Selasa, 28 Juli 2015



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Senin, 27 Juli 2015, Rapat Pimpinan DPP FPI di Jakarta sepakat membentuk POSKO TOLERANSI sebagai LSM yang bergerak di bidang Advokasi dan Litigasi untuk Anti Diskriminasi, Intimidasi dan Intoleransi.

MAKNA LAMBANG

POSKO TOLERANSI mengambil lambang Tiga Lengan yang saling berpegangan. Tiga menunjukkan gotong royong tidak sendiri, dan saling berpegangan isyarat pentingnya persatuan dan kebersamaan. Dan dalam bentuk segitiga adalah ciri khas Lambang FPI, sehingga dalam prinsip perjuangan POSKO TOLERANSI harus selaras dengan ajaran Islam yang Rahmatan Lil 'Aalamiin.

TIGA WARNA Hijau, Merah dan Kuning, merupakan isyarat bahwasanya ada perkara yg wajib toleransi (HIJAU) seperti hubungan antar umat beragama, tapi ada juga yang tidak boleh toleransi (MERAH) seperti pencampur-adukan agama, dan ada juga yang mesti hati-hati terhadap penyalah-gunaan toleransi (KUNING).

SEPARASI WARNA dari Muda menjadi Tua Mengisyaratkan perjuangan POSKO TOLERANSI mulai dari cara yang paling halus dan lembut hingga cara yang tegas dan lugas.

Warna-Warni hanya dengan TIGA WARNA DASAR Hijau, Merah dan Kuning untuk menunjukkan kemajemukan, tapi tanpa Warna Pelangi, karena Pelangi sering digunakan sebagai Lambang LGBT.

MEKANISME PELAPORAN

Bagi umat Islam yang hendak melapor ke POSKO TOLERANSI agar melengkapi Data dan Dokumen serta Foto yang memperkuat laporannya, agar secara hukum memenuhi syarat untuk diproses.

Hal-hal yang perlu dilaporkan, antara lain :

1. Semua peraturan di Daerah Mayoritas Non Muslim yang melarang umat Islam menjalankan ibadah dan syariatnya.

2. Semua perlakuan di Daerah Mayoritas Non Muslim yang mempersulit umat Islam dalam pengurusan apa saja terkait ibadah mau pun hajat hidupnya.

3. Semua tindakan aparat mau pun warga di Daerah Mayoritas Non Muslim yang mengganggu umat Islam atau menodai ajaran Islam.

4. Semua kejadian dan peristiwa di Daerah Mayoritas Non Muslim yang merugikan umat Islam mau pun ajaran agamanya.

5. Semua aturan dan tindakan serta kejadian yang menyuburkan Intoleransi dan Diskriminasi serta Intimidasi terhadap umat Islam di Daerah Mayoritas Non Muslim, sekecil apa pun.

STRUKTUR PENGURUS

Ketua : Mirza Zulkarnaen, SH, MH ( 085217787861 ), Email : zulkarnaen.mirza@yahoo.com
Wakil ketua  1 : Aziz Yanuar, SH, MM ( 085310869063 )
Wakil Ketua 2 : Ustadzah Lulu Assegaf ( 081381481481 )
Sekretaris : Slamet Ma’arif, S.Ag, MM ( 081511777313 )
Bendahara : M. Ruhu Nussa, SH ( 081310009763 )

Kordinator Wilayah
1. Sulawesi : Sugiyanto ( 081245414906 ) Ponco ( 082331859923 )
2. Maluku : Ikhwan Tuan Kota, SH, MH ( 08159793937 )
3. Papua  : Anderson Maege ( Ust Ahmad Maege ) ( 081344564488 ): Ust. Fadlan Qoromitan ( 081319142952 )
4. Bali : I Bagus Mayura ( 08128989809 )
5. Sumut : Matsuni Kaloko ( 081283353498 )
6. NTT : Ust Ishaq Dapu Peang ( 081315949992 )
7. Kalbar : Sayyid Kurniawan 0813 4527 6118 & Ust. Syahroni 081333172998
8. Kaltim : Ust. Didit 081346437255

POSKO TOLERANSI akan bentuk Koordinator Wilayah di semua Daerah di seluruh Indonesia, termasuk Kalteng dan Kaltara serta lainnya.

Info selanjutnya silakan hubungi Sekretariat POSKO TOLERANSI.


Posko Toleransi Terbentuk

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Senin, 27 Juli 2015, Rapat Pimpinan DPP FPI di Jakarta sepakat...

Senin, 27 Juli 2015



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Dalam artikel kemarin, telah dipaparkan bahwasanya pemerintah RI wajib mewaspadai gerak langkah GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) di Papua yang kental dengan aroma TEROR.

Lalu, di akhir artikel kemarin muncul pertanyaan : "Apakah GIDI patut disebut TERORIS dan Gerakannya layak disebut sebagai AKSI TERORISME ???"

ANALISA ICAF

Koordinator Indonesia Crime Analyst Forum (ICAF) yang aktif menjadi Pengamat Terorisme, Mustofa B Nahrawardaya, menyatakan bahwa GIDI telah memenuhi semua kritera organisasi teroris dan tindakan terorisme yang dibuat oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), antara lain :

1. Ada IDEOLOGI yang mendorong pelaku untuk melakukan AKSI TEROR.

2. Ada EFEK BERANTAI berupa kekacauan massal dan ketakutan meluas akibat AKSI TEROR para pelaku.

3. Ada JARINGAN LUAS yang terorganisir bagi bara pelaku AKSI TEROR.

4. Ada PENDANAAN TEROR yang didapat atau dikeluarkan para pelaku dalam AKSI TEROR nya.

5. Ada PENGHINAAN NEGARA yang dilakukan oleh para pelaku AKSI TEROR.

Karenanya, ICAF mengusulkan agar GIDI segera dibubarkan dan dimasukkan dalam Daftar Terorisme Internasional, serta rekening Banknya dibekukan dan asetnya disita, sedang pimpinannya harus ditangkap.

Demikian yang dikemukakan oleh Mustafa Mustofa B Nahrawardaya saat berbincang dengan sejumlah media Islam di Jakarta, Kamis (22/07)

TEMUAN TPF INDEPENDEN

Tim Pencari Fakta (TPF) Independen untuk Tragedi Tolikara - Papua, yang dibentuk oleh Gabungan Ormas-Ormas Islam , setelah melakukan tugas investigasinya secara langsung di Tolikara, melaporkan sebagaimana tersebar di sejumlah Media Sosial sebagai berikut :

1. Bahwa yang pertama kali dibakar adalah MASJID bukan kios.

2. Bahwa yang pertama kali dilempari batu adalah MUSLIM bukan Kristen.

3. Bahwa TNI dan Polri sudah melaksanakan prosedur pengamanan dengan baik.

4. Bahwa GIDI memainkan HUKUM ADAT sebagai alat untuk merampas tanah-tanah yang ada di PAPUA.

5. Bahwa GIDI atas nama HUKUM ADAT pula menciptakan Perda Anti Jibab, Anti Masjid dan Anti Syariat Islam yang sangat RASIS dan FASIS serta penuh dengan aroma Intoleransi, Diskriminasi dan Intimidasi.

Akhirnya, TPF Independen menyimpulkan dengan yakin tanpa keraguan bahwasanya GIDI adalah TERORIS ZIONIS yang bukan hanya menistakan Islam, namun ia juga telah menistakan Kristen, bahkan menistakan seluruh Bangsa dan Rakyat Indonesia.

Karenanya, TPF Independen merekomendasikan kepada Pemerintah RI untuk menangkap dan menahan serta mengadili dan menghukum seberat-beratnya :

1. Presiden GIDI, sebagai AKTOR UTAMA Tragedi Tolikara.

2. Bupati Tolikara, sebagai ketua pelaksana KKR dan Korlap Peristiwa Tolikara.

3. Semua orang yang melempari batu para muslim yg sedang Shalat Idul Fithri dan membakar Masjid.

KESIMPULAN

Dengan aneka temuan Fakta dan Data yang akurat dan valid, maka tidak diragukan dan tidak bisa dipungkiri bahwa GIDI adalah TERORIS ZIONIS INTERNASIONAL yang sangat berbahaya.

Kini, sudah tiba saatnya Pemerintah RI melalui BNPT untuk segera menggalakkan PROGRAM DERADIKALISASI di Gereja-Gereja dan di seluruh masyarakat Kristen, untuk membersihkan dan memastikan serta menjamin bahwa semua warga Kristen di Indonesia tidak terkontaminasi dengam VIRUS TERORIS GIDI.

Bahkan BNPT juga sudah saatnya untuk menggalakkan PROGRAM DERADIKALISASI ke semua umat beragama, tanpa pandang bulu, karena radikalisme ada pada semua umat beragama, temasuk Hindu dan Budha serta Khong Hu Chu.

Dan sudah tiba pula saatnya DENSUS 88 agar secepatnya merazia Gereja-Gereja serta Lembaga-Lembaga Missionaris Nasional mau pun Internasional di seluruh Indonesia untuk sikat habis VIRUS TERORIS GIDI dari Bumi NKRI.

Bahkan kini sudah saatnya pula TNI bertindak tegas di PAPUA untuk menjamin keutuhan persatuan dan kesatuan NKRI dari rongrongan TERORIS GIDI yang menjadi SARANG OPM sekaligus menjadi ANTEK ZIONIS ISRAEL.

TNI dan POLRI wajib "SWEEPING LAMBANG ZIONIS ISRAEL" dari seluruh Daratan Irian dan Bumi Cendrawasih serta Tanah Nuu Waar : PAPUA.

Kita tunggu Aksi Tegas dan Berani Pemerintah RI, khususnya BNPT dan DENSUS 88, serta POLRI dan TNI.

SERUAN FPI

Akhirnya, Seruan FPI kepada Pemerintah RI adalah :

1. Bubarkan GIDI
2. Larang Ajaran GIDI
3. Bekukan Rekening Bank GIDI
4. Sita Semua Aset GIDI
5. Tangkap Pimpinan GIDI

Allaahu Akbar ... !!!

GIDI Teroris Zionis Internasional

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Dalam artikel kemarin, telah dipaparkan bahwasanya pemerintah ...

Minggu, 26 Juli 2015



TANGKAP PENDETA GIDI ... !!!
TANGKAP PENDETA GIDI ... !!!
TANGKAP PENDETA GIDI ... !!!

Jum'at 24 Juli 2015, Ketua FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) , Pdt. Lipiyus Binilub, bersama sejumlah Tokoh Kristen Papua, menemui Presiden Jokowi di Istana.

Mereka meminta dengan "ancaman halus" agar tidak ada penahanan para tersangka Tragedi Tolikara, karena khawatir akan menimbulkan "dampak negatif" di Papua. Lagi pula menurut klaim mereka bahwa masalah Tolikara sudah selesai secara damai.

TIDAK ADA KEKEBALAN HUKUM

Tidak ada yang kebal hukum di NKRI ini. Siapa pun yang melanggar hukum, maka wajib ditindak dan diberikan sanksi hukum sesuai dengan UU yang berlaku di NKRI.

Apalagi jika kesalahannya fatal berupa PEMBAKARAN MASJID yang telah mencederai Agama, Bangsa dan Negara, wajib dihukum berat, jika perlu DIHUKUM MATI agar tidak terulang di kemudian hari.

Para Pendeta Kristen mesti paham bahwa Presiden RI saja tidak kebal hukum, apalagi GEROMBOLAN PERUSUH DAN PENGACAU dari kalangan KRISTEN RADIKAL.

TIDAK ADA PERDAMAIAN

Klaim perdamaian Para Pendeta Papua adalah DUSTA dan KHIANAT, karena TIDAK ADA PERDAMAIAN selama umat Islam masih diintimidasi dan masih diperlakukan secara intoleransi serta diskriminasi.

TIDAK ADA PERDAMAIAN selama masih ada Larangan Ibadah Umat Islam di Papua

TIDAK ADA PERDAMAIAN selama kaum muslimah masih dilarang berjilbab di Papua.

TIDAK ADA PERDAMAIAN selama masih ada Larangan Penggunaan Speaker DALAM Masjid di Papua

TIDAK ADA PERDAMAIAN selama masih ada Larangan Pemasangan Plank Nama Masjid dan Musholla serta Madrasah di Papua.

TIDAK ADA PERDAMAIAN selama tidak ada jaminan kebebasan dan keamanan Ibadah umat Islam di Papua.

ANCAMAN KRISTEN PAPUA

"Ancaman Halus" dengan menyatakan di depan PRESIDEN RI bahwa penahanan para perusuh Tolikara bisa menimbulkan "dampak negatif" di Papua, maksudnya apa ???!!!

Apa jika para perusuh Tolikara itu ditahan, lalu Para Pendeta Papua mau menggerakkan massa Kristen Radikal untuk MEMBAKAR MASJID lagi di Papua  ?

Atau apa mereka mau membakar KIOS dan RUMAH warga muslim se Papua ??

Atau apa mereka mau membantai umat Islam Papua seperti di Ambon dan Poso ???

Kok bisa, minoritas mengancam mayoritas di hadapan Presiden ?    Kok bisa, gerombolan pengancam diterima di Istana Presiden ?? Kok bisa, Presiden tidak bereaksi ???

TEGAKKAN HUKUM ... !!!

Karenanya, FPI meminta kepada Presiden RI agar tetap pada komitmen PENEGAKAN HUKUM tanpa pandang bulu, sebagaimana beliau telah nyatakan berkali-kali di berbagai media Cetak mau pun Elektronik.

Dan FPI mendukung sepenuhnya Langkah Kapolri untuk tuntaskan Tragedi Tolikara - Papua secara Komprehensif.

FPI juga mendorong Kapolri agar secepatnya menangkap DUA PENDETA GIDI penanda-tangan Surat Edaran Resmi GIDI tentang Larangan Jilbab dan Shalat Idul Fithri yang menjadi pemicu kerusuhan, yaitu : Marthin Jingga dan Navus Wenda, serta Korlapnya yaitu Hariyanto Wanimbo, dan semua perusuh yang terlibat dalam pembakaran Masjid, Kios dan Rumah warga muslim

Selain itu, Kapolri juga harus memeriksa Bupati Tolikara dan yang membuat Perbup atau Perda Larangan Speaker Masjid dan aturan intoleransi lainnya, serta menelusuri semua gerak langkah GIDI di Papua dalam rangka mencari AKTOR INTELEKTUAL di belakang peristiwa Tolikara.

Jadi, pemerintah RI wajib waspada terhadap gerak langkah GIDI yang kental dengan aroma TEROR.

Apakah GIDI patut disebut TERORIS dan gerakannya layak disebut sebagai AKSI TERORISME ???

Artikel selanjutnya akan mengupas secara tuntas. Insya Allah.

Tangkap Pendeta GIDI ... !!!

TANGKAP PENDETA GIDI ... !!! TANGKAP PENDETA GIDI ... !!! TANGKAP PENDETA GIDI ... !!! Jum'at 24 Juli 2015, Ketua FKUB (Forum Komunikasi...

Sabtu, 25 Juli 2015



GIDI sudah sejak lama menjalin hubungan dengan ISRAEL, bahkan telah membuat kerja-sama resmi GIDI - ISRAEL. 

Lihat Surat Kerjasama GIDI – ISRAEL : https://goo.gl/photos/gVdoQE329DvzGWwd6

Pengaruh GIDI di Tolikara sangat besar. Bupati Tolikara, Usman Wanimbo, menyatakan bahwa sesuai Perda di Kabupaten Tolikara hanya GIDI saja yang boleh membangun tempat ibadah, selain GIDI dilarang, termasuk pembangunan Masjid dan Musholla juga tidak boleh, sebagaimana dikutip oleh viva.co.id

Usman Wanimbo pun mengaku bahwa perda tersebut merupakan keinginan GIDI yang tidak mungkin bisa ditolak. (Usman Wanimbo : https://goo.gl/XAhMlS)

KOK BISA ... ?!

GIDI menggelar Seminar KKR Internasional di Tolikara dari tanggal 15 s/d 19 Juli 2015 dengan menghadirkan Pdt. Benjamin Berger dari ISRAEL. 

(Lihat Foto Bannernya di depan Kantor GIDI - http://goo.gl/8hlO6r)

GIDI menginstruksikan seluruh warga Tolikara, apa pun agamanya, wajib mengecat rumah dan kios mereka dengan Warna BENDERA ISRAEL lengkap dengan BINTANG DAVID sebagai Lambang Israel, sebagaimana dilansir oleh Hidayatullah.com.

(Lihat Foto Rumah dan Kios dengan Cat Bendera Israel - http://goo.gl/rjtyx8)

GIDI menjatuhkan denda Rp. 500  ribu kepada siapa saja yang tidak melaksanakan INSTRUKSI CAT dengan warna BENDERA ISRAEL dan BINTANG DAVID nya, sesuai pengakuan seorang pedagang asal Bone, Agil Paweloi (34), di tempat pengungsian, sebagaimana diberitakan Republika Online.

GIDI melarang umat Islam melaksanakan Shalat Idul Fithri karena ada pagelaran Seminar KKR Internasional bersama Pendeta dari ISRAEL, bahkan Jilbab pun mereka larang agar tidak kelihatan ada Islam di Tolikara.

(Lihat lagi Foto Surat Edaran GIDI ttg larangan Shalat Idul Fithri: http://goo.gl/MwAZMf)

GIDI menyerang umat Islam yang sedang Shalat Idul Fithri pada tanggal 17 Juli 2015, lalu membakar Masjid dan Kios serta Rumah warga muslim karena tidak ikut larangan mereka.

(Lihat foto pembakaran Masjid: http://goo.gl/UVl1pa)

Tiga hari setelah Pembakaran Masjid, pada hari Senin tanggal 20 Juli 2015 GIDI seperti tidak punya salah, justru menggelar arak-arakan "kemenangan" yang melibatkan ribuan warga Kristen Tolikara keliling kota sambil mengibarkan BENDERA ISRAEL.

Kini, Jum'at 24 Juli 2015, Ketua FKUB (Forum Komunikasi Umat Beragama) , Pdt.Lipiyus Binilub, bersama sejumlah Tokoh Kristen Papua, menemui Presiden Jokowi di Istana.

Mereka meminta dengan "ancaman halus" agar tidak ada penahanan para tersangka Tragedi Tolikara, karena khawatir akan menimbulkan "dampak negatif" di Papua. Lagi pula menurut klaim mereka bahwa masalah Tolikara sudah selesai secara damai.

Kok bisa, sudah salah ... ngancam lagi ... ???!!!

Ada Israel di Tolikara

GIDI sudah sejak lama menjalin hubungan dengan ISRAEL, bahkan telah membuat kerja-sama resmi GIDI - ISRAEL.  Lihat Surat Kerjasama GIDI – IS...

Jumat, 24 Juli 2015


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Melihat perilaku Komnas HAM yang selalu membela kepentingan Kafir dan senantiasa merugikan umat Islam.

Memperhatikan Visi Misi Komnas HAM yang berpijak atas dasar persepsi HAM Barat yang bertentangan dengan Syariat Islam.

Menimbang tentang perlunya perlindungan dan pembelaan terhadap umat Islam yang dizalimi di wilayah minoritas muslim.

Maka tidak bisa tidak, FPI wajib segera membuka POSKO TOLERANSI secara Nasional yang bertugas menerima dan menindak-lanjuti laporan Umat Islam yang mengalami perlakuan Intoleransi dan Diskriminasi serta Intimidasi di seluruh wilayah Indonesia.

Insya Allah, secepatnya POSKO TOLERANSI FPI akan terbentuk dengan kelengkapan pengurus yang siap terjun ke medan konflik, sehingga menjadi solusi untuk mengurai problem umat Islam di wilayah minoritas muslim.

AYO LAWAN ... !!!

Umat Islam harus berani melawan segala bentuk Intoleransi, Diskriminasi dan Intimidasi terhadap mereka di wilayah minoritas muslim. Salah satunya adalah dengan cara melalui Advokasi dan Litigasi.

Karenanya, sekarang sudah saatnya umat Islam menginventarisir segala bentuk pelanggaran terhadap Hak Asasi Muslim di Daerah Mayoritas Non Muslim, lalu ke depan melaporkannya ke POSKO TOLERANSI FPI untuk ditindak-lanjuti hingga tuntas.

Hal-hal yang perlu dilaporkan, antara lain :

1. Semua peraturan di Daerah Mayoritas Non Muslim yang melarang umat Islam menjalankan ibadah dan syariatnya.

2. Semua perlakuan di Daerah Mayoritas Non Muslim yang mempersulit umat Islam dalam pengurusan apa saja terkait ibadah mau pun hajat hidupnya.

3. Semua tindakan aparat mau pun warga di Daerah Mayoritas Non Muslim yang mengganggu umat Islam atau menodai ajaran Islam.

4. Semua kejadian dan peristiwa di Daerah Mayoritas Non Muslim yang merugikan umat Islam mau pun ajaran agamanya.

5. Semua aturan dan tindakan serta kejadian yang menyuburkan Intoleransi dan Diskriminasi serta Intimidasi terhadap umat Islam di Daerah Mayoritas Non Muslim, sekecil apa pun.

AYO LAPORKAN !

Bagi umat Islam yang hendak melapor ke POSKO TOLERANSI FPI agar melengkapi Data dan Dokumen serta Foto yang memperkuat laporannya, agar secara hukum memenuhi syarat untuk diproses.

Insya Allah, dalam waktu dekat akan ada pengumuman pembentukan POSKO TOLERANSI FPI lengkap dengan Struktur dan Programnya dari Pusat hingga Daerah.

Mohon Doa Restu dan Dukungannya ...

Wallaahul Musta'aan

Posko Toleransi FPI

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Melihat perilaku Komnas HAM yang selalu membela kepentingan Ka...

Rabu, 22 Juli 2015

Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Berbagai Media Cetak dan Elektronik dengan gegap gempita dan penuh semangat berlomba-lomba memberitakan "Perdamaian Tolikara", seolah masalah telah selesai.

Kentara sekali, semua Media Liberal ingin segera menutup berita INTOLERANSI KRISTEN RADIKAL di Papua. Padahal, ketika awal kejadian semua bungkam seribu bahasa untuk menyembunyikan kebiadaban KRISTEN RADIKAL.

PROPOSAL PERDAMAIAN

Hingga saat ini, walau pun secara "seremonial" telah dilaksanakan "perdamaian" di Tolikara - Papua, namun isi proposal perdamaian tersebut masih TIDAK JELAS.

Perdamaian Tolikara harus komprehensif yaitu mencakup perdamaian dalam semua aspek kehidupan beragama dan bermasyarakat di SELURUH PAPUA, antara lain :

1. Tidak boleh lagi ada Larangan Jilbab bagi Muslimah, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memakai atribut kekristenan seperti Salib dan lainnya.

2. Tidak boleh lagi ada Larangan Ibadah umat Islam, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang Kebaktian dan Natalan serta aneka ritual lainnya.

3. Tidak boleh lagi ada Larangan Penggunaan Speaker di DALAM MASJID, sebagaimana Gereja di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memakai Speaker di DALAM GEREJA, walau suara lonceng, piano dan gitar serta kuur paduan Suara Gereja sering terdengar keras hingga keluar Gereja.

4. Tidak boleh lagi ada Larangan Pemasangan Plank Nama Masjid dan Musholla serta Madrasah, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam tidak pernah dilarang memasang Plank Nama Gereja dan Sekolah Kristen, serta Lambang Salib dan Patung Yesus mau pun Bunda Maria.

5. Tidak boleh lagi ada pagelaran acara Keagamaan Kristen yang mengganggu pelaksanaan ibadah umat Islam di Masjid mau pun Musholla di Hari Besar umat Islam, seperti saat pelaksanaan Shalat Jum'at dan Shalat Hari Raya, sebagaimana umat Islam di wilayahnya sendiri pun tidak pernah menggelar Tabligh Akbar atau Majelis Dzikir di depan Gereja saat ada Kebaktian atau Natalan.

Intinya, tidak boleh lagi ada INTOLERANSI dan DISKRIMINASI serta INTIMIDASI terhadap umat Islam dalam bentuk apa pun, sebagaimana umat Kristen di wilayah mayoritas Islam bisa hidup tenang TANPA PENINDASAN.

Jika kelima perkara di atas tidak dituangkan dalam Proposal Perdamaian Tolikara, maka itu sama saja dengan PEMBODOHAN dan PENIPUAN serta PENGKHIANATAN terhadap unat Islam, sehingga WAJIB DITOLAK.

DAMAI BUKAN PEMUTIHAN

Proposal Perdamaian Tolikara tidak boleh menjadi PEMUTIHAN bagi Para Perusuh dari kalangan Kristen Radikal, sehingga Perdamaian tersebut tetap harus menjamin :

1. Penuntasan PROSES HUKUM terhadap SEMUA Perusuh.

2. Penangkapan Pdt.Marthen Jingga dan Pdt.Navus Wenda yang telah menanda-tangani Surat Edaran Pelarangan Jilbab dan Shalat Idul Fithri tertanggal 11 Juli 2015.

3. Pengembalian 243 Pengungsi yang 100 di antaranya adalah BALITA, ke rumah mereka dengan aman dan nyaman, serta harus ada GANTI RUGI bagi semua korban yang terluka atau kehilangan harta benda.

4. Pembangunan kembali Masjid dan Kios serta Rumah umat Islam yang menurut Data Terakhir ada 49 Kios dan beberapa Rumah muslim yang terbakar,

5. Keamanan penggunaan semua Masjid dan Musholla se Papua, khususnya Penggunaan kembali Masjid Baitul Muttaqin Tolikara yang memang sudah ada sejak tahun 1945, sehingga sudah seusia dengan Kemerdekaan Indonesia dan sudah sepatutnya dijadikan sebagai MASJID RAYA TOLIKARA.

Jika tidak ada jaminan untuk kelima perkara tersebut, maka sama sekali tidak ada makna bagi Perdamaian tersebut, sehingga umat Islam TIDAK BOLEH menerimanya.

ANDAIKAN FPI ... ???

Sekedar pertanyaan ingin tahu : Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah RI dan segenap Media Liberal, serta semua LSM Komprador dan Lembaga HAM dalam mau pun luar negeri, ANDAIKAN FPI menerbitkan Surat Edaran Resmi ditanda-tangani Ketum dan Sekumnya yang berisikan "Peraturan Wilayah Mayoritas Muslim", dengan rincian aturan sebagai berikut :

1. Tidak boleh ada umat Kristen yang memakai atribut kekristenan seperti Salib dan lainnya.

2. Tidak boleh ada  Kebaktian dan Natalan serta aneka ritual Kristen lainnya.

3. Tidak boleh ada speaker, lonceng, piano, gitar dan paduan suara serta pidato di DALAM GEREJA.

4. Tidak boleh ada Pemasangan Plank Nama Gereja dan Nama Sekolah Kristen, serta Pemasangan Lambang Salib dan Patung Yesus mau pun Bunda Maria.

5. Tidak boleh ada pagelaran acara Keagamaan Kristen dalam bentuk apa pun, karena umat Islam diserukan untuk menggelar Tabligh Akbar atau Majelis Dzikir di depan Gereja setiap ada Kebaktian atau Natalan.

INTINYA :  Kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Pemerintah RI dan segenap Media Liberal, serta semua LSM Komprador dan Lembaga HAM dalam mau pun luar negeri, ANDAIKAN FPI menyerukan umat Islam di seluruh Tanah Air agar  menumbuh-suburkan sikap INTOLERANSI dan DISKRIMINASI serta INTIMIDASI terhadap umat Kristen dimana pun mereka berada ... ???!!!

Perdamaian Tolikara

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Berbagai Media Cetak dan Elektronik dengan gegap gempita dan p...

Hingga hari ini, GIDI terus berkelit untuk lepas dari tanggung-jawab atas TRAGEDI TOLIKARA.

Di awal mereka berkelit bahwa Surat Edaran GIDI tertanggal 11 Juli 2015 tentang Pelarangan Jilbab dan Shalat Idul Fithri adalah tidak valid alias PALSU.

Kemudian ketika validitas Surat Edaran GIDI terbukti, mereka pun berkelit bahwa Surat Edaran tersebut TIDAK RESMI.

Lalu saat mereka tidak bisa lari dari FAKTA keresmian surat yang di buat di atas Kop Surat Resmi GIDI dan ditanda-tangani Pimpinan GIDI lengkap dengan stempelnya, maka mereka berkelit lagi bahwa Surat Edaran tersebut sudah DIBATALKAN.

Selanjutnya, tatkala ditanyakan tentang tak adanya satu instansi pun yang menerima Surat Pembatalan GIDI, kali ini mereka berkelit bahwa Surat Pembatalannya BELUM SEMPAT DIKIRIM.

Akhirnya, setelah tidak lagi dapat berkelit baru MINTA MAAF, itu pun atas pembakaran Kios, bukan pembakaran Masjid, dengan tetap membela para perusuh dan melemparkan kesalahan kepada polisi dan militer serta pemerintah.

Luar Biasa, GIDI menganggap semua bangsa Indonesia GOBLOK, sehingga mudah DIBODOHI oleh Kelit Lidah Busuk mereka. Dasar cecunguk licik dan culas serta tidak punya malu ...!!!

Namun demikian, Pasca peristiwa Tolikara - Papua, satu per satu rahasia GIDI terbongkar. Mulai dari pelarangan Jilbab dan Shalat Idul Fithri, serta pelarangan Speaker dan Plank Nama Masjid mau pun Musholla, hingga kerjasama GIDI dengan ISRAEL dan keterlibatannya dengan OPM (Organisasi Papua Merdeka).

GIDI DIRIKAN NEGARA DALAM NEGARA

Pelarangan Jilbab dan Shalat Idul Fithri, serta Pelarangan penggunaan Speaker dan Plank Nama Masjid mau pun Musholla di seluruh Kabupaten Tolikara - Papua, bukan berasal dari SK Kepala Daerah atau pun Perda yang dikeluarkan DPRD setempat, bukan pula aturan keamanan dari TNI ataunpun POLRI, akan tetapi hanya berupa SURAT EDARAN GEREJA atas nama GIDI (Gereja Injili Di Indonesia).

Dan pihak GIDI pun langsung mengontrol penerapan Surat Edaran yang mereka terbitkan, serta mengerahkan Pemuda Kristen Radikal untuk menggebuk siapa saja yang tidak mematuhinya, sebagaimana yang terjadi pada Hari Raya Idul Fithri tanggal 17 Juli 2015 di Tolikara.

Dengan demikian, GIDI telah menjadikan GEREJA sebagai Legislatif yang membuat peraturan, sekaligus sebagai Eksekutif yang melaksanakan peraturan tersebut, dan juga sebagai Yudikatif yang menghakimi para pelanggar peraturannya.

Dengan kata lain, bahwa GIDI telah mendirikan NEGARA DALAM NEGARA.

Lihat Surat Edaran GIDI: http://goo.gl/MwAZMf

KERJASAMA GIDI - ISRAEL

Indonesia sejak dulu hingga kini tidak pernah mengakui ISRAEL sebagai Negara, karena sesuai amanat Konstitusi yaitu Pembukaan UUD 1945 bahwa penjajahan di atas muka Bumi harus dihapuskan, dan ISRAEL adalah penjajah dan perampas Bumi Palestina.

Karenanya, tidak boleh ada komponen bangsa Indonesia yang menjalin hubungan apa pun dengan ISRAEL, termasuk organisasi keagamaan apa pun.

Dengan demikian, GIDI tidak lagi menghargai Konstitusi Negara RI, bahkan telah secara sengaja menantang dan menentang Konstitusi dengan menjadi kepanjangan-tangan Israel di Bumi Indonesia.

Dengan kata lain, GIDI adalah PENGKHIANAT Bangsa dan Negara Indonesia. Lihat Surat Kerjasama GIDI – ISRAEL : https://goo.gl/photos/gVdoQE329DvzGWwd6

Sebagai catatan khusus, bahwa di Papua, khususnya Tolikara, ditemukan Lambang ISRAEL bertebaran dimana-mana. Ada apa ???!!!

GIDI SARANG OPM

Dalam siaran pers tertulis yang disebar luaskan oleh Benny Wenda atas nama Pemimpin Kemerdekaan Papua Barat (Spokesperson of the United Liberation Movement for West Papua / ULMWP) yang berkantor di Oxford - Inggris dengan perlindungan Kerajaan Inggris, terkait peristiwa Tolikara menyatakan :

“Di Papua Barat polisi dan militer Indonesia tidak dikirim untuk melindungi kita tapi untuk membunuh kami.”

Dalam Siaran Pers tersebut, ULMWP yang dikenal dengan sebutan OPM (Organisasi Papua Merdeka) menyebutkan :

1. Bahwa peristiwa Tolikara hanya rekayasa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia.

2. Bahwa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia telah merampas dan menjajah Papua.

3. Bahwa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia sedang menjalankan proyek Genosida untuk menghabisi Bangsa Papua.

4. Bahwa polisi dan militer serta pemerintah Indonesia selalu menciptakan Konflik Agama di Papua untuk memecah belah dan mengadu domba Bangsa Papua.

5. Bahwa perjuangan memerdekakan Papua akan terus berlanjut, karena Indonesia adalah masalah, sedang Papua Merdeka adalah solusinya.

Substansi pernyataan OPM tersebut sama percis dengan isi pernyataan GIDI pasca kejadian, yaitu "melimpahkan kesalahan kepada polisi dan militer serta pemerintah" untuk mencari perhatian internasional.

Pernyataan Resmi OPM : http://goo.gl/5r6Bg7
Pernyataan Resmi GIDI : http://goo.gl/1wsYMk

ISTANA dan TOLIKARA

Pada awal kejadian, Prediden RI, Joko Widodo, hanya menyatakan "menyesal" atas peristiwa Tolikara, tidak lebih. 

Namun, setelah masalahnya menjadi issue nasional, baru Jokowi menegaskan pentingnya Penegakan Hukum dan memerintahkan pembangunan kembali Masjid dan Kios yang dibakar, sebagaimana disiarkan secara luas oleh berbagai Media Cetak mau pun Elektronik.

Sedang Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, seenaknya menyatakan gara-gara Speaker, sehingga ia patut dipanggil "Mr. Speaker". Lihat Pernyataan JK di Media : http://goo.gl/4T5y6J

Dan Kepala Staff Istana Kepresidenan yang diberi wewenang besar oleh Presiden RI, Luhut Panjaitan, yang beragama Kristen, pada hari Selasa 21 Juli 2015, ngotot menyatakan bahwa peristiwa Tolikara hanya sebuah kasus biasa, bukan konflik agama. Baca Beritanya : http://goo.gl/GKFD8h

TRAGEDI KONFLIK AGAMA

FPI melihat dan menilai bahwasanya peristiwa Tolikara - Papua bukan sebuah "KASUS" biasa, tapi suatu "TRAGEDI" yang merupakan "KONFLIK AGAMA" dan sekaligus menodai dan mencederai RAKYAT, BANGSA dan NEGARA, sehingga wajib ditangani dengan EKSTRA SERIUS secara KOMPREHENSIF hingga tuntas.

Kini, FPI sedang menunggu dan melihat serta akan mencermati PROPOSAL PERDAMAIAN macam apa yang disiapkan pemerintah untuk Tolikara.

Yang jelas, FPI akan menolak keras jika yang diajukan berupa PROPOSAL PEMUTIHAN ala MR. SPEAKER dengan tetap memelihara INTOLERANSI dan DISKRIMINASI terhadap umat Islam.

Dan FPI tetap menuntut penuntasan PROSES HUKUM terhadap para perusuh liar yang biadab. Kita lihat saja esok. Insya Allah.

 SERUAN FPI

Ayo ..., bersihkan Bumi CENDRAWASIH dari DISKRIMINASI dan INTOLERANSI ... !

Ayo ..., bersihkan Bumi NUU-WAAR dari SEPARATIS KRISTEN RADIKAL LIAR ... !!

Ayo ..., jadikan selalu Bumi IRIAN sebagai Pulau NKRI yang TOLERAN ... !!!

Allaahu Akbar ... !!!!

GIDI Diback-up OPM Dan Israel

Hingga hari ini, GIDI terus berkelit untuk lepas dari tanggung-jawab atas TRAGEDI TOLIKARA. Di awal mereka berkelit bahwa Surat Edaran GIDI ...

Selasa, 21 Juli 2015


Selasa 21 Juli 2015 pagi, Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, menghadiri acara Halal Bi Halal dan Haul Habib Alwi bin Ahmad bin Syeikh Bin Syihab di halaman Perguruan Islam Adabiyah - Kota Palembang. 

Dalam sambutan atas nama panitia, pimpinan Rubath Al-Muhibbin, Habib Umar Abdul Aziz bin Abdurrahman Bin Syihab, di hadapan ribuan jama'ah dengan nada berapi-api memberi dukungan kepada Habib Rizieq untuk pembelaan umat Islam di Tolikara - Papua, sekaligus mendorong jama'ah untuk mengorbankan harta benda dan jiwa raga dalam membela kaum muslimin di Papua.

Sementara Habib Rizieq dalam ceramahnya mengupas tentang Thoriqoh Habaib yang berdiri atas lima perkara, yaitu : Ilmu, Amal, Wara', Khouf minallaah, dan Ikhlash ilallaah. 

Selanjutnya, di akhir ceramah, Habib Rizieq memaparkan tentang apa yang terjadi di Tolikara - Papua. Suara Takbir pun bergema berulang-ulang, ribuan jama'ah dengan semangat menyatakan kesiapan Jihad ke Papua untuk membela Agama, Bangsa dan Negara.

Dan secara spontan, ribuan jama'ah berebut melemparkan uang mereka ke dalam Sorban peninggalan almarhum Habib Alwi yang digelar panitia, untuk membangun kembali Masjid, Kios dan Rumah warga muslim di Tolikara - Papua. Hasilnya, hanya dalam waktu 10 menit terkumpul dana bantuan jama'ah sebanyak 84 juta rupiah, yang kemudian dibulatkan oleh Ketua Panitia Haul, Habib Mushthofa bin Muhammad Bin Syihab, hingga menjadi genap 100 juta rupiah.

Bantuan tersebut merupakan bantuan spontan pertama untuk Tolikara yang diamanatkan umat kepada FPI. Selanjutnya, insya Allah seluruh cabang FPI di Tanah Air, bahkan di luar negeri, bersama masyarakat akan ikut berpartisipasi mengumpulkan bantuan kemanusiaan untuk umat Islam Tolikara - Papua melalui Rekening Kemanusiaan FPI di Bank Syariah Mandiri No : 7001440707.

FPI juga menganjurkan agar para santri Pesantren dan siswa-siswi sekolah menyisihkan uang jajannya Rp. 1000,- untuk korban TRAGEDI TOLIKARA, sebagai bukti kepedulian kepada sesama saudara muslim, sekaligus sebagai bentuk protes dan perlawanan terhadap INTOLERANSI dan KEZALIMAN.

Rencananya, FPI bersama Ormas-Ormas Islam di Jakarta akan membentuk TIM KEMANUSIAAN untuk Tolikara - Papua, yang akan berangkat ke Tolikara untuk membantu umat Islam yang mengungsi, sekaligus membangun kembali Masjid, Kios dan Rumah mereka yang hangus terbakar, dengan LEBIH BAIK dan LEBIH BAGUS, serta mencarikan modal usaha untuk mereka.

TIM KEMANUSIAAN tersebut akan berkoordinasi dengan Pemda dan aparat keamanan setempat, baik TNI mau pun Polri, untuk bersama-sama mewujudkan Tolikara yang Toleran tanpa Diskriminasi dan Kezaliman, sehingga ke depan lebih berperan dalam menuju NKRI yang adil dan beradab.

Insya Allah.

(Tim News FPI)

PENGUMUMAN
Barangsiapa yang telah mentransfer Bantuan Tolikara ke rekening tersebut harap segera dikonfirmasikan ke Bedum FPI Ust. Haris di 08170062507. Terima kasih.

BREAKING NEWS PAPUA

Selasa 21 Juli 2015 pagi, Imam Besar FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab, menghadiri acara Halal Bi Halal dan Haul Habib Alwi bin Ahmad bin Sy...


Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Peristiwa Idul Fithri Berdarah di Tolikara - Papua pada 17 Juli 2015 merupakan salah satu bentuk INTOLERANSI Kristen Radikal di Indonesia. 

Umat Islam Indonesia di wilayah mayoritas Kristen sering mendapat perlakuan DISKRIMINATIF bahkan PENINDASAN dan PENZALIMAN.

Semua itu mengingatkan kita akan KEZALIMAN Kristen Radikal di Ambon dan Poso, termasuk di Sambas dan Sampit ketika kelompok Kristen Radikal berhasil menunggangi "sentimen kesukuan" dan mengadu domba anak bangsa.

CECUNGUK HAM

Saat umat Islam menjadi korban DISKRIMINASI dan INTOLERANSI, semua Media Liberal bungkam, begitu juga LSM-LSM Komprador dan para pegiat HAM nya pun ikut tiarap dan senyap.

Berbeda, jika ada "Gereja Liar" yang MELANGGAR HUKUM, lalu ditutup secara "prosedur" oleh umat Islam, apalagi jika ditutup "paksa", maka Media Liberal dan LSM Komprador serta KOMNAS HAM langsung secara spontan dan sporadis berlomba-lomba "cari muka" memberitakan dan membesar-besarkannya, seperti kasus Gereja Liar Ciketing - Bekasi dan Gereja Liar Yasmin - Bogor. 

Bahkan mereka berlomba-lomba pula meng "internasionalisasi" kan kasusnya agar dapat pujian Badan Internasional, sekaligus agar dapat kucuran Dana Asing atas nama perjuangan HAM.

Pada situasi demikian, bisa dipastikan, mereka langsung "koor" menyanyikan lagu HAM sambil berteriak-teriak menuding umat Islam dengan aneka label, seperti Radikal, Ekstrim, Anarkis, Intoleran, Perusuh, Tidak Nasionalis, Non Pancasilais, Anti Dialog, Musuh NKRI, bahkan TERORIS.

Itulah para CECUNGUK HAM yang suka menjual diri kepada kepentingan asing hanya untuk mengisi perutnya dengan makanan dan minuman haram.

Sayyiduna Ali RA pernah mengatakan : "Barangsiapa yang hidupnya hanya memikirkan perutnya, maka harga dirinya sama dengan apa yang keluar dari perutnya."

MR. SPEAKER & PEMUTIHAN

Selama ini, dalam berbagai kasus pembantaian umat Islam yang dilakukan Gerombolan Kristen Radikal di Tanah Air, Pemerintah RI selalu lumpuh tak berdaya. 

Buktinya, tak satu pun para pembantai umat Islam di Sambas, Sampit dan Ambon yang ditangkap dan diadili hingga kini. Padahal ribuan umat Islam telah dibantai secara BIADAB.

Di Poso, hanya Tibo dan dua kawannya yang ditangkap, diadili dan dihukum mati. Sementara 14 (empat belas) nama yang disebut dan diakui Tibo cs dalam persidangan sebagai pendana dan aktor intelektual pembantaian umat Islam di Poso hingga kini tak tersentuh.

Di antara yang disebut Tibo cs tersebut adalah Pdt. Damanik yang bercokol di Tentena - Poso. Pendeta Radikal ini diakui Tibo cs sebagai orang yang membaca doa dan merestui serta melepas secara ritual "Laskar Kristus" sesaat sebelum membantai umat Islam di Poso.

Anehnya, ketika JK ditugaskan oleh negara untuk mendamaikan Islam - Kristen di Ambon mau pun Poso melalui Perjanjian Malino I dan II, JK memaksakan PEMUTIHAN bagi para pembantai umat Islam di Ambon mau pun Poso, sehingga mereka tidak bisa dan tidak boleh lagi diproses secara hukum.

Namun, ketika ada kelompok umat Islam di Poso yang marah dan tidak terima PEMUTIHAN sepihak tersebut, lalu melakukan gerakan yang dinilai "melanggar hukum", langsung saja mereka divonis sebagai Teroris, dikejar dan ditangkap, bahkan ada yang ditembak di tempat, tanpa ada peringanan sanksi hukum apa pun, apalagi "pemutihan".

Dalam kasus Tolikara, belum apa-apa JK sudah menyalahkan umat Islam dan memfitnah mereka memakai SPEAKER yang menyebabkan kemarahan Kristen Radikal. Jangan-jangan saat ini, MR.SPEAKER ini sedang pasang kuda-kuda untuk kembali memakai jurus PEMUTIHAN bagi Kristen Radikal Tolikara.

SALUT UNTUK TNI DAN POLRI

Kesigapan dan ketegasan sikap TNI dan POLRI dalam memgatasi Peristiwa Tolikara patut diacungkan jempol, karena walau pun tidak berhasil mencegah pembakaran Masjid dan Kios umat Islam, akan tetapi telah berhasil mencegah KEBIADABAN Kristen Radikal Papua yang lebih besar.

Ditembaknya sejumlah pengacau merupakan bukti keseriusan TNI dan POLRI untuk meredam agar KEZALIMAN tidak meluas. Dan ditangkapnya sejumlah pentolan Gerombolan Kristen Radikal Tolikara juga membuktikan keseriusan aparat keamanan dalam menegakkan hukum.

Kedatangan Kapolri Jenderal Badruddin Haiti ke Lokasi kejadian di Tolikara menambah kuat keseriusan Polri untuk menghimpun fakta dan data yang lebih akurat, sehingga lebih menjamin penanganan hukum yang tepat. 

FPI mengapresiasi langkah Kapolri dan komitmennya untuk menuntaskan kasus Tolikara secara cepat dan tepat berdasarkan prinsip penegakan supremasi hukum yang tanpa pandang bulu.

BITUNG MEMBARA

Selain Tolikara - Papua, yang juga perlu diwaspadai adalah Kota Bitung - Sulawesi. Pada tanggal 11 Juli 2015 terjadi peristiwa Pemasangan KEPALA BABI dan ISI PERUT BABI di Lokasi Pembangunan MASJID Kawasan Perumahan Air Hujan Kota Bitung Provinsi Sulawesi Utara. Berikut fotonya: 


Dan malam Takbiran Idul Fitri 1436 yang baru lalu kemarin, saat umat Islam melaksanakan Takbiran, mereka dilempari batu oleh Kelompok Pemuda Kristen Radikal Sulawesi yang menamakan dirinya BRIGADE MANGUNI.

Seorang Tokoh Pemuda Islam Bitung melakukan perlawanan, tapi justru kini Sang Tokoh yang mendekam di penjara dengan tuduhan melakukan pemukulan terhadap Pemuda Kristen Radikal dari BRIGADE MANGUNI, bahkan diarahkan kepada tuduhan TERORIS.

Padahal selama ini, Kota Bitung merupakan salah satu patron kota yang kental TOLERANSI antar umat beragamanya. Bahkan selama ini di Bitung, Pemuda Islam dan Pemuda Kristen Kota Bitung sering terlibat Kerja Bhakti bersama. 

Namun, sejak kehadiran Gerombolan Pemuda Kristen Radikal BRIGADE MANGUNI, maka TOLERANSI Kota Bitung yang selama ini sangat harmonis mulai ternoda dan tercederai.

Inilah satu lagi bukti INTOLERANSI KRISTEN RADIKAL di Tanah Air Indonesia yang harus segera diatasi oleh para pemimpin agama mau pun pemerintahan di negeri ini. Tidak cukup hanya dengan kalimat "Kami sedih" atau "Kami Prihatin" atau pun "Kami Menyesalkan", tapi harus ada kebersamaan dalam Tindakan Nyata untuk : TEGAKKAN HUKUM ... !!!

Karenanya, masyarakat Bitung, apa pun suku dan agamanya, wajib bersatu menolak kehadiran BRIGADE MANGUNI dan harus menuntut pembubarannya, agar supaya keharmonisan TOLERANSI antar umat beragama di Kota Bitung tetap terjaga dan terpelihara.

SERUAN FPI

FPI menyerukan seluruh masyarakat agar memberi kesempatan kepada TNI dan POLRI untuk menuntaskan Kasus Tolikara mau pun Kasus Bitung. Dan FPI meminta masyarakat luas menahan diri dan mewaspadai provokasi adu domba antar umat beragama.

Selanjutnya, dalam rangka penegakan supremasi hukum di seluruh wilayah NKRI tanpa terkecuali, khususnya di PAPUA dan SULAWESI, maka FPI menyerukan :

1. Tuntaskan Kasus Tolikara dan Bitung secara KOMPREHENSIF agar tidak terulang peristiwa serupa di seluruh Papua mau pun Sulawesi, bahkan di seluruh Indonesia, sehingga tidak boleh lagi ada "Pemutihan" ala Mr. Speaker.

2. Bersihkan Bumi Papua mau pun Sulawesi dari segala peraturan DISKRIMINATIF dan INTOLERANSI terhadap umat Islam, apalagi peraturan GEREJA yang bertentangan dengan KONSTITUSI.

3. Tumpas Tuntas dan Basmi Habis seluruh Gerakan SEPARATIS di Papua yang sering menciptakan Konflik Suku mau pun Agama, dan sering membunuh aparat pemerintah mau pun warga sipil yang tidak bersalah.

Allaahu Akbar ... !!!

Tegakkan Hukum ... !!!

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Peristiwa Idul Fithri Berdarah di Tolikara - Papua pada 17 Jul...

Senin, 20 Juli 2015



Penanganan masalah insiden Tolikara Papua harus tegas dan cermat. Pertama kali kaum Nasrani di lingkungan kejadian dan organisasi yang bertanggung-jawab dimana oknum-oknum penyerang berada, harus meminta maaf kepada kaum muslimin Indonesia secara terbuka . 

Selanjutnya, pemerintah harus bertindak tegas terhadap pelaku-pelaku penyerangan terhadap jamaah kaum muslimin yang sedang menjalankan solat Idul Fithri. Orang-orang muslim yang melakukan tindakan melanggar hukum di Indonesia telah menerima hukumannya, baik yg teroris, pelaku kekacauan, peristiwa Ahmadiyah misalnya, bahkan Habib Rizieq sendiri pernah mendapatkan hukuman.

Saatnya sekarang negara bertindak adil, bukan karena agamanya, namun karena pelanggaran hukum Indonesia. Selanjutnya, kerukunan lintas umat agama harus digalakkan lagi dalam jalur moderasi bukan liberalisasi.

Ternyata agama masih terus digunakan untuk kepentingan lain dengan tujuan merusak Indonesia secara luas melalui konflik agama.

Saatnya pula sekarang masyarakat barat / eropa berkesempatan untuk menata kembali visi pandangannya terhadap agama-agama di Indonesia termasuk Islam, karena selama ini mereka melihat sentral kekacauan hanya bersumber dari Islam.

Kita ingin melihat dari mereka sekarang bagaimana korelasi antara freedom of speech, freedom of religion dan freedom of expression dalam peristiwa Papua ini . 

Hari pertama bulan Romadon 18 Juni 2015 jam 9.00 am waktu Den Haag, Greet Wilders (ketua partai kebebasan) mengumunkan kartun Nabi Muhammad di Den Haag dan hari pertama Idul Fithri jamaah kaum muslimin diserang di Papua.

Sekalipun demikian kaum muslimin Indonesia tidak boleh emosi, karena emosi itulah yg ditunggu tunggu pihak Islamo-phobia agar langkah kaum muslimin tak terkendali.

Kaum muslimin Indonesia harus menata kembali kwalitas perjuangannya untuk agama, bangsa dan dunia. Bersamaan dengan itu kita menghimbau agar teman-teman sebangsa dan setanah air tidak melaporkan hal-hal negatif di dalam negeri kepada asing dengan sedikit "imbalan", padahal mengakibatkan kerugian martabat bangsa. 

Lebih baik duduk bersama menyelesaikan segala masalah di dalam negeri sendiri. Lebih terhormat dan lebih nasionalis. 

KH. A Hasyim Muzadi
Sekjen ICIS (International Conference of Islamic Scholar)

Keprihatinan KH. Hasyim Muzadi

Penanganan masalah insiden Tolikara Papua harus tegas dan cermat. Pertama kali kaum Nasrani di lingkungan kejadian dan organisasi yang berta...

Minggu, 19 Juli 2015

Imam Besar FPI, Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, menyoroti dengan sangat serius  Pernyataan Sikap Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Pdt. Dorman Wandikmbo, dari Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua tentang Peristiwa Idul Fithri Berdarah di Tolikara.

Imam Besar FPI menyatakan : "GIDI hanya sekedar prihatin dan menyesal serta minta maaf soal pembakaran kios, dan sama sekali TIDAK MINTA MAAF ATAS PEMBAKARAN MASJID, bahkan dengan tanpa punya rasa malu secara terang-terangan membela dan membenarkan apa yang dilakukan Gerombolan Kristen Radikal Perusuh, sekaligus berkelit tentang Larangan Pelaksanaan Shalat Idul Fithri dan Pelarangan Jilbab yang nyata-nyata dikeluarkan secara tertulis oleh GIDI pada tanggal 11 Juli 2015."

Lalu Habib Rizieq menyindir bahwa GIDI terinspirasi dengan celotehan Wakil Presiden JK : "GIDI pun bersembunyi di balik celotehan bodoh  JK bahwa itu hanya persoalan SPEAKER, padahal sejak dulu di Tolikara tak satu pun Masjid dan Musholla yang gunakan speaker karena memang dilarang, dan dalam Surat Edaran GIDI tertanggal 11 Juli 2015 pun tak disebutkan sama sekali soal speaker. Jangankan speaker, bahkan sudah sejak lama GIDI melarang pemasangan Papan Nama Masjid dan Musholla di seluruh wilayah Tolikara."

Selain itu, Habib Rizieq menepis upaya GIDI mengerdilkan masalah : "GIDI pun berusaha mengerdilkan masalah, dari Masjid jadi Musholla, dan dari pembakaran Masjid jadi pembakaran kios saja, serta dari Larangan Shalat Idul Fithri jadi Larangan Speaker, bahkan dari penyerang kini mengaku sebagai korban yang diserang aparat. Kemudian melemparkan kesalahan kepada aparat keamanan. Dasar tidak tahu diri !!!”

Selanjutnya Habib Rizieq memberi ultimatum : "Jika GIDI ngotot tidak mau meminta maaf secara terbuka dan tidak juga mau menyadari kesalahannya, maka saya serukan kepada segenap umat Islam untuk tutup semua GEREJA GIDI dan turunkan semua plank nama GIDI dimana pun di seluruh Nusantara, dan larang Jemaat GIDI menggunakan atribut kristen dalam bentuk apa pun, termasuk SALIB. Usir mereka dari setiap perkampungan muslim. Dan kejar para pentolan GIDI untuk diberi pelajaran agar mereka tahu arti NKRI, dan paham makna Bhinneka Tunggal Ika, serta mengerti ketegasan umat Islam saat diganggu dan dizalimi."

Akhirnya, Habib Rizieq mendesak Pemerintah, khusunya Mabes Polri, untuk segera memeriksa semua pengurus DPP GIDI, sehingga siapa terbukti bersalah harus langsung diproses secara hukum, hingga diadili dan dijatuhkan sanksi hukum yang seberat-beratnya.

Habib Rizieq juga mendorong PGI dan KWI serta Instansi Kekristenan yang lainnya untuk bekerja keras membina segenap umat Kristen mau pun Katholik di seluruh Indonesia agar mereka bisa menjadi warga Indonesia yang baik untuk menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan NKRI.

Tim News FPI

GIDI Tidak Tahu Diri !!!

Imam Besar FPI, Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, menyoroti dengan sangat serius  Pernyataan Sikap Presiden Gereja Injili Di Indonesia (GIDI)...

Sabtu, 18 Juli 2015



Tolikara Papua mendadak menjadi perhatian nasional dan internasional setelah terjadinya INTOLERANSI terhadap umat Islam dengan penyerbuan ratusan orang dan pembakaran MASJID serta 11 kios dan 2 rumah warga muslim saat pelaksaan Shalat Idul Fithri 1436 H. Namun ada sumber menyatakan bahwa yang terbakar lebih banyak dari yang diberitakan.

Sungguh ini merupakan pencederaan toleransi antar umat beragama. Namun disayangkan muncul komentator yang tidak berdasarkan fakta di lapangan. Sebagaimana dilansir beberapa media, bahwasanya JK sebagai Wakil Presiden RI berkomentar bahwa kejadian tersebut karena speaker Masjid yang mengganggu masyarakat sekitarnya.  

JK MEMFITNAH

Perlu kiranya dilihat FAKTA di lapangan bahwa :

1. Sejak dulu hingga kini, umat Islam di Tolikara TIDAK PERNAH menggunakan speaker untuk acara keagamaan Islam, baik di Masjid mau pun Musholla atau lainnya.

2. Kapolres Tolikara AKBP SUROSO yang ikut Sholat Idul Fithri adalah salah satu saksi korban bahwa TIDAK ADA speaker saat pelaksanaan Sholat Idul Fithri disana.

3. Ada Surat Edaran Resmi dari GIDI Tolikara yang melarang pelaksanaan Shalat Hari Raya Idul Fithri, dan juga melarang pemakaian Jilbab di Tolikara. Jadi, BUKAN SOAL SPEAKER, karena memang tidak ada yang gunakan speaker.

Dengan demikian jelas bahwa komentar JK yang menyatakan bahwa sabab musabbab peristiwa karena speaker Masjid yang mengganggu warga sekitar adalah FITNAH !!!

Tentu komentar JK yang beraroma FITNAH tersebut sangat menyakitkan umat Islam Tolikara, karena mereka sudah jadi korban kebiadaban Kristen, kok malah disalahkan ???!!!

INFO TERAKHIR

Informasi terakhir yang kami terima dari sejumlah Tokoh Islam di Papua sebagai berikut :

1. Bahwa benar ada Surat Edaran GIDI Tolikara tentang pelarangan Shalat Idul Fithri dan Jilbab di Wilayah Tolikara.

2. Bahwa Pelaksanaan Sholat Idul Fithri sudah seizin Kapolres dan sepengetahuan Danramil setempat.

3. Bahwa benar ada Penyerangan saat Sholat Idul Fithri dilaksanakan, dan benar terjadi pembakaran 11 kios muslim dan 2 rumah warga muslim. 

4. Bahwa benar ada korban luka bakar dari pihak muslim.

5. Bahwa benar dari pihak perusuh ada satu tewas di tempat dan 2 kritis karena tertembak aparat keamanan, serta beberapa telah ditangkap untuk diproses hukum.

6. Bahwa benar Pendeta yang keluarkan edaran telah buron sampai saat ini.

7. Bahwa benar ada banyak warga luar yang melakukan penyerangan, sehingga patut diduga ada keterlibatan pihak luar / asing sebagai aktor intelektual.

8.  Bahwa benar Kapolres dan Ketua DPRD menjamin segera menangkap para pelaku yang buron.

9. Bahwa benar sedang dilakukan penyelesaian komprehensif dengan pendekatan hukum dan kultur Wamena.

10. Bahwa benar pasca kejadian telah digelar pertemuan MUI. Kapolres, Dandim dan DPRD.

KETERLIBATAN ASING

Dugaan keterlibatan Missionaris Asing dalam peristiwa yang dimotori oleh GIDI Tolikara bukan isapan jempol.

Sudah menjadi rahasia umum bahwasanya GIDI sering mengawal para Missionaris Asing untuk keliling Papua melakukan misi Kristennya.

Selain itu, ternyata ditemukan dokumen bahwasanya GIDI sejak lama telah menjalin kerja sama dengan ISRAEL. Berikut ini foto dokumennya :

Screenshoot 1
https://goo.gl/photos/5Ru7qn61fJSyWUUD6

Screenshoot 2
https://goo.gl/photos/gVdoQE329DvzGWwd6

Sumber
http://www.pusatgidi.org/ind/israel

HABIB RIZIEQ TEGUR KERAS JK

Karena itulah, Imam Besar FPI, Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, menanggapi keras pernyataan JK : 

"Kita pertanyakan darimana JK menyatakan bahwa sebab peristiwa Tolikara adalah speaker Masjid ??? Dari Intel Blo'on atau dari Otak Dengkul ???

Ciri orang cerdas adalah berpikir dulu baru bicara, karena letak otak di kepala di atas mulut. Mungkin JK terbalik, bicara dulu baru mikir, bahkan mungkin tidak mikir sama sekali ???  Hal itu mungkin karena  otak JK di bawah mulut, alias di dengkul ???  Wallaahu A'lam !!!"

Tim News FPI

JK Otak Dengkul ???

Tolikara Papua mendadak menjadi perhatian nasional dan internasional setelah terjadinya INTOLERANSI terhadap umat Islam dengan penyerbuan ra...

Kamis, 16 Juli 2015

Jum'at pagi (17/07/2015) saat umat Islam di seluruh Indonesia bergembira merayakan hari kemenangan Idul Fitri, sementara kaum muslimin di Kabupaten Tolikara (Karubaga) di Propinsi Papua saat sedang melaksanakan Shalat Idul Fithri justru diserang oleh kelompok Kristen Radikal Papua.

Gerombolan GIDI (Gereja Injili Di Indonesia) Wilayah Toli melempari umat Islam yang sedang Shalat Idul Fithri dengan batu, lalu membakar masjid, rumah dan toko umat muslim.

Tidak kurang 10 orang umat muslim mengalami luka bakar. Dan kehilangan tempat tinggal serta pencahariannya. Saat ini umat Islam diungsikan ketempat yang aman oleh aparat setempat.

Berikut KRONOLOGIS kejadian:

1. Tanggal 11 Juli 2015 terdapat SURAT EDARAN resmi dari GIDI yang ditandatangani oleh Pdt. Marthen Jingga S.Th Ma dan Pdt. Navus Wenda S.Th yang berisi bahwasanya GIDI Wilayah Toli melarang Perayaan Idul Fitri dan juga melarang muslimah berjilbab di seluruh Kabupaten Tolikara.

2. Tanggal 17 Juli 2015 hari Jum'at pagi jam 07.00 WIT saat Hari Raya Idul Fithri, tatkala umat Islam melaksanakan Sholat Idul Fithri di lapangan Makoramil 1702-11/Karubaga, terjadi PROVOKASI dari Pdt. Marthen Jingga dan Koorlapnya yang bernama Harianto Wanimbo dengan menggunakan megaphone berorasi untuk membubarkan Ibadah Shalat Idul Fithri di Tolikara.

3. Pukul 07.05 WIT Saat memasuki Takbir ke 7 rakaat pertama Shalat Idul Fithri massa dari Pdt. Marthen Jingga dan Harianto Wanimbo (Koorlap) mulai berdatangan dan melakukan aksi pelemparan batu dari bandara Karubaga dan luar lapangan Makoramil 1702-11/karubaga, dan secara paksa berusaha membubarkan kegiatan Sholat Idul Fitri dan mengakibatkan kepanikan jamaah yang sedang melaksanakan shalat. Lalu massa perusuh langsung melakukan pelemparan batu dan perusakan kios-kios yang berada di sekitar Masjid Baitul Muttaqin. Aparat keamanan berusaha membubarkan massa dengan mengeluarkan tembakan peringatan, namun massa semakin bertambah dan melakukan pelemparan batu kepada aparat keamanan.

4. Jam 8 kelompok Kristen Radikal melakukan tindakan BRUTAL dan ANARKIS berupa pembakaran kios-kios dan Masjid Baitul Mutaqin serta rumah warga muslim, sehingga tidak kurang dari 10 orang muslim mengalami luka bakar.

Ini adalah kesekian kalinya diskriminasi intoleransi yang dilakukan kelompok Kristen Radikal di Papua.

DAFTAR PENGURUS GIDI

BADAN PEKERJA PUSAT (BPP) GEREJA INJILI DI INDONESIA (GIDI)
President : Pdt. Dorman Wandikbo
Wakil president : Pdt. Usman Kobak, S.Th, MA
Sekretaris Jenderal : Pdt. Samuel Souga, S.Th
Wakil Sekretaris Jenderal : Timmy Taime, SH
Bendahara : Ev. Yulyus Bidana
Wakil Bendahara : Pdt. Yan Koireuwa

SURAT EDARAN GIDI




SIKAP FPI

Pernyataan Imam Besar FPI, Al-Habib Muhammad Rizieq Syihab, tentang Peristiwa Idul Fithri berdarah di Tolikara - Papua :

"Itu perbuatan BIADAB !!! Mereka KAFIR HARBI yang harus dibasmi !!! Mereka telah menodai Agama, Bangsa dan Negara !!!

Kita serukan Pemerintah RI, khususnya aparat pertahanan dan keamanan, yaitu TNI dan POLRI, untuk segera mengambil tindakan tegas terhadap para perusuh yang telah membakar Masjid dan menjarah pasar umat Islam di Papua, sehingga berjatuhan korban dari umat Islam pada Jum'at pagi di Hari Raya Idul Fithri 1436 H.

Termasuk seluruh pengurus Gereja Injili Di Indonesia (GIDI) Badan Pekerja Wilayah Toli - Papua yang telah memprovokasi masyarakat Kristen Papua melalui Surat Edaran tertanggal 11 Juli 2015 yang ditanda tangani Pdt.Navus Wenda dan Pdt.Marthen Jingga, yang melarang Perayaan Idul Fitri bagi umat Islam dan Pemakaian Jilbab bagi muslimah di seluruh Wilayah Tolikara - Papua. Begitu juga para MISSIONARIS ASING yang selama ini terlibat bekerja-sama dengan GIDI. Tangkap mereka !!!

Saya serukan agar jangan sampai lebih dari 2 x 24 jam, para perusuh dan para aktor intelektualnya serta misionaris asing yang terlibat, harus segera ditangkap, sebelum para JIHADIS dari seluruh pelosok Tanah Air turun ke Papua untuk mengeksekusi mereka dengan prinsip : Luka dibayar dengan Luka, dan Darah dibayar dengan Darah, serta Nyawa dibayar dengan Nyawa."

Selanjutnya, Imam Besar FPI mengisyaratkan agar seluruh Laskar FPI se Indonesia wajib SIAGA I, sehingga kapan saja diinstruksikan untuk ke Tolikara membela Agama, Bangsa dan Negara harus siap berjihad.

Tim News FPI

Kristen Radikal Papua Serang Umat Islam Saat Shalat Idul Fitri

Jum'at pagi (17/07/2015) saat umat Islam di seluruh Indonesia bergembira merayakan hari kemenangan Idul Fitri, sementara kaum muslimin d...

Bismillaah. Seluruh System Hisab sepakat bahwa IJTIMA' terjadi pada hari KAMIS PAGI 16 Juli 2015 dengan Letak Hilal Ba'dal Ghurub di UTARA MIRING KE KIRI dan Tinggi Hilal antara 2 jah 32 qoh s/d 5 jah 11 qoh dan Lama Hilal antara 12 mnt s/d 20 mnt.
Dan berdasarkan Ru'yah saat Ghurub hari Kamis 16 Juli 2015, ternyata HILAL berhasil terlihat oleh banyak peru'yat di Gresik, Lamongan, Bojonegoro, Kepulauan Seribu dan Cakung Jakarta.
Dengan demikian, DPP FPI menetapkan untuk segenap Keluarga Besar FPI bahwa 1 Syawwal 1436 H jatuh pada hari JUM'AT 17 Juli 2015.
Kepada masyarakat umum Indonesia tetap dianjurkan dan diserukan untuk ikut putusan Pemerintah RI, dan hargailah PERBEDAAN.
Selamat Hari Raya 'Idul Fithri 1436 H. Mohon maaf Lahir dan Bathin. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Taufiq dan Hidayah, serta Rahmat dan Maghfirah, juga Sehat dan 'Afiyah kepada kita semua.
Aamiiin.

Info Hisab dan Ru'yah FPI Tentang 1 Syawal 1436 H

Bismillaah. Seluruh System Hisab sepakat bahwa IJTIMA' terjadi pada hari KAMIS PAGI 16 Juli 2015 dengan Letak Hilal Ba'dal Ghurub di...

Rabu, 15 Juli 2015



Bismillaah wal Hamdulillaah ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Sebagaimana telah dibahas dalam artikel sebelumnya bahwa yang dimaksud dengan SEBELAS KAUKAB dalam mimpi Nabi Yusuf AS adalah SEBELAS PLANET.

Pertanyaannya, benarkah jumlah PLANET ada 11 (sebelas) ?

DEFINISI PLANET

Konferensi IAU (Internasional Astronomical Union) di Praha - Cheko pada tanggal 24 Agustus 2006 memutuskan bahwa Benda Langit dalam Sistem Tata Surya yang memantulkan cahaya ada tiga kelompok :

1. Planet

Definisinya ialah Benda Langit yang berbentuk bulat dan mengitari Matahari serta merupakan satu-satunya objek yang paling dominan di orbitnya. Kelompok ini mencakup 8 (delapan) Benda Langit, yaitu : Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus.

2. Planet Kerdil (Dwarf Planet)

Definisinya ialah Benda Langit yang berbentuk hampir bulat dan mengitari Matahari tapi tidak  dominan di orbitnya dan bukan Satelit. Kelompok ini mencakup 3 (tiga) Benda Langit, yaitu : Pluto, Ceres dan Xena.

3. Benda Kecil Tata Surya (Small Solar System Body)

Definisinya ialah Benda langit yang bukan Planet dan bukan pula Planet Kerdil. Kelompok ini banyak sekali, antara lain : Satelit (spt Bulan dan Cheron), Asteroid, Meteor, TNO (Trans Neptunian Objects = Objek Lintas Neputunus), NEO (Near Earth Objects = Objek Dekat Bumi), dan lain sebagainya.

PENEMUAN PLANET

Sejak berabad-abad yang lalu, umat manusia sudah mengenal 5 (lima) Planet selain Bumi, yaitu : Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Kelima planet tersebut mudah terlihat dengan mata telanjang dari permukaan Bumi pada saat cuaca cerah.

Uranus baru ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1781 oleh William Herschel dengan bantuan Teleskop. Dan Ceres ditemukan pada tahun 1801. Lalu Neptunus baru ditemukan pada tahun 1846. Sedang Pluto baru ditemukan pada tahun 1930. Belakangan baru ditemukan Xena.

Dengan demikian, sebelum Konferensi IAU tahun 2006 bahwa Benda Langit yang sudah ditemukan dan diakui sebagai Planet ada 11 (sebelas), yaitu : Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, Ceres, Pluto dan Xena.

Akhirnya, melalui Konferensi IAU tahun 2006 diputuskan pembagian Planet menjadi dua klasifikasi, yaitu :

Pertama, Planet Besar yang dominan di orbitnya, yang mencakup 8 (delapan) Benda Langit, yaitu : Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus.

Kedua, Planet Kecil / Kerdil yang tidak dominan di orbitnya, yang mencakup 3 (tiga) Benda Langit, yaitu : Ceres, Pluto dan Xena.

KESIMPULAN

Dengan uraian di atas menjadi jelas bahwasanya KESEBELAS Benda Langit tersebut, pada mulanya semuanya disebut PLANET. Lalu yang delapan hingga kini tetap disebut sebagai PLANET, sedang yang tiga dinamakan PLANET KERDIL.

Jadi, apa pun namanya dan bagaimana pun KLASIFIKASI PLANET nya, tetap saja tidak merubah jumlah total PLANET dalam System Tata Surya adalah SEBELAS, yaitu :
1. Merkurius          2. Venus
3. Bumi                  4. Mars
5. Jupiter               6. Saturnus
7. Uranus              8. Neptunus
9. Ceres               10. Pluto
11. Xena.

Dengan demikian, sama percis dengan INFO QUR'ANI.

Subhaanallaahi wal Hamdulillaahi wa Laa ilaaha illallaahu Wallaahu Akbar ...

Sebelas Planet

Bismillaah wal Hamdulillaah ... Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ... Sebagaimana telah dibahas dalam artikel sebelumnya bahwa yang ...

 

© 2015 - Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile