Senin, 18 Mei 2015



INFO MESIR : Beredar berita bahwa sejumlah Masyaikh Al-Azhar di Cairo Mesir membolehkan Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa, sebagaimana disebar-luaskan sebuah Blog dengan Link :

http://bloggermesir.org/…/ulama-al-azhar-mesir-bacaan-alqu…/

Disebutkan bahwa seorang Mahasiswa Pascasarjana Indonesia yang sedang menempuh program S2 di Universitas Al-Azhar menunjukkan video rekaman Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa kepada sejumlah Masyaikh Al-Azhar, antara lain :

1. Syaikh Jamal Faruq Al-Daqqaq (Dekan Fakultas Da’wah Universitas Al-Azhar dan anggota ulama pakar Al-Azhar)

2. Syaikh Ahmad Hajin (Pengajar ilmu Hadis di Al-Azhar)

3. Syaikh Toha Hubaisyi (Anggota pentashih Al-Quran Mesir dan pengajar senior ilmu Tasawuf dan hafal kitab Ihya Ulumuddin milik Imam Al-Ghazali)

Kemudian disimpulkan bahwa ketiga Masyaikh Al-Azhar tersebut membolehkannya dengan alasan 
karena orang Non Arab memiliki langgam sendiri dan cara mengejanya tidak sepenuhnya sama seperti lisan orang Arab, yang terpenting adalah tajwidnya dan pemahaman terhadap maknanya, karena irama mengikuti artikulasi teks yang dibacanya.

TANGGAPAN IMAM BESAR FPI

Sehubungan dengan berita di atas, Imam Besar Front Pembela Islam di Indonesia, yang juga menjabat sebagai Grand Mufti Kesultanan Sulu di Selatan Philipina dan Utara Sabah Malaysia, dengan gelar Dato' Paduka Maulana Syar'i Sulu (DPMSS), sekaligus Kandidat Doktor Filsafat dan Syariat di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab Lc, MA, menanggapi sebagai berikut :

Kebenaran berita tersebut harus dikonfirmasikan kepada ketiga Masyaikh Al-Azhar tersebut. Dan harus diinformasikan juga kepada para Masyaikh Al-Azhar sebagai berikut :

1. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut bukan karena orang Indonesia tidak fasih mengucapkan Lisan Arab. Bahkan, Alhamdulillaah, masyarakat Indonesia sejak lama sudah sangat fasih mengucapkan Lisan Arab.

2. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut bukan juga karena ketidak-mampuan orang Indonesia membaca dengan Langgam Qiraa-aat Al-Qur'an yang Mu'tabar. Bahkan, Alhamdulillaah, Para Qori Indonesia sudah sering menjadi Juara Internasional dalam berbagai Musabaqoh Tilawatil Qur'an tingkat Dunia.

3. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut merupakan bagian dari Gerakan Liberal untuk meng-Indonesia-kan Islam, bukan meng-Islam-kan Indonesia, karena menurut mereka bahwa Islam hanya "pendatang" yang "numpang" di Indonesia, sehingga harus diwarnai dengan Budaya Asli Indonesia.

4. Bahwasanya pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa tersebut merupakan bagian dari Gerakan Liberal untuk menolak apa yang mereka sebut "Arabisasi Islam".

5. Bahwasanya Gerakan Liberal di Indonesia memiliki program "Anti Arabisasi" antara lain :

a. Menolak ucapan "Assalaamu 'alaikum" karena Budaya dan Bahasa Arab, sehingga harus diganti dengan Budaya dan Bahasa Indonesia.

b. Menolak 'Imamah, Gamis dan Sorban karena Budaya Arab, sehingga wajib diganti dengan Budaya Indonesia seperti Batik dan Blangkon. Namun lucunya mereka merasa bangga jika menggunakan Jas dan Dasi Barat walau bukan Budaya Indonesia.

c. Menolak Jenggot karena Budaya Arab, sehingga tidak usah pelihara jenggot. Tapi lucunya mereka sangat respect dengan mode rambut "punk" di kawula muda sebagai bentuk ekspresi kebebasan, walau pun bukan Budaya Indonesia.

d. Menolak "Jilbab" karena Budaya Wanita Arab, sehingga wajib diganti dengan Budaya Wanita Indonesia seperti Kebaya atau Kekemben dengan selembar kain. Namun mereka teramat suka dengan Busana Barat yang umbar Aurat, walau bukan Budaya Indonesia.

e. Menolak pengkafanan mayyit dengan Kain Putih karena beraroma Tradisi Arab, sehingga perlu diganti dengan Kain Batik agar kental aroma Indonesia. Bahkan mereka mulai tertarik dengan pakaian Jas dan Dasi Barat buat mayyit sebagaimana pengurusan Jenazah Non Islam, dengan dalih jauh lebih keren dan rapih ketimbang "pocong", walau bukan Budaya Indonesia.

f. Menolak istilah-istilah yang diambil dari Bahasa Arab, hingga sebutan Abi dan Ummi pun mereka kritisi, sehingga harus diganti dengan istilah-istilah Indonesia, tapi lucunya mereka alergi dengan istilah Arab namun sangat suka dan amat fasih menggunakan istilah-istilah Barat.

g. Menolak penamaan anak dengan nama-nama Islam yang diambil dari

Bahasa Arab, sehingga anak Indonesia harus diberi nama Indonesia. Tapi lucunya mereka senang dan bangga dengan penamaan anak Indonesia dengan nama-nama Barat dengan dalih lebih modern, walau pun bukan nama Indonesia.

h. Menolak Tilawah Al-Qur'an dengan Langgam Qiraa-aat Sab'ah yang Mu'tabar karena merupakan Langgam Arab, bahkan sebagian variasi bacaan dalam Qiraa-aat Al-Qur'an difitnah sebagai Langgam Tari Perut Arab, sehingga harus diganti dengan Langgam Jawa yang biasa digunakan oleh Para Dalang dalam Cerita Pewayangan, bahkan ke depan perlu LEBIH DIRAGAMKAN dengan aneka Langgam Nusantara lainnya agar lebih Indonesia, seperti : Langgam Sunda yang digunakan dalam ritual Sunda Wiwitan, lalu Langgam Para Sinden dalam acara Jaipongan, lalu Langgam Betawi yang digunakan dalam Gambang Kromong, lalu Langgam Bali dalam Tari Kecaknya, dan seterusnya.

ISLAM NUSANTARA

Intinya, tolak semua Budaya Islam yang beraroma Arab, karena dalam pandangan mereka semua itu adalah "Arabisasi Islam", sehingga perlu ada Gerakan "Indonesia-isasi Islam" di Nusantara. Inilah yang mereka sebut ISLAM NUSANTARA.

Gerakan Islam Nusantara telah menumbuh-suburkan sikap RASIS dan FASIS terhadap Bangsa dan Budaya Arab. Jika mereka bisa mendapatkan jalan untuk menolak KEARABAN bahasa Al-Qur'an atau KEARABAN bangsa Nabi Muhammad SAW dan Keluarga serta para Shahabatnya, niscaya akan mereka lakukan, saking bencinya dengan Arab.

Pertanyaannya : "Jika para Masyaikh Al-Azhar mengetahui informasi ini secara lengkap dan memahami gerakan Liberalisasi Islam di Indonesia secara komprehensif, maka apakah mungkin mereka membolehkan pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa ???!!!"

Karenanya, para Mahasiswa Aswaja Indonesia di Al-Azhar harus sigap dan cekatan serta segera bergerak cepat menginformasikan kepada para Masyaikh Al-Azhar dengan informasi lengkap dan komprehensif agar mereka tidak terjebak dengan kelicikan Liberal dan tidak dijadikan kuda tunggangan Liberal.

Ayo ... bergerak, infokan ke seluruh Dunia Islam tentang Kelicikan Gerakan Liberal di Indonesia yang sering "Manipulasi Hujjah" dan "Korupsi Dalil" serta "Rekayasa Fatwa" untuk kepentingan "Syahwat Syaithooniyyah" mereka.

Ayo ... Tolak Propaganda Islam Nusantara yang ingin menolak Budaya Islam dengan dalih Budaya Arab.

Wallaahul Musta'aan ...
Wa Laa Haula Wa Laa Quwwata illaa Billaah ...

Ulama Mesir Membolehkan Pembacaan Al-Qur'an Langgam Jawa ???

INFO MESIR : Beredar berita bahwa sejumlah Masyaikh Al-Azhar di Cairo Mesir membolehkan Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa, sebagai...

"Presiden dan Menteri Agama RI bertanggung-jawab atas Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Dalang Cerita Pewayangan Jawa dalam acara Isra Mi'raj di Istana Negara pada hari Jum'at 15 Mei 2015. Mereka wajib Taubat mohon ampun kepada Allah SWT dan meminta maaf kepada seluruh umat Islam, serta berjanji untuk tidak mengulanginya. Jika tidak, maka mereka wajib diproses hukum dengan UU Penodaan Agama, bahkan wajib dilengserkan dan dilongsorkan dari jabatannya, karena telah melecehkan Al-Qur'an, dan hukum Pelecehan Al-Qur'an adalah Murtad, dan orang Murtad tidak boleh jadi pemimpin umat Islam. Selain itu, mereka telah mempermalukan Indonesia di mata Dunia Islam. Jadi, Presiden dan Menag RI hanya punya dua pilihan : TAUBAT atau LENGSER !!!"

Imam Besar Front Pembela Islam
Habib Muhammad Rizieq Syihab

Nasehat Untuk Presiden dan Menteri Agama Republik Indonesia

"Presiden dan Menteri Agama RI bertanggung-jawab atas Pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Dalang Cerita Pewayangan Jawa dalam acara ...

Minggu, 17 Mei 2015


Istana Negara di Jakarta menggelar acara peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW pada Jum'at (15/5/2015).

Turut hadir dalam acara tersebut presiden Joko Widodo (Jokowi) beserta istri. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, sejumlah pejabat dan anggota DPR, serta para undangan lainnya.

Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Muhammad Yasser Arafat.

Pembacaan ayat suci ini menuai kontroversi di masyarakat dan banyak diperbincangkan di media sosial. Pasalnya, pembacaan ayat suci tersebut menggunakan Langgam (irama) Dalang seperti pada Pagelaran Wayang.

( Lihat videonya: https://www.youtube.com/watch… )

MENTERI AGAMA, REKTOR IIQ DAN MUI

Menanggapi banyak kecaman dari masyarakat, Menteri Agama lewat akun Twitter resminya mengeluarkan jawaban: "Tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di tanah air," kata Lukman, Minggu (17/5).

Majelis Ulama Indonesia (MUI) lewat website resminya pada Ahad (17/5) juga mengeluarkan artikel tanggapan. Mereka mengutip dan mempublis pendapat Rektor Institut Ilmu Al-Qur'an (IIQ) periode 2014, KH Ahsin Sakho Muhammad.

"Ini adalah perpaduan yang baik antara Kalamullah dari langit yang menyatu dengan bumi yakni budaya manusia. Itu sah diperbolehkan,” kata Ahsin Sakho.

Lihat selengkapnya: http://mui.or.id/…/rektor-iiq-sangat-boleh-baca-al-quran-la…

SIKAP FPI

Terkait masalah ini, Imam Besar Front Pembela Islam, Habib Muhammad Rizieq Syihab mengeluarkan tanggapannya:

"Menag dan Rektor IIQ sedang MERACAU. Memang, Wali Songo menyebar-luaskan Islam di Indonesia melalui seni dan budaya, mereka melanggamkan Syair-Syair Islam, serta aneka Qoshidah dan Sholawat, dengan Langgam Jawa, tapi tidak pernah sekali pun mereka membaca Al-Qur'an dengan Langgam Dalang." Sanggah beliau lewat pesan elektronik yang diterima Tim News FPI, Senin (18/5).

"Al-Qur'an adalah Kitab Suci yang sangat mulia dan agung. Hingga Mush-haf Al-Qur'an ikut menjadi mulia karena kemuliaan isinya, sehingga tidak boleh SEMBARANGAN kita sentuh atau letakkan atau bawa kemana-mana." Lanjut Habib.

"Dan Qiraa-aat Al-Qur'an pun kedudukannya sangat mulia, sehingga hanya boleh ikut Qiraa-aat Rasulullah SAW yang sampai kepada kita secara Mutawatir. Dalam Tilawatil Qur'an pun ada cara baca dengan variasi khusus, baik Murottal mau pun Mujawwad, yang disepakati para Imam Qurraa sejak lama, sehingga tidak boleh SEMBARANGAN baca, apalagi dilagukan dengan nada-nada yang tidak lazim, seperti dengan Langgam Dalang." papar Habib.

"Jika pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Dalang dibiarkan dengan dalih seni dan budaya, maka besok akan muncul pembacaan Al-Qur'an dengan Langgam Sinden, lalu Langgam Jaipongan, lalu Langgam Gambang Kromong, lalu Langgam Dangdut, lalu Langgam Pop, lalu Langgam Rock, lalu langgam Disco, lalu Langgam Rap, hingga Langgam Cina dan India serta langgam goyang ngebor, goyang ngecor dan seterusnya, hingga akhirnya Pembacaan Al-Qur'an tidak beda dengan lagu dan nyanyian." Jelas Habib memperingatkan.

"Jika seseorang membaca Al-Qur'an, lalu terbawa dengan berat loghat lidahnya atau terhalang cengkoknya, sehingga terkadang terasa ada unsur loghat daerahnya tanpa unsur kesengajaan, bisa dimaklumi dan tidak mengapa. Sedang yang di Istana itu disengaja dan dibuat-buat serta konyol dan lebay, sehingga merupakan pelecehan Al-Qur'an." pungkas Habib.

Terkait dengan Web Resmi MUI yang mengutip panjang lebar dalil-dalil pembenaran Rektor IIQ, sehingga terkesan MUI merestuinya, maka Habib Rizieq memperingatkan dengan keras : "Hati-hati, jangan sampai MUI larut dalam RACAUAN LIBERAL ... !!!"

Tudingan Habib Rizieq bahwa itu adalah RACAUAN LIBERAL bukan sembarangan, tapi ternyata Bacaan Al-Qur'an dengan Langgam Jawa yang kini mencengkeram Istana, sudah lebih dahulu dilakukan oleh Pendiri JIL Ulil Abshar, berikut linknya :

http://m.youtube.com/watch?v=6CC1ruBnipQ

(Tim News FPI)

Racauan Liberal: Baca Al-Qur'an Dengan Langgam Dalang

Istana Negara di Jakarta menggelar acara peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW pada Jum'at (15/5/2015). Turut hadir dalam acara terseb...

Jumat, 01 Mei 2015


Assalaamu 'AlaikumWa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi WaMan Waalaah ...

Satukah Islam ... ?

1. Jika yang dimaksud dengan Islam yang Satu adalah Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, maka Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Satu.

2. Jika yang dimaksud dengan Islam yang Satu adalah Islam yang memiliki Allah yang Satu, Al-Qur'an yang Satu, Nabi Muhammad yang Satu dan Qiblat yang Satu pula, maka sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Satu.

3. Jika yang dimaksud dengan Islam yang Satu adalah Islam yang hanya menuju Allah yang Satu, Al-Qur'an yang Satu, Nabi Muhammad yang Satu dan Qiblat yang Satu pula, maka sekali lagi dan sekali lagi, kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Satu.

4. Jika yang dimaksud dengan Islam yang Satu adalah Islam yang walau pun memiliki berbagai Imam, Guru, Madzhab, Pemikiran, Pendapat, Partai, Golongan, Suku dan Bangsa, namun tetap Satu Agama yang benar yaitu Islam dengan Allah yang Satu, Al-Qur'an yang Satu, Nabi Muhammad yang Satu dan Qiblat yang Satu pula, maka sekali lagi dan sekali lagi serta sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Satu.

5. Namun, jika yang dimaksud dengan Islam yang Satu adalah Islam yang serba Satu yaitu Satu Imam, Satu Guru, Satu Madzhab, Satu Pemikiran, Satu Pendapat, Satu Partai, Satu Golongan, Satu Suku dan Satu Bangsa, sehingga tidak boleh berbeda Imam, Guru, Madzhab, Pemikiran, Pendapat, Partai, Golongan, Suku dan Bangsa, maka Islam tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi Satu dari zaman Nabi SAW hingga Hari Qiyamat.


Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab

ISLAM YANG SATU

Assalaamu ' Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ... Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulilla...

Kamis, 30 April 2015


Assalaamu 'AlaikumWa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi WaMan Waalaah ...

Damaikah Islam ... ?

1. Jika yang dimaksud dengan Islam Damai adalah Islam yang "Rahmatan Lil 'Aalamiin" yaitu Islam yang menebar rahmat untuk semesta Alam, maka Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Damai.

2. Jika yang dimaksud dengan Islam Damai adalah Islam yang cinta kehidupan yang aman dan nyaman, serta tenang dan senang, bagi seluruh umat manusia, tanpa kebencian dan permusuhan, tanpa kerusuhan dan peperangan, maka sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Damai.

3. Jika yang dimaksud dengan Islam Damai adalah Islam yang cinta Keadilan dan Kejujuran, serta cinta Dialog dan Musyawarah, dan juga selalu membangun hubungan baik antar sesama umat manusia, maka sekali lagi dan sekali lagi, kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Damai.

4. Jika yang dimaksud dengan Islam Damai adalah Islam yang Anti Kezoliman dan Kebrutalan serta Kebiadaban, dan juga Anti Kemaksiatan dan Kemunkaran serta Kesewenang-wenangan, maka sekali lagi dan sekali lagi serta sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Damai.

5. Namun, jika yang dimaksud dengan Islam Damai adalah Islam yang membiarkan Kemusyrikan dan Kebathilan, serta Kema'siatan dan Kemunkaran, juga Kezoliman dan Kebiadaban, lalu tidak melawan saat Islam dan umatnya ditindas dan dirusak serta diporak-porandakan, maka Islam tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi Damai dari zaman Nabi SAW hingga Hari Qiyamat.


Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab

ISLAM DAMAI

Assalaamu ' Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ... Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulilla...

Rabu, 29 April 2015



Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalaah ...

Tolerankah Islam ... ?

1. Jika yang dimaksud dengan Islam Toleran adalah Islam yang berakhlaqul karimah, sopan dan santun, lembut dan ramah, arif dan bijak, simpatik dan menarik, terhadap muslim mau pun non muslim, maka Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Toleran.

2. Jika yang dimaksud dengan Islam Toleran adalah Islam yang tidak kasar dan keras, tidak ganas dan beringas, tidak bengis dan sadis, dalam menyampaikan Da'wah Islam, maka sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Toleran.

3. Jika yang dimaksud dengan Islam Toleran adalah Islam yang tidak Anti Dialog, baik Lintas Madzhab mau pun Lintas Agama, dan tidak juga Anti Kerjasama dalam kebaikan antar sesama umat manusia, maka sekali lagi dan sekali lagi, kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Toleran.

4. Jika yang dimaksud dengan Islam Toleran adalah Islam yang tidak mudah membid'ahkan atau memfasiqkan, apalagi mengkafirkan sesama muslim, dan tidak juga mencaci maki agama lain, maka sekali lagi dan sekali lagi serta sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Toleran.

5. Namun, jika yang dimaksud dengan Islam Toleran adalah Islam yang mencampurkan adukkan agama, atau mengatakan semua agama sama dan benar, serta meyakini bahwa semua umat beragama pasti akan masuk surga,  lalu membenarkan Kawin Beda Agama, dan ikut merayakan Hari Besar semua Agama, lalu berdamai dengan kebathilan dan kemunkaran serta kemusyrikan, maka Islam tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi Toleran dari zaman Nabi SAW hingga Hari Qiyamat.


Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab

ISLAM TOLERAN

Assalaamu 'Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ... Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ....

Selasa, 28 April 2015



Assalaamu 'AlaikumWa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ...

Bismillaah Wal Hamdulillaah ...
Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulillaah ...
Wa 'Alaa Aalihi Wa Shohbihi WaMan Waalaah ...

Radikalkah Islam ... ?

1. Jika yang dimaksud dengan Islam Radikal adalah Islam yang menegakkan Hukum Allah SWT secara Kaaffaah melalui pelaksanaan Da'wah dan penegakan Hisbah serta penggeloraan Jihad, maka Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Radikal.

2. Jika yang dimaksud dengan Islam Radikal adalah Islam yang mengatakan Haq itu Haq dan Bathil itu Bathil, maka sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Radikal.

3. Jika yang dimaksud dengan Islam Radikal adalah Islam yang menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram, maka sekali lagi dan sekali lagi, kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Radikal.

4. Jika yang dimaksud dengan Islam Radikal adalah Islam yang menolak Sepilis (Sekularisme, Pluralisme dan Liberalisme), dan memerangi Korupsi, serta Anti Kapitalisme dan musuh Atheisme, serta tidak kompromi dengan kebathilan, maka sekali lagi dan sekali lagi serta sekali lagi kita katakan bahwa Islam sejak zaman Nabi SAW sudah Radikal.

5. Namun, jika yang dimaksud dengan Islam Radikal adalah Islam yang tidak santun dan tidak berakhlaq, yang keras dan ganas, serta bengis dan beringas, yang juga mudah mengkafir-kafirkan sesama muslim, dan suka mengganggu orang-orang kafir yang tidak menyerang Islam, serta gemar mengobarkan perang dan huru hara, dan juga Anti Dialog antar Madzhab apalagi antar Agama, maka Islam tidak pernah dan tidak akan pernah menjadi Radikal dari zaman Nabi SAW hingga Hari Qiyamat.
  

Habib Muhammad Rizieq bin Husein Syihab

ISLAM RADIKAL

Assalaamu ' Alaikum Wa Rohmatullaahi Wa Barokaatuh ... Bismillaah Wal Hamdulillaah ... Wash-sholaatu Was-salaamu 'Alaa Rasuulilla...

 

© 2015 - Distributed By Free Blogger Templates | Lyrics | Songs.pk | Download Ringtones | HD Wallpapers For Mobile