematiannya. Namun Doa Nabi SAW untuk kehancuran Kekaisaran Persiadan Info Nabi SAW bahwasanya Islam akan menguasai Persia di kemudian hari terwujud dan terbukti.

Di zaman Kekhalifahan Sayyiduna Umar ibnul Khaththab RA, Kekaisaran Persiatumbang di tangan Pasukan Sayyiduna Sa'ad ibnu Abi Waqqaas RA, lalu sejak itu Persia berada di bawah Kekhilafahan Islam.


Subhaanallaahi wal Hamdulillaahi wa Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar ...

Kisah Shahabat 5: ABDULLAH IBNU HUDZAAFAH RA (Bagian 1)

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... KISRA PERSIA Sayyiduna Abdullah ibnu Hudzaafah As-Sahmi RA ada...

 

© 2015 - Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile