Kamis, 31 Desember 2015


Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) KH Shabri Lubis mengecam keras pembuatan terompet dari sampul Alquran yang dibuat saat menjelang perayaan tahun baru masehi 2016.

"Ini betul-betul penghinaan bagi umat Islam, kita tidak terima Alquran dibuat main-mainan seperti ini," kata Kyai Shabri saat berceramah di Masjid At Ta'awun, Puncak Bogor, Rabu malam (30/12/2015).

Menurutnya, Alquran tidak boleh diperlakukan seperti itu. "Alquran adalah satu-satunya firman Allah SWT yang paling otentik sampai hari ini, tidak boleh dibuat main-main apalagi dipakai buat acara maksiat tahun baru," ujarnya.

Oleh karena itu, ia mendesak agar pihak aparat menindak semua pelakunya. " Tangkap semua yang terlibat, dan kami siap bertindak jika pelakunya tidak dihukum," katanya.

Sampai saat ini, Kepolisian Daerah Jawa Tengah belum menetapkan tersangka terkait kasus peredaran terompet berbahan sampul Alquran tersebut.

Sejauh ini, polisi baru memeriksa dan meminta keterangan terhadap lebih dari 25 saksi di sejumlah Polres di Jawa Tengah. Mereka adalah sejumlah produsen hingga penjual terompet kontroversial tersebut.

Sumber: Suara Islam Online

Soal Terompet Dari Sampul Alquran, Fpi: Tangkap Semua Yang Terlibat!

Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) KH Shabri Lubis mengecam keras pembuatan terompet dari sampul Alquran yang dibuat saat menjelang peraya...

Minggu, 27 Desember 2015


SELAMAT JALAN PEJUANG ...
SEMOGA MENANG DAN TENANG ...

Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji'uun.

Telah Wafat pada hari Senin 28 Desember 2015 jam 8 WIB PEJUANG FPI SEJATI, Wasekum DPP FPI Bidang Da'wah, mantan Ketua Tanfidzi DPD FPI DKI Jakarta, Hb.Salim Selon b Umar b Ahmad Alattas.

Jenazah di rumah Kp.Sawo Kecik Lapangan Ros belakang Masjid Al-Ma'mur Rt 06/06 No 31 A Bukit Duri TEBET Jaktim. Insya Allah dimakamkan di KARET BIVAK hari ini juga ba'da 'Ashar.

Keluarga Besar FPI menyampaikan TA'ZIYAH untuk segenap Kerabat dan Shahabat almarhum :

A'zhomallaahu Ajrokum wa Ahsanallaahu 'Azaakum wa Ghofarallaahu Li Mayyitikum wa Qodzafallaahu Fii Quluubikum Shobron Jamiilan ...

Allahummaghfir Lahu warhamhu wa 'Aafihi wa'fu 'anhu wa Akrim Nuzuulahu wa Wassi' Madkholahu ...

Allahumma Taqobbal minhu Jamii'a Shoolihaatihi wa Tajaawaz 'anhu Jamii'a Sayyi-aatihi ...

waj'alhu Min Ahlil Khoir ...
wajma'hu ma'a Jamii'i Ahlil Khoir ...
wab'atshu fii Zumroti Ahlil Khoir ... wa Anzil 'alaihi Kulla Khoir ...
wadfa' 'anhu Kulla Dhoir ...

Bi Haqqi Sayyidinaa Muhammadin Imaami Ahlil Khoir ...

wa Bi Sirril Faatihah !

Innaa Lillaahi, Habib Salim Selon Meninggal Dunia

SELAMAT JALAN PEJUANG ... SEMOGA MENANG DAN TENANG ... Innaa Lillaahi wa Innaa ilaihi Rooji'uun. Telah Wafat pada hari Senin 28 Desember...

Sabtu, 26 Desember 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Allah SWT berfirman dalam QS.8.Al-Anfaal ayat 30 yang terjemahnya : "Mereka melakukan Makar dan Allah menggagalkan Makar itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas Makar."

MAKAR DEDI

Dengan modal dukungan Si Raja Liberal said agil siradj, aneka MAKAR dilakukan Si Raja Syirik Bupati Purwakarta dedi mulyadi terhadap Imam Besar FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab, antara lain :

1. Memperalat AMS (Angkatan Muda Siliwangi) yang disulap menjadi Aliansi Masyarakat Sunda yang juga disingkat AMS, untuk melaporkan Habib Rizieq ke Polda Jawa Barat dengan tuduhan Penghinaan Adat Sunda.

2. Menghasut masyarakat Sunda agar benci Habib Rizieq dan menolak kedatangannya di seluruh Tanah Sunda dengan dalih karena Habib Rizieq merusak Budaya Sunda.

3. Memperalat preman dari kalangan Anak Muda Sialan atau Anak Muda Setan yang juga disingkat AMS, untuk mensweeping dan menghadang serta mengusir Habib Rizieq dari Purwakarta saat digelar Tablik Akbar Pelantikan DPW FPI Purwakarta periode 2015 2019 pada Sabtu 19 Desember 2015.

ALLAH SWT PEMBALAS MAKAR

Namun demikian, FAKTA yang terjadi di lapangan sebagai berikut :

1. Si Raja Syirik dedi mulyadi dilaporkan Ulama Purwakarta ke Polda Jawa Barat dengan tuduhan Penistaan Agama Islam. 

2. Si Raja Syirik dedi mulyadi juga dilaporkan Paguyuban Masyarakat Sunda (PMS) ke Polda Jawa Barat dengan tuduhan Penistaan dan Perusakan Adat Sunda karena melakukan proses HINDUISASI dan PEMUSYRIKAN Budaya Sunda.

3. Si Raja Syirik dedi mulyadi ditolak Ajengan Kyai dan Santri di berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan dibenci dan diusir oleh masyarakat Sunda di berbagai tempat.

URANG SUNDA USIR DEDI

Pada Sabtu 19 Desember 2015 acara Kemusyrikan dedi mulyadi yang dibungkus dengan nama Pentas Budaya di GARUT digagalkan para Pemuda Islam Garut.

Pada Ahad 20 Desember 2015, Kyai dan Santri di CIAMIS menolak pentas Kemusyrikan dedi mulyadi, dan membuat blokade untuk men-sweeping-nya, sehingga dedi urung datang.

Pada Senin 21 Desember 2015, warga Jasinga dan Lebak bergabung mengepung GOR JASINGA untuk men-sweeping dedi dan bergajulnya, sehingga acara pentas Kemusyrikan dedi mulyadi dibatalkan aparat.

Pada Selasa 22 Desember 2015, warga BOGOR memblokade lokasi acara pentas Kemusyrikan dedi mulyadi, sehingga panitia membatalkan acaranya.

Pada Rabu 23 Desember 2015, Si Raja Syirik dedi mulyad DEPRESI alias STRESS BERAT, sehingga tidak berani buat pentas di luar Purwakarta.

Pada Kamis 24 Desember 2015 dengan dikawal sejumlah OKP dan aparat TNI dan POLRI, Si Raja Syirik dedi mulyad mencoba tampil di UJUNG GENTENG Sukabumi di Desa Bojong Genteng, tapi dihalau dan diusir oleh warga, bahkan sempat dikejar-kejar, sehingga dia merengek-rengek minta bantuan ARMED yang langsung melarikannya ke sebuah hotel di Kota Sukabumi.

Rencananya, Jum'at 25 Desember dedi mau tampil di Jampang Surade, tapi lagi-lagi Urang Sunda Muslim disana menolak kedatangannya, karena dedi dinilai sebagai penista Islam dan perusak Budaya Sunda.

Kini, daerah-daerah lain di Jawa Barat, seperti Cianjur, Bandung, Sumedang, Tasik, Cirebon, Pangandaran, Kuningan, Majalengka, dan lainnya, sedang siapkan SWEEPING untuk dedi.

DEDI KENA BATUNYA

Dedi habis-habisan menghasit Urang Sunda agar benci Habib Rizieq dan memusuhinya, tapi justru Urang Sunda jadi benci dedi. 

Dedi mau menghadang, justru dia yang dihadang. Dedi mau mengusir justru dia yang diusir. Dedi mau batalkan acara Tabligh Islam,  justru acara Pentas Budayanya yang dibatalkan.

Alhamdulillaahi Robbil 'Aalamiin ...

Tim News FPI

Bupati Purwakarta Diusir Urang Sunda

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Allah SWT berfirman dalam QS.8.Al-Anfaal ayat 30 yang terjemah...

Jumat, 25 Desember 2015


Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta melantik ratusan pengurus dari seluruh wilayah Jakarta termasuk Kepulauan Seribu. Acara pelantikan yang digelar saat peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw di Majelis Anwarul Hidayah Cawang, Jakarta Timur, Kamis (24/12) itu dalam rangka menyukseskan program Gubernur Muslim.

Pelantikan anggota FPI dan LPI se-DKI Jakarta itu terdiri dari enam Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), 44 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan 268 Dewan Pimpinan Ranting (DPRa).

Pelantikan ini dipimpin langsung Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, dan Imam FPI DKI Jakarta, Habib Muhsin bin Zaid Alatas. serta disaksikan oleh puluhan ulama, antara lain Habib Abdurrahman bin Syeh Alatas, Habib Zaid Alatas dan yg lainnya. Dari jajaran Umara nampak hadir Wali Kota, Camat, Lurah, Kapolda, Pangdam Jaya, Kapolres dan Kapolsek atau yang mewakili.

Tugas pertama mereka adalah membuat Posko Rakyat di setiap wilayah di seluruh Jakarta. Pembentukan Posko Rakyat hingga tingkat RT/RW itu untuk mensosialisasikan program Gubernur Muslim dan menampung aspirasi rakyat Jakarta yang mayoritas muslim dalam soal kepemimpinan. 

Posko Rakyat tidak hanya dibentuk oleh anggota FPI, tetapi bisa juga oleh ketua DKM, Majelis Taklim, ormas Islam dan lainnya di wilayah masing-masing. Melalui Posko Rakyat, mereka akan melakukan sosialisasi besar-besaran tentang wajibnya memilih pemimpin Muslim di seluruh lapisan masyarakat muslim Jakarta melalui dakwah.

Adapun pasangan calon Gubernur Muslimnya, akan dipilih yang terbaik oleh para ulama dan habaib melalui Konvensi Umat Islam Jakarta yang akan digelar dalam waktu dekat ini. 

Imam Besar FPI, Habib Rizieq Syihab yang melantik para pengurus baru itu mengatakan, program Gubernur Muslim dilakukan semata-mata karena melaksanakan perintah Allah dan RasulNya.

"Ini bukan sekedar pertarungan politik, tetapi ini dalam rangka menegakkan syariat Allah. Melaksanakan firman Allah bahwa umat Islam tidak boleh dipimpin oleh orang kafir," tegasnya. (SI/DBS)

Siap Menangkan Gubernur Muslim, Pengurus FPI Se-DKI Jakarta Dilantik Serentak

Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta melantik ratusan pengurus dari seluruh wilayah Jakarta termasuk Kepulauan Seribu. Acara pelantikan yan...

Selasa, 22 Desember 2015


Artikel ini dibuat oleh penulisnya sejak beberapa tahun yang lalu dengan judul : SYUBHAT NATAL. Dan telah dimuat di Web Resmi FPI yang kemudian disebar-luaskan oleh aneka Situs Islam lainnya.  Bahkan sudah dibuat rekaman Audio Videonya disertai dengan presentasr melalui tayangan slide power point secara apik dan rinci serta ilmiah. Berikut isi artikel lengkapnya :

Pada tanggal 1 Jumadil Ula 1401 H / 7 Maret 1981 M, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa tentang Natal Bersama yang intinya bahwa mengikuti Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya HARAM, dengan hujjah antara lain: Surat Al-Kaafiruun 1 – 6, Surat Al-Baqarah : 42, Hadits Nu’man ibnu Ba’syir tentang Syubhat, dan Kaidah Ushul “Dar’ul Mafaasid Muqaddamun ‘alaa Jalbil Mashaalih” (Menolak kerusakan didahulukan daripada mengambil mashlahat).

Ketika itu, Rezim yang berkuasa tidak suka terhadap Fatwa MUI tentang Natal Bersama, karena dianggap anti toleransi dan bertentangan dengan semangat pluralisme. Lalu MUI dipaksa untuk mencabut Fatwanya, tapi almarhum Buya Hamka selaku Pimpinan MUI kala itu lebih suka meletakkan jabatannya daripada menarik kembali Fatwa tersebut, demi untuk menjaga aqidah umat Islam.

Belakangan, tampil sejumlah “Tokoh Islam” yang menggulirkan “Fatwa” bahwa Natal Bersama bagi umat Islam hukumnya BOLEH, dengan menyampaikan sejumlah argumentasi yang tidak lepas dari MANIPULASI HUJJAH dan KORUPSI DALIL. Fatwa Kontroversial mereka tersebut sangat digandrungi oleh KAUM SEPILIS (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), bahkan dijadikan Rujukan Utama hingga kini. Fatwa Aneh tersebut telah menebar SYUBHAT yang melahirkan FITNAH di tengah umat Islam.

Syubhat Natal adalah pemutar-balikkan ayat mau pun hadits untuk "menyamarkan" hukum Natal yang sebenarnya sudah jelas keharamannya, sehingga Natal Haram diupayakan menjadi Natal Halal, sekurangnya menjadi Natal Syubhat. Berikut beberapa Syubhat Natal dan jawabannya :

1. SYUBHAT PERTAMA :

Dalam Al-Qur’an cukup banyak ayat yang bercerita tentang Nabi ‘Isa as sekaligus menjadi hujjah bahwa umat Islam wajib mencintai, menghormati dan mengimani beliau sebagai salah seorang Rasul. Bahkan dalam Surat Maryam : 33, Allah swt menceritakan ucapan Nabi ‘Isa as yang berbunyi : “Wassalaamu ‘alayya yauma wulidtu wa yauma amuutu wa yauma ub’atsu hayyan” (Keselamatan atasku di hari aku dilahirkan dan hari aku mati serta hari aku dibangkitkan dalam keadaan hidup).

Dengan dasar itu semua, maka merayakan dan saling mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi ‘Isa as menjadi sejalan dengan semangat Al-Qur’an, sekaligus menjadi bukti cinta, hormat dan iman kita kepada Nabi ‘Isa as.

JAWABAN :

Iman kepada Para Rasul merupakan salah satu Rukun Iman. Dan Nabi ‘Isa as merupakan salah satu Rasul yang wajib diimani. Mengekspresikan cinta dan hormat serta iman kepada Nabi ‘Isa as yang paling utama adalah dalam bentuk memposisikan beliau sebagai Hamba Allah SWT dan Rasul-Nya, serta menolak segala bentuk PENUHANAN terhadap dirinya. Jadi, pengekspresian tersebut tidak mesti dengan memperingati Hari Lahirnya.

Andaikata pun kita ingin merayakan Hari Lahir Nabi ‘Isa as dengan dasar ayat 33 Surat Maryam, maka kita akan kesulitan menentukan tanggalnya, karena tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an atau Hadits Nabi saw atau Atsar dari Shahabat, Tabi’in mau pun Tabi’it Tabi’in, yang menginformasikan tentang tanggal kelahiran Nabi ‘Isa as.

2. SYUBHAT KEDUA :

Dalam Hadits Muttafaqun ‘Alaihi yang bersumber dari Sayyiduna ‘Abdullah ibnu Sayyidina ‘Abbas ra diceritakan bahwa Rasulullah saw pernah menerima  informasi dari Yahudi tentang Kemenangan Nabi Musa as di Hari ‘Asyura (10 Muharram), lalu Nabi saw dan para Shahabatnya merayakan Kemenangan Musa as di hari itu dengan berpuasa.

Jika Nabi saw menerima INFO YAHUDI tentang tanggal bersejarah 10 Muharram sebagai Hari Kemenangan Nabi Musa as lalu merayakannya, maka tidak mengapa kita menerima INFO NASHRANI tentang tanggal bersejarah 25 Desember sebagai Hari Kelahiran Nabi ‘Isa as dan merayakannya pula.

JAWABAN :

Dalam Hadits Muttafaqun ‘Alaihi yang lain bersumber dari Sayyidatuna ‘Aisyah ra menerangkan bahwa Puasa ‘Asyura sudah dilakukan masyarakat Quraisy sejak zaman Jahiliyyah, dan di zaman permulaan Islam menjadi Puasa Wajib hingga diwajibkan Puasa Ramadhan di tahun kedua Hijriyyah.

Jadi, Puasa Nabi saw di Hari ‘Asyura bukan meniru-niru perbuatan Yahudi. Apalagi dalam sebuah Hadits Shahih disebutkan tentang niat dan anjuran Nabi saw buat umatnya agar juga Puasa Tasu’a (9 Muharram) untuk membedakan Puasa Umat Islam dengan Puasa Yahudi di hari ‘Asyura.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa tuntunan Nabi saw adalah tidak meniru-niru perbuatan kaum kafirin, apalagi dalam sebuah Hadits lainnya beliau saw menegaskan barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian darinya.

Memang, sikap Nabi saw yang diartikan sebagai bentuk perayaan terhadap Hari Kemenangan Nabi Musa as bisa dijadikan dalil pembenaran syar’i bagi perayaan Hari Bersejarah seorang Nabi atau Rasul, termasuk Hari Lahir Nabi ‘Isa as. Namun itu tidak boleh dijadikan dalil pembenaran syar’i bagi tanggal 25 Desember sebagai Hari Kelahiran Nabi ‘Isa as. Apalagi dijadikan dalil buat meniru-niru Nashrani dalam merayakan Natal.

Penerimaan Nabi saw terhadap INFO YAHUDI tentang tanggal 10 Muharram sebagai Hari Kemenangan Nabi Musa as menjadi PEMBENARAN SYAR’I bagi info tersebut, karena Sunnah Nabi saw adalah sumber hukum Islam yang autentik setelah Al-Qur’an. Artinya, info itu menjadi benar bukan karena datangnya dari Yahudi, tapi karena DIBENARKAN oleh Nabi saw.

Sedang INFO NASHRANI tentang tanggal 25 Desember sebagai Hari Lahir Nabi ‘Isa as tidak memiliki PEMBENARAN SYAR’I sama sekali, sehingga tidak bisa dibenarkan.

3. SYUBHAT KETIGA :

Ada Hadits Rasulullah saw yang membolehkan umat Islam menyampaikan berita yang berasal dari Ahlul Kitab. Karenanya, jika Nashrani di seantero dunia sudah sepakat merayakan Hari Lahir Nabi ‘Isa pada tanggal 25 Desember, maka itu bisa menjadi bagian berita Ahlul Kitab yang boleh kita terima.

JAWABAN :

Memang, ada Hadits tentang kebolehan menyampaikan berita Ahlul Kitab, tapi ada Hadits juga yang mengarahkan umat Islam agar tidak mempercayai (membenarkan) dan tidak pula mendustakan (menyalahkan) berita Ahlul Kitab.

Maksud berita Ahlul Kitab adalah segala info yang datang dari Kitab-kitab suci atau Doktrin Asli ajaran agama Yahudi dan Nashrani. Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengklasifikasikan berita Ahlul Kitab menjadi tiga katagori, yaitu :

a. Info yang dibenarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah maka wajib diterima,

b. Info yang ditentang Al-Qur’an dan As-Sunnah maka wajib ditolak.

c. Info yang tidak dibenarkan dan tidak pula ditentang Al-Qur-an dan As-Sunnah maka wajib tawaqquf, yaitu tidak menerima dan tidak juga menolak.

Lalu, berita Hari Lahir Nabi ‘Isa as pada tanggal 25 Desember masuk katagori berita Ahlul Kitab yang mana ? Atau bahkan tidak termasuk katagori yang mana pun ?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, harus dilihat terlebih dahulu tentang Hari Lahir Nabi ‘Isa as dalam Bibel. Berikut DATA BIBEL tentang Kelahiran Nabi ‘Isa as :

A. Lukas 2 : 4 – 7

Ayat-ayat ini menginformasikan bahwa Sayyidatuna Maryam as saat hamil tua bermusafir ke Yerusalem, setibanya disana ia tidak mendapatkan penginapan karena semuanya sudah penuh terisi, sehingga ia melahirkan di palungan (tempat jerami).

Lalu dalam Lukas 2 : 41 ada keterangan bahwa setiap tahun Orang tua Nabi ‘Isa as datang mengunjungi Yerusalem di Hari Raya Paskah yaitu Hari Raya Bani Israil yang jatuh pada awal musim gugur. Itulah sebabnya, walau hamil tua Sayyidatuna Maryam as tetap musafir karena pentingnya Hari Raya tersebut, dan itu pula sebabnya semua penginapan penuh karena di Hari Raya tersebut semua Bani Israil mendatangi Yerusalem.

Artinya, menurut DATA BIBEL bahwa Nabi ‘Isa as  lahir di awal musim gugur, dan itu tentu bukan bulan Desember melainkan awal Sepetember.

B. Lukas 2 : 8 – 11

Ayat-ayat ini menginformasikan bahwa di malam kelahiran Nabi ‘Isa as, di sekitar Yerusalem para gembala sedang menjaga kawanan ternaknya di padang terbuka.

Dan dalam Ezra 10 : 9 – 13 serta Kidung Agung (Nyanyian Solomon) 2 : 9 – 11, ada keterangan bahwa di musim hujan / dingin semua ternak disimpan dalam kandang dan semua manusia berada di rumah, tidak keluar tanpa keperluan yang mendesak, karena mereka tidak sanggup menahan dingin di luar rumah.

Dengan demikian, DATA BIBEL ini pun menunjukkan bahwa saat Nabi ‘Isa as dilahirkan bukan musim hujan / dingin / salju, karena manusia dan ternak masih sanggup di padang terbuka pada malam hari.

Artinya, Nabi ‘Isa as tidak dilahirkan bulan Desember, karena Desember di Yerusalem musim hujan dan hawa sangat dingin, bahkan sering turun salju, sehingga tidak mungkin ada rombongan gembala pada malam hari menjaga kawanan ternak di padang terbuka.

C. I Tawarikh (Chronicle) 24 : 10 dan Lukas 1 : 5 – 38

Ayat-ayat ini menginformasikan bahwa Nabi Zakaria as dan rombongannya dalam kelompok Abia mendapat tugas menjaga Rumah Tuhan pada giliran ke delapan, dan itu menurut Kalender Hebrew jatuh pada tanggal 27 Iyar – 5 Sivan, atau bertepatan dengan tanggal 1 – 8 Juni (Awal Juni). Lalu ketika tugas itulah Nabi Zakaria as mendapat wahyu tentang kehamilan istrinya yang kelak akan melahirkan Nabi Yahya as.

Artinya, 9 bulan setelah tugas itu menurut masa kehamilan normal maka Nabi Yahya as dilahirkan, yaitu awal Maret. Kemudian diinformasikan bahwa usia Nabi ‘Isa as 6 bulan lebih muda daripada Nabi Yahya as. Maknanya, jika Nabi Yahya as dilahirkan awal Maret maka Nabi ‘Isa as dilahirkan 6 bulan sesudahnya, yaitu Awal September.

Dengan demikian DATA BIBEL di atas juga menginformasikan bahwa Nabi ‘Isa as tidak dilahirkan bulan Desember.

Seorang Pastur dari Gereja Wolrdwide Church of God di Amerika Serikat, Herbert W. Armstrong (1892-1986), dalam bukunya yang berjudul The Plain Truth About Christmas menyatakan bahwa Nabi ‘Isa as tidak dilahirkan bulan Desember, dan Perayaan Hari Raya Natal bukan ajaran asli gereja, melainkan bersumber dari ajaran paganisme (penyembah berhala) yang sejak lama, jauh sebelum kelahiran Nabi ‘Isa as, telah merayakan Hari Kelahiran Dewa Mithra sebagai Dewa Matahari mereka pada tanggal 25 Desember.

Pendapat Pastur Herbert tersebut sejalan dengan keterangan dalam Encyclopedia Britannica dan Encyclopedia Americana. Kedua Literatur tersebut mendefinisikan Natal sama seperti pernyataan Pastur Herbert di atas.

Pada tahun 1993, seorang Astronom Inggris, David Hughes dari Universitas Sheffield, dalam sebuah wawancara dengan Britain’s Press Association (BPA), yang dikutip oleh Kantor Berita Reuter, menyatakan bahwa Nabi ‘Isa as diduga kuat lahir pada tanggal 15 September 7 tahun sebelum Masehi, karena pada tanggal tersebut terjadi siklus pertemuan 840 tahunan sekali antara planet Yupiter dan Saturnus, yang dari permukaan Bumi terlihat bagai Bintang Terang yang langka. Menurutnya, itulah Bintang Terang yang terlihat di malam kelahiran Nabi ‘Isa as sebagaimana diinfokan Bibel dalam Matius 2 : 1 -12.

Selain itu, tercatat dalam beberapa literatur sejarah Nashrani, bahwa tiga abad pertama Masehi tidak ada umat Nashrani yang merayakan Hari Lahir Nabi ‘Isa as. Dan awal abad keempat Masehi, perayaan tersebut mulai muncul di tengah umat Nashrani, tapi pada tanggal yang berbeda-beda, seperti 6 Januari, 28 Maret, 18 April dan 28 Juni.

Baru pada tahun 354 M, Paus Liberius di Roma memutuskan tanggal 25 Desember sebagai Hari Lahir Nabi ‘Isa as. Keputusan itu diikuti oleh Gereja Roma di Konstantinopel pada tahun 375 M dan di Antakia pada tahun 387 M. Selanjutnya menyebar ke seluruh dunia hingga saat ini.

Kesimpulannya, Data Bibel dan Data Astronomi serta Literatur Kristiani lainnya menolak kemungkinan Kelahiran Nabi ‘Isa as pada bulan Desember, sehingga INFO NASHRANI tentang kelahiran Nabi ‘Isa as pada tanggal 25 Desember adalah info yang tidak termasuk dalam katagori berita Ahlul Kitab, karena Bibel sendiri menolak. Info tersebut adalah INFO FIKTIF yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara Syar’I mau pun secara ilmiah akademis.

4. SYUBHAT KEEMPAT :

Pada prinsipnya, umat Islam boleh KAPAN SAJA merayakan Hari Kelahiran seorang Nabi atau Rasul, termasuk Hari Lahir Nabi ‘Isa as, untuk memuliakan mereka para Utusan Allah SWT. Maka, tidak ada masalah memperingati Hari Lahir Nabi ‘Isa as pada tanggal 25 Desember atau tanggal lainnya, walau pun tanggal Lahir Nabi ‘Isa as masih diperdebatkan kalangan Kristiani sendiri.

Hanya saja, peringatan Hari Lahir Nabi ‘Isa as pada tanggal 25 Desember lebih tepat untuk membangun toleransi antar umat beragama dalam rangka menyuburkan keharmonisan hubungan Islam – Nashrani.

JAWABAN :

Justru, merayakan Hari Lahir Nabi ‘Isa as bersamaan dengan umat Nashrani pada tanggal 25 Desember menjadi MAZHONNATUL FITAN (sumber fitnah) yang sangat berbahaya, antara lain :

a. Justifikasi kebohongan umat Nashrani dalam penetapan tanggal Hari Lahir Nabi ‘Isa as.

b. Justifikasi kesesatan keyakinan umat Nashrani yang merayakan Natal sebagai Hari Lahir Nabi ‘Isa as sebagai ANAK TUHAN.

c. Membuat BID’AH DHOLALAH karena merayakan Hari Lahir Nabi ‘Isa as dengan dasar INFO FIKTIF NASHRANI.

d. Pencampur-adukkan aqidah haq dengan bathil.

e. Menjerumuskan kalangan awam dari umat Islam yang kebanyakan lemah iman.

f. Pelecehan terhadap kemuliaan Nabi ‘Isa as, karena Hari Lahirnya dirayakan dengan Data Dusta, ditambah lagi dibarengi dengan umat Nashrani yang merayakannya sebagai Hari Lahir Anak Tuhan.

Dengan demikian, merayakan Hari Lahir Nabi ‘Isa as pada tanggal 25 Desember bukan bentuk toleransi antar umat beragama, tapi bentuk pencampu-adukkan aqidah yang sangat dilarang dalam Islam.

Dan itu tidak akan menyuburkan keharmonisan hubungan antar Islam – Nashrani, tapi akan menyuburkan PENDANGKALAN AQIDAH yang bisa mengantarkan kepada pemurtadan.

Sikap umat Islam yang tidak mengganggu umat Nashrani dalam merayakan Natal, dan ikut menjaga kondusivitas suasana dalam masa Natal dan Tahun Baru, serta memberi kesempatan kepada mereka merayakannya secara semarak di berbagai tempat, mulai dari Gereja, Pabrik, Kantor hingga Istora Senayan, sebenarnya sudah LEBIH DARI CUKUP sebagai bentuk toleransi mayoritas Muslim kepada minoritas Nashrani di negeri Indonesia tercinta ini.

5. SYUBHAT KELIMA :

Andai pun umat Islam tidak merayakan Hari Lahir Nabi ‘Isa as bersama umat Kristiani pada tanggal 25 Desember, karena khawatir terganggunya aqidah. tapi setidaknya tidak mengapa sekedar mengucapkan SELAMAT NATAL kepada mereka untuk penghormatan dan maslahat pergaulan.

Apalagi bagi Tokoh Islam yang jelas sudah mantap aqidahnya dan diperlukan pemantapan hubungan pergaulan Lintas Agamanya, sehingga kekhawatiran semacam itu tidak perlu ada sekaligus tidak lagi menghalangi Tokoh Islam dalam meningkatkan Dakwah Lintas Agama. 

JAWABAN :

Natal secara Etimologi adalah Hari Lahir. Dan secara Terminologi adalah Hari Lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan, sebagaimana ditulis oleh berbagai Ensiklopedi. Dan sebutan HARI NATAL hanya digunakan dalam makna Terminologi.

Artinya, jika seseorang mengucapkan SELAMAT NATAL maka sesuai makna Terminologinya berarti mengucapkan “Selamat Hari Lahir Yesus Kristus sebagai Anak Tuhan”. Dan itu jelas haram bagi umat Islam.

Jika seorang Muslim terlanjur mendapat ucapan Selamat Natal dari siapa pun, maka mesti dijawab dengan Surat AL-IKHLASH yang berintikan Keesaan Allah SWT yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Syariat Islam buat semua lapisan umatnya, Ulama dan Awam, Pejabat dan Rakyat, Kaya dan Miskin. Karenanya, apa pun yang menjadi MAZHONNATUL FITAN diharamkan, baik bagi yang imannya kuat, apalagi yang imannya lemah. Lebih-Iebih jika Mazhonnatul Fitannya menyangkut aqidah sebagaimana telah diuraikan tadi.

Bukankah memandang wanita yang tidak halal, apalagi berjabat-tangan dengannya, diharamkan bagi laki-laki, termasuk Rasulullah saw sekali pun, karena hal itu merupakan Mazhonnatul Fitan yang bisa menggerakkan syahwat dan mengundang fitnah.

Padahal kita sama tahu dan yakin bahwa IMAN dan TAQWA Rasulullah saw adalah yang terkuat dan terbaik, sehingga syahwat beliau saw tidak akan terpancing hanya dengann memandang atau berjabat-tangan dengan wanita mana pun yang tidak halal baginya, namun sungguh pun demikian beliau saw tidak mau melakukannya karena Mazhonnatul Fitan yang wajib dihindarkan.

Karenanya, tidak ada alasan bagi Tokoh Islam untuk menghalalkan Natal dengan dalih asal aqidah kuat. Bahkan ketokohan mereka semestinya membuat mereka lebih hati-hati dalam bersikap, karena mereka adalah teladan yang akan diikuti umat yang kebanyakan beraqidahkan lemah. Sikap Tokoh Islam yang mengikuti Natal jelas bisa menjerumuskan umat.

LIBERAL DAN TOLERANSI KEBABLASAN

Atas nama “Rahmatan Lil Alamin”, kaum Liberal menekankan bahwasanya umat Islam perlu ikut merayakan Hari-Hari Besar semua agama, sehingga melahirkan kasih sayang dalam keharmonisan hubungan antar umat beragama. Keikut-sertaan umat Islam dalam perayaan Hari-Hari Besar umat agama lain tidak hanya sebatas menjaga kondusivitas agar umat agama lain aman dan tenang dalam merayakan Hari Besar mereka, tapi juga harus ikut secara aktif dalam perayaan tersebut. Tidak cukup juga hanya dengan mengucapkan selamat, tapi juga harus berperan serta dalam menghidupkan perayaan tersebut, seperti saling tukar hadiah, menyanyikan lagu-lagu rohani, hingga doa bersama di rumah ibadah umat agama lain.

Atas nama “Rahmatan Lil Alamin”, bagi Liberal sangat baik dan bagus, jika saat “Natal” para pegawai muslim di berbagai perusahaan  di Tanah Air secara suka rela memakai topi “Sinterklas” dalam tugasnya atau memasang “Pohon Natal” di ruang kerjanya. Dan saat “Imlek”, masyarakat muslim juga harus rela untuk memasang lentera / lampion di perkampungan mereka, serta harus rela juga di “Barongsai” kan. Lalu saat “Nyepi” umat Islam mesti rela untuk tidak mengumandangkan azan, bahkan wajib rela untuk ikut memadamkan lampu / pelita di dalam rumahnya sendiri sekali pun.

Demikianlah, kaum Liberal dalam penafsirannya tentang “Rahmatan Lil Alamin” tidak lagi menggunakan tafsir Ulama Salaf mau pun Khalaf, bahkan tafsir sepopuler “Tafsir Jalalain” pun yang singkat padat dan ringkas jelas serta mu’tabar, tidak mereka tengok, karena mereka asyik dengan “Tafsir Jalanlain” yang serbah aneh dan menyesatkan.

KESIMPULAN :

Umat Islam hukumnya HARAM merayakan Natal dalam bentuk apa pun, baik ucapan Selamat Natal, atau pun saling berbagi Hadiah Natal, atau juga memakai Atribut Natal, mau pun mengirim Kartu Natal, atau memajang Pohon Natal, apalagi mengikuti Misa Natal.

Selain itu, umat Islam juga hukumnya HARAM mengganggu umat Nashrani dalam merayakan Hari Natal mereka.

Ayo, bangun Toleransi antar umat beragama, tanpa mencampur-adukkan Aqidah dan Syariat.

Wallaahul Musta'aan.

Syubhat Natal, Liberal dan Toleransi

Artikel ini dibuat oleh penulisnya sejak beberapa tahun yang lalu dengan judul : SYUBHAT NATAL. Dan telah dimuat di Web Resmi FPI yang kemud...

Sabtu, 19 Desember 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Sudah SUNNATULLAH, Pejuang dibela Pejuang, sedang Pecundang dibela Pecundang.

Rasulullah SAW yang rohmatan lil 'aalamiin dibela Sayyiduna Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan para Shahabat lainnya yang mulia,  sedang Sang Durjana Abu Lahab dibela Si Durhaka Abu Jahal dan Kaum Musyrikin penyembah berhala.

Jauh sebelumnya, Nabi Musa AS yang gagah wibawa dibela Nabi Harun AS yang lembut mulia, sedang Sang Raja Lalim Fir'aun dibela Menteri Zalim Haman dan para Tukang Sihirnya.

Kini, Para Pejuang Islam dibela para Habaib dan Kyai yang Sholihin, sedang Ahmadiyah dan PKI serta aneka Aliran Sesat lainnya dibela para Pecundang Liberal.

KAMPANYE ANUS

"Sang Raja Syirik" Bupati Purwakarta Dedy Mulyadi kini habis-habisan dan mati-matian dibela "Si Raja Liberal" Ketum PBNU Said Agil Siradj atas nama Budaya, Kearifan Lokal, Kemajemukan, Hak Asasi Manusia dan Kebebasan.

Said Agil Siradj telah sukses menjadikan ISLAM NUSANTARA sebagai TEMA Munas NU ke-33 pada tanggal 1 s/d 5 Agustus 2015. Said Agil Siradj inilah orangnya yang bernafsu Kampanye ALIRAN NUSANTARA yang disingkat ANUS dengan menghalalkan segala cara, antara lain :

1. Tgl 1 Juni 2012 di Gedung PBNU, Said Agil menyatakan bahwa yang perlu dilakukan umat Islam adalah "Membela Tanah Air" bukan "Membela Islam".

http://kabarnet.in/2012/06/02/said-agil-vs-salim-selon/

2. Tgl 6 Juni 2012 di Gedung PBNU, Said Agil menyatakan bahwa Perda Syariah bermasalah sehingga tidak perlu, karena setiap perda pro rakyat dan pro bangsa sudah Islami.

http://kabarnet.in/2012/06/07/said-agil-vs-salim-selon-ronde-2/

3. Tgl 28 Juni 2012 dalam tulisannya di Harian Republika dengan judul "Menyikapi Kontroversi", Said Agil menyatakan bahwa LIBERAL hanya sebatas perbedaan, sehingga harus disikapi dengan toleransi dan tenggang rasa, lalu menyamakan Tokoh LESBI Irsyad Manji dengan Tokoh Islam Ibnu Rusyd dan Ibnu Arabi serta Tokoh Sufi Abu Yazid Al-Busthomi.

http://kabarnet.in/2012/07/09/said-agil-vs-salim-selon-ronde-3/

4. Tgl 3 Juli 2012 dalam pembukaan MTQ Internasional NU ke-7 di Pontianak - Kalbar, Said Agil menyebut nama Gubernur Kalbar yang Katholik dengan sebutan USTADZ Cornelis, dan menyatakannya sebagai NU CABANG KATHOLIK.

http://kabarnet.in/2012/07/10/said-agil-vs-salim-selon-jilid-4/

5. Tgl 4 September 2012 di berbagai media, Said Agil berkoar-koar membolehkan orang kafir memimpin umat Islam dengan dalih Pemimpin Kafir yang adil lebih baik daripada Pemimpin Muslim yang zalim.

http://kabarnet.in/2012/09/04/said-agil-vs-salim-selon-ronde-5/

6. Tgl 14 Oktober 2012 saat penanda-tanganan MOU antara PBNU dengan LDII tentang penanggulangan radikalisme, Said Agil menyatakan bahwa orang kafir boleh ikut Pemilihan Gubernur di Jakarta, karena Pilgub bukan pemilihan Imam Masjid.

http://kabarnet.in/2012/10/15/said-agil-vs-salim-selon-ronde-6/

7. Tgl 21 Desember 2012 di Harian Rakyat Merdeka, Said Agil menyatakan bahwa boleh mengucapkan Selamat Natal demi kerukunan umat beragama, dan menjamin bahwa semua warga NU tidak akan luntur imannya dengan ucapan Selamat Natal.

http://kabarnet.in/2012/12/22/said-agil-vs-salim-selon-jilid-7/

8. Dalam acara Haul Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri Pendiri Al-Khoiroot di Palu - Sulteng, juga ceramahnya di berbagai kesempatan lain, Said Agil menyatakan bahwa sebab utama Rasulullah SAW diutus di tengah bangsa Arab adalah karena bangsa Arab bangsa yang PALING BIADAB, dan Nabi berasal dari Suku Quraisy karena Quraisy PALING BIADABNYA bangsa Arab.

9. Dalam sebuah acara dialog di NET TV tahun 2015, Said Agil mengatakan Nabi Muhammad SAW dan para Shahabatnya menyebarkan Islam di Timur Tengah, Romawi dan Persia dengan PEPERANGAN.

https://www.youtube.com/watch?v=ByX4PlS0OFY

10. Tgl 14 Juni 2015 dalam wawancara di pembukaan acara istighasah menyambut Ramadan dan pembukaan munas alim ulama NU di Masjid Istiqlal, Jakarta, dan juga dalam beragam kesempatan dia menegaskan bahwa Islam Nusantara bukan ISLAM ARAB, menurutnya Islam Nusantara adalah Islam yang santun dan lembut, sedang Islam Arab adalah Islam yang KERAS dan RADIKAL.

http://m.detik.com/news/wawancara/2978479/said-aqil-siradj-islam-indonesia-bukan-islam-arab
11. Tgl 16 Mei 2012 dalam acara TV dan wawancara media, saat FPI menolak pagelaran Konser Artis Penyembah Setan dari Amerika Serikat, LADY GAGA, di Jakarta, Said Agil justru mendukung pagelaran tersebut, sekaligus mendorong pemerintah untuk membubarkan FPI.

http://m.youtube.com/watch?v=pnC4ZKAMEQQ

12. Dalam rekaman ceramah yang diunduh dan disebarkan via Youtube, Said Agil MENGKRITIK AHLUL BAIT karena AHLUL BAIT bukan Ahlul ilmi dan bukan Ahlul Hadits tapi POLITIKUS, termasuk Ali, Al-Hasan, Al-Husein, Ali Zainal Abidin As-Sajjad, Al-Bagir dan Ash-Shoodiq. Dan Said Agil menyatakan bahwa Politisi yang baik cuma empat, yaitu : Umar bin Abdul Aziz, Harun Ar-Rasyid, Solahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih. Selain itu tidak baik. Lalu Said Agil menyatakan bahwa yang membangun peradaban Islam hingga menyebar ke seluruh dunia adalah ilmunya Ahlul Ilmi dan Ahlul Hadits, yg kebanyakan mereka NON ARAB, bukan lewat Politik Zu'amaa para Khalifah. Selanjutnya, Said Agul menyatakan Imam Ali BERSALAH dalam Perang Jamal, karena ribuan umat Islam jadi korban, dan sikap Ali dalam surat-suratnya ke Mua'wiyah TIDAK ETIS, karena menggunakan sebutan YA 'ADUWALLAH.

http://www.youtube.com/watch?v=IXP3g72uHT8

13.  Tgl 27 Agustus 2012  Saat para Habaib dan Ulama Jakarta bergabung dengan Gerakan Masyarakat Jakarta (GMJ) untuk lengserkan Si Kafir Ahok, maka dengan semangat Said Agil mendukung Si Kafir Ahok jadi Gubernur Jakarta, karena menurutnya : "Lebih baik gubernur kafir tapi jujur daripada gubernur muslim tapi korup."

http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/08/27/20354/catut-ibnu-taimiyah-said-aqil-siroj-dukung-jokowiahok/;

14. Dalam ceramahnya yang diunggah dan disebarkan di Youtube, Said Agil menyatakan bahwa Jenggot bukan Sunnah Nabi SAW sehingga tidak perlu ditiru, bahkan Jenggot merupakan identitas ketidak-cerdasan, semakin panjang jenggot seseoarang semakin tidak cerdas.

https://m.youtube.com/watch?v=MrXNQGGX1Ew

15. Tgl 22 Oktober 2015 di Acara Kirab Hari Santri Nasional Dalam rangka perang lawan Jenggot, Said Agil memberi ceramah dalam peringatan Hari Santri Nasional dengan latar belakang gambar Pendiri NU Almarhum wal Maghfur Lahu Hadrotus Syeikh KH Hasyim Asy'ari yang sengaja dihilangkan jenggotnya.

http://m.suara-islam.com/mobile/detail/15914/Akhirnya-Jenggot-Pendiri-NU-Dicukur-JIN

16. Dalam  sebuah dialog di acara satu jam lebih dekat TV One yang diunggah dan disebarkan di You Tube, Said Agil menyatakan bahwa dalam Shalat yang penting Khusyu, sedang merapatkan Shoff tidak perlu karena hanya adat dan tradisi Arab saja.

http://m.youtube.com/watch?v=gkTs_JQEONY

17. Di salah satu video yang tersebar di Youtube, Said Agil juga mengatakan bahwa Cadar itu bukan pakaian Islam, tapi hanya pakaian Arab. 

https://www.youtube.com/watch?v=0q7sfgjOfrw

18. Said Agil menghina ormas Islam lain, dalam hal ini menghina Muhammadiyah goblok.

https://www.youtube.com/watch?v=qehIYjPkfIk

19. Said Agil mengatakan bahwa sampai saat ini malaikat Munkar Nakir belum bisa menanyai Gus Dur di alam kubur.

https://www.youtube.com/watch?v=z_zS9KTF1YQ

20. Said Agil memuji-muji tradisi kaum Syiah, sambil menghina warga NU dengan menyebut mereka goblok-goblok.

https://www.youtube.com/watch?v=EamNDG6i_BQ

21. Said Agil mengklaim ormas NU yang paling baik, dibanding ormas Islam yang lain.

https://www.youtube.com/watch?v=w9Cte0C7UCg

22. Said Agil mengatakan dirinya senang jika ada Iblis ikut sholat berjamaah di dalam shof sholat yang tidak rapat.

https://www.youtube.com/watch?v=lLwY4Eeeynw

23.  Tgl 14 Desember di berbagai media , saking bernafsunya bela Kemusyrikan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Said Agil lagi-lagi menyampaikan keinginannya untuk pembubaran FPI.

http://m.suara-islam.com/mobile/detail/16417/Bela-Dedi-Mulyadi--Said-Aqil-Siradj-Ingin-FPI-Dibubarkan

PERSELINGKUHAN ANUS

Demikianlah, telah terbukti terjadinya PERSELINGKUHAN ANUS yaitu persengkokolan jahat Aliran Nusantara yang merupakan perselingkuhan paling dahsyat abad ini. 

Mereka adu domba SYARIAT dan ADAT, bahkan mereka Tolak Syariat dengan dalih Tolak Arabisasi.

Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil .... 
Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...

RAJA SYIRIK dibela RAJA LIBERAL

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Sudah SUNNATULLAH, Pejuang dibela Pejuang, sedang Pecundang di...

Sabtu, 12 Desember 2015


HabibRizieq.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sekaligus Rais ‘Am PBNU, KH. Ma’ruf Amin, mengungkapkan bahwa MUI Pusat telah berhasil melakukan verifikasi dan investigasi terhadap kebijakan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. 

Hasil dari pantauan dan investigasi tersebut menemukan berbagai fakta penyimpangan kebijakan yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta. Selain itu, Dedi Mulyadi diduga kuat juga mengembangkan paham Sunda Wiwitan.

KH. Ma’ruf Amin, ulama yang terkenal tegas beramar makruf nahi munkar itu mengungkapkan, di antara temuan Tim Investigasi MUI Pusat itu adalah banyaknya patung-patung bernuansa Hindu Bali yang tersebar di berbagai sudut kota Purwakarta.

Menurut Kyai, kebijakan Dedi Mulyadi tersebut dapat menganggu keharmonisan masyarakat.

“Dia punya paham boleh saja. Tapi jangan menggunakan kekuasaan bupati untuk mengembangkan pahamnya. Ini dapat menyulut konflik,” ujarnya seperti dikutip dari Islampos di Jakarta, Kamis (10/12/2015).

Lebih lanjut, Kyai yang dikenal anti Syiah, Wahabi dan Liberal itu menjelaskan bahwa budaya boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan agama masyarakatnya.

Selanjutnya, kata Kyai, hasil Laporan Tim Investigasi MUI Pusat itu akan dilimpahkan ke MUI Jawa Barat agar ditindak lanjuti. 

Dua bulan sebelumnya, atau tanggal 15 Oktober 2015 lalu, MUI Purwakarta telah mengirim surat kepada Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Isinya mempertanyakan soal kebijakan-kebijakan Bupati Purwakarta yang dinilai kontroversial dan banyak dikeluhkan masyarakat, khususnya di kalangan ulama, ormas Islam, tokoh agama, dan Pimpinan Pondok Pesantren di Kabupaten Purwakarta.

Tim News FPI/Islampos

MUI Pusat Temukan Berbagai Penyimpangan Kebijakan dan Paham Bupati Purwakarta

HabibRizieq.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat sekaligus Rais ‘Am PBNU, KH. Ma’ruf Amin, mengungkapkan bahwa MUI Pusat telah b...

Jumat, 11 Desember 2015


HabibRizieq.com - Bakal calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari partai republik, Donald Trump membuat pernyataan yang mengejutkan dunia. Di atas kapal perang USS Yorktown pada Senin (7/12), Trump menyerukan larangan kedatangan Muslim ke AS secara total dan menyeluruh. 

"Perbatasan harus ditutup untuk Muslim hingga perwakilan negara mengetahui apa yang sebenarnya terjadi," kata Trump seperti dikutip BBC.

Pernyataan ini dinilai sejumlah pihak sebagai pernyataan Trump yang paling provokatif dalam kampanye pencalonannya sebagai presiden AS.

Gedung Putih langsung bereaksi. Mereka mengecam keras pernyataan Trump dan menilai hal itu bertolak belakang dengan nilai-nilai AS, serta bisa mengancam keamanan nasional. 

MUSLIM AMERIKA BEREAKSI

Banyaknya pernyataan negatif Trump terhadap Islam akhir-akhir ini, memantik Komunitas Muslim Amerika untuk berkomentar. Sikap Trump telah membuat kesabaran mereka habis. Co Founder of Council on American-Islamic Relations, Nihad Awad, menyatakan dalam jumpa pers bahwa gagasan Trump tak ubahnya seperti sikap Nazi Jerman terhadap Yahudi.

“Pernyataan sembrono Trump ini, telah menempatkan jutaan nyawa Muslim dan keluarganya dalam bahaya. Trump bukan hanya seorang bigot, tapi juga pembohong sekaligus orang yang berbahaya.” Terang Nihad Ahad. 

APA KATA DUNIA?

“Sikap permusuhan terhadap Islam dan Muslim akan memanaskan tensi hubungan sosial masyarakat Amerika, dimana 8 juta muslim Amerika hidup sebagai warga negara yang baik penuh kedamaian.” Rilis Dar Al-Ifta, Badan Urusan Agama Mesir.

Sementara itu, Aktivis terkemuka dari Pakistan, Asma Jahangir, mengatakan “Ini adalah jenis kefanatikan terburuk bercampur dengan kebodohan.”

Di Inggris, penulis novel terkenal, JK. Rowling ikut berkomentar, lewat akun Twitternya, Rowling mengatakan Donald Trumps lebih jahat dari Voldemort, nama sosok penjahat dalam serial novelnya yang mendunia. 

Sementara itu, di tanah air, ketua umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) sekaligus Rais Amm Nahdlatul Ulama, KH. Makruf Amin mengatakan “Itu sudah melampaui batas, bayangkan kalau Amerika melarang muslim, negara muslim melarang orang barat masuk, apa yang terjadi, itu hanya memicu permusuhan saja, itu primitif, tak bernalar," katanya, di Jakarta, Rabu (9/12/2015).

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Wantim MUI) Din Syamsuddin juga ikut berkomentar. Dikutip dari Antara, Din mengatakan "Ini menggelikan ada seseorang di era modern ini, era globalisasi ini begitu sempit pikirannya yang ingin melarang sebagian orang memasuki Amerika," 

Namun, selain kecaman, Trump rupanya juga mendapat dukungan. Geert Wilders, politisi Belanda yang terkenal karena membuat film “FITNA” yang berisi penistaan terhadap Islam menyatakan dukungannya kepada Trump. Lewat akun Twitternya ia mengatakan “Saya berharap Donald Trump akan menjadi Presiden Amerika berikutnya. Baik untuk Amerika, baik untuk Eropa. Kita butuh pemimpin yang berani.” 

PETISI LARANG TRUMP MASUK INGGRIS

Di dunia maya, beredar petisi online, melarang Donald Trump masuk Inggris. Petisi yang muncul di laman https://petition.parliament.uk ini, hingga Sabtu dini hari (12/12) sudah ditanda tangani sebanyak 528,723 orang. 

Dalam keterangan petisi tersebut dijelaskan, Inggris telah melarang beberapa individu masuk ke negaranya karena terlibat Hate Speech dan perilaku yang tidak bisa diterima. Karena itu, pemerintah Inggris diminta untuk bersikap fair dan konsisten dengan aturan yang dibuatnya.

(Tims News FPI/dbs)

Larang Seluruh Muslim Masuk ke Amerika, Donald Trump Dikecam Dunia.

HabibRizieq.com - Bakal calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari partai republik, Donald Trump membuat pernyataan yang mengejutkan dunia. D...

Selasa, 08 Desember 2015


HabibRizieq.com - Ribuan massa dari Masyarakat Muslim Sunda menuntut agar Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi untuk segera diproses hukum. Hal tersebut berdasarkan laporan salah satu masyarakat kepada Polda Jabar terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Dedi.

Dalam aksi yang digelar di Gedung Sate Bandung Senin (7/12) itu, hadir seorang ulama asal Banten, KH Fachrurrozi yang mengaku sebagai keturunan dari Raja Padjajaran Prabu Siliwangi. Ia mengecam prilaku Dedi Mulyadi yang dianggap membawa kemusyrikan di kota tasbeh itu.

"Saya adalah keturunan Prabu Siliwangi ke 21, dari Nyi Mas Ratu Rara Santang. Dahulu keluarga saya, nenek moyang saya, Kian Santang dengan orang tuanya Prabu Siliwangi berjuang supaya masyarakat pada masuk Islam," ujar Kyai Fachrurrozi dalam bahasa sunda yang diterjemahkan redaksi Suara Islam Online.

"Tiba-tiba sekarang si Dedi Mulyadi mau menyesatkan saudara-saudara saya di Purwakarta, dengan membawa-bawa nama Prabu Siliwangi," lanjutnya.

Nama Raja Padjajaran itu dicatut oleh Dedi Mulyadi dalam prilaku syiriknya, dia mengatakan jika ingin selamat saat melewati jalan tol Cipali harus menyebut nama Prabu Siliwangi sebanyak tiga kali.

"Ngomongnya adat sunda, ngomongnya Siliwangi, padahal tidak ada kaitannya dengan Prabu Siliwangi tapi ngomongnya besar," kata Kyai Fachrurrozi mengecam Dedi Mulyadi.

Sebagai keturunan tokoh Islam di masa lalu, ia menyatakan siap bergabung dalam perjuangan umat Islam melawan kemusyrikan. "Kami keturunan Prabu Siliwangi, Sultan Maulana Hasunudin, Sunan Gunung Jati, demi Allah dan RasulNya kami tidak akan biarkan (kemusyrikan) itu terjadi," pungkas Kyai Fachrurrozi.

Sumber: Suara Islam Online

Ulama Keturunan Prabu Siliwangi Kecam Prilaku Syirik Dedi Mulyadi

HabibRizieq.com - Ribuan massa dari Masyarakat Muslim Sunda menuntut agar Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi untuk segera diproses hukum. Hal ...

Senin, 07 Desember 2015


HabibRizieq.com - Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate Bandung, Jawa Barat, Senin (7/12/2015). Aksi tersebut digelar dalam rangka menolak praktik kemusyrikan yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.

Beberapa spanduk bertuliskan aneka tuntutan mereka bentangkan, antara lain: “Selamatkan Purwakarta Dari Kemusyrikan.” “Bupati Purwakarta Penista Islam” Bupati Purwakarta Penista Adat Sunda.” “Kemusyikan Bukan Adat Sunda.” “Adat Sunda Sejalan Dengan Islam.” “Urang Sunda Cinta Habib Rizieq.” “Habib Rizieq Pembela Aqidah Urang Sunda.” “Stop Hinduisasi Purwakarta.” 

Selain itu, beberapa pengunjuk rasa terlihat mengenakan ikat kepala yang bertuliskan: “Tangkap Dedi Mulyadi.” “Tangkap Denda Alamsyah.” Dan lain sebagainya.

Ketua aksi, Ustadz Asep Syarifudin mengatakan aksi ini untuk menjaga Jabar dari unsur kemusyrikan. "Kita selamatkan Jabar dari rongrongan kemusyrikan," ujarnya.

Menurutnya, budaya yang tidak bertentangan dengan syariat harus dijaga, tetapi kalau sudah masuk unsur kemusyrikan itu tidak boleh dibiarkan.

"Muslim Sunda merasa prihatin dengan upaya Dedi Mulyadi yang mengacak-acak akidah dengan unsur kemusyrikan yang berdalih budaya," katanya.

Ia menegaskan bila Sunda adalah identik dengan Islam. Adat Sunda juga disebut sejalan dengan syariat Islam. Alhasil, apa yang dilakukan oleh Bupati Purwakarta dengan membangun patung-patung  dan keyakinan-keyakinan lain yang diklaim sebagai adat Sunda sejatinya bukanlah merupakan adat Sunda.

Seperti diketahui, Dedi Mulyadi, sejak memimpin Purwakarta terus berusaha menghidupkan kembali ajaran Sunda Wiwitan, sehingga ia menghiasi Purwakarta dengan aneka patung pewayangan seperti patung Bima dan Gatotkaca, bahkan ditambah dengan aneka patung Hindu Bali.

Dedi juga membuat Kereta Kencana yang konon katanya untuk dikendarai sang isteri, Nyi Loro Kidul. Kereta Kencana tersebut dipajang di Pendopo Kabupaten Purwakarta, dan diberi kemenyan serta sesajen setiap hari, lalu dibawa keliling Purwakarta setahun sekali saat acara Festival Budaya, dengan dalih untuk membawa keliling Nyi Loro Kidul buat keberkahan dan keselamatan Purwakarta.

Dedi juga disebut menganjurkan agar siapa yang mau selamat lewat di jalan Tol Cipularang agar menyebut nama Prabu Siliwangi. Dan beberapa tahun lalu, Dedi juga pernah menyatakan bahwa suara seruling bambu lebih merdu daripada membaca Alquran.

Selain itu, pohon-pohon di sepanjang jalan kota Purwakarta diberi kain "Poleng", yaitu kain kotak-kotak hitam putih, bukan untuk "keindahan", tapi untuk "keberkahan" sebagaimana adat Hindu Bali, dan Dedi pun mulai sering memakai ikat kepala dengan kembang seperti para pemuka adat dan agama Hindu Bali.

Aksi demontrasi ini diikuti berbagai elemen masyarakat Jawa Barat, seperti Pondok Pesantren, Dewan Kesejahteraan Masjid, Majelis Ta'lim, Lembaga Swadaya Masyarakat, beserta elemen masyarakat lainnya.

DESAK SEGERA PROSES HUKUM DEDI MULYADI

Dalam aksi ini, Masyarakat Muslim Sunda (MMS) juga menyuarakan desakan kepada Kepolisian Daerah Jawa Barat segera memproses hukum Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang telah dilaporkan masyarakat atas kasus dugaan penistaan terhadap Agama. 

"Mendesak kepada Polda Jabar untuk segera melakukan proses hukum terhadap Dedi Mulyadi atas pelaporan penistaan Agama," ungkap MMS dalam rilisnya yang dibagikan kepada para wartawan.

Sebelumnya dikabarkan, pada Senin (30/11) sejumlah ulama Jawa Barat melaporkan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi ke Polda Jabar atas dugaan kasus penistaan agama. 

"Laporan ini atas permintaan dari ulama-ulama Purwakarta yang sudah resah dengan prilaku Dedi Mulyadi yang banyak menodai ajaran agama Islam," ujar pelapor, Ustadz Muhammad Syahid Joban. 

WASPADA ADU DOMBA ADAT DENGAN SYARIAT

Masyarakat Muslim Sunda (MMS) juga menghimbau supaya elemen masyarakat Sunda Jawa Barat untuk tidak mudah terprovokasi dan diadu domba oleh pihak manapun yang tidak bertanggung jawab, yang hendak membenturkan urang Sunda dengan Islam.

"Mengajak kepada segenap elemen masyarakat Sunda, khususnya masyarakat Jawa Barat untuk memperkokoh tali persaudaraan dan persatuan seta menjaga dan melestarikan adat dan budaya Sunda yang sejalan dengan syariat agama Islam," tulis MMS dalam pernyataannya.

Kepada Gubernur Jabar dan jajarannya, MMS juga mendesak supaya mereka turut melestarikan adat dan budaya Sunda yang sejalan dengan syariat Islam serta menjaga kerukunan sesama urang Sunda, khususnya masyarakat Jawa Barat.

Tim News FPI/dbs

Apel Siaga Umat Islam Jabar: "Selamatkan Purwakarta Dari kemusyrikan"

HabibRizieq.com - Ribuan massa yang tergabung dalam Aliansi Pergerakan Islam (API) Jawa Barat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Sat...

Sabtu, 05 Desember 2015



APA KATA MEREKA TENTANG PERISTIWA PURWAKARTA :

1. Prof. DR. Didin Hafiduddin :  Tokoh Ulama Jabar, Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun (UIKA):

"Kemusyrikan bukan Adat Sunda, karena Adat Sunda identik dengan Islam".

2. KH Anwar Sanusi : Tokoh Ulama Jabar, Ketua Dewan Pembina Badan Koordinasi Muballigh se-Indonesia (BKMI) :

"Tidak ada yang salah dengan ceramah Habib Rizieq".

3. KH. M. Husni Thamrin : Tokoh Ulama Jabar, Pendiri dan Pembina Ponpes Al-Ihya dan Yayasan Pendidikan Insan Kamil - Bogor :

"Habib Rizieq tidak salah, tidak perlu minta maaf."

4. KH. Tengku Zulkarnain : Wasekjen MUI PUSAT

"Pantaslah ulama di daerah beliau melakukan koreksi dan teguran. Sebagai orang Islam awam dia harus mendengar ucapan ulama."

5. KH. Ma'shum Hasan : Pimpinan Ponpes Al-Huda Al-Utsmaniyah Cikole - Ciamis :

“Si Dedi sedang mencari popularitas untuk pencalonan jadi Gubernur Jabar. Tapi nampaknya dia sedang “bunuh diri” dengan menggunakan cara ini”

6. KH. Ahmad Qurthubi Jailani : Pimpinan Ponpes Al-Futuhiyyah Lebak - Banten :

“Dedi Mulyadi menyebarkan kesyirikan dengan kemasan budaya. Memang betul itu budaya Sunda, tapi Sunda Jahiliyah atau Sunda wiwitan. Penyebaran kesyirikan ini wajib dilawan.

7. Habib Abdurrahman Bahlega Assegaf : Pimpinan Ponpes Ihyaus Sunnah Pasuruan - Jatim

“Itu (praktek yang dilakukan Dedi) hanyalah kedok cinta budaya. Intinya (tujuannya) hanyalah untuk menolak Islam.”

8. Ust. Fahmi Salim : Sekretaris Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI)

“Islamlah yang telah mengangkat derajat suku-suku Nusantara kepada derajat ilmu dan peradaban yang sangat tinggi. Jangan kita malah mundur ke belakang menghinakan diri sendiri setelah dimuliakan oleh Allah Swt.”

10. Ustadz Abdullah Aziz, Pengasuh Ponpes Albarokah, Serang Banten.

“Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang didukung AMS telah mencampur adukan adat budaya Sunda dengan budaya Hindu yang bikin sesat dan musyrik masyarakat, ini harus ditindak lanjuti untuk menyelamatkan umat Islam di Purwakarta dan sekitarnya.”

11. KH. Bahruddin Zen, Pengasuh Ponpes Ghordul Fawaid Walmawaidz, Tangerang.

“Kami dari kota Tangerang,walaupun berada di luar Purwakarta mendukung penuh pencabutan mandat Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, yang sengaja atau tidak sengaja membawa masyarakat Purwakarta kembali ke zaman batu (berhala)”

12. KH. Rosyid, Pengasuh Ponpes BNQ Bani Hamim Kadupinang Pandeglang

“Siapapun yang bersikukuh dengan kemusyrikanya, bahkan menghidupkan, menyebarkan dan mendukung kemusyrikan adalah musuh kita semua kaum muslimin muwahhidin”

13. Ustd Nofal Abdurrohman, Pengasuh Ponpes Bani Rahman Al-ittihaad dan Majlis Ta'lim At-taqwa Sumur-Ujung kulon Pandeglang Banten

“Saya tegaskan untuk umat Islam di Purwakarta..LAWAN KEMUNKARAN dan PENISTAAN terhadap Islam yang dilakukan Dedi Mulyadi selaku pemimpin perusak Aqidah..!!!”

14. KH. Zaid Bachmid, Ketua Bidang Dakwah Al-Irsyad

“Apa yang disampaikan Habib Rizieq di Purwakarta itu sudah sangat tepat. Sejarah Purwakarta adalah Islam bukan Hindu. Jika ada satu ulama yang dipojokkan karena menyampaikan yang haq, maka seluruh ulama wajib membela.”

15. KH Maman Abdurrahman, Ketua Umum Persatuan Islam (Persis)

“Yang tidak sesuai ditinggalkan, untuk apa meramaikan hal-hal kayak begitu. Saya tidak setuju yang dibesar-besarkan kok adat kebiasaan, padahal di situ berbau syirik."

16. Ustad. Soleh Mahmoed (Solmed), Da’i Kondang

“Saya mendengar langsung ceramah Habib Rizieq Syihab dari salam (awal) sampai salam (akhir). Saya menangkap pesan dari ceramah yang Beliau sampaikan bahwa yang dimaksud “Campur Racun” itu adalah ketika Adat dibenturkan dengan Syari’at, Sehingga menjadi tidak indah lagi dilihat dan tidak lagi nikmat dirasa, saya yakin tidak ada niat Beliau untuk melecehkan Adat seperti yang disangkakan oleh beberapa pihak.”

17. KH. Cholil Ridwan, Ketua Majelis Ulama Indonesia
“Saya anjurkan beliau (Dedi Mulyadi, red) sadar dan bertaubat, kemudian dia ngaji tauhid. Kembangkanlah budaya-budaya yang tidak bertentangan dengan akidah dan syariat,"

19. Kyai Abdurrasyid Syafii, Pimpinan Perguruan  Asy-Syafi’iyyah Jakarta dan Pulo Air – Sukabumi Jawa Barat

“Dedi Mulyadi yang mengaku muslim dan sudah haji itu sebenarnya adalah ahlul bid'ah dan syirik.  Dia mengkultuskan Ratu Roro Kidul. Mempercayai kekuatan ratu Laut Selatan adalah suatu kemusyrikan.  Lalu apa hubungan Dedi dengan Laut Selatan sedangkan dia adalah Bupati Purwakarta yang tidak ada hubungan dengan laut Selatan?”

20. KH. Maulana Yusuf Kamal, Musytasyar PBNU

“Umat Islam jangan cepat percaya apapun yang diberitakan di televisi (media, red) tentang Habib Rizieq. Jangan terpancing kata mereka yang menyebut bahwa Habib Rizieq telah menghina adat, harus tabayyun dulu. Assalamu’alaikum itu ibadah, sedang Sampurasun itu adat, maka tidak bisa adat menggantikan ibadah.”

21. KH. Abdulbasit, Pimpinan Ponpes KH. Zaenal Mustofa, Singaparna, Ketua MUI Kabupaten Tasikmalaya dan Syuriah NU Tasikmalaya.

“Itu tidak sesuai dengan ajaran Islam. Rasul itu kan datang untuk meniadakan kemusyrikan. Sedang itu (yang dilakukan Dedi Mulyadi, red) kesannya malah ingin menghidupkan kerawanan musyrik. Lagi pula, perlu dipertanyakan apa betul (membuat patung-patung, red) itu bagian dari tradisi Sunda? Kalau tradisi Sunda seperti itu, mungkin di Sunda banyak patung-patung peninggalan, buktinya kan nggak ada.”

22. KH. Nurul Mubin, Pimpinan Ponpes Annajiyah Gobras Tasikmalaya.

“Adat yang bertentangan hukum syariat Islam itu harus ditolak, harus kita luruskan, bahkan harus kita perangi.”

Apa Kata Mereka Tentang Peristiwa Purwakarta

APA KATA MEREKA TENTANG PERISTIWA PURWAKARTA : 1. Prof. DR. Didin Hafiduddin :  Tokoh Ulama Jabar, Direktur Pascasarjana Universitas Ibnu Kh...

Jumat, 04 Desember 2015


Namanya Muhammad Shahab, gelarnya Peto Syarif, yang artinya Ulama yang mulia. Di awal tahun 1800-an ia membangun sebuah kampung di Bukit Gunung Jati - Padang - Sumatera Barat, yang kemudian kampung tersebut terkenal dengan nama Bonjol. Selanjutnya ia dipanggil Tuanku Imam Bonjol.

ADAT BASANDI SARA'

Sebagai Ulama Asli Minangkabau, ia berprinsip "Adat Basandi Sara', dan Sara' Basandi Kitabullah" artinya "Adat bersendikan Syariat, dan Syariat bersendikan Kitabullah". 

Imam Bonjol menolak keras perilaku Kaum Adat dukungan Penjajah Belanda yang terus memasyarakatkan Sabung Ayam, Judi, Tuak dan Madat atas nama Adat. 

LASKAR PADERI

Imam Bonjol pun membentuk Laskar Amar Ma'ruf Nahi Munkar yang disebut Kaum Paderi dan berpakaian serba putih untuk menumpas semua ma'siat di Bumi Minangkabau. 

Imam Bonjol dan pasukan Paderinya berhasil menjaga Adat Minangkabau agar tidak diselewengkan atau dirusak oleh siapa pun, baik Kaum Adat mau pun Belanda.

ADU DOMBA SYARIAT DAN ADAT

Belanda tidak suka, di tahun 1821 Belanda memprovokasi dan membantu Kaum Adat memerangi Imam Bonjol, tapi hingga tahun 1836, Belanda tidak mampu mengalahkan Pasukan Paderi pimpinan Imam Bonjol.

Di tahun 1837, secara licik Belanda menyerang rumah keluarga Imam Bonjol dan melukai serta menyandera anak isterinya, sehingga memancing Imam Bonjol keluar dari medan tempur untuk menyelamatkan keluarga. 

Akhirnya, Imam Bonjol terkepung dan tertangkap, lalu dibuang ke Cianjur - Jawa Barat. 

DARI CIANJUR KE MENADO

Di Cianjur Imam Bonjol sangat dihormati, karena masyarakat Sunda sangat CINTA ULAMA.

Belanda khawatir di Cianjur Imam Bonjol semakin hari semakin berpengaruh, karena masyarakat muslim Sunda banyak yang mengunjungi dan mendekatinya serta mendengar fatwa-fatwanya.

Lalu Imam Bonjol dibuang ke Ambon. Lagi-lagi di Ambon Imam Bonjol mendapat sambutan hangat masyarakat muslim disana. 

Akhirnya, Imam Bonjol dibuang ke Menado hingga wafat disana pada tahun 1864 dalam usia 92 tahun.

I'TIBAR

Islam selalu terbuka terhadap segala bentuk Adat, selama tidak melanggar Syariat. Islam di atas segala Adat, dan setiap Adat harus ditimbang di atas timbangan Syariat.

Adat yang baik dilestarikan. Adat yang menyimpang diluruskan. Adat yang salah diperbaiki. Adat yang jahat dibuang dan dihilangkan.

Setiap muslim dalam membela Islam harus siap menanggung segala resiko perjuangan, kapan saja dan dimana saja.

Hasbunallaahu wa Ni'mal Wakiil ... Ni'mal Maulaa wa Ni'man Nashiir ...

Perang Paderi (Th. 1821 s/d 1837)

Namanya Muhammad Shahab, gelarnya Peto Syarif, yang artinya Ulama yang mulia. Di awal tahun 1800-an ia membangun sebuah kampung di Bukit Gun...

Kamis, 03 Desember 2015


Islamisasi Tatar Sunda: Perspektif Sejarah dan Kebudayaan
Oleh: Tiar Anwar Bachtiar, Ketua Umum PP Pemuda Persis / Doktor Sejarah FIB UI


Tatar Sunda adalah wilayah tempat bermukimnya suku Sunda. Tatar Sunda umumnya disamakan dengan daerah Jawa Barat. Sebelum daerah Jawa bagian barat terpecah menjadi provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat seluruh wilayah ini dianggap sebagai bagian dari etnik Sunda. Oleh sebab itu, ketika membicarakan sejarah Sunda, selalu saja Cirebon, Banten, dan Jakarta menjadi wilayah yang dianggap menjadi bagian dari Sunda. Akan tetapi, kini Jakarta diklaim sebagai tempat bermukim etnik khusus bernama “Betawi”, dan orang-orang Banten menganggap mereka bukan Sunda, melainkan “Banten”. Sebentar lagi, Cirebon ingin berpisah dari Jawa Barat karena mereka merasa bukan “Sunda”. Mereka adalah etnik tersendiri.

Sesungguhnya, kalau yang dilihat adalah perbedaan-perbedaan, tentu akan semakin banyak wilayah yang ingin membentuk provinsi sendiri karena alasan etnisitas seperti kasus Banten dan Cirebon. Akan tetapi, itu tidak berarti bahwa sungguh-sungguh Banten, Cirebon, dan Betawi benar-benar bukan bagian dari “Tatar Sunda”, karena pada kenyataannya, pada wilayah-wilayah itulah populasi masyarakat Sunda tersebar.  Oleh sebab itu, bila berbicara “Tatar Sunda” dalam sejarah, tentu wilayah-wilayah itu tetap merupakan bagian di dalamnya.

Sama seperti etnis Jawa yang umumnya berdiam di wilayah Jawa bagian tengah dan timur, etnis Sunda pun mengalami proses sejarah yang panjang yang umumnya tidak terlampau berbeda dengan yang dialami oleh etnis Jawa. Salah satu fase sejarah yang paling penting adalah proses Islamisasi. Proses ini, sampai saat ini merupakan proses yang memberikan kesan paling penting dam mendalam bagi masyarakat Sunda. Paling tidak, secara nominal, mayoritas suku Sunda menganut Islam. Islam bahkan hampir menjadi bagian dari identitas kesundaan. Dengan kata lain, kalau tidak Islam, agak aneh bahwa dia adalah orang Sunda, sekalipun pada kenyataannya ada saja orang Sunda yang tidak Islam.

Membicarakan Sunda dengan Islam tentu menjadi semakin menarik apabila pendekatan yang dipakai adalah kebudayaan. Islam sebagai agama yang berwatak membentuk peradaban, tantu yang akan paling terlihat dampaknya dari keberadaan Islam adalah basis dari peradaban itu sendiri, yaitu kebudayaan. Sejarah proses Islamisasi menjadi semakin dapat dimengerti dengan baik apabila yang dipertimbangkan adalah faktor kebudayaan ini. Tulisan berikut ini akan secara singkat memotret Islamisasi Masyarakat Sunda dari sudut pandang sejarah dan kebudayaan.

A. ISLAMISASI TATAR SUNDA DALAM SEJARAH

Sudah menjadi kebiasaan dalam historiografi kolonial bahwa Islamisasi akan dibenturkan dengan pertahanan adat masyarakat lokal. Umpamanya ketika sejarawan-sejarawan kolonial menceritakan proses Islamisasi di wilayah kebudayaan Jawa. Islamisasi yang sesungguhnya adalah proses kebudayaan kemudian digambarkan dengan pristiwa-peristiwa politik. Jadilah kemudian perang antara Demak dengan Majapahit (1526 M) sebagai diartikan perang antara Islam dengan Hindu; atau Islam dengan kebudayaan Jawa. Dalam hal ini, Demak disimbolkan sebagai wakil tradisi Islam sementara Majapahit disimbolkan sebagai wakil kebudayaan Jawa.

Bila melihat hubungan antara Islam dengan kebudayaan setempat seperti demikian, maka akan dapat disimpulkan bahwa Islam datang untuk menghancurkan “kebudayaan” masyarakat setempat. Padahal, sejatinya proses Islamisasi di Indonesia, apalagi menyangkut kebudayaan, pada umumnya merupakan proses yang damai, normal, dan wajar tanpa kekerasan. Orang dengan sukarela menjadi Islam atau tidak. Sementara persoalan politik sesungguhnya lebih banyak berkaitan dengan kepentingan kekuasaan, daripada dengan kepentingan mempertahankan kebudayaan.

Hal yang sama juga akan ditemukan saat menceritakan hubungan antara Sunda dengan Islam. Hubungan ini, dalam sejarah selalu dikaitkan dengan ingatan perang antara Maulana Hasanudin dari Banten dengan kerajaan Sunda di bawah pimpinan Ratu Samiam tahun 1579 yang berakhir dengan hancurnya kerajaan Sunda. Perang ini seolah memberikan pertanda bahwa Islam dengan Sunda adalah seteru, sesuatu yang tidak dapat dipersatukan. Padahal, dalam ingatan budaya masyarakat Sunda, perang tersebut sudah tidak pernah lagi menjadi bagian yang penting untuk dijadikan identitas. Artinya, bagi mereka kejadian itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang penting dalam proses Islamisasi yang mereka alami. Bahkan dalam alam pikiran masyarakat Sunda—sebagaimana nanati akan dijelaskan—sejarah Islamisasi yang mereka alami tidak pernah dikaitkan dengan permusuhan terhadap kelompok manapun.

Dalam catatan sejarah, Islam datang ke Tatar Sunda seiring dengan datangnya Islam ke Tanah Jawa pada umumnya. Sama seperti di wilayah Jawa yang lain, puncak keberhasilan dakwah Islam adalah pada masa Wali Songo. Di Tatar Sunda, anggota Wali Songo yang menjadi penyebar Islam tersohor, bahkan sampai berhasil mendirikan kerajaan Islam di Cirebon dan Banten adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Namun demikian, Sunan Gunung Jati bukan orang pertama yang membawa Islam.

Dalam sumber-sumber lokal-tradisional dipercayai bahwa orang yang pertama kali memeluk dan menyebarkan Islam di Tatar Sunda adalah Bratalegawa. Bratalegawa adalah putra kedua Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata atau Sang Bunisora, penguasa Kerajaan Galuh. Ia memilih hidupnya sebagai saudagar besar. Karena posisinya itu, ia tebiasa berlayar ke Sumatera, Cina, India, Srilangka, Iran, sampai ke negeri Arab. Ia menikah dengan seorang Muslimah dari Gujarat bernama Farhana binti Muhammad. Melalui pernikahan ini, Bratalegawa memeluk Islam, kemudian menunaikan ibadah haji dan mendapat julukan Haji Baharudin. Sebagai orang yang pertama kali menunaikan ibadah haji di kerajaannya, ia dikenal dengan sebutan Haji Purwa. Ia kemudian menetap di Ciberon Girang yang saat itu berada di bawah kekuasaan Galuh.

Bila cerita ini menjadi patokan, dapat disimpulkan bahwa Islam pertama kali dibawa ke Tatar Sunda oleh pedagang dan pada tahap awal belum banyak pendukungnya karena masih terlampau kuatnya pengaruh Hindu. Sementara kala waktunya, bila dikaitkan dengan penguasa Kerajaan Galuh Sang Bunisora yang berkuasa selama 14 tahun dari tahun 1357 hingga 1371 M, maka dapat kita ketahui bahwa peristiwa Bratalegawa atau Haji Purwa di atas terjadi sekitar abad ke-14.

Ada pula naskah tradisional lain yang menyebutkan cerita tentang Syekh Nurjati dari Persia. Ia adalah ulama yang datang pada sekitar abad ke-14 bersama 12 orang muridnya untuk menyebarkan Islam di daerah jawa Barat. Atas izin penguasa pelabuhan tempat ia mendarat, ia diperbolehkan menetap di Muarajati (dekat Cirebon) dan mendirikan pesantren di sana. Kisah ini terdapat dalam naskah Carita Purwaka Caruban Nagari.

Dalam Babad Cirebon, kisah perintis penyebaran Islam hampir mirip dengan cerita Bratalegawa. Hanya saja, tokohnya kali ini adalah Pangeran Walang Sungsang yang dikenal juga dengan nama Ki Samadullah, Ki Cakrabumi, atau Syekh Abdul Iman. Ia adalah anak penguasa Pajajaran Prabu Siliwangi dari istrinya Nyai Subang Larang. Hanya saja, ceritanya kemudian bercampur dengan mitos bertemunya Walangsungsang dengan nabi Muhammad Saw., padahal secara historis terjadi perbedaan zaman yang cukup jauh. Di daerang Priangan tokoh anak Prabu Siliwangi yang dipercaya menyebarkan Islam di Tanah Sunda adalah Kean Santang, dengan cerita yang hampir sama.

Ada lagi kisah tentang ulama yang datang dari Campa (sekitar Vietnam) bernama Syekh Quro. Ia singgah di Karawang bersama-sama dengan kapal Laksamana Cheng Ho. Sementara Cheng Ho melanjutkan misinya, Syekh Quro memilih tinggal di Karawang dan menikah dengan Ratna Sondari putra penguasa Karawang. Ia diizinkan untuk mendirikan pesantren hingga ia dapat menyebarluaskan ajaran Islam secara lebih leluasa.

Sumber-sumber tradisional ini, sekalipun dalam perspektif sejarawan Barat dianggap sebagai sumber yang tidak otoritatif, namun untuk tidak dipercayai secara keseluruhan pun bukan perkara yang tepat. Oleh sebab itu, sebagai informasi permulaan apa yang ditulis dalam sumber-sumber tradisional di atas patut dipertimbangkan.

Bila sumber-sumber ini kita pegang, dapat disimpulkan bahwa Islam telah datang ke Tatar Sunda sejak abad ke-12 atau ke-13. Akan tetapi, sebagaimana umumnya pengembangan agama secara damai, tersebarnya Islam untuk sampai menjadi anutan mayoritas membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, bila pada abad ke-16, Kerajaan Sunda runtuh, bukan berarti bahwa Islam yang menghancurkannya. Kehancuran Kerajaan Sunda adalah karena kekuatannya secara politik semakin merosot sehingga mudah untuk dihancurkan. Hanya saja, saat itu yang berhadap-hadapan dengan Kerajaan Sunda adalah Kerajaan Banten sehingga banyak yang secara simplisistik menyebutkan bahwa hancurnya simbol “kasundaan” adalah ketika Islam datang. Artinya, peristiwa politik antara Banten dengan Pajajaran harus dilihat dalam konteks perebutan supremasi politik yang tidak selalu harus berkaitan dengan masalah keyakinan, terutama dalam konteks Islamisasi di Tatar Sunda.

Islamisasi di Tatar Sunda sendiri berlangsung secara laten jauh sebelum terjadi berbagai konflik politik antara Kerajaan Islam Cirebon dan Banten dengan Kerajaan Pajajaran. Menurut Hasan Mu’arif Ambary, Islamisasi di Nusantara, termasuk di Tatar Sunda melalui tahap-tahap yang hampir seragam, yaitu: pertama, adanya kontak antara masyarakat Nusantara dengan para pedagang, pelaut, atau musafir dari berbagai belahan dunia seperti China, Arab, India, Asia Tenggara, Persia, dan sebagainya. Periode ini, berlangsung antara abad ke-7 hingga abad ke-11. Kontak pergadangan ini menjadi argumentasi awal atas kemungkinan bertemunya masyarakat Nusantara dengan para pedagang Muslim dari negara-negara Islam.

Kedua, adanya kontak perdagangan internasional di atas, telah membuka kesempatan kepada penduduk Nusantara untuk mengadakan kontak secara khusus dengan para pedagang Muslim. Kontak inilah yang mula-mula memperkenalkan memperkenalkan Islam ke wilayah Nusantara. Sebagian penduduk Nusantara sudah mulai ada yang tertarik untuk mempelajarinya, tidak terkecuali di Tatar Sunda yang sebagian wilayah meliputi juga wilayah pesisir seperti Banten (temasuk Jakarta) dan Cirebon yang pada umumnya menjadi tujuan utama para pedagang internasional. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila pusat persebaran Islam yang pertama muncul di daerah pesisir Cirebon. Akan tetapi, tidak ada informasi sejarah tentang kontak awal Islam di wilayah Tatar Sunda ini sebelum abad ke-14. Hanya saja, kalau mengikuti logika sejarah tentang Bratalegawa yang anak penguasa dan saudagar, dugaan bahwa jauh sebelum abad ke-14 komunitas Muslim dari berbagai belahan dunia sudah memiliki kontak dengan masyarakat di Tatar Sunda bisa jadi benar. Tentu saja ini perlu pembuktian lebih lanjut melalui penelusuran bukti-bukti sejarah baru dari wilayah Tatar Sunda yang sampai saat ini masih terbatas.

Ketiga, tumbuhnya komunitas Islam di Nusantara, baik di wilayah pesisir maupun pedalaman. Fase ini berlangsung antara abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi. Di beberapa wilayah pesisir Sumatera, pada fase ini bahkan sudah muncul beberapa kerajaan Islam awal. Sementara di Tatar Sunda sendiri, seperti sudah dijelaskan di atas, kemungkinan besar sudah muncul komunitas Muslim di wilayah pesisir utara Jawa Barat (Cirebon, Karawang, dan sekitarnya). Bila nama-nama seperti Syekh Quro dan lainnya sudah muncul, berarti sudah tumbuh komunitas Muslim di sana. Bahkan bila merujuk kepada mitos tentang Kean Santang, anak Prabu Siliwangi, yang masuk Islam, komunitas Muslim di Tatar Sunda besar kemungkinan sudah masuk pula ke pusat-pusat kekuasaan Kerajaan Sunda Pajajaran.

Keempat, pelembagaan Islam yang ditandai tumbuhnya pusat-pusat kekuatan politik dan kesultanan Islam di Nusantara yang terjadi pada antara abad ke-13 hingga abad ke-16 Masehi. Di Tatar Sunda pada periode ini sudah muncul Islam yang paling penting, yaitu Cirebon dan Banten. Ini menandai puncak penyebaran Islam di kawasan ini. Saat kerajaan Cirebon muncul, kerajaan Sunda sampai pada masa kehancurannya karena berbagai faktor eksternal dan internal. Pada masa ini, kerajaan-kerajaan Islam pun sudah berhadapan dengan kekuatan kolonialisme Eropa.

Kelima, surutnya kharisma dan kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam berganti dengan munculnya dominasi ekonomi, politik, dan militer Eropa. Pada masa ini mulai ada usaha de-Islamisasi yang dilakukan oleh Belanda melalui berbagai gerakan, baik sosial, politik, maupun kebudayaan. Gerakan de-Islamisasi politik dilakukan dengan cara tidak memberlakukan kembali sistem perundangan berdasarkan syari’at Islam yang digunakan oleh kerajaan-kerajaan Islam, termasuk di Banten dan Cirebon. Secara sosial, usaha-usaha Kristenisasi sampai pada taraf tertentu dilakukan sangat agresif di wilayah-wilayah mayoritas Islam. Melalui kebudayaan, timbul usaha-usaha untuk memisahkan Islam dari kebudayaan lokal. Kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat Sunda, dengan dalih “melestarikan” budaya, sebisanya dibentur-benturkan dengan ke-Islam-an yang dianut mayoritas msyarakat Sunda. Sekalipun kelihatannya untuk kasus Sunda masih relatif sulit untuk sampai ke sana sebagaimana akan dijelaskan pada sub bab berikut ini.

2. ISLAMISASI SUNDA PERSPEKTIF KEBUDAYAAN

Bila dalam konteks sejarah, jejak Islamisasi Sunda secara tertulis agak sulit didapatkan karena data-data sejarah yang terbatas, justru saat ini artefak-artefak kebudayaan Sunda amat melimpah. Artefak kebudayaan itu dapat disaksikan dari artefak-artefak berupa bangunan fisik, perilaku dan adat-istiadat urang Sunda, dan warisan sastra yang cukup melimpah. Artefak tersebut sebagian besar tentu berakar dari zaman yang dekat. Sebagian kecil berusia sampai ratusan tahun ke belakang.

Artefak dan perilaku budaya merupakan salah satu tanda (sign) tentang adanya suatu pemikiran tertentu yang sangat mungkin dipengaruhi oleh kepercayaan tertentu pula. Islamisasi yang merupakan proses mental dan pemikiran, tentu akan amat berkait dengan artefak dan perilaku budaya ini. Oleh sebab itu, analisis terhadap kebudayaan Sunda akan dapat lebih mendekatkan kita kepada intensitas Islamisasi di Tatar Pasundan. Analisis ini juga akan sangat membantu kelemahan yang ditinggalkan analisis kesejarahan yang sampai saat ini masih terus harus berjuang mengumpulkan sumber-sumber yang banyak.

1. Mitos Islamisasi Urang Sunda

Analisis pertama akan kita lihat bagaimana sikap orang Sunda terhadap ajaran Islam yang dianutnya. Suatu sikap masyarakat terhadap sesuatu terkadang dapat ditunjukkan oleh mitos apa yang hidup dan dipercayai masyarakat. Mitos bukan hanya sekadar dongeng dan khayalan, melainkan kisah (sekalipun khayalan) yang menjadi kepercayaan suatu masyarakat. Mitos memang tidak memiliki fakta yang jelas dan bisa dibuktikan sehingga mitos selalu menjadi antonim dari “ilmu pengetahuan” (sciences) dan “kenyataan” (reality).  Sekalipun sama-sama merupakan cerita tidak berdasar, mitos dibedakan dari legenda dan karangan fiksi. Legenda dan ceriata fiksi lain sudah disadari sejak semua sebagai cerita yang tidak berdasar. Sedangkan mitos, secara tidak sadar dipercayai sebagai suatu realitas yang nyata bagi orang yang mempercayainya sehingga berpengaruh pada perilakunya.

Walaupun apa yang diceritakan dalam mitos tidak memiliki kebenaran (have no truth) secara ceritanya, tapi justru adalah sebuah kenyataan bahwa mitos “dipercayai oleh masyarakat yang mempercayainya”. Oleh sebab itu, objektivikasi mitos bukan pada “kisah”-nya, melainkan pada “sikap mental” masyarakat atau orang yang mempercayainya. Mitos yang berkembang pada suatu masyarakat dapat digunakan sebagai alat analisis untuk melihat bagaimana sikap mental masyarakat terhadap sesuatu yang menjadi fokus dari kisah mitos itu. Salah satunya, untuk memahami bagaimana urang Sunda memaknai Islam yang dianutnya dapat kita pahami dengan baik salah satu mitos paling populer mengenai Islamisasi tatar Sunda.

Mengenai Islamisasi Tatar Sunda, mitos yang paling populer adalah mengenai Kean Santang. Secara singkat, mitos tentang Kean Santang adalah sebagai berikut.

Kean Santang bernama asli Gagak Lumayung. Ia merupakan anak dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, yang juga panglima besar Pajajaran yang tidak pernah dikalahkan oleh siapa pun di seluruh Jawa. Ia tidak pernah terluka meskipun telah mengarungi banyak pertempuran. Inilah sebabnya, dalam wawacan disebutkan, ia belum pernah melihat darahnya sendiri. Untuk itu, ia berpamitan kepada ayahandanya, Prabu Siliwangi, untuk bertapa mencari petunjuk bagaimana ia dapat melihat darahnya sendiri. Kean Santang pernah mendengar adanya orang yang amat sakti di Mekah, bernama Baginda Ali. Tetapi ia tidak mengetahui di mana Mekah itu.

Dalam pertapaannya ia mendapatkan petunjuk untuk mengganti namanya menjadi Garantang Setra. Dengan ilmu tapak kancang atau berjalan di atas air, Kean Santang menuju arah barat. Sampailah ia di Mekah. Ia bertemu dengan Baginda Ali yang menyamar menjadi orang tua. Baginda Ali kemudian memberikan ujian pertama kepada Kean Santang, yaitu mengambil sisirnya yang tertinggal. Kean Santang berhasil menemukan sisir itu, namun ketika mau diambil, sisir itu masuk ke dalam tanah. Kean Santang tak berhasil memegangnya. Bginda Ali menasihati agar Kean Santang mengucapkan Basmalah. Sisir dapat diambil.

Kean Santang diajak Baginda Ali untuk ikut mendirikan tiang masjid di Mekah. Di sinilah ia bertemu dengan Nabi. Kean Santang masuk Islam dan diberi nama Sunan Rahmat. Ia ingin tetap berada di Mekah, tetapi Rasulullah mengangkatnya sebagai Wali untuk mengislamkan pulau Jawa.Nabi menyuruh Kean Santang mengucapkan Kalimah kalih (syahâdatain) sambil memejamkan mata, maka tiba-tiba ia sudah sampai di tanah Jawa, bahkan di Pakuan.

Kean Santang alias Sunan Rahmat alias Sunan Bidayah menghadap ayahandanya Prabu Siliwangi dan memintanya untuk masuk Islam. Tetapi raja Pajajaran ini menolak. Juga ketika Kean Santang menunjukkan dirinya sebagai wawakil Nabi untuk mengislamkan Pajajaran di atas materai batu datar dengan huruf Jawa. Namun demikian, Prabu Siliwangi tidak menghalangi atau melarang anaknya untuk menyebarkan Islam. Untuk menghindari konflik kepentingan dengan anaknya, akhirnya Prabu Siliwangi memilih untuk melenyapkan diri (ngahiyang), keratin Pakuan Pajajaran ia ubah menjadi hutan rimba. Sementara Para raja yang lain, para menteri, dan para bupati berubah menjadi harimau dan menghuni hutan Sancang.

Kean Santang berkeliling Tatar Sunda mengislamkan masyarakat dari satu kampung ke kampung lain. Pada mulanya di Tegal Leles Cipancar, kean santang mengkhitan seorang penduduk ketika masuk Islam, namun karena belum tahu bagaimana mengkhitan, penduduk kampong tersebut meninggal dunia akibat dipiting seluruh kemaluannya. Kean Santang kemudian menghadap kembali Nabi dan diajari bagaimana mengkhitan orang.

Setelah mengislamkan seluruh Tatar Sunda, Kean Santang menghadap lagi Nabi dan memohon untuk menetap di Mekah. Namun, Nabi tidak mengizinkannya dan tetap memberinya tugas sebagai wali di Pulau Jawa.

Cerita (wawacan) seperti di atas tersebar hampir di seluruh wilayah di Tatar Sunda dengan cerita yang kadang-kadang tidak selalu sama. Kalau nama Kean Santang dikenal di daerah Priangan, di Cirebon dan sekitarnya tokoh Kean Santang ini dikenal dalam Babad Cirebon sebagai Pangeran Walangsungsang. Selain namanya yang berbeda, hampir semua ceritanya, terutama mengenai pertemuan dengan Nabi, tidak terlalu berbeda. Sekalipun berbeda nama penyebar Islam, namun dalam semua cerita bahwa tokoh itu adalah anak Prabu Siliwangi.

Menarik bahwa proses Islamisasi dalam mitos yang hidup di kalangan masyarakat Sunda semuanya dikaitkan dengan Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi adalah tokoh yang juga hanya hidup dalam mitos masyarakat Sunda. Ia dianggap sebagai raja Sunda yang paling adil, bijaksana, dan sekaligus menjadi raja Sunda terakhir sebelum datangnya Islam. Karena keadilannya itu, Prabu Siliwangi menjadi legenda masyarakat Sunda. Namun siapakah Raja Sunda yang disebut-sebut sebagai Siliwangi itu? Tidak ada kata sepakat di kalangan para peneliti. Ada banyak versi mengenai sosok Prabu Siliwangi ini.

Mengenai siapa Prabu Siliwangi ini Edi S. Ekadjati menyimpulkan bahwa dimungkinkan yang dimaksud adalah Raja Niskala Wastukancana (1371-1475) yang berkedudukan di keraton Surawisesa di ibu kota Kawali (Galuh) atau Raja Sri Baduga Maharaja (1482-1521) yang berkedudukan di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati di ibukota Pakuan (Pajajaran); atau bisa juga yang dimaksud adalah keduanya. Keduanya merupakan raja-raja Sunda yang berhasil membawa kerajaan Sunda ke puncak kejayaannya hingga dikenang oleh masyarakat Sunda. Walaupun secara historis tidak ditemukan raja Sunda benama, bergelar, atau berjuluk Siliwangi, masyarakat Sunda pada umumnya percaa bahwa tokoh ini sungguh-sungguh merupakan tokoh historis kebanggaan masyarakat Sunda.  Bagi sebagian kalangan, tokoh Siliwangi ini bukanlah kedua orang di atas, melainkan tokoh yang benar-benar ada sebagai “Siliwangi” sekalipun tidak bisa dibuktikan secara historis keberadaannya.

Begitu melegendanya Prabu Siliwangi, sampai-sampai proses Islamisasi Tatar Sunda, dalam kepercayaan masyarakat Sunda pun harus dikaitkan dengan tokoh ini. Dengan mengaitkannya pada Prabu Siliwangi, masyarakat Sunda ingin menunjukkan bahwa keberadaan Islam pun sama pentingnya dengan keberadaan Prabu Siliwangi. Bahkan dalam kisah lain ada yang mempercayai bahwa Prabu Siliwangi inilah yang pertama masuk Islam dan menyebarkannya kepada masyarakat Sunda, bukan anaknya Kean Santang atau Walangsungsang.

Bagaimanapun dan siapapun Prabu Siliwangi adanya, cerita mengenai Islamisasi tanah Sunda yang dikaitkan dengannya seperti terkandung dalam cerita di atas menunjukkan kepada kita beberapa hal. Pertama, secara kebudayaan urang Sunda merasa bahwa menjadi Islam adalah suatu keharusan disebabkan ini merupakan “amanat” sang Prabu Siliwangi yang mereka hormati melalui anaknya Kean Santang. Ngahiyang-nya Prabu Siliwangi menandakan bahwa kepercayaan sebelum datangnya Islam sudah benar-benar hilang dibawa bersama hilangnya Prabu Siliwangi yang tidak meninggalkan jejak dan bekas apapun kecuali alam yang kembali pada asalnya (hutan belantara) sebagai pertanda bahwa ajaran yang dibawa Prabu Siliwangi pun sudah kembali ke asalnya, tanpa meninggalkan bekas apapun.

Kedua, kisah Islamisasi dalam mitos urang Sunda di atas pun ingin menunjukkan bahwa Islam datang ke wilayah ini secara damai. Tidak ada perang dan pertumpahan darah. Saat anaknya memutuskan untuk memeluk dan menyebarkan Islam, sang ayah memutuskan untuk tidak terlibat dalam proses sejarah yang akan menyebabkan konflik dengan cara ngahiyang. Proses “ngahiyang” dalam konsep Hindu sebanding dengan moksa. Dengan ngahiyang-nya Prabu Siliwangi yang merupakan puncak tujuan kehidupan dalam keyakinan Hindu, posisi Prabu Siliwangi yang Hindu ditempatkan pada posisinya yang paling terhormat.Ia tetap dihormati, sekalipun memilih untuk tidak masuk Islam. Kalau kisah mengenai ke-Islaman Prabu Siliwangi juga dipercayai oleh masyarakat Sunda, proses Islamisasi menunjukkan prosesnya yang lebih damai lagi. Dalam versi cerita ini, Islam bahkan dianut oleh sosok yang sangat dihormati masyarakat Sunda.

Secara hostoris sesungguhnya sempat tercatat konflik berdarah antara Raja Samiam (Raja Sunda-Pajajaran terakhir) dengan Maulana Yusuf dari Kasultanan Banten tahun 1579 M yang mengakhiri supremasi kerajaan Pajajaran di Tatar Sunda. Akan tetapi, cerita ini hanya ditemukan dalam catatan sejarah Sunda-Banten. Dalam tradisi masyarakat, baik di Banten maupun di Priangan dan Cirebon, kisah ini tidak hidup. Ini menandakan bahwa perang di antara kedua kerajaan itu, bagi masyarakat dipandang hanya sekadar konflik politik biasa yang tidak berhubungan dengan keyakinan mereka. Oleh sebab itu, tradisi yang hidup tetap tentang proses penyebaran Islam yang damai.

Ketiga, melalui mitos ini urang Sunda ingin meyakinkan bahwa Islam yang datang pada mereka adalah Islam yang asli berasal dari pembawanya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Selain itu, mitos ini juga semacam pernyataan mentalitas urang Sunda yang siap untuk menerima apa saja yang berasal dari pembawa ajaran Islam, Nabi Muhammad Saw. Sikap mental semacam ini menjadi penting dalam proses dakwah Islam di Tatar Sunda pada masa-masa intensifikasinya yang ditandai dengan berdirinya berbagai lembaga pendalaman Islam seperti mesjid dan pesantren di seluruh wilayah Tatar Sunda. Karena merasa bahwa Islam yang dianut mereka berasal langsung dari Nabi Saw., saat diperkenalkan sedikit demi sedikit ajaran-ajaran Islam lebih lanjut, masyarakat Sunda cenderung lebih mudah menerimanya.

Demikian lebih kurang hal-hal yang bisa ditafsirkan dari mitos Kean Santang yang tersebar di masyarakat Sunda. Mitos tetaplah mitos. Dia bukan merupakan fakta sejarah. Namun, ketika mitos itu dihubungkan dengan realitas historis, mitos ini menunjukkan adanya kesadaran sejarah tertentu—seperti yang dijelaskan di atas—yang melekat dalam diri masyarakat pendukungnya yang dalam hal ini masyarakat Sunda. Secara kebudayaan, fakta ini menunjukkan mengenai bagaimana sikap urang Sunda terhadap Islam yang datang setelah sebelumnya mereka mengenal ajaran animism-dinamisme dan Hindu-Budha. Sikap inilah yang dapat membuka pemahaman kita mengenai mengapa urang Sunda menjadikan sebagian identitasnya adalah Islam hingga muncul istilah “Islam teh Sunda; Sunda teh Islam”(Islam itu Sunda; Sunda itu Islam).

2. Falsafah Hidup Urang Sunda

Bila mitos di atas dapat berguna untuk menjelaskan bagaimana pada tahap awal urang Sunda dapat menerima Islam, maka penjelasan mengenai falsafah hidup jurang Sunda saat ini penting untuk memahami betapa intensifnya hubungan Islam dan Sunda hingga saat ini. Apabila falsafah hidup yang dianut ternyata mendapat pengaruh kuat dari Islam, maka hampir dapat dipastikan bahwa Islam telah meresap menjadi bagian tak terpisahkan dari kebudayaan masyarakat Sunda. Inilah yang akan digali pada bagian ini.

Menggali falsafah hidup tentu saja harus diambil dari keseharian kehidupan masyarakat Sunda. Jejak-jejak budaya yang hidup sehari-hari-lah yang akan memberikan banyak informasi mengenai bagaimana urang Sunda mendefinisikan kehidupannya dan bagaimana mereka harus menjalaninya. Salah satu jejak budaya yang cukup representatif untuk menggambarkan mengenai falsafah hidup yang dianut urang Sunda adalah warisan peribahasa dan pepatah yang hidup di tengah masyarakat. Dalam bahasa Sunda yang demikian disebut paribasa dan babasan.

Di balik peribahasa dan pepatah itu tentu tersimpan suatu pandangan hidup tertentu (worldview). Pandangan hidup inilah yang menjadi kerangka dasar masyarakat yang bersangkutan melihat dan menafsirkan berbagai realitas yang dihadapinya. Di sini pula dengan segera akan ditemukan sejauh mana Islam berpengaruh membentuk pandangan hidup masyarakat Sunda.

Berkait dengan peribahasa, ada dua buku penting yang dapat dijadikan rujukan, yaitu buku Mas Natawisastra berjudul Saratus Paribasa jeung Babasan (cet. I thn. 1914; cet. II 1978) terdiri atas lima jilid. Buku lainnya ditulis Samsoedi Babasan jeung Paribasa Sunda yang terbit tahun 1950-an. Dalam kedua buku tersebut termuat lebih dari 500 peribahasa Sunda. Seluruhnya mewakili apa yang berkembang di tengah masyarakat Sunda.

Menurut Ajip Rosidi, dari lebih 500 peribahasa, yang secara langsung kosakatanya meminjam peristilahan Islam hanya ada sekitar 16 peribahasa. Sisanya tidak meminjam peristilahan khusus Islam. Di antara babasan yang ada kaitan langsung dengan Islam antara lain: Kokoro manggih Mulud, puasa manggih Lebaran (Orang melarat bertemu perayaan Maulid Nabi, yang berpuasa bertemu dengan Lebaran), Jauh ke bedug (Jauh ke suara bedug di mesjid), dan sebagainya. Sementara peribahasa lain umumnya menggunakan peristilahan yang umum dalam masyarakat Sunda dan tidak kaitannya secara langsung dengan Islam contohnya antara lain: cul dog-dog tinggal igel (menari tanpa diiringi lagi musik pengiring), kandel kulit beungeut (tebal kulit muka), dan sebagainya.

Berdasarkan bacaan Rosidi, sekalipun peribahasa dan pepatah yang dibuat tidak secara langsung menyerap istilah yang ada kaitan dengan kebiadayaan Islam seperti tajug (mesjid), mulud (perayaan Maulid Nabi), lebaran, puasa, dan semisalnya bukan berarti makna yang terkandung di dalamnya juga tidak ada kaitan dengan Islam. Justru setelah keseluruhan pepatah dibaca dan beberapa sampel pepatah dicontohkan, Rosidi menyimpulkan:

Dengan demikian walaupun jumlah peribahasa yang tampak Islami tidak banyak, namun kalau diteliti lebih lanjut, kebanyakan peribahasa Sunda ternyata mengandung nilai-nilai yang sesuai dengan ajaran Islam. Dengan demikian, pendapat yang pernah dikemukakan oleh almarhum H. Endang Saifudin Anshari, MA bahwa “Islam teh Sunda, Sunda teh Islam” tidaklah bertentangan dengan hasil pengamatan terhadap peribahasa Sunda.

Dalam kesimpulannya Rosidi setuju dengan pendapat Endang Saefudin Anshary bahwa sesungguhnya antara Islam dengan Sunda tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan yang hidup di tengah masyaraqkat Sunda adalah kebudayaan yang telah mendapat sentuhan Islam sangat kuat hingga ajaran-ajaran Islam, sekalipun tidak harus dieksplisitkan ayat dan hadisnya, telah membentuk pandangan hidup masyarakat Sunda. Tentu saja Sunda yang dimaksud adalah kebudayaan Sunda kontemporer yang telah mengalami Islamisasi amat intensif.

Sebagai contoh, ada peribahasa dalam bahasa Sunda mun teu ngarah moal ngarih, mun teu ngakal moal ngakeul, mun teu ngoprek moal nyapek (kalau tidak berusaha takkan mungkin mengangi nasi, kalau tidak menggunakan akal tak nanti menanak nasi, kalau tidak bekerja tidak akan mungkin bisa makan). Perihabasa ini mencerminkan bagaimana orang Sunda mengajarkan bahwa hidup harus dihadapi dengan usaha dan ikhtiar, tidak boleh berpangku tangan. Sekalipun kata-kata yang digunakan tidak menggunakan istilah Islam, namun pepatah ini amat sesuai dengan ajaran Islam yang memerintahkan untuk berusaha dan berikhtiar.

Akan tetapi, dalam kenyataan keseharian kehidupan masyarakat Sunda, ada saja adat yang kelihatannya tidak mencerminkan perilaku yang dipengaruhi Islam. Bisa jadi adat tersebut maih dipengaruhi oleh ajaran-ajaran pra-Islam. Hal demikian adalah wajar mengingat proses Islamisasi adalah proses “menjadi” yang mungkin saja di satu tempat sudah berubah sementara di tempat lain belum. Karya H. Hasan Mustapa, Adat Istiadat Sunda. Dalam buku ini, Mustapa yang tokoh intelektual Muslim Sunda abad ke-19, memberikan penjelasan mengenai berbagai adat kebiasaan yang dikerjakan masyarakat Sunda mulai adat saat melahirkan, mengkhitan, menikahkan, menanam, kematian, dan sebagainya.

Dalam penjelasannya Mustapa menunjukkan apa pengaruh dan falsafah yang ada di balik kebiasaan itu. Ada adat yang memang berkenaan dengan kepercayaan pra-Islam, ada pula yang sudah menunjukkan pengaruh ajaran Islam. Sebagai seorang intelektual Muslim, Mustapa secara proporsional menempatkan adat kebiasaan urang Sunda yang dituliskan dalam kerangka pandangan hidupnya sebagai Muslim. Dari sisi sumber intelektual, sebetulnya karya Mustapa ini juga sudah menunjukkan secara tidak langsung bahwa tokoh-tokoh intelektual Sunda seperti dirinya pada abad ke-19 sudah memiliki pengaruh yang kuat dari Islam. Ini berarti bahwa Islam sudah menjadi salah satu referensi inetelektual yang penting sehingga adat kebiasaan yang berlaku pun ditimbang dalam kerangka Islam.

Mengenai persoalan ada sebagian masyarakat yang lebih memegang adat daripada pengajaran baru, di dalam falsafah masyarakat Sunda sendiri sudah disadari sejak awal. Ini tercermin dari peribahasa kuat adat batan warah (lebih kuat adat daripada pengajaran). Ini menunjukkan bahwa adat bukanlah harga mati. Bisa jadi, dengan datangnya pengajaran baru adat akan berubah. Namun seringkali orang yang sudah telanjur memagang adat tidak dapat dengan mudah meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya hanya karena ada pengajaran baru.

3. KESIMPULAN

Memahami Islamisasi di Tatar Sunda hanya melalui pendekatan sejarah yang konvensional segera dihadapkan pada kesulitan mendapatkan data mengenai detail Islamisasi. Data-data historis hanya menyebutkan beberapa tokoh dengan kiprah mereka yang terbatas. Bagaimana tokoh-tokoh tersebut melakukan Islamisasi sulit dilacak. Hanya angka-angka tahun umum yang didapat yang menunjukkan kapan Islamisasi secara intensif di Tatar Sunda berlangsung, yaitu sekitar abad ke-15 dan ke-16 sejak masa Sunan gunung Djati. Itu pun tidak lengkap. Melalui penggalian data-data baru secara terus menerus masih terbuka kesempatan untuk semakin memperjelas proses Islamisasi Tatar Sunda secara historis.

Walaupun tidak jelas secara historis, kenyataan bahwa ke-Islam-an dan ke-Sunda-an hampir tidak dapat dipisahkan menunjukkan bahwa telah terjadi proses Islamisasi yang sangat intensif di wilayah Jawa bagian barat ini. Oleh sebab itu, diperlukan perangkat analisis lain untuk menjelaskan bagaimana hal ini dimungkinkan terjadi. Pendekatan kebudayaan dengan menganalisis teks-teks mitos dan pepatah-peribahasa yang hidup untuk menggali makanya secara kebudayaan dapat membantu kita memahami intensifnya Islamisasi di Tatar Sunda. Mitos-mitos menunjukkan bahwa mentalitas masyarakat Sunda memang sudah sangat siap menerima Islam hingga Islam mudah disebarkan di wilayah ini dan berakar sangat dalam dalam kebudayaan masyarakat. Falsafah yang tercermin dalam berbagai pepatah dan peribahasa urang Sunda menunjukkan betapa dalam pengaruh Islam bagi kehidupan mereka.

Penerimaan yang baik terhadap Islam inilah yang menyebabkan Islam dengan mudah tersebar ke seluruh pelosok Tatar Sunda. Hampir tidak ada wilayah yang tidak tersentuh Islamisasi. Bahkan ke pedalaman Banten pun yang sukunya Baduy Dalam mengaku beragama “Sunda Wiwitan” sebetulnya Islam sudah sampai dan diterima di sana. Hanya saja, Islam yang sampai ke Baduy baru ajaran dasarnya saja, yaitu syahadatain. Hal ini dapat dilihat dari praktik ajaran Sunda Wiwitan yang mereka anut. Mereka mengucapkan syahadatain yang sangat khas Islam. Mereka pun mengakui bahwa sebetulnya mereka sudah menerima Islam, tetapi hanya kabagean Sahadatna wungkul, hanya mendapatkan Sahadatnya saja, sedangkan ketentuan lain seperti shalat, puasa, dan sebagainya tidak mereka ketahui. Ini menandakan sudah ada usaha menyebarkan Islam ke kawasan Baduy, hanya saja prosesnya terhenti entah karena alasan apa. Sangat mungkin, faktor geografis yang tidak mudah dijangkau membuat proses Islamisasi di wilayah ini tidak berlanjut.

Melihat kenyataan tentang Islamisasi yang intensif di wilayah ini, hal lain yang harus menjadi catatan dan didalami lebih lanjut adalah mengenai bagaimana para pendakwah Islam dapat menyebarkan Islam di wilayah ini dengan baik. Tentu ada strategi khusus hingga apa yang mereka bawa, sekalipun ajaran baru, dapat diterima dengan baik, damai, dan tanpa gejolak. Dugaan sementara yang masih harus terus didalami, para pendakwah Islam saat itu berhasil masuk ke dalam urat nadi masyarakat Sunda melalui pendekatan budaya yang intensif, selain melalui perdagangan dan politik seperti yang selama ini dipercayai oleh banyak sarjana mengenai proses Islamisasi di Nusantara. Bukti yang paling sementara ini paling meyakinkan adalah bertebarannya berbagai teks sastra (wawacan) yang berisi ajaran-ajaran Islam. Biasanya teks-teks wawacan itu akan menjadi bahan yang disampaikan kepada khalayak melalui forum-forum kebudayaan yang hidup saat itu.

Saat ini masih ada budaya membaca wawacan yang tersisa seperti tradisi Beluk dan Sawer dalam upacara pernikahan. Saat ini, kedua tradisi itu bukan lagi merupakan praktik budaya yang berpengaruh bagi urang Sunda modern. Akan tetapi, masih tersisanya tradisi melagukan wawacan menandakan bahwa di masa lalu praktik budaya semacam itu cukup penting sebagai media menyampaikan ajaran-ajaran tertentu, salah satunya ajaran Islam. Kreativitas mengemas pesan-pesan dakwah melalui media budaya yang hidup pada zamannya inilah yang diduga menjadi salah satu yang menyebabkan Islam mudah diterima di kalangan masyarakat Sunda. Sekali lagi, ini perlu pengkajian lebih lanjut. Wallâhu a’lam bi al-Shawwâb.

Sumber dan Daftar Pustaka : jejakislam.net

Islamisasi Tatar Sunda: Perspektif Sejarah dan Kebudayaan

Islamisasi Tatar Sunda: Perspektif Sejarah dan Kebudayaan Oleh: Tiar Anwar Bachtiar, Ketua Umum PP Pemuda Persis / Doktor Sejarah FIB UI Tat...

 

© 2015 - Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile