Senin, 30 November 2015


Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dilaporkan sejumlah ulama Purwakarta ke Polda Jawa Barat. Dedi dilaporkan karena telah melakukan penistaan agama.

Didampingi Bapak Ikhwan sebagai Ketua Tim Advokasi, Dedi dilaporkan dengan nomor laporan polisi LPB/983/XI/2015/Jabar tanggal 30 November 2015. Bupati Purwakarta ini diadukan karena dianggap telah melanggar Pasal 156a KUHPidana mengenai kebencian atau merendahkan suatu golongan rakyat Indonesia.

"Laporan ini atas permintaan dari ulama-ulama Purwakarta yang sudah resah dengan perilaku Dedi Mulyadi yang banyak menodai ajaran agama Islam," ujar pelapor, Ustaz Muhammad Syahid Joban kepada Suara Islam Online, Senin (30/11/2015).

Ustaz Joban yang datang bersama anggota DPD Front Pembela Islam (FPI) Jabar itu membawa beberapa barang bukti berupa dua buku berjudul ‘Spirit Budaya Kang Dedi’ dan ‘Kang Dedi Menyapa’ serta satu VCD berisikan kompilasi pidato sang bupati.

Menurut Joban, dalam buku karangan Dedi Mulyadi itu isinya banyak sekali penyimpangan dari ajaran Islam. Misalnya, Dedi Mulyadi mengatakan bahwa agama adalah budaya, dan budaya adalah agama. Dia menyamaratakan antara budaya dan agama. Padahal dua hal tersebut sangatlah berbeda. Agama Islam bersumber pada wahyu Allah SWT yang memiliki kebenaran mutlak, sementara budaya itu produk manusia.

Surat Pelaporan
"Lalu dia katakan orang Sunda itu tidak mengenal simbolisasi penyembahan, maksudnya orang yang bertuhan secara benar itu yang membaktikan dirinya kepada alam, bahkan dia juga menghina Nabi Muhammad Saw dengan menulis; Allah memahami Rasullah sebagai kekasihnya tetapi perlakuan Allah terhadap Rasullah justru mendidiknya dan membiarkan Rasullah sengsara" ungkapnya.

Dalam rekamannya, Dedi juga mengatakan “ketika sampah mulai bersatu dengan dirinya, maka di situ sampah menjadi harum. Kenapa? Karena Allah hadir pada sampah-sampah itu,"

"Dan yang fatal juga dia katakan bahwa zakat itu tidak wajib bagi masyarakat, yang wajib adalah APBD sampai ke masyarakat," tambah Joban.

Selain penodaan agama, yang membuat resah warga Purwakarta adalah upaya Hinduisasi oleh Dedi di daerah yang dikenal sebagai kota santri itu. "Dia melakukan upaya Hinduisasi kepada masyarakat Islam di Purwakarta, misalnya dengan membuat banyak patung, membuat gapura Hindu, mengikat pohon dengan kain poleng, dan lainnya," katanya.

"Jadi Dedi Mulyadi itu menodai syariat dengan bungkus adat, menodai agama dengan bungkus budaya. Upaya-upaya dia lewat festival, karnaval, perayaan budaya yang dia usung itu hanya sebagai bungkus, padahal isinya mengandung kemusyrikan dan banyak menodai ajaran agama Islam," pungkas Ustaz Joban.

Jauh sebelumnya, pada tahun 2008, MUI Purwakarta juga pernah mengeluarkan pernyataan bahwa Dedi Mulyadi telah menista agama Islam.


Pandangan MUI kala itu dipicu oleh ceramah Dedi pada acara Pengajian Bale Paseban, di Pendopo Purwakarta, Jawa Tengah, 7 Agustus 2008 silam, yang dinilai menyejajarkan eksistensi kitab suci Alquran dengan alat musik seruling.

Sumber: Suara Islam Online

Nodai Agama Islam, Bupati Purwakarta Dilaporkan ke Polda Jawa Barat

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dilaporkan sejumlah ulama Purwakarta ke Polda Jawa Barat. Dedi dilaporkan karena telah melakukan penistaan ag...

Sabtu, 28 November 2015


Konsekuensi menjadi muslim itu harus menjalankan ajaran Islam secara kaffah (sempurna), tidak boleh sebagian-sebagian. Seorang muslim juga tidak boleh mengikuti langkah-langkah setan. Demikian dikatakan Pimpinan Majelis Al Ihya Bogor KH. Muhammad Husni Thamrin saat membahas tafsir surat Al Baqarah 208 dalam pengajian Ahad pagi (29/11/2015) di Bogor.

"Jadi lahir batin, jiwa raga, pemikiran dan perasaan semua harus sesuai ajaran Islam. Jangan ngakunya Islam tapi gaya hidupnya kafir, sekuler, komunis, dan abangan. Itulah yang harus kita benahi supaya kita betul-betul tidak mengikuti ajaran lain kecuali Islam saja. Dan tidak ada embel-embel, Islam kejawen, Islam Kebatinan, Islam Budi Luhur, Islam Pangestu, Sunda Wiwitan, tinggalkan semua itu," jelas ulama Sunda yang akrab dipanggil Abi Thamrin ini.

Dalam kesempatan itu, Abi Thamrin juga membahas masalah yang sedang ramai saat ini yaitu prilaku syirik Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi dan perlakuan Angkatan Muda Siliwangi (AMS) yang melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq ke Polda Jabar atas tuduhan melecehkan budaya Sunda.

"Dedi Mulyadi itu orang kebatinan, dahulu Purwakarta terkenal sebagai kota santri, kota tasbih, sekarang diubah sama dia. Ingin budaya Sunda Wiwitan dikembangkan, salah satunya assalamualaikum diganti jadi sampurasun," katanya.

Abi menyayangkan, Habib Rizieq yang ingin melakukan dakwah amar makruf nahi munkar, menyelamatkan umat Islam Purwakarta dari perusakan akidah saat ini malah dikecam karena tuduhan melecehkan budaya Sunda.

"Peristiwa di Purwakarta itu ramai di media, Habib Rizieq dicaci maki. Termasuk Ridwan Kamil, dia menyarankan untuk minta maaf. Abi orang Sunda, Habib Rizieq tidak perlu minta maaf," jelasnya.

Ia prihatin, dengan adanya kasus ini muncul sikap tidak hormat kepada ulama. "Kurang ajar melawan sama ulama, kurang ajar caci maki ke Habib Rizieq. Habib Rizieq itu benar, tugas dia untuk amar makruf nahi munkar, menyelamatkan Purwakarta yang sekarang identik dengan budaya Hindu padahal dahulunya kota santri," ucapnya.

Abi juga mengungkapkan bahwa dirinya adalah Anggota Dewan Kehormatan AMS, namun ia menentang keras tindakan AMS yang melaporkan Habib Rizieq.

"Saya adalah Anggota Kehormatan Angkatan Muda Siliwangi menyatakan bahwa Habib Rizieq tidak bersalah, dan orang Sunda tidak tersinggung. AMS yang melaporkan Habib Rizieq itu sudah ketularan sama Dedi Mulyadi," ungkapnya.

Ia mengingatkan, bahwa di Indonesia, ulama yang paling diharapkan untuk perjuangan amar makruf nahi munkar adalah Habib Rizieq. "Saya kenal betul Habib Rizieq, beliau satu-satunya ulama yang menyatakan perang dengan PKI kalau pemerintah minta maaf pada PKI. Karena itu umat Islam harus sadar, jangan diam. Kita harus membela ulama-ulama terutama Habib Rizieq yang saat ini sedang dipojokkan," seru Abi.

Selain itu, ia geram dengan sikap AMS yang melarang Habib Rizieq masuk Jawa Barat, "Memangnya Jawa Barat itu AMS semua," ucapnya. 

Tidak hanya itu, Abi juga marah dengan kebijakan Dedi Mulyadi yang membatasi dakwah para ulama. "Dikumpulkannya lurah dan camat, dia bikin aturan melarang mubaligh yang dianggap ekstrem. Lihat saja sebentar lagi nasibnya bagi yang suka melarang dakwah," katanya.

"Dedi Mulyadi harus jatuh, Dedi Mulyadi harus dihukum," tambah Abi yang diaminkan ribuan jamaah.

Sumber: Suara Islam Online

KH. Husni Thamrin: Habib Rizieq Benar, Tidak Perlu Minta Maaf

Konsekuensi menjadi muslim itu harus menjalankan ajaran Islam secara kaffah (sempurna), tidak boleh sebagian-sebagian. Seorang muslim juga t...

Jumat, 27 November 2015


Sebagai orang Islam awam, Bupati Dedi Mulyadi disarankan untuk mendengarkan ucapan-ucapan ulama, bukan malah melawan. Hal ini terkait dengan praktik-praktik budaya yang dilakukan Dedi di Purwakarta yang dinilai para ulama sebagai bagian dari kemusyrikan. 

"Pantaslah ulama di daerah beliau melakukan koreksi dan teguran. Sebagai orang Islam awam dia harus mendengar ucapan ulama," ungkap Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Tengku Zulkarnaen kepada Suara Islam Online, di Kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Menteng, Jakarta, Jumat (27/11). 

Sebagai pejabat negara, Dedi juga disarankan supaya menyerahkan segala sesuatu pada ahlinya. Soal agama, tentu saja harus diserahkan kepada Majelis Ulama Indonesia. "Dia bukan ahlinya," kata Tengku. 

Demikian pula dalam bidang lain. Ketua Dewan Fatwa Matlaul Anwar itu berpendapat Dedi juga harus menyerahkan persoalan-persoalan terkait dengan keahlian kepada ahlinya. Soal ekonomi diserahkan pada ahli ekonomi, soal adat diserahkan pada tokoh adat, pembangunan diserahkan pekada Bappeda. "Nggak bisa seenaknya, ini negara hukum," katanya. 

Terkait soal agama yang Dedi bukan ahlinya, Tengku mengingatkan bahwa negara Indonesia adalah berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa dimana setiap warga negara dijamin untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya. Jika seorang Bupati melakukan kesalahan dalam persoalan agama, terutama agama Islam, akan bisa merusak rakyatnya yang beragama Islam. 

Terkait dengan kearifan lokal (local wisdom) yang selama ini dijadikan kedok pembenaran aktivitas kemusyrikan di Purwakarta, Tengku Zulkarnaen membantahnya. Menurutnya harus dibedakan kearifan lokal sebagai budaya dan agama. 

"Kalau merusak agama melanggar sila pertama Pancasila. Bila rakyatnya 90 persen bergama Islam kalau dia rusak rakyanta juga bisa ketularan rusak," tegasnya.

Tengku Zulkarnaen mendukung upaya koreksi dan teguran yang dilakukan para ulama Purwakarta terhadap Bupati Dedi. Malah ia menyarankan supaya teguran itu tidak hanya lisan tetapi juga tulisan. 

Wasekjen MUI : Sebagai Orang Islam Awam Dedi Mulyadi Harus Mendengar Ucapan Ulama

Sebagai orang Islam awam, Bupati Dedi Mulyadi disarankan untuk mendengarkan ucapan-ucapan ulama, bukan malah melawan. Hal ini terkait dengan...

Kamis, 26 November 2015


Ulama dan tokoh masyarakat Sunda, Prof Dr KH Didin Hafiduddin membantah klaim yang menyatakan praktik-praktik kemusyrikan yang dilakukan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi adalah bagian dari adat Sunda. 

"Itu bukan adat Sunda. Adat Sunda sesuai dengan Islam," kata Prof Dr KH Didin Hafiduddin kepada sejumlah wartawan di Kantor MUI Pusat, Kamis (26/11) saat dimintai tanggapannya mengenai perilaku Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang penuh dengan kemusyrikan. 

Menurut mantan Ketua Umum BAZNAS itu, masyarakat Sunda adalah masyarakat Muslim yang religius. Sehingga adat kebiasaan yang terlahir pun sesuai dengan ajaran Islam, bukan kepercayaan yang bersifat mistik. 

Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini juga meluruskan makna kearifan lokal (local wisdom) yang disalahartikan dan digunakan sebagai pembenar tindakan kemusyrikan Bupati Dedi. 

Menurut Kyai Didin, kearifan lokal bukanlah melakukan tradisi-tradisi yang bertentangan dengan akidah dan syariah seperti yang dilakukan Dedi.  

"Kearifan lokal itu bagaimana kita bertindak sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat. Bukan masyarakat dipaksakan untuk memiliki keyakinan tertentu yang sudah salah dalam pandangan Islam. Kita mengimbau pada Pak Bupati Purwakarta untuk tidak mengartikan kearifan lokal seperti itu," tandasnya. 

Seperti diketahui, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran Sunda Wiwitan, sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Dia pun mengaku telah melamar Nyi Loro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya, ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Alquran.

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain "Poleng", yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk "keindahan", tapi untuk "keberkahan" sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

"Kearifan lokal bukan itu," ujar Kyai Didin yang kini menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat itu.

Terkait kabar adanya tekanan kepada masyarakat agar bungkap atas aktivitas Dedi, Kyai Didin sangat menyayangkan. Menurutnya pemerintah semestinya memberikan perlindungan dan kebebasan kepada masyarakatnya untuk mengritik pemerintah. Jika dibungkam, itu merupakan awal ketidakbaikan dan justru akan sangat membahayakan. 

KH Didin Hafiduddin : Praktik Kemusyrikan Bupati Dedi Mulyadi Bukan Adat Sunda

Ulama dan tokoh masyarakat Sunda, Prof Dr KH Didin Hafiduddin membantah klaim yang menyatakan praktik-praktik kemusyrikan yang dilakukan Bup...

Sejumlah organisasi massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sunda (AMS) melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab ke Polda Jawa Barat atas tuduhan pelecehan terhadap budaya sunda. Habib Rizieq dituduh telah memplesetkan salam orang Sunda 'sampurasun' menjadi 'campur racun'. Dan atas dasar itu, AMS menolak Habib Rizieq masuk ke wilayah Jawa Barat. 

Ketua DPD FPI Jawa Barat, KH Abdul Kohar mengklarifikasi bahwa Habib Rizieq dalam ceramahnya di Purwakarta beberapa waktu lalu itu tidak melecehkan adat Sunda seperti yang dituduhkan. Menurutnya, ceramah tersebut isinya hanya ingin menyelamatkan umat Islam Purwakarta dari berbagai hal yang mengarahkan pada perusakan akidah. 

Dijelaskannya, masalah sebenarnya adalah upaya Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang sedang mengkampanyekan salam 'sampurasun' sebagai ganti 'assalamualaikum'. Itu yang dianggap sedang meracuni akidah umat Islam. Karena itulah, para ulama di Purwakarta menilai tindakan Bupati yang sedang meracuni akidah itu dikatakan sebagai 'campur racun'. 

"Kata-kata 'campur racun' sendiri itu keluar dari para ulama Purwakarta dalam diskusi sebelum ceramah Habib Rizieq, saya jadi saksinya karena ikut disitu," ujarnya saat dihubungi Suara Islam Online, Rabu (25/11/2015). 

Karena itu, kepada pihak pelapor, Kyai Kohar mengatakan seharusnya dilakukan klarifikasi dahulu sebelum bertindak.

Terkait pernyataan AMS yang menolak Habib Rizieq memasuki wilayah Jawa Barat, Kyai Kohar menilai itu adalah bentuk provokasi yang tidak sesuai adat sunda. "Justru yang menolak tamu yang datang ke Jawa Barat itu adalah provokator, mereka itulah yang mencederai adat sunda yang kita kenal Someah Hade Kasemah," ujarnya.

Filosofi Someah Hade Kasemah berarti bahwa orang Sunda harus ramah pada tetamunya. Ramah dalam arti menjamu, menjaga, memelihara, menghargai dan berupaya membahagiakan tamu mereka.

Kyai Kohar mencurigai, upaya provokatif tersebut ditunggangi oleh pihak tertentu yang memang sebenarnya tidak suka dengan dakwah Islam. "Kami melihat ini ada pihak ketiga yang melakukan provokasi dan ingin memperkeruh suasana," ungkapnya.
  
Ia menyerukan kepada seluruh pihak, untuk memandang persoalan ini dengan objektif, "Jangan sampai malah membenarkan fitnah yang bisa merugikan semua pihak," pungkasnya.

Red: Umar Faruq

AMS Larang Habib Rizieq ke Jawa Barat, FPI Jabar: Itu Provokasi dan Tidak Sesuai Adat Sunda

Sejumlah organisasi massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sunda (AMS) melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq S...

Rabu, 25 November 2015


Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat, KH Abdul Kohar mengklarifikasi bahwa ceramah Imam Besar FPI Habib Rizieq di Purwakarta beberapa waktu lalu itu tidak dalam rangka melecehkan adat Sunda seperti yang dituduhkan sejumlah organisasi Sunda. 

Seperti diketahui, Aliansi Masyarakat Sunda melaporkan Habib Rizieq ke Polda Jabar atas tuduhan penghinaan dan pelecehan terhadap budaya Sunda. Habib Rizieq dituduh telah memplesetkan salam orang Sunda 'sampurasun' menjadi 'campur racun'. 

"Kami dari DPD FPI Jawa Barat ingin menegaskan, terkhusus pada keluarga besar umat Islam di tataran Sunda bahwa tidak betul Habib Rizieq pada ceramah di Purwakarta itu melecehkan sapaan Sunda yang terhormat, 'sampuran' jadi 'campur racun', itu sama sekali tidak benar," ujar Kyai Kohar saat dihubungi Suara Islam Online, Rabu (25/11/2015).

Menurutnya, ceramah Habib Rizieq isinya hanya ingin menyelamatkan umat Islam Purwakarta dari berbagai hal yang mengarahkan pada perusakan akidah. "Kami punya bukti rekaman ceramah yang utuh, kemudian video berdurasi 43 detik yang dianggap melecehkan itu bisa saja diedit dan dengan sengaja poinnya diarahkan kedalam fitnah besar," kata Kyai Kohar.

Ia menjelaskan, yang dipermasalahkan sebenarnya itu adalah upaya Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang sedang mengkampanyekan salam 'sampurasun' sebagai ganti 'assalamualaikum'. Itu yang dianggap sedang meracuni akidah umat Islam. Karena itulah, para ulama di Purwakarta menilai tindakan Bupati yang sedang meracuni akidah itu dikatakan sebagai 'campur racun'.

"Kata-kata 'campur racun' sendiri itu keluar dari para ulama Purwakarta dalam diskusi sebelum ceramah Habib Rizieq, saya jadi saksinya karena ikut disitu," ungkapnya.

Jadi, kata dia, ajakan dari Bupati Dedi yang mengkampanyekan 'sampurasun' untuk menggeser 'assalamuaikum' itu adalah racun yang bisa meracuni akidah umat Islam, sehingga muncullah kata-kata dari para ulama Purwakarta yaitu 'campur racun' itu.

"Jadi bukan plesetan 'sampurasun' jadi 'campur racun' dalam konteks menghina sapaan sunda, bukan itu. Maksudnya kampanye Bupati Dedi yang mengkampenyekan 'sampurasun' sebagai pengganti 'assalamualaikum' yang diperintahkan Allah dan RasulNya itulah yang dianggap para ulama Purwakarta sebagai racun akidah," jelasnya.

Salam 'sampurasun' sendiri itu tidak ada masalah. "Selama budaya tidak melanggar akidah dan syariat itu baik-baik saja," ucapnya.

Oleh karena itu, Kyai Kohar sudah menyampaikan kepada pengurus DPW FPI Purwakarta agar mendatangi pihak pelapor untuk klarifikasi. Kepada pihak pelapor, Kyai Kohar juga menyerukan agar mengedepankan tabayyun terlebih dahulu sebelum bertindak.

"Harus dipastikan bahwa ini jangan sampai ditunggangi oleh pihak ketiga yang bisa memanfaatkan suasana adu domba antara adat dengan syariat," pungkasnya.

Baca juga artikel tentang Sampurasun >> http://www.habibrizieq.com/2015/11/sampurasun.html

Sumber: Suara Islam Online

FPI Jabar: Ceramah Habib Rizieq di Purwakarta untuk Menyelamatkan Umat, Bukan Menghina Adat

Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Jawa Barat, KH Abdul Kohar mengklarifikasi bahwa ceramah Imam Besar FPI Habib Rizieq di Purwakarta beber...

Selasa, 24 November 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Sampurasun adalah ucapan selamat masyarakat Sunda yang sangat terkenal dan mengandung unsur penghormatan kepada sesama.

Sampurasun sebagai ADAT Sunda yang punya makna sangat baik dan amat bagus, serta boleh digunakan untuk menyapa sebagai penghormatan, selama tidak dijadikan sebagai pengganti SYARIAT "Assalaamu 'Alaikum".

Jadi, jangan adu domba ADAT dan SYARIAT, karena masing-masing ada tempat dan syarat serta cara penggunaan.

SALAM NUSANTARA

Di masyarakat Indonesia ucapan Selamat Pagi, Selamat Siang, Selamat Sore, Selamat Petang dan Selamat Malam merupakan salam pergaulan nasional untuk penghormatan terhadap sesama. Tentu sah-sah saja digunakan oleh masyarakat Indonesia, sebagaimana di masyarakat Arab ada ungkapan "Shobaahul Khoir" di pagi hari dan "Masaa-ul Khoir" di petang hari.

Namun, ketika ada pihak yang ingin menjadikan salam pergaulan nasional sebagai pengganti "Assalaamu 'Alaikum" di tengah umat Islam, dengan alasan karena  "Assalaamu 'Alaikum" hanya merupakan Adat dan Tradisi Arab yang tidak ada kaitan dengan ajaran Islam, tentu jadi persoalan yang sangat serius.

ASSALAAMU 'ALAIKUM

Salam masyarakat Arab Jahiliyyah pada mulanya adalah "Wa Shobaahaa", atau yang sejenisnya, lalu datang Islam mengajarkan umatnya untuk menggunakan "Assalaamu 'Alaikum" sebagai Tahiyyatul Islam yaitu salamnya kaum muslimin.

Sejak itu "Assalaamu 'Alaikum" adalah Salam Islam bukan Salam Arab. Dan Salam Islam menjadi salah satu rukun Shalat yang tidak sah Shalat tanpanya.

Nah, jika "Assalaamu 'Alaikum" mau diganti dengan salam pergaulan nasional, lalu apakah nanti salam Shalat Shubuh jadi Selamat Pagi, dan salam Shalat Zhuhur jadi Selamat Siang, serta salam Shalat Ashar jadi Selamat Sore, kemudian salam Shalat Maghrib jadi Selamat Petang, sedang salam Shalat Isya jadi Selamat Malam ???

Camkan ... !!!

BUPATI PURWAKARTA

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran "Sunda Wiwitan", sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Dia pun mengaku telah melamar Nyi Loro Kidul dan mengawininya. Selanjutnya, ia membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Al-Qur'an.

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain "Poleng", yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk "Keindahan", tapi untuk "Keberkahan" sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

Dedi tidak bangga dengan Islamnya, tapi ia bangga dengan patung, sesajen dan takhayyulnya, yang dikemas atas nama Kearifan Lokal (Local Wisdom).

Saat banyak Ulama dan para Da'i mulai memprotes dan mengkritik peri laku "Syirik" Dedi, maka serta merta Dedi membuat Perbup (Peraturan Bupati) tentang larangan ceramah provokatif yang menentang kebijakannya.

Belakangan, Dedi mulai sering meninggalkan Salam Syariat Islam "Assalaamu 'Alaikum"  dan diganti dengan Salam Adat Sunda "Sampurasun". Dimana saja dan kapan saja, Dedi terus mengkampanyekan aneka budaya  "Syirik" nya yang dibungkus dengan nama "Adat" dan "Budaya", serta dikemas dengan salam santun masyarakat Sunda "Sampurasun".

Bahkan Dedi dalam salah satu bukunya yang berjudul SPIRIT BUDAYA menyebut bahwa Islam adalah BUDAYA. Padahal, Islam adalah Aqidah, Syariat dan Akhlaq yang bersumber dari WAHYU ALLAH SWT, sedang Budaya bersumber dari akal  pemikiran dan perilaku manusia.

Pada halaman latar belakang buku tersebut tertulis : “Warga Baduy mengajarkan kepada kita untuk tidak melawan alam. Dalam pemahaman saya (Dedi Mulyadi, red) merekalah yang beragama dan yang bertuhan secara benar.”

Selanjutnya di halaman 16 tertulis : “Kebudayaan itu derajat manusia, persis seperti agama.” Lalu pada halaman 17 : “Saya sendiri menginginkan Sunda yang sesuai dengan wiwitan atau identitas awalnya, Sunda yang menyerahkan diri terhadap alam yang tidak mengenal simbolisasi penyembahan.”

Akhirnya, banyak kalangan pemuka masyarakat Islam Purwakarta menyebutkan bahwa Dedi bukan sedang memasyarakatkan "Sampurasun", tapi sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan "Campur Racun".

Tentu kita setuju, bahwasanya Dedi Mulyadi memang bukan sedang memasyarakatkan kesantunan salam Sunda "Sampurasun", tapi dia memang sedang merusak umat Islam Purwakarta dengan "Campur Racun", yaitu meracuni aqidah umat dengan aneka perbuatan "Syirik".

Karenanya, kami serukan jaga kesantunan ADAT "Sampurasun" dalam rawatan SYARIAT "Assalaamu 'Alaikum", sehingga ADAT dan SYARIAT tetap seiring sejalan.

Ayo, selamatkan "Sampurasun", dan tolak "Campur Racun".

Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil ...

Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...

SAMPURASUN

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Sampurasun adalah ucapan selamat masyarakat Sunda yang sangat ...

Minggu, 22 November 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Ketakutan yang berlebihan sering membuat orang berpikir tidak lurus, sehingga melahirkan sikap dan tindakan yang tidak benar. 

Misalnya, karena takut ada pertikaian antar Suku, Ras, Agama dan Golongan, maka dilarang bicara SARA, dan karena takut ada konflik antar kekuatan politik maka dilarang bicara POLITIK, serta karena takut ada perselisihan antar madzhab maka dilarang bicara KHILAFIYAH, dan seterusnya.

Cara berpikir semacam itu harus diluruskan, karena bisa merusak sistem kehidupan dan mengancam kebebasan serta menghancurkan tata nilai.

DILARANG BICARA SARA

Ya. Bicara SARA yang menghina / merendahkan / melecehkan suatu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan memang wajib DILARANG. Tapi bicara SARA untuk menyadarkan masyarakat agar jangan ada saling hina antar Suku, Ras, Agama dan Golongan, justru menjadi KEWAJIBAN.

DILARANG BICARA POLITIK

Ya. Bicara POLITIK untuk kampanye hitam dan pembodohan rakyat serta mengadu domba masyarakat memang mesti DILARANG. Tapi bicara POLITIK untuk mencerdaskan dan mendewasakan rakyat serta menanamkan kewaspadaan dari adu domba politik, justru menjadi KEMESTIAN.

DILARANG BICARA KHILAFIYAH

Ya. Bicara KHILAFIYAH untuk menanamkan fanatisme madzhab sehingga memusuhi madzhab lain memang harus DILARANG. Tapi bicara KHILAFIYAH untuk membangun kesadaran tentang kemajemukan dan keragaman pendapat sehingga saling toleran dan menghargai antar madzhab, justru menjadi KEHARUSAN.

DILARANG BICARA KESALAHAN ORANG

Ya. Bicara tentang kesalahan seseorang hanya untuk merendahkan dan mempermalukannya serta tidak ada manfaat agama memang patut DILARANG. Tapi bicara kesalahan seseorang untuk menyelamatkan umat dari pengaruh jahatnya, atau melindungi agama dari kerusakan, atau meredam fitnahnya, seperti kesalahan para durjana yang ingin merusak Islam, justru suatu KENISCAYAAN.

KESIMPULAN

Suatu LARANGAN BICARA harus jelas ketentuan dan batasannya, sehingga tidak mengancam kebebasan bicara seseorang, dan tidak juga menjadi pembodohan publik.

Wallaahul Musta'aan ...

Dilarang Bicara

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Ketakutan yang berlebihan sering membuat orang berpikir tidak ...

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Setelah hari Kamis 19 November 2015, dari pagi hingga sore, Habib Rizieq sibuk memimpin Mudzakarah Ulama - Habaib di Tebet Jakarta Selatan, lalu malamnya sibuk menyambut silaturrahim dengan Kyai Hasyim Muzadi di Markaz FPI di Petamburan Jakarta Pusat. Dua hari kemarin, Jum'at dan Sabtu, Habib Rizieq sibuk Safari Da'wah di Medan dan Pematang Siantar di Sumatera Utara.

Adacerita menarik dalam Safari Da'wahnya.

MEDAN

Jum'at 20 November 2015 jam 21.00, Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab menyampaikan ceramah di Masjid Agung Kota Medan tentang Liberal dan Komunis.

Dua jam sebelum ceramah, di tempat peristirahatan, Habib Rizieq menerima tamu para Tokoh Medandari berbagai agama ; Protestan, Katholik, Budha, Hindu dan Khong Hu Cu.

Pertemuan berjalan hangat, dan dialog tentang berbagai persoalan umat beragama berlangsung harmonis, bahkan ada kesepakatan untuk menggelar Dialog Lintas Agama yang lebih besar di KotaMedan.

Acara dialog mau pun tabligh di Medan diprakarsai oleh DPD FPI Sumatera Utara. Hadir dalam dialog Imam FPI Sumut Ust. Abu Fajar Nasution, dan Ketua Majelis Syura FPI Sumut Ust. Dzulkifli, serta Ketua Tanfidzi FPI Sumut Habib Hud bin Abdullah Alattas.

PEMATANG SIANTAR

Sabtu 21 November 2015 jam 21.00, Habib Rizieq menyampaikan ceramah umum di alun-alun Kota Pematang Siantar tentang Ukhuwwah Islamiyyah dan Keutuhan NKRI.

Acara Tabligh Akbar tersebut digelar oleh Majelis Mahabbatur Rosul pimpinan Ust. Muhammad Sya'ban Siregar yang merupakan murid dan anak menantu dari KH. Muhammad Bakri yang akrab dipanggil Kyai Abun pimpinan Pesantren Darus Salam Pematang Siantar.

SARA, PILKADA dan FPI

Menariknya, sejak sebulan sebelum kedatangan Habib Rizieq ke Pematang Siantar, terjadi tarik menarik antara panitia dengan para pemuka Kristen disana. Hampir tiap hari para aparat keamanan terus menerus komunikasi dengan panitia.

Akhirnya terjadi kesepakatan antara panitia dengan para pemuka Kristen dengan mediator Polres setempat, bahwa Habib Rizieq boleh hadir dan ceramah pada Tabligh Akbar di alun-alun kota asal tidak bicara SARA mau pun PILKADA, dan jangan ada atribut FPI, termasuk mobil-mobil beratribut FPI dari Medan tidak boleh masuk ke lokasi, tapi harus disimpan di tempat yang sudah ditentukan.

Di malam acara, semua mobil beratribut FPI dari Medan diparkir di sebuah halaman masjid di pintu masuk Kota Siantar. Namun dalam Tabligh, justru Habib Rizieq tetap ceramah tentang SARA (Suku Agama Ras dan Aliran), tapi dengan bahasa kebhinnekaan untuk menciptakan persatuan dan kesatuan NKRI.

Lalu Habib Rizieq justru tetap cerita tentang PILKADA, tapi dengan bahasa pendidikan politik agar rakyat tetap waspada sehingga tidak pecah belah akibat adu domba politik.

Kemudian Habib Rizieq selama ini memang tidak pernah ceramah memakai atribut FPI, tapi beliau dengan lantang bercerita tentang jatuh bangun perjuangan FPI dalam melawan kemunkaran seperti Korupsi, Miras, Narkoba, Judi dan Pelacuran yang merupakan musuh semua agama.

ISSUE PENGHADANGAN

Walau sudah ada kesepakatan, masih saja muncul "issue provokatif" bahwa Habib Rizieq akan dihadang, dan acara akan diserang, serta akan terjadi bentrok antar umat beragama. Namun masyarakat Pematang Siantar, baik muslim mau pun kristen, tidak terpengaruh dan tidak terpancing serta tidak terprovokasi, sehingga suasana tetap kondusif.

Saat Habib Rizieq masuk Kota Pematang Siantar, setelah istirahat di rumah salah seorang Tokoh Masyarakat Siantar, langsung menuju alun-alun dengan diarak puluhan mobil dengan alunan Sholawat.

Di alun-alun Habib Rizieq disambut antusias oleh ribuan umat Islam yang sudah berkumpul memadati lokasi Tabligh Akbar dengan wajah senang dan bahagia tanpa terpengaruh dengan aneka issue jahat yang ingin mengadu-domba umat beragama.

Dalam ceramahnya, Habib Rizieq tetap tampil sebagaimana biasa, tanpa beban, santai tapi tetap semangat dan tegas, yang sekali-sekali disambut Takbir dan Sholawat oleh ribuan jama'ah yang memadati alun-alun Siantar.

Di akhir ceramah, Habib Rizieq menyerukan semua umat beragama di Pematang Siantar untuk menjaga keutuhan NKRI, dan membangun kerukunan antar umat beragama, serta bersama-sama melawan segala kemunkaran yang menjadi sumber konflik antar anak bangsa.

Tabligh Akbar ditutup dengan doa oleh Imam FPI DKI Jakarta Habib Muhsin bin Zaid Alattas yang menyertai Imam Besar FPI dalam Safari Da'wah tersebut.

Acara yang dijaga ketat ratusan polisi dan tentara, lengkap dengan senjata otomatis, berjalan semarak, lancar dan sukses serta berkah. Umat Islam pun pulang dengan tertib dan aman.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin.

Rencananya sesuai jadwal, Habib Rizieq pada Ahad pagi akan kembali ke Jakartakarena harus isi dua acara di Kabupaten dan Kota Bogor. Dan hari Selasa hingga Kamis ada Safari Da'wah di Aceh. Semoga beliau diberi kesehatan dan kekuatan.

Aamiiin ....


[Tim News FPI]

Dari Medan Hingga Siantar

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Setelah hari Kamis 19 November 2015, dari pagi hingga sore, Ha...

Jumat, 20 November 2015



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Mudzakarah Ulama - Habaib sudah dua kali menggelar musyawarah di Jakarta. Para Ulama dan Habaib berharap melalui Mudzakarah ke depan Jakarta akan dipimpin oleh gubernur muslim yang beriman, bertaqwa dan berakhlaqul karimah, serta mampu mengantarkan DKI Jakarta menjadi miniatur Indonesia dalam bentuk negeri yang Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur (negeri yang adil dan makmur, yang diberkahi serta diampuni Allah).

MUDZAKARAH PERTAMA

Pada hari Kamis 22 Oktober 2015 telah digelar Mudzakarah Ulama - Habaib I di kediaman pimpinan Perguruan Islam As-Syafi'iyah, KH. Abdurrasyid Abdullah Syafi'i.

Hadir dalam Mudzakarah Pertama tersebut KH. Abdurrasyid Abdullah Syafii selaku Tuan Rumah, lalu Habib Muhammad Rizieq Syihab (Imam Besar FPI), Habib Zen bin Smith (Ketum Rabithah Alawiyah), Habib Abdurrahman Al-Habsyi (Ketua Islamic Center Indonesia - Kwitang), Habib Muhsin bin Zaid Alattas (Imam FPI Jakarta), KH. Maulana Kamal Yusuf (Mustasyar PBNU), KH. Mahfudz Asirun (Pimpinan Ponpes Al-Itqon), KH. Syuhada Bahri (Ketum DDII), Syeikh Muhammad Thalib (Amir MMI), DR. Abdul Khair (Komisi Kumdang MUI), KH. Muhammad Al-Khaththath (Sekjen FUI), KH. Ja'far Shiddiq, DR. Daud Rasyid, Ust. Abu Jibril, Ust. Mashadi, Ust. Nazar Haris, dan tokoh lainnya dari berbagai Ormas Islam, Pesantren dan Majelis Ta'lim.

Mudzakarah Pertama telah menyepakati untuk mengikhtiarkan satu pasangan calon dari kalangan umat Islam yang akan maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta pada Pilgub 2017 mendatang.

Mudzakarah juga menyepakati langkah-langkah strategis untuk mewujudkan visi mulia tersebut, antara lain :

1. Merangkul seluruh komponen dan elemen umat Islam, termasuk Masjid, Majelis, Pesantren, Ormas dan Orsospol.

2. Membentuk Posko Rakyat hingga tingkat RT / RW di seluruh wilayah Jakarta yang terdiri dari 5 Kodya, 1 Kabupaten, 44 Kecamatan, 267 Kelurahan, 2.726 RW dan 30.537 RT

3. Membentuk Majelis Tinggi dan Dewan Pemilih serta Badan Pekerja yang tersistem dan terkoordinir untuk Jakarta Bersyariah.

4. Sosialisasi besar-besaran tentang Wajib Memilih Pemimpin Muslim di seluruh lapisan masyarakat muslim Jakarta melalui Da'wah.

5. Secepatnya menggelar Mudzakarah II dengan melibatkan lebih banyak Ulama, Habaib, Cendikiawan, Tokoh Masyarakat dan Pengusaha.

MUDZAKARAH KEDUA

Pada hari Kamis 19 November 2015 kembali digelar Mudzakarah Ulama - Habaib II di Aula di Aula Masjid Raya Al-Ittihaad, Tebet Jakarta Selatan.

Kali ini selain dihadiri oleh semua tokoh Mudzakarah Pertama, juga hadir KH.Fakhrurrozi Ishaq (Gubernur Rakyat Jakarta), HabibUmar Al-Hamid (Wakil Gubernur Rakyat), KH. Munawir Asli (Ketua Majelis Syura GMJ), KH Kholil Ridhwan (Pembina Pengajian Politik Islam), KH Zaid Bahmid (Al-Irsyad Al-Islamiyyah), KH Ahmad Sobri Lubis (Ketum FPI), (KH Misbahul Anam (Majelis Syura DPP FPI), Ust. Alfian Tanjung (Taruna Muslim), DR. Sayyid Syeichan Shahab (FUHAB), KH. Endang (Forum Betawi Bersatu), Habib Soleh Al-Habsyi, Habib Ali Idrus Alattas, KH. Muhammad Thoyyib Izzi, KH Sulaiman Rahimin, KH. Buya Abdul Majid, KH. Zainuddin, Ust. Farid Uqbah, Ust. Ferry Nur, dan beberapa Tokoh Islam Wanita, serta Para  Pimpinan MUI DKI Jakartadan wilayah.

Mudzakarah Kedua berhasil menyusun kepengurusan Majelis Tinggi dan Dewan Pemilih serta Badan Pekerja Jakarta Bersyariah. Dalam Mudzakarah kedua ini terpilih secara musyawarah mufakat dua orang tokoh DKI Jakarta, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab sebagai Ketua Majelis Tinggi dan KH Mahfudz Asirun sebagai Ketua Dewan Pemilih. Adapun Badan Pekerja masih dinakhodai oleh H. Munarman SH dan DR. Abdul Khoir.

Majelis Tinggi dibentuk dengan berbagai fungsi di antaranya sebagai pembina spiritual bagi seluruh komponen yang terlibat dalam agenda pemilihan gubernur Muslim DKI Jakarta. Selain itu juga menjadi pengarah bagi kepanitiaan, Badan Pekerja, Dewan Pemilih dan Tim Pemenangan yang terlibat dalam agenda gubernur Muslim untuk DKI. Majelis Tinggi juga akan turut serta dalam menentukan bakal calon Gubernur Muslim.

Sedangkan Dewan Pemilih dibentuk dengan fungsi melakukan proses seleksi teknis mulai administrasi hingga debat terbuka terhadap bakal calon melalui rangkaian dan tahapan yang profesional. Dewan Pemilih pula yang akan membuat jadwal dan tahapan proses seleksi bakal calon Gubernur, menjadi panelis dalam proses wawancara terbuka dengan peserta konvensi dan menyiapkan musyawarah dengan Majelis Tinggi untuk menentukan bakal calon pasangan gubernur Muslim.

SUARA TOKOH WANITA ISLAM

Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Forum Silaturahim antar Pengajian (PP FORSAP), Ustz. Hj. Nurdiati Akma yang ikut hadir dalam Mudzakarah tersebut mengungkapkan bahwa acara ini bagus sekali dan harus didukung oleh semua umat Islam.

“Ini saatnya dan momen yang sangat penting kalau kita tidak mau gigit jari nantinya. Kalau kita ingin memenangkan gubernur muslim ya harus turun semuanya, kita harus ikut gerakan para ulama," ujarnya.

Menurutnya, seluruh warga Jakarta yang merasa dirinya Islam dan komit terhadap agama Islam harus mendukung Mudzakarah ini, karena cita-citanya adalah menjadikan gubernur muslim yang terbaik untuk memimpin Jakarta.

"Jadi ini (calon gubernur dan wakil gubernur, red) bukan yang model-model kaya Ahok, kita harus tolaklah, karena dia ingin menghancurkan agama kita," tegasnya.

KONVENSI UMAT ISLAM JAKARTA

Mudzakarah Kedua juga sepakat mengikhtiarkan satu pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta melalui proses "Konvensi Umat Islam Jakarta." Konvensi ini akan dilakukan untuk menguji kompetensi, kelayakan dan mengukur popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas seluruh peserta konvensi.

Mudzakarah akan menampung setiap pasangan calon gubernur dan wakil gubernur lalu mengikhtiarkan menjadi satu pasangan terbaik yang akan maju dalam pemilihan. Selanjutnya para ulama dan umat Islam akan bergerak bersama-sama berjuang untuk memenangkan pasangan tersebut.

Dalam Konferensi Pers usai Mudzakarah, Ketua Majelis Tinggi Habib Rizieq Syihab menyatakan di hadapan para wartawan : "Mudzakarah ini suatu forum para ulama, habaib, cendekiawan dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi soal kepemimpinan bagi masyarakat Jakarta yang berpenduduk mayoritas muslim, sehingga diharapkan, Insya Allah, melalui Mudzakarah mampu menyatukan semua potensi umat agar terwujudnya kepemimpinan Islam di Jakarta."

Selanjutnya, Habib Rizieq mengatakan bahwa dirinya yakin lewat konvensi ini, akan muncul satu pasangan muslim yang terbaik untuk mewakili masyarakat dalam mengikuti proses Pilgub Jakarta.

"Kita mesti yakin walau pun akan ada kemungkinan terburuk, kalau itu terjadi tentu para ulama akan selalu melakukan musyawarah untuk mencari solusinya," jelasnya.

Menurutnya, Mudzakarah ini akan tetap berkelanjutan. Tidak hanya sebatas pilgub, tetapi ke depannya akan selalu bermusyarawah dalam merespon setiap perkembangan di tengah umat Islam.

Rencananya, Mudzakarah Ketiga akan digelar pada hari Kamis 10 Desember 2015 dengan akan melibatkan lebih banyak elemen dan komponen umat Islam termasuk yang akan diundang Ormas dan Orsospol.

Akhirnya, Mudzakarah menyerukan agar umat Islam di seluruh Indonesiauntuk hanya memilih Pemimpin Muslim.


Allaahu Akbar ... !!!

Mudzakarah Ulama - Habaib Untuk Jakarta Bersyariah

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Mudzakarah Ulama - Habaib sudah dua kali menggelar musyawarah ...

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Kamis 19 November 2015, menjelang Isya, Mantan Ketum PBNU yang kini menjabat sebagai Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Schollar), KH Ahmad Hasyim Muzadi, silaturrahim ke Markaz Besar FPI di Petamburan - Tanah Abang Jakarta Pusat.

Kedatangan Kyai Hasyim disambut langsung Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, yang didampingi Ketum, Waketum dan Sekum DPP FPI, serta Imam-Imam FPI Daerah, antara lain Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim dan Kalbar.

Dalam pertemuan tersebut Kyai Hasyim memaparkan tentang peta gerakan da'wah di Indonesia beserta tantangannya. Beliau juga mengingatkan pentingnya posisi dan peran Ahlus Sunnah wal Jama'ah di tengah pertikaian pemikiran antara Wahabi, Syiah, Liberal dan PKI.

Beliau mengingatkan bahwa Aswaja harus kuat, dan harus selalu bersikap tawassuth (pertengahan) dalam menghadapi setiap persoalan, sehingga selalu menampilkan Islam yang Rohmatan Lil 'Aalamiin.

DIALOG RINGAN

Di akhir pertemuan, Habib Rizieq menyampaikan kepada Kyai Hasyim bahwa FPI mendengar istilah ISLAM NUSANTARA untuk pertama kalinya dari Kyai Hasyim sejak beberapa tahun lalu, dengan makna Islam Rohmatan Lil 'Aalamiin yang menyatu berurat berakar dengan kehidupan masyarakat Nusantara, sehingga sejuk mendengarnya.

Namun kini, makna ISLAM NUSANTARA setelah jadi program Pemerintah yang kemudian diusung oleh para Tokoh Liberal berubah total menjadi Islam Anti Jenggot, Anti Jubah, Anti Sorban, Anti Shoff Rata dan Rapat, Anti Baca Qur'an dengan Langgam Arab, dan lain sebagainya, sehingga FPI gerah mendengarnya.

Akhirnya, FPI memberi aneka gelar buat ISLAM NUSANTARA, ada JIN (Jemaat Islam Nusantara), ada juga ANUS (Aliran Nusantara).

Mendengar hal tersebut, Kyai Hasyim sambil semyum dan tertawa, langsung menjawab singkat : "Iya, Islam Nusantara telah dibajak, dari Rohmatan Lil 'Aalamiin, jadi Anti Arab. Makanya, saya kembali kepada istilah asli yaitu Islam yang Rohmatan Lil 'Aalamiin."

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Silaturrahim Sang Kyai

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Kamis 19 November 2015, menjelang Isya, Mantan Ketum PBNU yang...

Minggu, 15 November 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah …
Wa Laa Haula wa Laa Quwwata illaa Billaah …

Sunnatullaah … Siapa menanam benih kebencian dan permusuhan, niscaya akan memanen perselisihan dan pertikaian. Siapa menanam benih kejahatan dan kezaliman, niscaya akan memanen dendam dan kemarahan. Siapa menanam benih kekejaman dan kebiadaban, niscaya akan memanen peperangan dan pertumpahan darah. Itulah sebabnya dalam peri bahasa Indonesia dikatakan : ”Siapa menebar Angin akan menuai Badai”.

PARIS DISERANG

Jum’at 13 November 2015 malam, Dunia dikagetkan dengan serangan teror dengan senjata otomatis dan bom oleh sejumlah pemuda di sejumlah lokasi di  jantung Kota Paris di Perancis, antara lain di stadion olah raga Stade de France, Restauran Petit Cambodge di Les Halles dan gedung konser Bataclan Concert Hall, yang seluruhnya menewaskan 129 orang dan melukai 259 orang.

Pemerintah Perancis pun mengumumkan keadaan Darurat, yang disusul dengan putusan Hari Berkabung Nasional selama 3 hari. Para Pemimpin Dunia menyampaikan bela sungkawa untuk Perancis, sekaligus mengutuk dan melaknat para pelaku teror tersebut, termasuk Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Di internet dan medsos, warga dunia pun berlomba menyampaikan ”Pray for Paris” sebagai bentuk turut berduka cita atas peristiwa tersebut.

ANALISA

Berbagai analisa pun muncul terkait kejadian tersebut, ada yang langsung menuding ISIS, dan ada juga yang menuding pihak lainnya. Di antara sekian banyak analisa, ada dua pandangan yang cukup menarik untuk dicermati, yaitu :

1. Terkait dengan dukungan Perancis terhadap kemerdekaan Palestina dan keanggotaan resminya di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), yang mengakibatkan kemarahan Israel, sehingga beberapa waktu lalu ada peringatan dari Israelbahwa Perancis akan menerima konsekuensi atas pengakuannya terhadap negara Palestina. Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu pernah mengatakan bahwa pengakuan Perancis atas negara Palestina adalah “Grave Mistakes” alias Kesalahan Kuburan, maka sejumlah analis langsung menudingkan jarinya bahwa ”Serangan Paris” adalah rekayasa agen rahasia Israel, yaitu Mossad, dengan menjebak sejumlah Militan Muslim dan memberi jalan untuk menebar teror di Paris. Tujuannya jelas agar Perancis dan sekutunya tidak lagi memberi simpatik kepada gerakan Islam mana pun di Dunia, khususnya Pejuang Palestina yang merupakan musuh bebuyutan Israel, sekaligus agar menarik kembali dukungan Kemerdekaan Palestina.

2. Terkait dengan keterlibatan Perancis dalam Pasukan Multi Nasional yang dipimpin Amerika Serikat di Afghanistan, Iraq dan Syria, sehingga Perancis menjadi salah satu target serangan balas dendam atas semua kejahatan dan kebiadaban yang dilakukan negara-negara sekutu di negeri-negeri Islam tersebut yang telah menewaskan ratusan ribu warga sipil (-bandingkan dengan korban ”Serangan Paris” yang hanya menewaskan 129 orang-),  dan sekaligus menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat mereka, secara politik, ekonomi, hukum mau pun keamanan. Ditambah lagi, selama ini Perancis dengan dalih HAM dan Kebebasan Berekspresi menjadi ”Surga” bagi para penista Islam dan penghina Nabi Muhammad SAW, seperti Charlie Hebdo dan lainnya. Karenanya, sejumlah analis langsung menuding bahwa pelaku ”Serangan Paris” adalah Militan Muslim dari ISIS atau lainnya, bahkan mereka memperkirakan akan ada serangan serupa atau lebih besar lagi terhadap negara-negara sekutu lainnya, selama mereka tidak hengkang dari negeri-negeri Islam tersebut.

Terlepas dari berbagai analisa, yang jelas hampir semua media nasional mau pun internasional saat ini menuding Militan Muslim sebagai operator lapangannya sesuai dengan identitas para pelaku yang telah diungkap.

I’TIBAR
Dunia wajib mengambil pelajaran dari berbagai serangan teror terhadap negara-negara sekutu yang melibatkan para Militan Muslim, mulai dari ”Serangan WTC” di Amerika Serikat pada 11 September 2001 hingga ”Serangan Paris” di Perancis pada 13 November 2015.

Kezaliman dan Kebiadaban ASbersama sekutunya di negeri-negeri Islam telah melahirkan Usamah bin Ladin di Dunia, bahkan telah melahirkan Amrozi dan Imam Samudera di Indonesia. Walau pun Usamah bin Ladin telah dibunuh oleh tentara AS, dan Amrozi bersama Imam Samudera telah dieksekusi mati oleh Pemerintah RI, namun selama AS dan sekutunya tetap melakukan kezaliman di negeri-negeri Islam dan kebiadaban terhadap umat Islam, maka niscaya ribuan Usamah bin Ladin, dan Amrozi serta Imam Samudera akan lahir kembali.

Karenanya, jika ingin menghentikan serangan teror Militan Muslim terhadap negara-negara sekutu, maka hanya ada satu jalan yaitu : ”Stop segala bentuk kezaliman dan kebiadaban terhadap umat Islam dan negeri Islam di mana pun … !!!”

Ingat : ”Siapa menebar Angin akan menuai Badai”


Hasbunallaah wa Ni’mal Wakiil … Ni’mal Maulaa wa Ni’man Nashiir …

Serangan Paris, Siapa Menebar Angin Akan Menuai Badai

Bismillaah wal Hamdulillaah … Wa Laa Haula wa Laa Quwwata illaa Billaah … Sunnatullaah … Siapa menanam benih kebencian dan permusuhan, nisca...

Selasa, 10 November 2015


Aksi terorisme dan provokasi kembali dilakukan gerombolan Kristen radikal di Sulawesi Utara. Sejak Senin (9/11), kelompok teroris Kristen yang mengatas namakan dirinya Brigade Manguni dan Pasukan Waranai menyerang pembangunan Masjid Asy-Syuhada di Kompleks Aer Ujang, kelurahan Girian Permai, kecamatan Girian, Kota Bitung, Sulawesi Utara.

Informasi terbaru yang diterima redaksi FPI Online, pada Selasa (11/11/2015), rumah Bapak Karmin Mayau, ketua panitia pembangunan masjid tersebut mendapat teror dari gerombolan Kristen radikal, mereka menghancurkam pagar, cendela, rumah beserta isinya. Selain itu, beberapa rumah muslim lainnya juga ikut menjadi korban aksi vandalisme ini.

Saat ini, gerombolan teroris Kristen yang beratribut baju hitam-hitam ini masih terus mengepung kota Bitung. Mereka berada stanby di markaznya di Danau Wudu. Jarak antara Danau Wudu dengan pemukiman umat Islam hanya sekitar 200 sampai 300 meter.

Sehari sebelumnya, telah dilakukan upaya perdamaian kedua belah pihak yang difasilitasi oleh pemerintah. Namun sayang, perdamaian ini dikhianati pihak teroris. Mereka kembali menyerang dan merusak rumah-rumah kaum Muslimin tadi malam.

Umat muslim terus berjaga-jaga dan bersiaga mengantisipasi serangan kembali teroris Kristen. Mereka juga telah membuat dapur umum, dan berbagai keperluan lainnya.

Informasi yang disampaikan Ustad Sugianto Panglima Laskar Pembela Islam Poso,  bahwa aparat TNI Polri yang siaga di lokasi sangat sedikit, tidak lebih dari 100 orang.


Sumber: FPI Online

Biadab, Gerombolan Teroris Kristen Rusak Masjid dan Rumah Umat Islam di Bitung

Aksi terorisme dan provokasi kembali dilakukan gerombolan Kristen radikal di Sulawesi Utara. Sejak Senin (9/11), kelompok teroris Kristen ya...

 

© 2015 - Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile